Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
# 75 Bahagia Selamanya


__ADS_3

#75 Bahagia Selamanya🌹


Setelah satu persatu orang yang jahat pada Rania sudah mendapatkan ganjarannya, Rania tidak henti-hentinya bersyukur atas apa yang sudah didapatnya selamanya, dari kesedihan, kehilangan dan penderitaan sudah dia rasakan dan tak terasa Air matanya mengalir dibening bola matanya sembari mengusap batu Nisan kedua orang tuanya, Rania beserta keluarganya berkunjung ke kampung halamannya sekaligus membawa saudara kandung sang Ayah untuk berkunjung kemakam sang Ayah.


Devan pun mengusap pundak sang Istri untuk memberikan kesabaran pada sang Istri, Devan paham dengan keadaan istrinya itu, tidak mudah berjuang untuk bertahan hidup sampai garis finis sekarang ini.


" Ayah dan ibu pasti bangga memiliki anak seperti kamu Sayang, karena kamu adalah wanita yang kuat, wanita yang hebat, dan wanita yang mampu menerima cacian, makian serta penderitaan, namun berbuah manis, kamu mendapatkan kebahagiaanmu, orang yang dulu menyakiti kamu sekarang mereka sudah bisa bersama denganmu lagi dan mereka juga menyadari kesalahan mereka." ucap Devan sembari tersenyum, Rania pun diajaknya berdiri kemudian mereka meninggalkan makam kedua orang tuanya tersebut menuju ke arah rumah pribadi Rania.


Bu Rina pun menepati janjinya, walaupun sekarang dia berada di kursi roda dari rumah ke rumah dia pun menyambangi tetangga serta teman yang ada di kampungnya itu, dia meluruskan perkataannya yang dulu telah berbohong tentang keadaan Rania, saat bekerja di kota, setelah dia berkata jujur,ada yang membencinya ada juga yang memaklumi keadaannya sekarang, namun Bu Rina merasa tenang di hatinya, karena sudah mengakui kesalahannya itu dan membersihkan nama baik Rania anak tirinya tersebut.


Sesampainya mereka di rumah kediaman Rania, lagi-lagi Rania meneteskan air matanya, sudah beberapa tahun dia meninggalkan rumahnya tersebut namun rumah itu tidak berubah yang berubah hanya beberapa tanaman yang terlihat baru berada di samping kiri dan kanan halaman rumah tersebut,Devan sengaja menyuruh seseorang untuk mengurus rumah peninggalan mertuanya itu, mereka pun kemudian melangkah masuk ke dalam walaupun rumah itu tidak ditempati, Rumah itu sangat bersih tidak ada yang berubah dari rumah tersebut.


" Ibu, kalau ibu mau menempati rumah ini silakan saja, karena rumah ini juga milik ibu." ucap Rania.


Bu Rina menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


" Tidak Nak, ibu tidak pantas lagi menempati rumah ini, Ibu dan Sarah akan menempati rumah ibu yang dulu, biarlah rumah ini jadi milik kamu, tempat peristirahatan kamu saat kamu berada di kampung halaman ini "

__ADS_1


" Tapi Ibu..."


Bu Rina tersenyum...


" Ibu sudah merasa bahagia tinggal di rumah pribadi ibu Nak, dan ibu juga sudah bahagia karena mendapatkan maaf darimu, walaupun ibu tidak tinggal di rumah kamu, kamu tetap anak ibu, kamu bisa berkunjung ke rumah ibu, karena ini adalah hak kamu, Ibu tidak pantas menempati rumah peninggalan kedua orang tuamu, karena ini murni milik kamu." ucap Bu Rina sembari dianggkan Sarah.


Rania pun merasa bahagia, karena Ibunya benar-benar sudah sadar, kemudian dia pun memeluk ibu dan kakaknya tersebut, tidak berhenti-hentinya juga dia mengucapkan syukur karena kebahagiaan telah menghampirinya.


*****


Beberapa hari mereka berada di kampung halaman Rania, tibalah saatnya mereka untuk kembali ke kota, karena sudah beberapa hari Devan meninggalkan kantor dan saatnya mereka berpamitan dengan Bu Rina dan Sarah, karena melihat keadaan Bu Rina berada di kursi roda serta Sarah yang hanya memulai bekerja di sebuah minimarket yang ada di kampung tersebut, Devan pun memberikan sebuah kartu di mana kartu tersebut berisikan sejumlah uang untuk kehidupan Bu Rina sehari-hari bersama dengan Sarah.


" Tidak usah Nak Devan, gaji sarah juga cukup untuk kehidupan kami berdua dikampung."


" Benar Mas Devan, apa yang dikatakan Ibu itu emang benar." ucapnya sembari tersenyum, Rania pun kemudian mengambil kartu di tangan Devan, lalu dia pun meraih tangan Ibunya dan memberikan kartu tersebut pada Bu Rina.


" Ibu..terimalah ini, janganlah Ibu menolaknya, karena Ibu pantas mendapatkannya, Rania adalah anak ibu, Mas Devan adalah menantu ibu, dia mencukupi kehidupan Rania, dia juga pasti akan mencukupi kehidupan Ibu, terimalah ibu." Bu Rina pun meneteskan air matanya, dia menganggukkan kepalanya, karena dia tidak ingin dianggap memanfaatkan Devan sebagai menantunya itu.

__ADS_1


Rania tersenyum dia pun kemudian meraih tangan Bu Rina dan mencium punggung tangannya tersebut, Mereka pun kemudian berpamitan dengan lambaian tangannya dan senyum bahagia Bu Rina dan Sarah mengantarkan kepergian Rania dan Devan menuju ke arah kota tempat tinggal Rania sekarang.


Di dalam mobil ....


Rania menghela nafasnya dengan dalam, dia merasa bahagia sekali dan dia tidak bisa mengukir kebahagiaan itu dengan kata-kata, dia tersenyum lebar, Devan hanya tersenyum menoleh sesaat ke arah sang istri, karena dia merasakan kebahagiaan istrinya itu saat ini.


Devan menatap lurus kedepan, dia mengingat awal pertama pertemuannya dengan Rania, sampai ajakan menikah pun diucapkannya pada sang istri, awalnya Rania menolaknya, namun sekarang dia sudah menjadi Nyonya Devan Dharmendra, lagi-lagi Devan tersenyum, dia pun kemudian meraih tangan istrinya tersebut dan menggenggamnya, Rania merebahkan kepalanya di pundak sang suami, karena saat ini Devan tidak posisi menyetir mobilnya, melainkan Devan menggunakan sopir pribadinya, mobil terus berjalan menuju ke arah kota, kebahagiaan terpancar di pasangan tersebut.


" Terima kasih Ya Tuhan karena engkau telah memberikan cobaan diakhiri dengan kebahagiaan, tidak henti-hentinya hambamu ini mengucap syukur yang tiada terkira, Engkau telah menyatukan keluargaku yang telah jauh menjadi dekat, yang tidak tahu menjadi tahu, terima kasih sekali lagi ya Tuhan, karena engkau telah memberikan banyak hikmah dibalik penderitaan yang selama ini aku Alami." ucapnya sembari memejamkan matanya sesaat, mereka berdua pun hanyut dalam kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.


******


Dua tahun pernikahan Rania dan Devan, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang berusia 9 bulan bernama Dera putra Dharmendra, dengan kehadiran buah hatinya itu menambah kebahagiaan di keluarganya, kasih sayang yang diberikan Devan pada Rania membuat dia semakin bahagia, tidak bisa lagi dia mengukir kebahagiaannya itu, dengan kehadiran anak pertamanya itu membuat dia merasa bahagia sekali.


Begitu juga dengan William dan Tania yang dikaruniai seorang anak laki-laki ganteng yang baru berusia 1 bulan menambah kebahagiaan mereka berdua, William merasa sudah lengkap mendapatkan dua buah hatinya, Syakila dan Rayan. Kebahagiaan itu pun tidak bisa diukirkannya dan diungkapkan oleh William dengan kata-kata, dia merasa sangat bahagia karena sang istri sudah memberikan dia anak yang sangat tampan.


William dan Devan tidak Hentinya bersyukur karena mereka sudah digantikan anak-anak yang cantik dan tampan serta istri yang cantik dan baik hati.

__ADS_1


----- TAMAT ------


__ADS_2