
Beberapa saat kemudian panggilan William pada Tania pun bersambut.
" Hallo..." Sapa suara diseberang sana.
" Ya Hallo Mbak...apakah ini dengan Mbak Tania?"
" Iya...siapa ya ini?"
" Saya William dari kantor Dev Group, bisakah Mbak kita bertemu sekarang."
" William? Dev Group? Oh iya bisa , saya sekarang berada dirumah sakit permata hati." Ucap Tania.
" Oh iya Mbak, kami segera kesana..." Ucap William sembari menyudahi bicaranya dan bergegas memasuki mobil dan melajukan mobil tersebut menuju kearah rumah sakit yang diberitahukan Tania.
" William? Kayanya aku tidak asing deh dengan nama itu." Ucap Tania sembari mendekati Rania yang masih berada diranjang tidur rumah sakit tersebut.
" Rania...bagaimana sekarang keadaan kamu?" Tanya Tania.
" Udah agak mendingan Tan...makasih ya kamu udah menolong aku." Ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya karena satu tangannya terpasang jarum infus.
" Aku tadi cemas dan takut karena kamu tidak sadarkan diri dirumah, untung saja kata dokter tadi kamu tidak apa-apa karena mengalami banyak pikiran dan kondisi makan kamu tidak teratur, makanya aku bilang itu tinggal aja dirumah, biar kita bisa sama-sama dan saling menjaga, Mamah pasti sangat senang kalau kamu tinggal dirumah." Ucap Tania.
" Nggak usah Tan, karena aku tidak ingin merepotkan keluarga kamu " ucapnya sembari tersenyum.
" Oh ya Ran...tadi ada orang kantor Dev Group menghubungi ku..."
" Hah? Menghubungi kamu? Kok bisa?"
" Hmmm...benar juga ya? Kalau dipikir kenapa mereka menghubungiku? Kalau berhubungan dengan interview kemaren seharusnya mereka menghubungi kamu, kan aku yang melampirkan nomer ponsel kamu, bukan nomer ponsel aku." Ucapnya sembari berpikir keras kenapa pihak kantor Dev Group menghubunginya.
" Iya kan kamu aja bingung, apalagi aku.." ucap Rania
" Ya sudah biar kita lihat aja nanti siapa yang datang dan apa keinginan mereka."
Dianggukkan Rania.
" Tapi kalau seandainya kamu terpilih dan diterima dikantor itu bagaimana?"
" Yah! Aku tidak tahu Tan, karena aku sejujurnya bingung juga, setelah aku pikir sih ingin juga aku bekerja disana untuk menambah biaya buat ibu dan kakak tiriku, tapi karena kejadian itu aku jadi malu dan takut sendiri untuk bertemu dengan Bos itu, bukan takut karena aku marah-marah dengannya tapi karena malu gara-gara aku menjatuhkan Bos tersebut sampai terjatuh, padahal dia sepertinya ingin menolongku tapi karena aku sudah termakan emosiku sendiri sampai akhirnya menjatuhkan dia, itu tidak ada kesengajaan." Ucapnya sembari menatap Tania yang duduk disamping ranjang rawatnya tersebut.
" Menjatuhkan dia? Bagaimana bisa? Kamu aja belum cerita ke aku."
__ADS_1
" Waktu itu aku kurang hati-hati dan aku terjatuh sendiri karena rok panjang yang aku gunakan keinjak kaki kursi yang aku duduki, dan saat aku jatuh pak Bos datang ingin menolong dan dia terinjak Rok panjang aku dan aku tarik begitu saja dan dia hilang keseimbangan dan jatuh menimpa tubuhku dan tanpa sengaja dia mencium pipiku, karena aku menghindar kesamping." Ucapnya tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
" Hahahaha ...itu awal yang bagus " ucap Tania tertawa pelan.
" Awal yang bagus apanya..."
" Iya ..siapa tahu aja Pak Bos itu langsung jatuh hati padamu..."
" Ish...! Ngawur aja kamu ini Tan, udah ach aku mau tidur sebentar." Ucap Rania karena dia merasa sangat mengantuk sekali setelah perawat itu memberikan suntikan di selang infusnya.
" Baiklah, silahkan kamu istirahat, nanti kalau utusan Dev Group itu datang aku yang akan hadapi mereka." Ucap Tania kemudian meninggalkan sang kawan sendirian dan diapun melangkah keluar ruangan untuk duduk santai didepan ruang rawat Rania, dan Raniapun terlelap dalam dunia istirahatnya.
Sebelum sampai dirumah sakit yang dituju, ponsel Devan berbunyi dan dipun langsung menjawab panggilan tersebut, setelah dia berbicara beberapa saat Diapun langsung menyimpan kembali ponselnya.
" Wil, sepertinya aku tidak bisa menemui gadis itu."
" Kenapa Bos?"
" Aku mau menemui seseorang sekarang .."
" Baiklah Bos..."
" Baiklah Bos..." Ucap William kemudian membelokkan arah Mobilnya menuju kearah resto favorit sang Bos.
Beberapa saat kemudian mobil itupun berhenti diresto yang dituju, Devan keluar dari Mobil dan William menuju ke arah rumah sakit tersebut sesuai perkataan Bosnya itu.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai William pun memasuki halaman rumah sakit tersebut dan dia memarkirkan mobilnya itu dia keluar dari mobil melangkah menuju arah koridor rumah sakit sembari menghubungi nomer Tania.
" Mbak diruangan mana ya? Saya sudah sampai dirumah sakitnya "
" Diruangan Angrek pak, saya duduk di luar ruangan pak."
" Oke siap Mbak..." Ucapnya menyudahi pembicaraannya tersebut dan melangkah menuju kearah ruangan yang di beritahukan Tania.
Dari kejauhan Tania melihat seorang lelaki mendekatinya.
" Apakah itu orangnya?" Ucapnya pelan,diapun berpura-pura menatap layar ponselnya seakan-akan tidak mengetahui siapa yang datang, sesampainya didepan Tania, William terkejut karena yang ada dihadapannya itu orang yang dikenalnya.
" Momon.." Panggilnya.
Karena mendengar sapaan William itu Tania menoleh kearah William karena hanya ada satu orang yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu dikala masih sekolah dulu, karena Tania hobynya memanjat pohon dan memanjat pagar sekolah untuk bolos sekolah buat ketemu sang pacar.
__ADS_1
" William? Kamu William kan?" Ucapnya tersenyum.
" Iya Aku William,kamu kemana aja Momon..." Ucap William sembari menyalami teman lamanya itu, kemudian William duduk didepan Tania.
" Aku ada aja disini...kamunya itu lho yang menghilang..." Ucap Tania.
" Ngapain kamu disin Mon?"
" Aku lagi nungguin sahabat aku yang lagi sakit, baru aja masuk." Ucapnya.
William mengangguk.
" Lha kamu sendiri ngapain?" Tanya Tania
William sendiri tidak mengetahui kalau Tania adalah orang yang dihubunginya itu, karena dia tidak tahu nama lengkapnya Tania, karena waktu sekolah dulu Tania bukan dipanggil dengan sebutan Tania tetapi dipanggil dengan nama Safira, sedangkan nama Tania disingkat menjadi TN Safira, William berteman dengan Tania sampai kelas dua SMA dan William harus pindah sekolah ikut kedua orang tuanya kekota lain dan komunikasi antara keduanya putus begitu saja.
" Aku mau ketemu dengan seorang wanita, katanya diruangan ini, tapi kok ada kamu, wanita itu bernama Tania." Ucapnya dan Tania pun tertawa pelan.
" Jadi kamu ya utusan Dev Group yang menghubungi aku tadi?" Ucapnya.
" Tania itu kamu? Astaga kok aku tidak mengenali kamu sih..."
" Kamukan tidak tahu sampai sekarang nama aku TN itu apa, TN itu singkatan dari Tania Broo.."
William pun tertawa pelan, ingin dia tertawa lepas tapi karena kondisinya tidak memungkinkan dia untuk tertawa lepas karena sekarang dia berada di Rumah Sakit.
" Jadi Rania itu teman kamu?"
Tania mengangguk.
" Boleh aku bertemu dengannya?"
" Boleh, tapi dia mungkin sudah tertidur, memangnya ada apa? Kenapa kalian mencari Rania? Apakah dia keterima dikantor kamu?"
" Kalau masalah diterima itu, aku juga tidak tahu, tapi pak Bos aku mencari dia."
" Memangnya untuk apa? Apa karena kejadian saat interview itu? Sehingga Bos kamu mencari dia dan ingin memarahinya? Jangan ya dimarahi, kasihan dia Will..." Ucap Tania sembari menatap William lekat, William pun merasa heran dengan ucapan Tania yang berharap sahabatnya itu tidak dimarahi.
" Kenapa dan ada apa Mon, sehingga kamu tidak ingin kawan kamu itu dimarahi?"
Tania terdiam dan menghela nafasnya dengan pelan dan raut wajahnya terlihat sedih.
__ADS_1