Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#18 William dan Tania Bertemu


__ADS_3

Karena keadaan Rania sudah sangat membaik dia pun tidak menginap di rumah sakit tersebut tapi dia ingin pulang ke rumah kontrakannya, tapi karena Tania merasa harus menjaga sang sahabat dia pun meminta Rania untuk tinggal sementara waktu di rumahnya, Rania hanya menganggukkan kepalanya selebihnya juga dia ingin bersama dengan sahabatnya itu biar dia merasa ada teman untuk bicara, saat ini dia tidak ingin sendirian karena dia sudah terlalu lama sendirian menahan beban yang ada di dalam dirinya itu, apalagi sekarang rumah yang memang diperjuangkannya sudah dijual oleh ibu tirinya, pikirannya pun berkecamuk karena memikirkan siapa sebenarnya orang yang telah membeli rumahnya itu, sekarang di dalam pikirannya itu hanyalah ingin mencari tahu siapa orang yang telah berani membeli rumahnya dengan harga yang sangat tinggi, kalau dilihat sekilas rumah Rania hanya sederhana tidak seperti rumah gedongan yang ada di kampung halamannya itu.


Halamannya memang luas tapi tidak seperti halaman rumah orang-orang yang ada di kampung dengan memiliki halaman yang yang indah dan terawat, memang rumah Rania kala itu selalu dirawat saat sang Ibu masih ada dan di saat Ayahnya juga masih ada rumah itu memang selalu terawat tapi setelah kepergian kedua orang tuanya rumah itu sudah tidak terawat lagi, walaupun ada penghuninya di dalam rumah tersebut.


Rania hanya menghela nafasnya dengan pelan dan dia pun menyadarkan tubuhnya di sandaran jok mobil tersebut sembari menatap ke arah depan di mana di sampingnya Tania sedang mengendalikan kuda besinya itu menuju ke arah rumah pribadinya Tania.


Tania melirik ke arah Rania sesaat...


" Apakah kita berhenti untuk mencari makan dulu Rania?"


" Tidak usah, aku tidak lapar, aku ingin istirahat di rumah aja, besok kan aku harus berangkat ke kantor Dev grup, aku tidak ingin terlambat karena besok adalah hari pertama aku untuk bekerja, Tapi aku juga tidak tahu sih sebenarnya apakah ini bekerja atau interview ulang." Ucap Rania.


" Tapi menurut Aku kayaknya kamu udah diterima deh, karena kalau interview ulang,Kamu tidak akan dicari untuk kedua kalinya, tapi ini sepertinya kamu sangat diperlukan sekali sehingga mereka mencari-cari kamu." Terang Tania.


" Maksud kamu?" Rania menatap ke arah Tania yang masih menatap lurus ke depan, hanya sesekali saja Tania menatap ke arah Rania.


" Terlihat dari orang suruhan dari kantor Dev Group, kalau seandainya kamu interview ulang mereka cukup untuk menghubungi kamu melalui ponsel pribadimu, walaupun ponsel kamu tidak aktif, setidaknya mereka mengirimkan chat pribadi, tapi mereka sendiri yang datang mencari kamu, Awalnya mereka mencari ke kontrakan kamu, tapi karena tidak menemukan Kamu, akhirnya orang yang ngontrak di kontrakan kamu itu memberikan nomor pribadi aku, ya jadilah seperti ini akhirnya kamu disuruh datang besok pagi ke kantor Dev grup, mudah-mudahan aja kamu diterima dan tidak di interview ulang." Ucap Tania.


" Ya mudah-mudahan aja Tania, karena ini adalah harapanku untuk mengumpulkan banyak uang dan menembus kembali rumah yang telah dijual oleh ibu tiriku."


" Kamu yang sabar ya Rania, aku akan membantu kamu sebisa aku." ucapkannya kembali tersenyum dan mengusap pundak sahabatnya itu dan kembali fokus untuk menyetir menuju ke arah rumah pribadinya.


Tepat jam 05.00 sore Devan kemudian melangkah keluar ruangannya dan menuju ke arah lift khusus pimpinan dan lift itu pun membawa dirinya turun ke loby, dengan langkah yang tegap dan berwibawa serta dinginnya sikapnya dia melangkah tanpa melihat kiri dan kanan, dia terus berjalan dan sampailah di depan pintu lobby di mana mobil pribadinya sudah tersedia di depan pintu tersebut, kunci mobil pun beralih tangan ke dirinya beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan kantor pribadinya itu menuju ke arah rumah.


William yang masih berada di kantor pun sudah bersiap-siap untuk pulang, kemudian dia pun menghubungi Tania kembali, Tania yang sudah berada di rumahnya itu pun menjawab panggilan dari William.


" Ya Will, Ada apa?"


" Bisakah kita bertemu?"

__ADS_1


" Kapan?"


" Hari ini."


" Di mana?"


" Di Cafe extra."


" Baiklah, sekarang aku akan bersiap-siap dulu, karena aku baru nyampe ke rumah."


" Oke! aku akan menuju ke sana terlebih dahulu dan aku akan menunggumu di sana." ucapnya kemudian mereka berdua pun menyudahi pembicaraan melalui ponsel pribadi mereka masing-masing, William tersenyum dia pun kemudian melangkah meninggalkan ruangannya dan menuju ke arah lobby, beberapa saat dia pun meninggalkan kantor menuju ke arah cafe yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan Tania.


Tania yang sudah bersiap-siap itu menemui Rania yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik Tania.


" Kamu mau ke mana? "


" Aku mau bertemu dengan temanku sebentar, kamu mau ikut?"


" Aku mau istirahat aja biar besok pagi aku terlihat fress." ucapnya sembari tersenyum.


" Baiklah kalau begitu aku tinggal ya, nanti Bi Iyem yang akan menyiapkan persiapan kamu, panggil aja dia ya "


Rania menganggukkan kepalanya.


" Hati-hati ya Tania." ucapnya, Tania menganggukkan kepalanya kemudian dia melangkah meninggalkan ruang kamarnya tersebut menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian mobil Tania pun meninggalkan rumah pribadinya setelah dia berpamitan dengan sang Mamah yang kebetulan duduk di ruang tamu yang sedang berbicara dengan tamu pribadinya itu.


William yang sudah sampai di Cafe extra itu pun sudah memilih tempat duduk sambil menunggu Tania datang, dia pun memesan minuman tanpa alkohol dan beberapa cemilan, tidak lama dia menunggu seorang perempuan cantik pun melangkah memasuki Cafe tersebut, dia menengok kiri dan kanan sembari melihat layar ponselnya untuk menghubungi seseorang, sebelum di ponsel itu tersambung dia pun dikejutkan dengan suara William yang memanggilnya.


" Tania ..!" panggilnya.

__ADS_1


Tania menoleh ke arah suara dia pun tersenyum dan mematikan ponselnya yang hendak memanggil William, Dia kemudian melangkah mendekati William dan dia duduk di depan William sembari meletakkan tas dan jaket yang dipakainya tersebut.


" Kamu mau pesan apa?" Tanya William.


" Aku terserah aja." ucapnya santai.


Kemudian William memanggil pelayan Cafe dan memesan minum untuk Tania.


" Gimana sekarang keadaan Rania?"


" Keadaannya sekarang mendingan, karena dia cuma pingsan biasa karena kelelahan."


William menganggukkan kepalanya.


" Kalau dia memang besok tidak bisa datang ke kantor nanti aku akan bilang dengan Pak Devan."


" Dia bisa kok katanya, sekarang dia berada di rumahku, aku suruh istirahat di rumahku, aku tidak memperbolehkan dia berada di rumah kontrakannya seorang diri."


" Oh gitu ya, Tania... Ada yang ingin aku tanyakan denganmu di sini."


" Soal apa?" tanyanya seraya menatap ke arah William.


" Masihkah kamu bersama dengan kekasih kamu yang dulu?"


Tania terkejut dengan pertanyaan William dia langsung mengalihkan pandangannya sambil tersenyum tipis.


" Maafkan aku Tania, aku bertanya ini kepadamu karena sudah lama pertanyaan ini mau aku tanyakan padamu."


Kemudian Tania menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Kenapa Tania, ada apa ?"


Tania menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, seberat beban yang selama ini dia rasakan.


__ADS_2