
Tepat jam makan siang, Devan langsung berdiri dari kursinya diapun langsung mengambil jas kerjanya yang tergantung disandaran kursinya,lalu memakinya, saat dia hendak keluar, dia melihat Rania yang masih menutup wajahnya dengan buku tersebut,Devan mendekatinya dia memberanikan dirinya untuk membuka buku penutup wajah Rania,namun saat buku itu disisihkan pelan oleh Devan tiba-tiba saja Rania langsung bangun dari tidurnya dan duduk bersila diatas sofa dengan mata masih terpejam, Devan spontan saja terkejut dan melompat mundur kebelakang dua langkah,Rania diam sesaat tanpa gerakan, saat Devan mendekat satu langkah kembali Rania langsung saja bersuara sambil menggerakkan tangannya seakan-akan sedang bersilat.
" Hup! Hiya! Ciat-ciat!hup!"
Devan lagi-lagi terkejut dan menambah langkahnya untuk mundur dari Rania, setelah Devan mundur beberapa langkah, Rania pun langsung saja merebahkan tubuhnya kembali, Devan merasa heran dengan tingkah Rania, dan diapun langsung menghubungi William melalui ponsel pribadinya.
" Wil, segera keruanganku secepatnya!!"
" Siap Bo...ss!" Ucapnya seraya menatap layar ponselnya.
" Kebiasaan nih pak Bos! Main mati segala, jika bukan Bos akuh udah ku pites tuh tangan! Hehehe...Tapi Ada apa dengan pak Bos, menyuruh aku segera keruangannya." Ucapnya sembari berjalan menuju kearah ruangan pak Bosnya itu.
Devan yang berada masih di dalam ruangan itu dia tidak mau bergeming dari dia berdiri dia terus menatap ke arah Rania yang sudah merebahkan kembali tubuhnya di sofa tersebut.
" Sebenarnya ada apa dengan gadis ini kenapa tiba-tiba dia seperti bermimpi tanpa sadar kaya berkelahi memang siapa musuhnya di dalam mimpinya itu?" ucapnya sembari mensedekapkan tangannya dan terus menatap ke arah Rania kemudian pintu ruangannya itu terbuka.
" Ya Bos ada apa?"
Devan menoleh ke arah William dan mengisyaratkannya untuk tidak bersuara keras-keras, William kemudian menutup mulutnya dan seolah-olah seperti menresleting mulutnya itu.
Dia mendekati sang Bos sembari berbicara dengan pelan.
" Ada apa Pak Bos?"
" Aku menyuruh kamu ke sini dengan segera agar kamu bisa menjaga Rania karena aku mau keluar bertemu dengan client yang sudah berjanji tadi pagi."
" Kenapa dia mesti dijaga Pak Bos, Dia kan punya kaki dan tangan dia bisa berjalan ke sana kemari."
" Bukan itu masalahnya? dia tadi seperti orang yang mau berkelahi dengan posisi matanya tertutup, tolong dijaga dia, berikan dia makanan dan minumnya, kamu pesan aja dan kamu juga makan siangnya di dalam ruangan ini saja, jangan sampai mata kamu lepas dari memperhatikan dirinya, kamu paham?" ucapnya sembari menepuk pundak William, sembari melangkah meninggalkan William.
William hanya memandangi kepergian Bosnya itu sampai hilang di pintu ruangannya
__ADS_1
" Haduh...! ada-ada aja sih Bos. Rania sebesar ini masih juga dijaga." ucapnya sembari duduk di sofa di depan Rania sambil mengambil ponselnya untuk memesan makanan via online untuk dirinya dan Rania.
Beberapa saat kemudian Rania membuka matanya dia pun seolah-olah terkejut kalau di depannya ada orang.
" Astaga! Pak William." ucapnya William tersenyum.
" Kamu sudah bangun Rania."
Rania mengangguk, Rania menoleh ke arah meja Devan William menatap kearah Rania.
" Kamu kenapa Rania? kamu mencari pak Bos, tadi pak Bos menyuruh aku menjaga kamu di sini karena kamu sedang tidur."
" Maaf Pak William saya ketiduran, habisnya mumet menghafal kegiatan data diri Pak Devan yang Pak William kasihkan pada saya." ucapnya sembari membenarkan anak rambutnya yang sudah acak-acakan ke sana kemari karena bekas tertimpa buku kecil tersebut.
" Kamu jangan terlalu semangat untuk menghafal itu sedikit demi sedikit aja seiring jalannya waktu kamu akan hafal semuanya bahkan kamu tidak perlu lagi dengan buku itu."
Rania hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kemudian ponselnya William berdering dia pun langsung menjawab panggilan itu yang ternyata dari kurir membawa makanan yang sudah dipesannya melalui online, dia berdiri dan melangkah keluar ruangan, kemudian Rania tersenyum.
Kemudian pintu terbuka William masuk membawa beberapa bungkus makanan yang sudah dipesannya itu, dia meletakkan makanan di atas meja.
" Rania... temani saya makan karena ini sudah waktunya makan siang."
" Tapi Pak, ini kan di ruangan Pak Bos masa kita makan di sini sih?"
" Udah nggak apa-apa, kita makan aja di sini karena perutku sudah sangat lapar, lagi pula pak Bos menyuruh saya untuk menjaga kamu."
" Menjaga saya? memang kenapa sama saya? Saya nggak akan nyuri kok di ruangan ini, lagi pula siapa suruh saya ditempatkan di ruangan ini." Protesnya
" Ya memang kamu di tempatkan di ruangan ini, jadi satu ruangan sama Pak Bos, ya... kalau Pak Bos pulang kamu juga harus ikut pulang, kalau Pak Bos Kerja kamu juga harus ikut kerja." ucapnya sembari terkekeh membuka makanan yang ada di depannya itu.
Rania pun terdiam, dia tidak melakukan gerakan apa-apa dia hanya memperhatikan William yang sedang membuka kotak makannya itu.
__ADS_1
William menoleh ke arah Rania
" Udah! jangan terlalu dipikirkan cepat makan nanti perut kamu kelaparan lagi, ntar kalau kamu kenapa-napa nggak makan, terus pingsan saya yang nanti akan dimarahi Pak Bos."
Rania semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh William, tapi karena memang perutnya harus diisi dengan nutrisi dan cacing di perutnya sudah berontak ingin minta diisi dengan makanan yang ada di atas meja itu, Rania pun langsung mengambil satu bungkus makanan itu dan langsung membuka dan melahapnya, saat mereka makan, tiba-tiba
pintu terbuka mereka berdua menoleh ke arah pintu ternyata Sintya yang masuk ke dalam, Sintya terkejut melihat William dan Rania makan di ruangan Bos yang seharusnya tidak dipergunakan untuk makan, semakin ke sini diapun semakin merasa curiga.
" Ada apa sebenarnya ini, siapa sih wanita ini, sehingga diistimewakan sekali wanita yang sedari tadi duduk di sofa itu."
" Makan Bu...." Ujarnya menawarkan makanan dengan Sintya.
" Ibu-ibu!! memang aku ini nikah sama bapakmu apa, panggil-panggil ibu segala.!" Ucapnya terdengar ketus.
Rania hanya cengengesan, dan William tersenyum.
" Ada apa Nona Sintya, kalau mau gabung makan bersama kami silakan aja, tapi ngomong-ngomong ada keperluan apa Nona Sintya masuk ke ruangan ini."
Dia menoleh ke arah meja Devan.
" Saya mau bertemu dengan pak Devan, untuk mengajaknya makan siang, sekalian ada perlu "
" Maaf! Pak Devan tadi keluar sekalian makan siang sama Client, kalau ada yang perlu silakan bicarakan dulu sama saya Karena Anda kan asistennya saya, apapun itu tentang pak Devan harus melalui saya terlebih dahulu." ucap William sembari menatap ke arah Sintya.
" Nggak jadi, Ya udah silakan nikmati makan kalian aja." ucapnya sembari melangkah meninggalkan mereka berdua William lagi-lagi tersenyum.
" Memang nggak papa ya Pak kalau kita makan di ruangan Pak Bos kan jadi nggak enak, nanti ibu itu marah-marah lagi sama kita, saya kan nggak mau dimarah-marahi pak, ini semukan bapak yang nyuruh temani makan, saya kan baru di sini lagi pula saya nggak mau cari musuh Pak." Ucap Rania sembari melirik William.
" Udah kamu jangan pikirin, makan aja, sebentar lagi pak Bos datang, kalau kamu nggak makan saya nanti di introgasinya." ucap William sambil mengunyah makanannya
" Aneh! semakin Aneh!" gumam Rania sembari mengunyah makanannya karena tambah bingung dengan ucapan William itu padanya.
__ADS_1