Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#40 Pengakuan Devan


__ADS_3

Terdengar helaan nafas Devan dan dia pun merubah posisi duduknya sembari menatap ke arah Bu Mellany, Bu Mellany tersenyum pada anak sulungnya itu.


" Apakah kamu menyukai Rania?" dia mengulang pertanyaan dengan anaknya itu.


Devan tersenyum lagi dan menganggukkan kepalanya,Bu Mellany yang melihat anggukan sang anak pun merasa senang karena pilihannya untuk anaknya itu tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata sang anak pun menyukai pilihan dirinya itu.


" Mamah senang mendengarnya, walaupun kamu mengakui kejujuran kamu itu dengan anggukan kepalamu, tapi Mamah masih ada sedikit yang mengganjal di hati Mamah."


" Soal apa Mah, katakan dengan Devan biar Devan mengetahui apa yang mengganjal di hati Mama,, Devan tidak ingin Mama terlalu banyak pikiran tentang masa depan Devan dan Lana, selama Devan bernyawa dan masih mampu untuk membahagiakan Mama dan Lana,. Devan akan lakukan.


" Mama tahu itu Nak dan Mamah percaya padamu." ucapnya sembari tersenyum.


"Jadi apa yang mengganjal di hati Mamah?"


" Devan, Mamah tidak memahami Kenapa Rania langsung mau menikah denganmu? dan tidak ada penolakan sama sekali, jujur setahu Mamah, Rania hanya diikat untuk bekerja denganmu, sebenarnya ada apa sehingga dia mau dijadikan istrimu."


Devan kemudian menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, sebenarnya dia tidak ingin mengatakan semuanya ini kepada Mamahnya, Kenapa Rania mau diajaknya untuk menikah bukan karena apa-apa, tapi isi kontrak kerja itu yang membuat Rania tidak bisa lagi berkutik untuk menolaknya, ditambah lagi Devan ingin melindungi Rania dari belenggu ibu tirinya dan saudara tirinya itu.


" Ada apa Nak? jangan disembunyikan dari Mamah, Mamah sudah bertanya dengan William, tapi William tidak mau mengatakan semuanya kepada Mamah, Mamah juga tidak tahu apakah William takut denganmu atau kamu yang bilang kepada William agar tidak mengatakan semuanya kepada Mamah tentang kehidupan Rania, karena Mamah hanya mengenal Rania awal pertama melihatnya saat kejadian CCTV itu."


" Mah, Devan akan ceritakan kepada Mama semuanya." ucapnya kemudian Devan pun menceritakan semua lika-liku kehidupan Rania sampai dia mau menyetujui dalam pernikahan itu. Bu Santi mendengarkan cerita anaknya itu sampai selesai.


Bu Santi terkejut dengan cerita Devan, Dia kemudian mengusap wajahnya dengan pelan.


" Ya Tuhan, kenapa sampai seperti itu perbuatan ibu tirinya, Mamah tidak habis pikir, Rania yang masih muda seperti itu diperbudak oleh ibu tirinya untuk mencari uang agar mereka mendapatkan uang yang banyak dari memeras tenaga Rania, kasihan Rania." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan sembari menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.


" Begitulah Mah, sikap ibu tirinya Rania, awalnya Devan memang menginginkan Rania sebagai istri Devan karena pilihan Mamah, Devan ingin membahagiakan Mamah,tapi semakin ke sini Devan merasa nyaman bersama Rania."


" Tapi bagaimana dengan rumah Rania yang sudah dijual oleh ibu tirinya itu?"


" Mamah jangan khawatir yang membeli rumah kedua orang tuanya Rania itu adalah Devan sendiri." ucapnya sembari tersenyum dan Ibu Mellany terkejut karena Devan menceritakan lika-liku kehidupan Rania semuanya tapi tidak dengan rumah yang sudah menjadi hak milik anaknya itu.

__ADS_1


" Benarkah?"


Devan mengangguk.


" Benar Mah, sertifikat rumah itu sudah ada sama Devan, Devan belum bisa mengasihkannya pada Rania, Devan juga tidak ingin mengatakan pada Rania kalau rumahnya itu Devan yang membelinya."


" Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Rania?"


" Kalau Devan katakan dengan Rania, depan takut Rania nantinya akan pergi meninggalkan Devan, setelah mengetahui kalau rumah itu ada bersama dengan Devan."


" Maksud kamu?"


" Devan takut Rania marah dengan Devan karena sudah membohonginya."


Terdengar helaan nafas Devan.


" Terus kapan kamu akan mengasih tahu Rania kalau rumahnya sudah ada denganmu?"


Bu Santi pun menganggukkan kepalanya, Devan kemudian melihat jam dinding ruang tengahnya itu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


" Mamah, sebaiknya Mamah tidur karena ini sudah tengah malam." ucap Devan.


" Baiklah Nak, kamu juga tidur besok kamu bekerja kan?"


" Devan besok akan mengurus pernikahan Devan dengan Rania." ucapnya sembari tersenyum dan mengajak sang Mamah untuk masuk ke kamar mereka masing-masing, mereka berdua pun kemudian melangkah menuju ke arah lantai dua rumahnya itu dan masing-masing masuk ke kamar mereka untuk beristirahat karena malam sudah sangat larut.


*****


Tepat jam 07.00 pagi Devan sudah bersiap-siap karena ingin mengurus pernikahannya dengan Rania dia pun kemudian membuka kamar Rania melalui kamarnya itu, dia melihat ke dalam kamarnya, ternyata kamar itu sudah kosong sejak tadi, dia pun kembali menutupnya dan keluar kamarnya menuju ke lantai bawah, dia melangkah dengan pasti menuju ke ruang makan ternyata mereka sudah menunggunya untuk sarapan pagi bersama.


Devan mengambil duduk disamping Rania.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan kakimu sekarang Rania?" tanya Devan sembari menoleh sesaat kearah Rania yang duduk disampingnya itu.


" Hmmm, sekarang sedikit tidak terasa sakit."


" Jangan lupa kamu minum obatnya, nanti siang aku jemput."


" Hah? mau kemana?"


" Nanti kamu akan tahu aku bawa kemana." ucapnya sembari menyantap makanannya itu.


" Baiklah!" ucapannya dengan pasrah.


" Sementara pagi ini Aku akan mengurus pernikahan kita." ucapnya.


Rania hanya mengangguk, Bu Melani dan Lana pun tersenyum mendengar ucapan dari Devan itu, Mereka kemudian melahap kembali sarapan paginya, tapi tidak dengan Rania, dia mengunyah sarapan paginya itu pun dengan pikiran yang sedikit kesal dengan ucapan Devan.


" Apa Aku sanggup menjadi Nyonya Tuan manja ini? aku belum siap untuk menikah? tapi kenapa ini terjadi denganku? jika seandainya ayah dan ibu masih ada mungkin aku tidak akan berada di rumah sebesar ini dan menjadi bagian keluarga mereka, walaupun sebenarnya keluarga Pak Devan ini sangat baik sekali padaku,terutama Bu Mellany dan Lana dia menganggap aku seperti keluarganya sendiri, tapi apakah ini nasibku yang sudah digariskan yang maha kuasa harus menjalani sandiwara pernikahan ini?" Gumamnya dalam hati sembari menatap ke arah mereka bertiga secara bergantian.


Sesekali Devan menatap ke arah Rania, tapi Rania tidak menyadari akan tatapan calon suaminya itu.


Setelah selesai sarapan pagi Devan pun berpamitan dengan Bu Mellany, dia pun kemudian meninggalkan ruang makan itu menuju ke arah luar dan memasuki mobil pribadinya, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah kediamannya menuju ke arah kantornya sebelum dia mengurus pernikahannya itu.


Rania pun kemudian berpamitan dengan Bu Mellany dan Lana, Dia kemudian melangkah menuju ke arah kamarnya sendiri sambil menunggu Devan menjemputnya membawanya kesuatu tempat dimana Rania tidak mengetahui tempat apa yang mau dikunjunginya nanti.


Saat dia berada di dalam kamarnya ponselnya pun berdering dia menatap ke arah ponsel yang ada di atas tempat tidur tersebut, dia melihat layar ponselnya itu tertera sebuah nomor yang tidak dikenalnya memanggilnya.


" Nomor siapa ini? aku saja tidak mengenali nomor ini!"ucapnya sembari meletakkan ponselnya kembali di atas tempat tidurnya, karena dia tidak mau menjawab nomor yang tidak dikenal yang masuk ke ponselnya itu, beberapa saat kemudian terdengar kembali panggilan dari ponselnya itu dengan nomor yang sama.


" Siapa sih ini, tapi jangan-jangan penting lagi." ucapnya sembari menjawab panggilan tersebut.


" Hallo..." ucap Rania

__ADS_1


" Halo Rania..." terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana, Rania terkejut mendengar suara si pemanggil, diapun kemudian menatap layar ponselnya lagi merasa heran si pemanggil yang tidak dia ketahui itu pun mengenali namanya


__ADS_2