
#48 Keadaan Tania.😥
Rania melirik Devan yang sedang fokus menyetir mobilnya tersebut Devan tidak menoleh sama sekali ke arah Rania.
Rania terlihat gelisah karena melihat sikap Devan yang menyimpan kemarahan itu, dia memainkan jari-jemarinya dan sesekali merubah duduknya di dalam mobil tersebut, namun dia tidak melihat respon Devan.
Mobil yang dikendarai mereka pun memasuki halaman rumah kediaman keluarga Dharmendra tersebut, Devan kemudian keluar dari mobil itu diiringi langkah Rania masuk ke dalam.
" Pak Yoyo, tolong ambil barang di dalam mobil saya." ucapnya pada salah satu tukang kebun rumahnya itu, Pak Yoyo pun menganggukan kepalanya dan melangkah menuju mobil pribadi Tuan mudanya itu, Rania yang berada di samping Devan pun menatap ke arah Devan dengan tatapan serba salahnya itu, karena sudah membuat Devan marah, gara-gara dia menemui Vino dan lagi-lagi bertemu kembali dengan Vino.
Rania merasa bersalah dengan Devan.
" Lebih baik sekarang kamu bersihkan dirimu dan segera istirahat." ucapnya kembali keluar tanpa ada senyum terukir di wajahnya.
" Pak Devan!" panggil Rania, Devan menghentikan langkahnya mendengar dirinya dipanggil Rania, dia berbalik menghadap Rania sembari kedua tangannya berada dalam saku celananya dan menatap ke arah Rania.
Rania mendekati Devan
" Anda mau ke mana Pak?"
" Aku mau ke kantor, karena masih ada janji dengan William dan Client yang lain, Ada apa Rania?"
" Oh tidak ada apa-apa." ucapnya sembari tersenyum seraya menghela nafasnya dengan pelan Devan menatap ke arah Rania.
" Baiklah, silahkan kalau Anda ingin berangkat sekarang." ucap Rania dia mengurungkan niatnya untuk berbicara dan ingin meminta maaf kepada Devan karena kesalahannya itu membuat Devan terlihat marah padanya.
" Cepatlah kamu bersihkan dirimu dan istirahatlah." ucapnya kemudian meninggalkan Rania kembali kedalam mobilnya, beberapa saat mobilnya itu pun meninggalkan rumah kediamannya itu, Rania hanya menatap kepergian Devan sampai mobil yang dikendarai Devan itu tidak terlihat lagi olehnya, Rania menghela nafasnya dengan pelan, Dia pun kemudian melangkah menuju ke arah kamarnya.
__ADS_1
" Nyonya muda!" panggil Pak Yoyo, sebelum Rania memasuki kamarnya tersebut dan ia menoleh ke arah Pak Yoyo yang sudah membawa dua buah foto di tangannya itu.
" Ya Pak Yoyo, ada apa?"
" Maaf Nyonya, di mana kedua foto ini diletakkan?"
Rania pun menatap ke arah foto yang dipegang oleh Pak Yoyo, lalu dia tersenyum.
" Baiklah Pak, silakan Bapak bawa masuk ke dalam kamar saya aja, letakkan aja dulu di dalam kamar saya karena saya juga tidak tahu mau dipasang di mana sama pak Devan "
" Baiklah Nyonya muda." ucapnya sembari mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kamar Rania dan meletakkannya tidak jauh dari tempat tidur Rania, kemudian Pak Yoyo pun keluar dari kamar tersebut sembari tersenyum.
" Terima kasih banyak ya pak."
" Sama-sama Nyonya." ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Rania yang sesaat menatap kepergian Pak Yoyo.
" Hmmm... ternyata cocok juga ya aku menjadi seorang foto model, Hehehe....tapi ngomong-ngomong kenapa aku begitu terlihat sangat bahagia sekali ya dengan memeluk tubuh Pak Devan,hmmmm..." ucapnya sembari menatap bingkai fhoto sebesar sandaran tempat tidurnya itu.
" Tapi sejujurnya aku memang merasa tenang, dan merasa nyaman bila berada disampingnya, tapi sayangnya ini hanyalah pernikahan diatas kontrak kerja yang terlanjur aku tandatangani yang tidak aku baca terlebih dahulu isi kontrak kerja itu yang membuat aku jadi seperti sekarang ini." ucapnya menghela nafasnya sembari menghentakkan tubuhnya dikasurnya itu, saat dia terus menatap fhoto tersebut, terdengar ponselnya berdering dia melihat nama si pemanggil,Rania langsung menjawab panggilan tersebut dari sahabatnya siapa lagi kalau bukan Tania.
" Hallo Tania .." Terdengar alunanan musik yang sangat keras, sampai-sampai Rania menjauhkan sesaat ponselnya dari telinganya.
" Rania!" panggil Tania.
" Tania kamu dimana sekarang? keras sekali suara musik itu, kamu lagi ngapain Tania?" tanya Rania sembari menatap kearah layar ponselnya dan sesekali dia menjauhkan ponselnya itu karena terdengar sangat keras sekali suara musiknya diseberang sana.
" Rania,Aku kalah!" ucapnya sembari terdengar suara Tania menangis, Rania langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
" Kalah?! kalah apa Tania, sekarang kamu dimana Tan? biar aku jemput sekarang, katakan Tania kamu ada dimana?" tidak ada jawaban sama sekali dari Tania,yang hanya terdengar suara musik yang sangat keras, Rania merasa khawatir, diapun berusaha memanggil Tania melalui panggilan ponselnya itu.
" Tania! Tania! jawab aku." ucapnya.
" Hallo Mbak..,"
Rania terkejut mendengar suara seorang laki-laki yang menjawab panggilan Rania.
" Siapa Anda? dimana teman saya?"
" Maaf Mbak, saya karyawan club Happy, teman Mbak sudah tidak sadarkan diri dia terlalu banyak minum, silahkan mbak jemput sekarang."
" Apa? tak sadarkan diri? banyak minum."
" Iya Mbak, teman Mbak yang datang ketempat kami, dan memaksa meminta kami untuk memberikan minuman itu dan meminta kami membunyikan musik dengan keras, padahal kami belum buka mbak, bisakah mbak jemput sekarang teman mbak ini?" terangnya.
" Baiklah tolong Masnya serlok keponsel saya melalui ponsel teman saya ya." pintanya.
" Baik Mbak."
Kemudian sambungan itupun terputus dan Rania langsung mengambil tas selempangnya dan melangkah keluar kamarnya menuju jalan besar dan memberhentikan sebuah taksi dengan diiringi tatapan heran Lana.
" Mau kemana kak Rania? kok tergesa-gesa sekali....ada apa ya?" tanyanya yang sedang berdiri didalam kamarnya didekat jendela, karena saat itu ibu Mellany tidak ada dirumah, namanya juga seorang ibu sosialita yang selalu sibuk dengan organisasinya.
Didalam taksi...
" Ada apa dengan Tania, aku rasanya terkejut sekali dengan tingkah Tania seperti ini,Kalah? apa yang dialami Tania sekarang?memangnya dia kalah dalam hal apa? selama ini dia tidak pernah cerita sama sekali padaku masalah pribadi yang dialaminya, tapi... apakah dia memang suka meminum minuman yang memabukkan itu? tapi selama berteman denganku, dia tidak pernah memperlihatkan gelagat yang buruk seperti sekarang ini?" gumamnya dalam hati, Tania dan Rania memang berteman secara instan, Rania memang tidak menanyakan tentang masalah pribadi Tania selama dia berteman, karena baginya itu adalah privasi Tania yang mungkin tidak bisa dia ceritakan pada Rania.
__ADS_1
Walaupun Tania tahu masalah pribadinya dengan keluarganya,bagi Rania itu hal yang biasa dia menceritakannya pada Tania,tapi bagi Rania dia tidak ingin mengetahui lebih dalam masalah pribadi Tania,mobil terus melaju menuju kearah yang dituju Club Happy dimana Tania sekarang berada.