Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#21 Kedatangan Sintya


__ADS_3

Setelah ditandatanganinya surat kontrak kerja itu, Rania memberikannya kembali pada William.


" Baiklah sekarang kamu sudah bisa bekerja tapi bukan kerja disini," ucap William.


" Hah? memang saya kerja dimana? sayakan melamar dikantor ini, tapi kenapa kerjanya d llain tempat, gimana ceritanya ini."


" Jangan marah dulu Ran dan jangan bersikap heran seperti itu dong, santai aja..."


" Gimana nggak heran sih, kalau soal marah itu tidak ada sih, tapi ya heran aja." ucap Rania sembari menatap kearah William.


" Kamu sudah baca isi kontrak kerja tadi semuanya, kalau belum baca silahkan baca lagi." ucap William sembari menyerahkan surat kontrak kerja yang sudah ditandatangani Rania.


Dengan teliti Rania membaca kembali surat itu dan diapun langsung menundukkan kepalanya.


" Astaga! bodohnya aku kenapa aku tadi tidak membacanya lebih awal, main tandatangan aja sih, Rania kenapa kamu sangat ceroboh sekali sih,gimana ini aku harus menjadi baby sister pak Devan, ya ampun Rania aku harus mengurus dia daripagi sampai pagi lagi, matilah kamu Rania..." ucapnya.


" Bagaimana Rania? sudah paham." tegur William sembari tersenyum.


Rania kemudian mengela nafasnya dengan pelan dan diapun menganggkat wajahnya sembari menatap kearah Devan dan kemudian berpaling kearah William sambil bersuara.


" Baiklah saya akan terima pekerjaan ini." ucapnya sembari tersenyum walaupun dipaksakan, Devan langsung tersenyum mendengar perkataan Rania.


" Mulai hari ini kamu boleh bekerja, dan sementara waktu kamu bisa memahami semua tentang Bos yang disukai dan tidak disukainya." ucap William sembari menyerahkan daftar apa saja yang disuka ataupun tidak disukai pak Bosnya itu. Rania mengambil sebuah buku kecil itu dan membacanya.


" Ya Tuhan...banyak sekali, sepertinya Bosnya DEV Group ini adalah manusia yang aneh!" gumamnya sembari membolak balik buku kecil itu.

__ADS_1


" Terus kalau saya bekerja tempat saya di mana apakah saya berada di dalam ruangan ini atau saya berada di rumah saja.?" tanya Rania sembari menatap p?kearah William, William tersenyum pada Rania.


" Untuk hari ini kamu harus berada di dalam ruangan ini." ucap Devan langsung spontan Rania menatap ke arah William dan dianggukan oleh William lalu kemudian dia menatap ke arah Devan yang tidak mengubah posisi pandangannya ke arah layar laptopnya itu.


" Apa saya harus berada di ruangan ini?"


Lagi-lagi Rania menatap ke arah William dan William pun hanya menganggukkan kepalanya.


" Kamu bisa aja pulang ke rumah kamu tapi di saat aku memerlukan kamu, kamu harus bersedia datang menemuiku, tanpa terkecuali. " Ucap Devan sembari masih tetap menatap ke arah layar laptopnya dan tidak sekalipun dia menatap ke arah Rania, Rania hanya menghela nafasnya dengan pelan.


" Pekerjaan kamu itu sesuai dengan gaji kamu 3 kali lipat dari karyawan yang bekerja di kantor ini karena kamu bekerja melebihi jam dari kantor ini kerjanya mudah kamu hanya mengikuti instruksi dari Pak Bos." ucap William lagi-lagi William tersenyum sedangkan Rania hanya menarik nafasnya dengan berat karena dia sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja yang disodorkan oleh William.


" Inilah kecerobohanku karena aku tidak membaca kontak kerja tersebut jika seandainya aku baca kontak kerja itu dari awal sampai akhir mungkin aku akan menolak pekerjaan ini." Gumannya di dalam hati sembari hanya menganggukkan kepalanya dengan ucapan William itu.


" Baiklah Rania silakan kamu pahami dulu semua catatan tentang Bos itu, setelah itu baru kamu lakukan pekerjaan kamu sesuai dengan apa yang disukai pada hari ini karena itu sudah tertera di catatan yang kamu pegang itu, dari hari pertama sampai hari terakhir." Ucap William.


" Baiklah saya akan memahami ini tapi bolehkah saya meninggalkan tempat duduk ini?" ucapnya dianggukan oleh William dan dia pun mengarahkan Rania untuk duduk di sofa ruangan tersebut.


Kemudian William mendekati pak Bosnya itu.


" Maaf Pak Bos sekarang pekerjaan saya sudah selesai di ruangan ini tibalah saatnya saya mau kembali ke ruangan saya." ucapnya sembari tersenyum dan menyerahkan beberapa berkas yang masih ada dengannya yang kebetulan harus ditandatangani oleh Pak Bosnya itu.


Devan hanya menoleh sesaat ke arah William dan menganggukkan kepalanya, kemudian dia dengan mengisyaratkan melalui tangannya mempersilahkan William keluar dari ruangannya itu, William mengangguk kemudian dia melangkah meninggalkan Bosnya itu bersama dengan Rania berdua saja.


Devan menatap kembali kearah Rania yang sedang membaca buku kecil yang diberikan William padanya, dia tersenyum dan kembali menatap layar Laptopnya lagi, terlihat Rania menghapal semuanya, Rania menoleh kearah Devan yang fokus dengan layar laptopnya itu, dia kemudian mencibir.

__ADS_1


" Dasar Bos manja, harus ada orang yang khusus melayani keperluannya, jika tidak ingin menebus rumah peninggalan kedua orang tuaku Aku tidak Sudi kerja dengan dia,karena dia udah besar masih saja mau diurus dia kan bisa ngurus diri sendiri, dia punya kaki dan tangan, eh malah nyuruh orang lagi untuk kerja mengurusi dia, Astaga! Rania.. Rania... Rania.... kamu harus sadar dan kamu tidak boleh meggerutu seperti ini, ini adalah kesempatan kamu untuk mendapatkan gaji yang sangat besar dan uang kamu bisa cepat terkumpul sampai akhirnya kamu akan menebus rumah peninggalan kedua orang tuamu itu, sabar Rania, jalani apa adanya, semangat Rania..." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia melanjutkan kembali membaca buku tentang Devan yang sudah sah menjadi Pak Bosnya itu.


William pun tersenyum-senyum saat keluar dari ruangan pak Bosnya, kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ibu Mellany.


" Beres ibunda Ratu, semuanya sudah dilaksanakan, sekarang Pak Bos sudah berada bersama dengan Rania dan Rania tidak bisa lagi pergi dari kita karena sudah terikat kontrak kerja." ucapnya sembari terkekeh.


" Kerja bagus William." ucapnya tertawa pelan.


Kemudian mereka pun menyudahi sambungan bicaranya tersebut saat William hendak memasuki ruangannya, Dia kemudian dikejutkan oleh suara Leni membawa seorang wanita yang berpenampilan sangat cantik sesuai dengan bodynya yang terlihat sangat aduhai.


" Maaf Pak William..." panggil Leni, William pun menoleh ke arah Leni dia tidak jadi untuk masuk ke dalam ruangannya, Dia mendekati Leni.


" Maaf pak ini mbak Sintya katanya dia mau menemui Pak Devan, karena sudah janji dua hari yang lalu."


William menatap ke arah Sintya kemudian tersenyum.


" Oh iya mari saya antar ke ruangan Pak Devan, saya William sekretarisnya Pak Devan sekaligus orang kepercayaannya." ucapnya sembari menyodorkan tangannya ke arah Sintya, dan ia pun tersenyum dan menerima jabatan tangan dari William.


Lalu mereka berjalan menuju ke arah ruangan Devan, setelah William mengatakan terima kasih pada Leni.


Leni pun kembali ke ruangannya lagi.


" tok tok tok tok"


" Masuk!" Perintah suara dari dalam.

__ADS_1


Pintu terbuka Sintya langsung melangkah bersama dengan William, Sintya terkejut melihat di ruangan Devan ada seorang wanita, sedangkan Rania hanya memberikan senyuman pada Sintya dan kembali membaca buku yang ada di tangannya itu, Sintya membalas senyuman Rania dengan tatapan tidak senangnya karena Ranian berada diruangan Devan.


__ADS_2