Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#38 Pertanyaan Rania


__ADS_3

Rania terdiam sembari menatap keluar jendela dari tempat tidurnya menatap dedaunan yang menghijau meliuk-liuk diterpa angin, diapun kemudian berjalan menuju jendela dan memegang tralis jendela itu sembari menatap lepas jauh keluar dan sesekali wajahnya diterpa angin yang menyejukkan walaupun suasananya sudah terasa panas.


" Aku tidak pernah menyangka kalau aku sekarang berada dirumah sebesar ini dan terikat dengan orang seperti pak Devan, aku juga tidak menyangka akhirnya hidup ku seperti ini terjerat dalam perjanjian diatas kertas dan terperangkap dalam hidup pemuda yang tidak pernah sama sekali aku kenal dalam hidupku." Gumamnya sembari menyandarkan tubuhnya di samping jendela tersebut.


Rania menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat seberat perasaannya yang sekarang berada dirumah yang besar tak seperti rumahnya dikampung, dan dia akan selalu berdampingan dengan Devan, bahkan hari-harinya akan selalu diwarnai dengan warna-warni kehidupan Devan tapi bukan warna favoritenya melainkan warna yang dirasakannya campur aduk karena hari-harinya akan selalu berdampingan dengan Devan yang baru saja beberapa hari bersamanya.


" Ayah, ibu, Anakmu sekarang sudah terjerat dengan orang yang baru saja dikenal dan tau tidak Ayah, ibu, si Devan itu sangat menjengkelkan!" Ucapnya seraya menatap langit biru.


" Ayah, ibu, kenapa sih hidup Rania seperti ini? Rania sudah kehilangan Ayah, kehilangan Ibu, dan kehilangan harta berharga dihidup Rania, Rumah peninggalan kalian tidak bisa Ranian jaga dengan sebaik mungkin, Rania kalah dengan ibu dan kak Sarah di kampung, maafkan Rania Ayah, ibu." Ucapnya berbicara sendiri.


" Ya Tuhan...sampai kapan aku terjerat dengan keluarga Devan ini?" Keluhnya dengan ekpresi lelahnya dan menghela nafasnya dengan pelan seolah-olah leleh yang sangat sekali melandalanya.


" Aku harus berbicara sekali lagi dengan pak Devan, karena ini hanya menjalani kontrak kerja, aku tidak ingin menikah dengannya sungguhan, yah! Aku harus bertemu dengannya untuk membicarakan semuanya." Ucapnya sembari melangkah keluar kamarnya dengan jalan sedikit pincang karena kaki kanannya yang masih terasa sakit itupun tetap dipaksanya untuk berjalan keluar kamar, dia menyusuri lantai atas tersebut mencari kamar Devan dan melihat-lihat suasana rumah tersebut.


Sampai akhirnya dia melihat sebuah pintu kamar yang diperkirakannya adalah kamar Devan, diapun mengetuk pintunya sebanyak tiga kali.


" Tok...Tok...Tok..."


Pintu terbuka dan terlihatlah wajah cantik Lana dan tersenyum pada Rania, Lana yang tidak jauh berbeda dengan Rania usianya hanya terpaut dua tahun dari Rania itupun tersenyum manis pada Rania.


" Hey! Kak Rania? Ada apa? Apakah kakak perlu sesuatu? kalau ada sesuatu yang diinginkan bilang dengan Lana, nanti Lana bantu kaka mau apa?" Tanyanya sembari meraih tangan Rania.


Rania tersenyum dan dia menggelang pelan.


" Maaf Mbak..."


" Kak, jangan panggil aku dengan Mbak dong, kan kakak sebentar lagi jadi kakak ipar aku, panggil aja aku Lana ya kak..." Ucapnya dengan tersenyum begitu ramahnya dan sopannya pada Rania.


" Hehehe...maaf Mbak, eh Lana, saya kesini tadi mengira ini adalah kamarnya pak Devan, ternyata bukan." Ucapnya sedikit malu-malu.


Lana tersenyum...

__ADS_1


" Oh, kak Rania mencari kamarnya kak Devan, jauh banget kak kesini." Godanya terkekeh pelan.


" Jauh? " Ucap Rania merasa heran.


" Iya kak, kamarnya kak Devan itu ada disamping kamar kakak sekarang...itu disana sebelah kiri keluar dari kamar kakak." Ucapnya tersenyum sembari menunjuk kearah kamar Devan.


Rania menoleh kearah ruangan yang ditunjuk Lana.


" Ini kamar aku, itu kamar mamah, disana kamar tamu, dan itu kamar kak Devan dan disampingnya itu yang sekarang ditempati kakak adalah calon kamar untuk anaknya kak Devan kalau dia sudah menikah nanti, dari kamar itu tembus kekamar kak Devan." Terang Lana tersenyum.


" Hah?! Tembus? Maksudnya?"


" Hanya kak Devan yang tahu bagaiman caranya membuka pintu kamar yang sekarang ditempati kaka, karena hanya dia yang bisa membukanya, itu memang sengaja dia mendesainnya sedemikian rupa."


" Tapi, saat saya liat tadi nggak ada pintu sama sekali didalam kamar itu?"


" Iya kak, memang tidak ada pintunya tapi hanya kak Devan yang bisa membukanya." Terang Lana tersenyum.


" Ini tidak bisa dibiarin! Masa aku ditempatkan satu kamar dua pintu, rugi aku dong!" Gumamnya dalam hati.


" Oh iya...maaf ya mengganggu kamu."


" Nggak apa-apa kak, silahkan kalau kakak mau menemui kak Devan...atau aku temenin?" Ucap Lana tersenyum.


" Oh, nggak usah, biar saya sendiri saja."


" Baiklah kak, silahkan..." Ucap Lana tersenyum sembari menatap Rania karena Lana merasa lucu melihat wajah Rania terkejut mendengar keterangannya.


Lalu Dianggukkan Rania, diapun langsung melangkah menuju kekamar Devan dan Lana hanya tersenyum bahagia melihat calon kakak iparnya itu terkejut mendengar keterangannya itu tentang kamar yang sekarang dia tempati, Lana pun langsung menutup pintu kamarnya kembali dan membiarkan Rania berperang dengan perasaannya itu.


Rania kemudian mengetuk pintu kamar Devan, namun tidak ada sahutan, Rania pun langsung saja membuka pintu tersebut dan dia terkejut karena pintu tersebut tak dikunci, diapun masuk kedalam dan melihat-lihat kamar pak bosnya itu.

__ADS_1


" Hmmm...perfek juga ruangan kamar ini, rupanya disamping sikapnya yang dingin, tegas dan berwibawa, serta super sibuk itu, ternyata masih ada waktu juga untuk menata kamar pribadinya, bagus dan rapi juga dia menata kamarnya ini." Ucap Rania sembari berjalan secara perlahan dan menatap seisi ruangan tersebut.


Devan yang lagi berada dikamar Mandi itupun tidak mengetahui kalau Rania berada didalam kamarnya, karena merasa gerah mengharuskannya melakukan aktifitas mandinya, Rania terus saja memeriksa kamar Devan sembari mencari dimana Devan berada, diapun kemudian berjalan kearah dinding yang berbatasan dengan kamar yang sekarang ditempatinya itu, dia merasa bingung melihat dinding itu.


" Katanya bertembusan? Tapi bagaimana caranya? Inikan hanya dinding tembok yang kokoh mana bisa terbuka.?" Ucapnya sembari menekan-nekan dinding tembok yang dia raba saat ini, dan dia tidak menyadari kalau Devan sudah berada dibelakangnya itu.


" Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Tanya Devan yang langsung membuat Rania terkejut dan memutar posisi badannya kebelakang, dan dia langsung menutup matanya karena dia melihat Devan memakai baju mandi dan sedikit terbuka diarea dadanya membuat Rania melihat seputaran dada Devan yang bidang.


Devan kemudian mendekati Rania yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya itu, Devan meraih tangan Rania yang berada diwajahnya itu dan membukanya.


" Ada keperluan apa?"


Rania menggeleng....


" Maaf, saya mau keluar, saya salah masuk." Ucapnya hendak keluar dari kamar Devan, Rania tidak sadar kalau kakinya masih terasa sakit langsung saja dia melangkah,dan sakit kakinya itupun datang tanpa diundang, dia meringis kesakitan, Devan pun langsung sigap menggendong Rania dan membawanya ketempat tidurnya seeta merebahkannya.


" Sudah ku bilang jangan terlalu bergerak, kaki mu masih sakit." Ucap Devan yang berada duduk dibibiran Ranjangnya.


Rania hanya terdiam, kemudian Devan berdiri dan melangkah menuju sebuah ruangan yang dimana tersimpan semua pakaiannya itu.


Melihat Devan hendak memasuki ruangan itu, diapun langsung bangun dari berbaringnya dan hendak keluar, namun karena kurang hati-hatinya dia tanpa sengaja dia menginjak tempat remot tv dan remot pendingin ruangan, kurang keseimbangan diapun hendak jatuh kelantai, namun Devan langsung menyangga badannya Rania dan merekapun saling bertatapan lama...sampai akhirnya mereka berdua menemui alam sadarnya dan Rania terdiam begitu juga Devan dia kemudian menatap kearah Rania.


" Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya.


Rania mengangguk.


" Ada apa sebenarnya.?"


" Saya mau menanyakan tentang pernikahan itu "


" Apa yang kamu ingin tanyakan?"

__ADS_1


" Kita tidak sungguhan kan menikah?"


Devan tersenyum....


__ADS_2