Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#64 Kepergok Lana


__ADS_3

#64 Kepergok Lana🌹


Mendengar ucapan Devan seperti itu Rania kemudian berpamitan ingin pergi ke toilet Devan hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia pun melangkah meninggalkan ruangan Devan menuju ke arah toilet, padahal di ruangan Devan kerja itu toiletnya ada, namun dia tidak mau berada di situ dia memilih toilet yang di luar ruangan kerja Devan


William tersenyum karena melihat wajah Rania yang cemburu pada Devan.


Saat Rania melewati ruang Sintya, Sintya langsung berdiri dan mengikuti langkah Rania menuju ke arah toilet.


Nelum sempat Rania memasuki ruang toilet tangan Rania langsung dicekal oleh Sintya dan ditariknya secara kasar tanpa keseimbangan Rania pun kemudian terbentur dinding tembok toilet tersebut dia sempat mengaduh memegang kepalanya karena terjedot tembok, Dia kemudian menyandarkan tubuhnya sembari menatap ke arah Sintya.


" Heh!!Jangan mentang-mentang kamu adalah istrinya Devan, kamu semaunya berada di kantor ini, kalau urusan rumah tangga kamu jangan dibawa ke kantor ini, seenaknya aja kamu masuk begitu saja ke ruangan Devan, dasar wanita Kampung!!" ucapnya sembari mencengkram wajah Rania, kedua tangan Rania pun memegang tangan Sintya dia menatap sinis ke arah Sintya dengan sekuat tenaganya dia menepiskan tangan Sintya walaupun pipinya terasa sakit.


" Apa-apaan kamu!! apa hak kamu melarang aku keluar masuk di kantor suamiku sendiri!! masalah buat kamu hah!! ucapannya membuat Sintya terkejut dengan ucapan Rania dia menatap Rania dengan tajam.


" Ternyata anak kampung ini tidak bisa dianggap remeh!" gumamnya sembari menatap ke arah Rania dengan tatapan tajamnya.


" Apa masalah kamu denganku?! sehingga kamu menyakiti aku seperti ini hah!!"


" Aku tidak menyakiti kamu kalau seandainya Devan memang memilih diriku!!"


" Seharusnya kamu itu sadar, kamu itu tidak laku di depan Devan!!" ucap Rania, mendengar ucapan Rania seperti itu dia pun langsung hendak melayangkan gamparannya ke arah pipi Rania namun kemudian Lana pun berteriak..


" Hai!!apa yang kamu lakukan dengan Kak Raniaku!!" ucapnya sembari melangkah mendekati mereka berdua.


Sintya langsung mengepalkan tangannya dan berusaha untuk menyembunyikan kalau dirinya hendak memukul Rania tersebut.


" Aku tidak mau ngapa-ngapain kakak iparmu, aku ingin bicara aja sama dia pas kebetulan kami memang sama-sama mau ke toilet, Aku hanya memberikan selamat padanya karena sudah menikah dengan Devan."

__ADS_1


" Aku tidak percaya karena dari tadi aku sudah melihat kamu mau melayangkan gamparan kamu ke pipinya Kak Rania, sebenarnya salah Kak Rania denganmu apa? apa karena kamu kalah saingan dengan Kak Rania hah.?!!"


Sintya terkejut dengan ucapan Lana, dia menatap Lana dengan lekat.


" Nggak usah deh kamu menatap aku seperti itu, karena aku sudah tahu sikap kamu itu seperti apa, lagi pula kamu bekerja di kantor kakakku ini hanya ingin mendekati kakakku aja kan, seharusnya kamu sadar Kakak aku sudah menikah di depan kamu itu adalah istrinya, kalau kamu menyakiti istrinya sama aja kamu menyakiti suaminya, aku mewakili kakakku kamu aku pecat!! lebih baik kamu pergi dari kantor kakakku ini sebelum aku marah besar padamu.!!!" ucap Lana dengan penuh penekanan dalam ucapannya dan Amarahnya.


" Heh!! anak kecil!! apa urusan kamu ingin memecatku, sebelum kamu memecat aku, aku juga akan keluar dari kantor ini, lagi pula kamu itu hanya sebatas adik dari bos di sini bukan pemilik perusahaan ini, kamu itu hanya gadis remaja yang bau kencur!! ingat itu!! gadis bau kencur!!" ucapnya sembari meninggalkan mereka berdua dan melangkah menuju ke arah ruangannya.


" Kak Rania tidak apa-apa kan?apa sempat dipukulnya?" tanya Lana sembari menatap ke arah Rania.


Rania hanya menggelengkan kepalanya dia kemudian mengajak Lana untuk kembali ke ruangan Devan.


" Kamu nggak usah bilang tentang pertengkaran Kakak sama dia tadi, Kakak takut nanti kalau kak Devan tahu dia pasti marah besar."


" Niarin aja kak, kak Devan marah besar, biar wanita itu tahu, aku tetap akan bicara dengan Kak Devan karena ini tidak bisa didiamin."


" Nggak ada tapi-tapian kak, kak Devan harus tahu semuanya." ucap Lana sembari menarik pelan Rania menuju ke arah ruangan Devan.


Pintu ruangan Devan terbuka, dengan lebar mereka berdua melihat Lana dan Rania yang masuk ke dalam dengan posisi lana memegang tangan Rania dan wajah Lana terlihat sangat marah, Devan terkejut Dia kemudian berdiri dari duduknya Begitu juga dengan William yang sedang memeriksa dokumen yang ada di meja Devan mereka berdua pun berdiri dan menatap ke arah Rania dan Lana.


" Ada apa Lana? Kenapa wajah kamu terlihat marah seperti itu? memang ada apa yang terjadi di luar sana?"


" Lana sudah memecat wanita yang bernama Sintya itu."


William terkejut dia tidak menyangka kalau Lana berani memecat Sintya tanpa seijin dari Devan.


" Sudah kuduga!! ucap Devan santai mendengar Lana berbicara seperti itu.

__ADS_1


" Terus apa reaksinya?" tanya William.


" Aku kesel Kak dengan dia, asal Kakak tahu dia aja sudah ingin memberi gambaran pada wajah Kak Rania."


Mendengar ucapan dari sang adik, Devan langsung mendekati Rania dia menyentuh wajah sang istri mencari Apakah sudah sempat digambar oleh Sintya.


" Kamu tidak apa-apa kan? apa dia sempat menggamparmu? di mana dia menggamparmu wajah bagian mana yang dia gampar?" tanya Devan sembari menatap ke arah Rania, Rania hanya menggelengkan kepalanya.


" Dia belum sempat menggampar Kak Rania karena Lana keburu datang dan menegurnya tapi sebelum itu sepertinya Kak Rania sudah di ultimatumnya."


" William!! panggil wanita itu sekarang ke sini, Aku ingin bicara dengannya!" ucapnya, William pun menganggukan kepalanya, kemudian melangkah menuju ke arah ruangan Sintya, saat dia membuka ruangan tersebut, Sintya sudah tidak berada di ruangan itu, dia kemudian berlari ke arah jendela ternyata Sintya sudah melajukan mobilnya meninggalkan kantor Dev Group.


William setengah berlari menuju ke arah ruangan Devan.


" Dia sudah kabur Bos, sepertinya dia tidak akan bekerja lagi di sini, mungkin dia sudah tahu kalau Lana akan memberitahukan Pak Bos tentang perlakuannya pada Nyonya Bos."


Devan kemudian mengambil ponselnya dan terlihat Devan berbicara dengan seseorang, siapa lagi kalau bukan Ayahnya Sintya.


Di dalam mobil...


" Aku tahu Gadis itu sudah melaporkan kejadian itu pada Devan, lebih baik aku pergi daripada aku menunggu Devan marah-marah padaku, ini adalah kesialanku." ucapnya sembari terus melajukan mobilnya menuju ke arah cafe di mana Dia setiap hari nongkrong di saat pikirannya gundah tidak menentu.


Sebelum dia memarkirkan Mobilnya di parkiran Cafe ponsel Sintya berbunyi Dia kemudian melihat ponsel tersebut ternyata panggilan dari sang papa.


" Tumben Papah menghubungiku, Ini pasti Devan sudah menghubungi papa."


" Ya pah ada apa?"

__ADS_1


" Kamu sekarang temui papa di kantor, papa tunggu kamu secepatnya Ada yang ingin papa bicarakan." ucapnya sembari memutus panggilan bicaranya pada sang anak sebelum Sintya mengiyakan kata persetujuannya untuk bertemu dengannya.


__ADS_2