Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#15 Kampung Halaman


__ADS_3

Mobil terus melaju dengan kecepatan standar karena jalan yang ditempuh menuju ke kampung halaman Rania tidak terlalu banyak hambatan dan didukung dengan jalanannya yang mulus tanpa lobang, William dengan sigap mengendalikan kuda besi tersebut.


Dirumah temannya Bu Rina.


" Sal, ayolah beli rumah yang sekarang Aku tempati,karena Aku butuh uang yang banyak, dan ingin melanjutkan hidup kami dirumah kecil kami, karena Rania tidak tahu keberadaannya, dia kabur begitu saja setelah kedapatan merayu si Baron, dia juga sudah tidak peduli lagi dengan kami, rumah itu terlalu besar bagi kami." Ucapnya berbicara dengan Salia temannya itu.


" Kenapa ya Rania sampai setega itu berbuat sama kakak dan ibu yang sudah merawatnya semenjak ibunya tiada." Ucap Salia terlihat tidak senang dengan Rania.


Kedua ibu dan anak itupun sukses bermain dramanya didepan semua orang termasuk ibu Salia.


Mereka berdua memperlihatkan wajah sedihnya itu dan mereka berdua bermain peran sebagai orang yang teraniaya dan tertekan.


" Tapi maaf Rin, aku tidak bisa membeli rumah kamu karena baru saja aku sudah menstranferkan uang kami untuk Anak ku yang lagi kuliah dikota sebelah." Ucap Bu Salia terlihat sedih karena tidak bisa membantu kawan karibnya itu.


Mendengar itupun mereka berdua terkejut, Ibu dan Anak itu saling pandang.


" Sialan nih Salia aku kira bergelimang uang ternyata kere juga." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan dalam dan terlihat diwajahnya ada rasa kecewa yang besar.


" Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, kalau kamu denger ada yang membutuhkan rumah kabarin saja Aku ya." Ucapnya segera pergi dari rumah Bu Salia dan menuju kerumahnya sambil mengungkapkan kekesalannya tersebut.


Mobil yang dikendarai William dan Devan memasuki perkampungan yang baru saja dikunjungi bagi Bosnya tetapi tidak dengan William, dia merasa pernah mengunjungi perkampungan itu, didalam mobil dia berpikir keras tentang kampung tersebut, karena dia harus memulainya mencari tahu siapa yang akan menunjukkan tempat tinggal Rania, sambil mengemudikan mobil bosnya itu dengan pelan, dan akhirnya dia mengingatnya saat itu dia pernah berada diperkampungan ini saat dia masih kuliah, diapun langsung tersenyum, Devan yang melihat Sekretaris itu tersenyum langsung saja menegurnya.


" Kenapa kamu tersenyum? Ada apa? Apakah kamu sudah mengetahui rumah kediaman ibu tirinya Rania?"


" Tenang aja Pak Bos, kita akan segera menemukannya." Ucapnya santai dibarengi dengan senyumannya yang mengembang diwajahnya, setelah beberapa menit berputar-putar dari satu jalan kejalan yang lain sampailah dia disebuah rumah besar bisa dikatakan rumah tersebut adalah rumah terunik dikampung itu.


" Apakah ini rumahnya Wil?"


William hanya tersenyum saja.


" Apakah kamu tidak salah kalau ini rumahnya?"


William hanya menganggukkan kepalanya sembari memainkan Alisnya naik turun, dia memang sengaja untuk menggoda Bosnya itu, karena dia tahu semarah apapun Bosnya pada dirinya, Bosnya tidak pernah menyakitinya karena baginya Bosnya itu adalah teman terbaik dirinya.


" Kalau memang ini rumahnya berarti memang rumah yang dipertahankan oleh Rania dia tidak ingin rumah ini dijual oleh ibu tirinya."


" Iya Bos tidak salah bos ..."

__ADS_1


" Maksud kamu?" ucap Devan sembari menatap lekat ke arah William


William yang masih menoleh ke arah Devan itupun hanya bisa memberikan senyumannya.


" Udah! Aku tidak ingin senyuman kamu Aku ingin kepastian dari kamu !"


" Jangan Bos! jangan kepastian dari saya, kita kan laki-laki sama laki-laki, nanti dikira orang kita jeruk makan jeruk lagi "


Devan hanya mendengus dengan kesal William pun terkekeh pelan.


Depan menatap ke arah rumah tersebut dia memperhatikan rumah itu dari sisi kiri kanannya.


" Kalau dilihat dari Arsitekturnya rumah ini pasti mempunyai kenangan yang terindah bagi Rania sehingga dia mempertahankan rumah ini agar rumah ini tidak dijual oleh ibu tirinya dan kakak tirinya itu." ucapnya berbicara pelan tapi tetap terdengar oleh William.


William pun terkekeh lagi Devan menatap ke arah William.


" Benar Bos, tapi sayangnya rumah ini bukan rumahnya Rania." ucap William sembari tertawa lepas.


Devan terkejut dan langsung saja jarinya memberikan sentilan ditelinga sang Sekretaris.


William tersenyum sembari mengusap telinganya.


" Tenang Bos, rumah ini adalah rumah temannya saya waktu saya kuliah dulu."


" Hah? Punya teman juga kamu Wil?! Lagi pula kenapa kamu baru bilang?"


" Hehehe...Bos kan nanya Jadi saya menjawabnya."


" Tapi dari tadi kamu menjawabnya tidak benar semua, bahkan Aku berpikiran rumah ini adalah rumahnya Rania dan Aku juga berspekulasi kalau rumah ini adalah rumah kenangan Rania dengan keluarganya karena terlihat dari Arsitekturnya sangat mengesankan."


" Hehehe... Maafkan saya Bos." ucapnya kemudian William turun dari mobil dengan posisi mobil masih menyala agar si Bos di dalam mobil tidak kepanasan.


William kemudian melangkah memasuki halaman rumah itu, dan mengetuk pintu rumah tersebut, beberapa saat William berada di depan pintu rumah itu, pintu itu pun terbuka dan seseorang keluar dari dalam rumah tersebut, terlihat William dan laki-laki itu pun saling bersalaman dan tersenyum, Mereka pun kemudian berpelukan seperti sahabat yang lama tidak bertemu


Terlihat William menjelaskan kedatangan dia kepada temannya itu dan temannya itu pun menoleh ke arah mobil yang masih terdengar menyala.


" Aku bersama dengan Bosku beliau ada di dalam mobil, Aku ke sini mau bertanya padamu."

__ADS_1


" Bertanya soal apa Will? lama kita tidak bertemu masuklah dulu kita bercerita didalam."


" Maafkan Aku Ric..kapan-kapan saja Aku bercerita denganmu dan kapan-kapan juga nanti aku akan menginap di rumahmu seperti waktu kita saat kuliah dulu."


" Heheh baiklah, terus apa yang ingin kamu tanyakan denganku?"


" Apakah kamu mengetahui kalau di dekat sini ada rumah yang mau dijual ?"


" Rumah yang mau dijual?" Terlihat Rico berpikir sejenak.


" Sebenarnya ada, tapi Aku tidak tahu apakah rumah itu masih tetap mau dijual atau tidak."


" Rumah siapa itu?" tanya William, padahal dia sudah tahu kalau itu pasti rumah Rania.


" Rumah Rania Ishyabella."


" Rania Ishyabella? siapa dia?"


" Rania Ishyabella itu anak nya Almarhum pak Yoga yang beberapa bulan lalu meninggal dunia, Tapi terdengar kabar yang aku dengar dia pergi meninggalkan rumah setelah dia menggoda kekasih dari kakaknya." Terang Rico


" Menggoda kekasih dari kakaknya, maksud kamu gimana?"


" Aku juga tidak jelas ceritanya, tapi orang-orang di sekitar kampung ini memang sudah bercerita kalau Rania itu suka menggoda kekasih kakak tirinya jadi dia merasa malu dan meninggalkan rumah tersebut, Aku dengar rumahnya itu mau dijual, kok kamu mau mencari rumah di sekitar sini memang untuk apa.?" tanya Rico sembari menatap ke arah William, William hanya tersenyum saja.


" Bukan Aku yang mau beli, tapi Bos Aku yang mau membeli rumah di sekitar sini, karena beberapa waktu yang lalu dia pernah ke sini dan melihat suasana perkampungan ini sangat tenang mungkin saja dia ingin menjadikan rumah itu tempat persinggahan dia sementara, kalau dia merasa pusing, biasalah namanya juga orang kaya yang berkutat dengan berbagai macam pekerjaan di kota." Ucap William berbohong kalau Devan ingin membeli rumah buat persinggahan.


Rico pun menganggukkan kepalanya dia pun kembali tersenyum.


" Baiklah kalau kayak gitu mari Aku antarkan ke rumah Bu Rina."


" Bu Rina siapa?"


" Dia adalah ibu tirinya Rania."


" Oh, begitu ya... ayo " ucapnya.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke arah mobil Devan.

__ADS_1


Rico pun masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk di samping William, ia kemudian memberi salam kepada Devan yang duduk di kursi belakang, Devan pun membalas salam Rico, kemudian Rico dan Devan saling berjabatan tangan.


Kemudian mobil tersebut melaju menuju ke arah rumah Rania yang tidak terlalu jauh dari rumah Rico.


__ADS_2