Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#14 Akhir Dari Pencarian


__ADS_3

" Aku kasihan aja dengannya, dia berjuang dengan sekuat tenaga hanya untuk membiayai kedua orang yang ada dikampung halamannya yang menurut aku kedua orang itu sangat tidak punya perasaan."


" Kenapa?"


" Karena kedua orang itu adalah ibu dan kakak tirinya yang hanya hidup berpoya-poya saja dan menghabiskan uang, dan parahnya Ranialah yang diharuskan mencari uang buat mereka, kalau tidak memberi mereka uang yang mereka inginkan rumah yang ditempati mereka akan dijual, Rania menyanggupi semuanya demi mempertahankan rumah peninggalan kedua orang tuanya itu." Terang Tania pada William dan dia mendengarkan keterangan Rania serta merta menganggukkan kepalanya mengerti akan cerita tersebut.


" Ini bisa membuat pak Bos melancarkan rencananya untuk mendapatkan Rania sesuai dengan keinginan ibunda ratu." Ucap batinnya sembari tersenyum.


" Kenapa kamu tersenyum?"


" Nggak, aku ada ide buat pak Bos ku."


" Ide apa?"


" Sebanarnya aku kesini dan ingin mencari Rania karena..." William kemudian menceritakan semuanya pada Tania tentang pencariannya terhadap Rania sampai Ibunda Ratu membuat sandiwara agar pak Bosnya bisa menemukan Rania dan ikut kerumahnya.


Sampai cerita selesai Tania yang gantian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Aku akan membujuk Rania agar dia bisa menyetujui semuanya."


" Aku akan menceritakan semuanya pada pak Bos,tentang Rania, biarkan saja saat ini dia istirahat nanti kabari aku kondisi terkininya padaku ya." Ucap William pada Tania dan dianggukkan Tania.


" Tapi sebenarnya kenapa bisa jahat banget ya ibu tirinya itu?" Tanya William


" Aku juga tidak tahu kenapa, semua harta peninggalan kedua orang tuanya itu di habiskan sama ibu tirinya untuk mempercantik sang anak dan Rania yang mencari uang untuk mereka, apa aja yang dilakukan Rania asalkan dia mendapatkan uang dan selama pekerjaan itu halal dia kerjakan untuk mengumpulkan uang tersebut agar rumah itu tidak dijual mereka "


" Sungguh kejam sekali."


" Yah, begitulah kelakuan mereka yang tidak punya perasaan itu."


Kemudian ponsel William berdering dan dia pun menjawab panggilan tersebut.


" Ya Bos..."


" Gimana sekarang kamu sudah menemukan Rania?"

__ADS_1


" Sudah Bos, dan saat ini Rania masih tertidur belum bisa bicara langsung."


" Bagus! Akhirnya ditemukan, dan jangan diganggu terlebih dahulu biarkan dia istirahat." Ucapnya langsung saja mematikan ponselnya dan William menatap layar ponselnya sembari berkata.


" Kebiasaan pak Bos! Main mati secepat kilat ponselnya." Ucapnya sembari memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.


Tania pun hanya tersenyum, dan William menatap wajah Tania yang lagi tersenyum.


" Cantik, wajahmu masih secantik dulu, dan tidak berubah dipandanganku, namun terakhir yang aku tahu kalau kamu sudah memiliki pasangan kala itu, itulah yang membuat aku menyimpan perasaan ini sampai sekarang padamu, karena aku tidak ingin melukai hatimu dan hatiku untuk sebuah kata cinta." Ucapnya dalam batinnya.


" Hey! Kenapa kamu diam?" Tegur Tania.


" Ach ..hehehe nggak aja, oh ya kalau gitu aku pamit dulu ya, karena pak Bos minta jemput, besak aku akan kesini lagi untuk bicara langsung dengan Rania." Ucapnya berdiri untuk berpamitan dengan Tania.


Tania pun langsung menganggukkan ucapan William. Kemudian William melangkah meninggalkan Tania yang menatap kepergian sang kawan tersebut Diapun langsung memasuki ruangan Rania, terlihat nampak Rania tertidur, dan Tania pun merebahkan tubuhnya disofa yang ada diruangan tersebut.


Dikampung halaman Rania.


" Ibu...mana uangnya? Kenapa Rania nggak mengirimkannya sih ach!!" Ucap Sarah seraya duduk diruang tengah rumahnya.


" Aku kan mau kesalon ibu, nanti kalau aku tidak cantik dan nampak kucel, bang Baron akan ninggalin aku bu, aku tidak mau kalau dia ninggalin aku bu." Ucapnya terlihat kesal.


" Iya-iya nak, sabar dulu dong, ini ibu lagi menghubungi Rania.


Saat Bu Rina menghubungi Rania melalui ponsel pribadinya, tapi sayang tidak tersambung, betapa murkanya wajah bu Rina dan dia pun marah besar pada Rania.


" Kurang ajar Rania! Berani-beraninya dia menonaktifkan ponselnya, aku akan menjual rumah ini dan tidak akan aku beri lagi ampunan buat dia.!!" Ucapnya dengan nada kemarahan.


" Iya Bu, jual aja rumahnya dan kita segera pindah keruamah kita sendiri, biarkan aja dia tidak punya rumah!" Ucap Sarah merasa senang karena ibunya ingin menjual rumah tersebut.


" Nanti ibu akan kerumah teman ibu, dan menawarkan rumah ini, biar secepatnya kamu dapat uang yang banyak untuk mempermak penampilan kamu, biar bang Baron kamu itu semakin cinta padamu." Ucapnya sembari menyentuh dagu sang anak.


" Ibu ku memang hebat, sangat hebat..." Ucapnya sambil memeluk sang ibu, dan merekapun tersenyum bersama.


Kemudian mereka berdua pergi kerumah teman bu Rina untuk menawarkan rumah peninggalan suami keduanya Ayahnya Rania.

__ADS_1


Setelah bertemu dengan seseorang tersebut Devan pun kembali menghubungi William, setelah berbicara sesaat ternyata William sudah memasuki halaman Resto itu dan Devan pun langsung berpamitan dengan seseorang tersebut dan diapun melangkah mendekati William yang sudah menunggu dirinya, dengan membukakan pintu mobil untuk sang Bos, Devan pun langsung memasuki mobilnya dan menuju kearah kantornya.


" Bagaimana keadaan Rania?"


" Saya tidak sempat Bos melihat keadaannya karena saat itu dia istirahat, saya hanya bertemu dengan sahabatnya, dan kebetulan sahabat Rania itu teman saya saat sekolah dulu.


" Baguslah!" Ucapnya singkat.


" Tapi ada yang sangat menarik sekali Bos."


" Tentang apa?"


" Tentang kehidupan Rania."


" Maksud kamu? Kehidupan gimana?"


" Kehidupan Rania yang sekarang dialaminya." Kemudian William pun menceritakannya pada sang Bos, Devan mendengarkan semuanya, ada rasa terharu dihati Devan karena dia tidak menyangka kalau gadis yang ada direkaman itu berjuang untuk ibu tiri dan kakak tirinya.


Devan terdiam dia tidak menanggapi apa yang dikatakan William, dan William hanya menghela nafasnya dengan pelan.


" Ini Bos terbuat dari apa ya? Aku sudah cape-cape bicara dia tidak menanggapi sepatah kata pun, nasib-nasib punya Bos kaya bongkahan batu es yang keras sekali." Gumamnya dan Devan menatap kearah William karena terdengar Devan kalau William bergumam.


" Tanyakan alamat Rania dikampung dengan temanmu itu."


" Baik Bos..." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Tania, setelah berbicara sesaat kemudian William pun menyudahi pembicaraannya dan Alamatnya sudah didapat William, setelah mengatakan pada sang Bos alamat tempat tinggal Rania dikampung halamannya itu tiba-tiba Devan langsung berkata pada William yang membuat William terkejut.


" Sekarang kita berangkat kekampung halaman Rania." Ucap Devan langsung saja William menghentikan mobil yang dikendalikannya.


" Kekampung halaman Rania?"


" Iya, kita beli sekarang rumah yang ditempati ibu tiri dan saudara tirinya itu." Ucapnya lagi.


William hampir tidak percaya dengan ucapan Pak Bosnya itu, karena dia tidak menyangka akan kata-kata Bosnya tersebut, William tersenyum.


" Siap Bos!" Ucapnya kemudian melajukan mobilnya menuju kampung halaman Rania yang ditempuh hanya beberapa jam saja.

__ADS_1


__ADS_2