
Devan melajukan mobilnya itu menuju ketempat seseorang yang sudah sejak tadi dihubunginya, dan dia pun langsung memasuki sebuah komplek perumahan yang Elit dan dia berhenti disebuah rumah dimana seseorang sudah menunggunya sedari tadi.
" Apa kabar bro.." sapa tuan rumah tersebut.
" Baik...Arka." Balas Devan pada pemilik rumah tersebut yang bernama Arka sembari duduk diteras rumah tersebut.
" Bagaimana kejadiannya? Sehingga kamu menghubungiku."
" Begini, Ada yang ingin aku perlihatkan denganmu." ucap Devan sembari mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada temannya tersebut.
Arkan mengambil ponsel Devan dan mengenali siapa yang berada didalam fhoto tersebut.
" Iya, Aku mengenalinya, dia teman nongkrong ku saat di Bandung kala itu, dan terakhir aku bertemu dengannya dua hari yang lalu dikota ini, dan sempat aku perkenalkan padamu kan waktu itu " ucap Arka.
" Tapi Aku kurang fokus saat kamu memperkenalkan aku dengannya dan aku juga tidak ingat namanya." Ucapnya, karena saat itu dia menemui Arka bersama bertepatan dengan dirinya mencari Rania kala itu.
Arka pun hanya mengangguk.
" Memang ada apa dengannya?" Tanya Arka terlihat penasaran.
" Fhoto itu diambil salah satu saksi kecelakaan yang menimpa seorang gadis yang sekarang ada di Rumah Sakit." terang Devan.
" Terus hubungannya dengan dia apa?Maaf aku kurang mengerti Dev."
Devan menarik nafasnya dengan pelan dan kembali melanjutkan ceritanya.
" Dia adalah salah satu orang yang melakukan penabrakan pada gadis itu. kelihatannya ada motip tersembunyi dari kejadian ini, aku minta tolong padamu untuk mencari tahu, kenapa dia melakukan perbuatan itu pada gadis itu, Aku ingin tahu ada salah apa Rania dengan mereka." ucap Devan terlihat bersemangat ingin mencari tahu semuanya.
" Rania?" ucap Arka terlihat tidak asing dengan nama itu.
__ADS_1
Devan mengangguk dan dia pun langsung menatap kearah Arka, dia merasa Aneh dengan ucapan Arka.
" Kamu mengenal Rania?" tanya Devan sembari menatap lekat kearah Arka.
" Aku tidak mengenal sama sekali sama Rania, cuma dia sempat membicarakan tentang Rania pada ku dua hari yang lalu,katanya dia datang kekota ini ingin menemui seorang gadis yang bernama Rania Ishyabella, kalau tidak salah, dia sempat menanyakan padaku tentang keberadaan Rania padaku dan dia juga sempat memperlihatkan fhoto Rania pada ku juga, aku jawab aja sih kalau aku tidak pernah melihat gadis itu, memang tidak pernah lihat kok."
Devan menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya disandaran sofa yang ada di teras Arka.
Arka menatap kearah Devan, terlihat wajah Devan sangat marah setelah dia mengatakan semuanya, kemudian dia tersenyum.
" Sangat berarti sekali ya gadis itu untuk kamu Dev?" tanyanya, Karena Arka baru kali ini melihat seorang Devan Dharmendra, sangat peduli dengan wanita, selain ibu dan Adiknya.
Devan terkejut dengn ucapan Arka, dia jadi salah tingkah.
" Kamu jangan khawatir, aku akan membantu kamu, karena ini sudah menyangkut masalah sahabat kecilku yang harus aku selesaikan dengan tuntas."
" Hay Broo! kamu dimana sekarang nih? " tanya Arka dengan seseorang yang ada diseberang sana.
" Hay... Aku sekarang ada di Club malam Merah, ayo kesini kawan kita nongkrong." ucapnya sembari menawarkan pada Arkanuntuk nongkrong menghabiskan malam.
" Oke! Aku akan meluncur kesana." ucapnya.
Kemudian mereka berdua langsung memutuskan sambungan suara tersebut dan kembali Arka meletakkan ponselnya ketempat semula.
" Sekarang dia berada di Club Malam, dia mengajak aku nyusul kesana, apakah kamu mau ikut atau tidak?" tanya Arka sembari menatap kearah Devan.
Devan dengan mantap mengangguk.
" Hahahahaha..." Arka tertawa lepas membuat Devan meresa heran.
__ADS_1
" Hey ...sobat! sejak kapan kamu suka club malam, semangat sekali sih, udahlah Devan kamu pulang aja nanti dia akan aku bawa kesini dan menginap dirumahku, besok kamu akan mengintrogasinya, karena kamu sudah terlihat wajah kamu cape banget, lagi pula kalau kamu pulangnya pagi tante Mellany akan marah besar padaku, karena dia tahu kalau kamu pulang pagi pasti karena kamu bersama denganku, hehehehe..." ucapnya sembari terkekeh.
" Baiklah kalau seperti itu, aku akan kembali kerumah, aku akan menanti kabar dari mu." ucapnya sembari tersenyum, kemudian diapun langsung pamit pulang dengan Arka dan dia juga tidak lupa mengingatkan kembali pada Arka agar memberi tahukan kabar selanjutnya, Arka pun langsung menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, perlahan-lahan mobil Devan meninggalkan rumah Arka menuju kearah rumahnya, di dalam Mobil dia menghubungi William untuk menanyakan keadaan Rania, dengan perasaan lega Devan mendengar keterangan William dan dia pun bersyukur kalau Rania sudah sadarkan diri, saat dia hendak berputar arah, ponselnya berdering dan dia langsung menjawab panggilan itu.
Walaupun Devan tidak melihat siapa yang menghubunginya itu, tapi di sudah tahu dari nada deringnya yang sudah di bedakan olen Devan, siapalagi kalau bukan Bu Mellany sang Mamah.
Setelah dia berbicara dengan sang Mamah, dia tidak jadi memutar arah yang hendak menuju kearah rumah sakit dan dia melajukan mobilnya menuju kearah rumah pribadinya.
Sesampainya dirumah dia langsung memarkirkan mobilnya tersebut dan dia pun menuju kekamar sang Mamah untuk memperlihatkan wajahnya pada Ibunda Ratu itu, setelah berbicara sebantar dia lalu menuju kearah kamarnya, kemudian Ibunda Ratu menghubungi William dan menanyakan ada apa yang terjadi sebenarnya hari ini, dengan lancar William mengatakan semuanya, namun tentang masalah Rania yang mendapat musibah itu William tetap tutup mulut, karena dia tidak ingin mengatakannnya pada Ibunda Ratu, bukan karena sudah dilarang pak Bosnya, tapi karena dia memang ingin menyembunyikan masalah ini dari Ibunda Ratunya itu, karena dia tidak ingin Bu Mellany terbawa pikiran, dia sangat menginginkan Rania jadi menantunya.
Di kamarnya Devan tampak gelisah dan diapun mondar mandir tidak karuan didalam kamarnya itu, bahkan tidurpun dia tidak bisa, karena pikirannya itu hanya pada Rania.
Kemudin dia memutuskan untuk keluar dan pergi kerumah sakit, saat dia melangkah menuju kearah pintu utama, dia dikejutkan suara adiknya yang berjalan dari arah dapur.
" Kak Devan..." panggilnya sembari mendekati Devan yang sudah menghentikan langkahnya.
" Kakak mau kemana malam-malam begini, ini sudah pukul tiga pagi kak, kalau Mamah tahu Kakak tidak ada pasti nanti Lana yang jadi pelampiasan pertanyaan Mamah."
" Kakak mau kerumah sakit sebentar." ucapnya pelan.
" Ngapain kakak kesana? siapa yang sakit?"
Devan akhirnya menceritakan semuanya pada Lana, dan Devan meminta pada Lana agar dia tidak menceritakan hal ini pada Mamahnya.
Lana terkejut dan dia pun langsung menganggukkan kepalanya.
" Naiklah kak, pergilah, hati-hati, urusan bersandiwara nantinya kalau Mamah bertanya tentang kakak, biarkan Lana yang akan menjelaskannya pada Mamah."
" Terimakasih adik kakak yang manis, kamu baik banget." ucapnya sembari mencubit pipi sang adik, Lana cemberut sembari memegang pipinya tersebut. Devan pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kearah rumah sakit, tapi sayangnya Ibu Mellany melihat kepergian sang anak, diapun semakin penasaran dengan sesuatu yang disembunyikan Anak sulungnya itu.
__ADS_1