Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#69 Rasa Bahagia Rania


__ADS_3

#69 Rasa Bahagia Rania🌹


Setelah kepergian Devan, dia pun kemudian membersihkan dirinya setelah selesai dengan ritual mandinya dia pun menatap wajahnya di cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut terlihat rona kebahagiaan di wajahnya dia menatap wajah cantiknya yang ada di dalam cermin itu sembari berucap.


" Ayah ibu, rumah kita terselamatkan, rumah peninggalan kalian untukku tidak pergi jauh dariku, sekarang rumah itu sudah kembali lagi padaku." ucapnya kemudian dia keluar dari kamar mandinya tersebut, Setelah dia berpakaian dan menyisir rambutnya serta Memoles sedikit lipstik di bibir cantiknya tidak lupa dia menggunakan bedak di wajahnya dia pun kemudian melangkah meninggalkan kamar pribadinya itu, dia melangkah menuju ke arah lantai bawah di mana mereka sudah menunggunya untuk sarapan pagi, seperti biasa dia pun melayani suaminya untuk mengambilkan makan dan mereka pun menikmati makan paginya tersebut.


Di sela-sela makannya Bu Melany pun berbicara.


" Sekarang kalian sudah menikah, kapan kalian berbulan madu? apakah ada rencana mau pergi ke mana?" tanya Bu Melany pada Devan.


Devan menoleh ke arah Rania, Rania hanya tersenyum saja.


" Kami belum membicarakan soal bulan madu mah, kalau Devan hanya mengikuti apa yang dikatakan Rania."


" Bagaimana Rania? maunya kamu pergi ke mana?" tanya Bu Melany.


Rania hanya tersenyum sembari menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya itu.


" Rania belum tahu juga mau pergi ke mana, nanti kalau sudah temukan tempatnya Rania pasti akan bilang kok sama Mas Devan." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Devan.


" Bagaimana kalau kalian berdua mengantar aku pulang ke luar Negeri, anggap saja kalian sekalian berbulan madu walaupun nanti di sana kalian tidak tinggal bersama denganku?" tawar Lana sembari terkekeh.


Devan dan Rania Saling pandang kemudian mereka tersenyum.


" Nanti di pikirkan." ucap Devan sembari melanjutkan sarapan paginya.


Setelah selesai sarapan pagi Lana pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke luar Negeri, karena libur kuliahnya sudah habis Devan sengaja berangkat ke kantor agak siang dia ingin mengantarkan sang adik ke bandara, setelah barang-barang Lana sudah siap di mobil Devan, Rania dan Lana pun memasuki mobil tersebut, Rania sengaja ikut dengan Devan karena ingin melihat kepergian adik iparnya itu, sedangkan Bu Melany sibuk dengan urusan sosialitanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil Devan pun meninggalkan rumahnya tersebut menuju ke arah bandara, mobil Devan melaju di jalanan bebas hambatan tidak memakan waktu lama mobil tersebut sudah berada di tempat parkir bandara, mereka semua turun dan membawa barang yang diperlukan oleh Lana kembali ke luar Negeri, beberapa saat mereka menunggu akhirnya Lana pun meninggalkan Tanah Air menuju ke arah tujuan untuk menuntut ilmu.


Rania dan Devan kemudian kembali memasuki mobilnya Dia pun langsung mengantarkan Rania ke kedai kopinya Tania, Rania ingin bertemu dengan Tania karena beberapa hari Tania dan Rania tidak bertemu.


Di dalam mobil...


' Mas Devan..' panggil Rania.


" Hmmm..." singkat Devan sembari menoleh sesaat ke arah Rania yang duduk di samping kirinya.


" Bolehkah aku tahu apa persyaratan yang telah kamu katakan tadi.?"


" Kalau aku katakan, Apakah kamu mau menyetujuinya.?"


Rania hanya menganggukkan kepalanya.


Terdengar tawa pelan dari Devan, Rania pun menatap sesaat ke arah Devan.


" Ya lucu aja..."


" Lucu kenapa? apa salahku bertanya karena itu kan kamu yang bilang kalau aku harus memberikan syarat yang kamu pinta, karena kamu sudah menyelamatkan rumah aku yang ada di kampung dari ibu tiriku."


Devan mengelan nafas panjangnya.


" Rania, aku hanya sengaja mengatakan persyaratan itu, sebenarnya tidak ada persyaratan apapun, agar kamu mendapatkan sertifikat itu dariku, Aku memang mau memberikan sertifikat itu padamu sebenarnya, tapi waktunya belum tepat aja untuk aku mengatakannya, ternyata kamu lebih dulu menemukannya, itu adalah hak kamu, itu adalah rumah peninggalan kedua orang tua kamu, kamu tidak perlu untuk mencicil uang pembelian rumah tersebut, karena kamu adalah tanggung jawabku dan kamu juga adalah istri sahku, jadi itu mutlak milik kamu, kalau kamu ingin memindah nama sertifikat itu atas namamu, Kamu bisa langsung bilang pada William, dia akan mengurus semuanya." ucap Devan sembari tersenyum sesaat menoleh ke arah Rania dan kemudian dia pun kembali fokus ke depan karena posisi dia saat itu sedang menyetir kuda besinya tersebut.


Mendengar ucapan Devan, Rania sangat bahagia sekali di samping dia sudah mendapatkan sertifikat rumah peninggalan kedua orang tuanya dan dia juga mendapatkan seorang suami yang sangat baik hati padanya, namun dia masih malu-malu untuk mengatakan kalau dia memang sangat menyukai dan sungguh-sungguh mencintai Devan.

__ADS_1


Mereka berdua terdiam sembari menikmati alunan musik yang ada di dalam mobil tersebut.


" Ya Tuhan, terima kasih karena engkau telah mempertemukan aku dengan laki-laki yang sangat baik yang ada di sampingku ini, dia adalah jodoh terbaik untukku, tapi apakah ini bisa dikatakan dia adalah jodohku padahal ini semua tertulis di kertas perjanjian yang sudah aku tanda tangani, Apakah ini akan berakhir begitu saja, aku takut suatu saat kebahagiaan yang Aku dapat ini akan sirna begitu saja kalau seandainya dia menghentikannya, sesungguhnya aku sangat mencintainya, aku sangat menyukainya tapi mulut ini tidak bisa untuk mengatakan secara langsung padanya, masih ada ketakutan di hatiku dan ketidakyakinanku kalau pernikahanku ini bukan hanya atas dasar kertas yang sudah aku tanda tangani itu." gumamnya dalam hati beberapa saat kemudian mobil Devan pun berhenti di depan kedai kopi Tania, mereka berdua turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah kedai tersebut di mana Tania sudah menyambutnya di depan pintu kedai, Tania merasa bahagia karena kedatangan sahabatnya tersebut Tania pun kemudian membuatkan secangkir kopi spesial untuk mereka berdua nikmati.


Mereka berdua pun duduk berdampingan dan Tania berada di depan mereka.


Devan dan Rania menikmati kopi buatan Tania yang spesial itu.


" Bagaimana Tania, Apakah William sudah ada tanda-tanda ingin melamar kamu?" tanya Devan membuat Tania terkejut dia menatap ke arah Devan kemudian dia pun tersenyum.


" Kalau ke arah situ sering diungkapkan oleh William padaku tapi aku sering menundanya."


" Kenapa ?" tanya Rania.


" Iya kenapa? William kan emang benar-benar dan bersungguh-sungguh denganmu." ucap Devan sembari menatap ke arah Tania.


" Aku masih kurang yakin dengan diriku."


" Apa yang membuat kamu tidak yakin Tania?" tanya Rania.


" Aku takut gagal untuk kedua kalinya."


" Tania, kalau kamu gagal berumah tangga untuk yang pertama itu bisa dimaklumi, tapi apa salahnya kamu menjalaninya bersama dengan William." ucap Rania sembari tersenyum pada Tania.


" Maunya sih seperti itu, tapi aku memiliki banyak keraguan pada diriku sendiri, Apakah aku bisa meyakinkan diriku ini untuk bisa mendampingi William."


" Bagaimana William dengan anakmu? Apakah anakmu menyukai William?" tanya Devan

__ADS_1


" Syakila sangat menyukai William, dia juga sangat betah kalau William ada ke rumah, kalau William tidak ke rumah dia selalu menanyakannya, bahkan Syakila juga sudah menyebut William dengan sebutan Papi, Syakila dan William sangat akrab sekali " ucapnya sembari tersenyum.


" Nah itu lebih bagus lagi, karena Anakmu sudah memberi lampu hijau untuk ibunya, apalagi yang ditunggu, Kalau anakmu merasa bahagia dengan calon papa barunya, Apa salahnya kalian menyatu." ucap Devan dianggukan Rania sedangkan Tania hanya tersenyum mendengar ucapan dari suami sahabatnya tersebut.


__ADS_2