
#72 Menjadi Istri Seutuhnya🌹
Setelah lama menunggu keputusan dari dokter tentang keadaan Vino, Devan dan Rania berpamitan dengan keluarga Vino, karena saat ini Vino belum bisa ditemui, Mereka pun kemudian melangkah meninggalkan di mana keluarga Vino berada, tidak ada suara di antara mereka berdua, Devan menggenggam tangan istrinya itu membawanya melangkah beriringan menuju ke arah mobilnya yang terparkir, beberapa saat kemudian mobil Devan meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah rumah pribadinya untuk mengantar Rania pulang.
Di dalam mobil...
" Kamu Kenapa diam?Kenapa kamu terdiam Rania?"
" Aku tidak menyangka aja Mas, ternyata dia memiliki penyakit yang mematikan seperti itu,"
" Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Vino."
Rania hanya menganggukkan kepalanya, lagi-lagi di dalam mobil hening! tidak ada suara sama sekali, beberapa saat kemudian mobil Devan pun memasuki halaman rumah pribadinya, mereka berdua turun dari mobil dan melangkah menuju ke dalam rumah, Bu Melany yang kebetulan hendak berangkat bertemu dengan teman-teman sosialitanya itu pun mengurungkan niatnya karena melihat anak dan menantunya baru sampai di rumahnya, terlihat wajah keduanya menampakan rasa kesedihan mereka, membuat Bu Melany merasa heran.
" Ada apa dengan kalian berdua? kenapa wajah kalian terlihat sedih seperti itu ?"
Devan menghentakkan tubuhnya di sofa ruang tengah rumahnya itu, sembari menghelan nafasnya dengan pelan.
" Saat Devan nyantai di tempat Tania, Arka menghubungi Devan, ternyata Arga berada di rumah sakit Suprapto."
" Memang ngapain Arka di sana?Arka sakit?"
" Bukan Arka yang sakit Mah, tapi kakak iparnya Arka."
" Kakak iparnya Arka? Arka sudah menikah? dengan siapa Arka menikah?"
" Belum menikah Mah, tapi dia berpacaran dengan adiknya Vino."
__ADS_1
" Maksud kamu siapa pacarnya Arka?"
" Adiknya Vino Mah, dan yang masuk rumah sakit itu Vino, karena Vino mengalami ketidaksadaran saat hari pernikahan kami waktu itu, ternyata dia memiliki penyakit yang sudah disimpannya bertahun-tahun, kanker otak stadium akhir."
" Apa? yang benar Devan?" tanya bu Melany sembari terkejut.
" Iya Mah benar, tadi Tante Tuty sudah menceritakan semuanya."
" Sekarang mereka masih di rumah sakit?"
" Iya Mah, menunggu keputusan dari dokter, nanti kalau diperbolehkan mereka akan membawa Vino berobat ke luar negeri." ucap Devan
" Ya sudah kalian istirahat kalau memang kalian mau istirahat."
" Nggak Mah, Devan cuma ingin menganta Rania pulang saja, Devan mau pergi ke kantor lagi, Mama mau menemui tante Tuti sekarang?"
" Nanti Mama ke sana, mama bisa berangkat sendiri bersama dengan sopir mama, kalau kamu ingin berangkat ke kantor berangkatlah."
Bu Melany kemudian menghela nafasnya dengan panjang, dia kemudian melangkah menuju ke arah kamarnya berencana ingin berangkat ke rumah sakit Suprapto menemui Tuti ibunya Vino.
*****
Tepat jam delapan malam, Devan keluar dari kantor pribadinya itu dan melajukan kendaraan yang menuju ke arah rumahnya, Devan ingin segera pulang ingin mengistirahatkan tubuhnya yang di rasanya lelah bukan karena lelah tubuhnya tapi lelah juga dengan pikirannya, beberapa saat kemudian Devan sampai di rumahnya, dia keluar dari mobil dan melangkah menuju ke dalam rumahnya, terlihat sepi rumahnya tersebut, dia langsung menuju ke arah kamar pribadinya, saat dia membuka pintu kamar tersebut dia melihat Rania yang masih tertidur, Devan kemudian meletakkan kontak mobilnya dan tas kerjanya, dia tidak ingin membangunkan Rania dengan perlahan dia melangkah menuju ke arah kamar mandi, beberapa saat dia membersihkan dirinya dan terasa segar karena tubuhnya diguyur dengan air dingin yang menyejukkan, Dia kemudian berpakaian dengan rapi saat dia hendak menuju ke arah sofa, dia kembali menatap ke arah Rania yang masih terpejam, Dia mendekati Rania dan duduk di bibir ranjangnya, dia membelai rambut hitam Rania dengan refleks dia mencium kening Rania karena Rania terkejut dia bangun namun dia tidak menghindar dari Devan yang duduk disampingnya dengan bertopang tangannya yang seperti ingin memeluk Rania, Rania tersenyum membuat Devan merasa heran.
Devan menatap Rania lekat, Begitu juga dengan Rania.
" Kamu sudah pulang Mas?" tanya Rania dianggukan Devan, Devan merasa tidak percaya, mereka duduk begitu dekat, namun Rania tidak menghindar sama sekali, Rania kemudian duduk dari tidurnya dia bersandar di kepala ranjangnya dengan sandaran bantal yang direbahinya itu.
__ADS_1
" Maafkan aku, karena aku membangunkan kamu,kalau kamu mau lanjut tidur, lanjut lah karena ini juga sudah malam." ucap Devan sembari berdiri, namun tangan Devan langsung dipegang oleh Rania.
" Mas Devan..." panggilnya.
Devan menoleh ke arah Rania, kemudian dia kembali duduk di bibir ranjangnya itu.
" Ada apa Rania?"
" Kamu jangan tidur di sofa lagi ya." Devan tersentak dengan ucapan Rania, seakan tidak percaya dengan ucapan istrinya itu.
" Kalau aku nggak tidur di sofa, terus aku tidurnya di mana? Kalau aku tidur dengan kamu, kamu pasti akan menolak."
Rania tersenyum sembari menggeleng.
" Kita kan sudah suami istri, masa suaminya tidur di sofa terus membiarkan istrinya tidur sendiri di atas kasur, ini kan kamar kamu juga."
Devan kemudian memegang jidat Rania.
" Iih! apaan sih Mas?" ucapnya menarik tangan Devan dari jidatnya.
" Kamu tidak sakit kan Rania? kamu tidak kesambet kan?"
" Enggak! aku enggak sakit, aku juga nggak kesambet, kamu ada-ada aja sih, kamu mau nggak tidur di sini, di samping aku, kalau kamu nggak mau ya udah!" ucapnya terlihat cemberut, mendengar ucapan Rania itu, Devan langsung berdiri dan mengambil selimut serta bantal yang berada di Sofa, dia pun langsung menghempaskan tubuhnya di samping Rania, Rania tersenyum kemudian dia merubah posisinya kembali seperti semula tidur terlentang, tidak ada suara sama sekali di kamar itu, Namun mereka tetap membuka matanya dan sama-sama menatap langit-langit kamar mereka tersebut.
Entah ada keberanian apa Devan kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rania, Rania tetap dengan posisinya.
Devan mendekati Rania, dia semakin dekat dan Rania tetap tidak bergeming, dia juga tidak menghindar dari Devan, Devan mencium kening Rania, beralih kepipi kiri dan kanan Rania,dan terakhir Devan ******* bibir mungil Rania, awalnya Rania tidak membalas ciuman tersebut,namun lama kelamaan Rania terbuai dan memberikanbredponnya pada Depan, kamar Devan yang kedap suara itu pun menjadi saksi dua insan menjadi satu, hentakan demi hentakan, suara demi suara terdengar di ruangan tersebut, mereka berdua menciptakan kebahagiaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata, sampai akhirnya Devan pun menjadi suami seutuhnya bagi Rania, Begitu juga dengan Rania, sudah menjadi istri seutuhnya memberikan yang terbaik untuk suaminya dan dia sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri di mata sesungguhnya dihadapan Devan.
__ADS_1
Devan kemudian menggeser tubuhnya di samping sang istri sembari berbisik pelan di telinga Rania.
" Terima kasih sayang, sekarang kau menjadi istriku sungguhan, bukan kepura-puraan." Rania hanya tersenyum sembari memeluk suaminya itu, dia kemudian memeluk istri dan Rania menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan sang suami, sampai akhirnya mereka pun larut dalam tidurnya menuju ke arah alam mimpi mereka.