
" Rania kamu ceritalah sama aku, kamu kan menganggap aku sebgai kawan, sahabat, dan teman kamu, sebenarnya ada apa?" tanya Tania sembari menatap Rania yang langsung saja menoleh kearah Tania.
Rania tersenyum, tapi dia tetap menyembunyikan rasa terkejutnya karena dia tidak ingin orang lain tahu tentang masalahnya.
" Aku tidak apa-apa Tan, aku cuma kangen aja dengan kedua orang tuaku." ucapnya kemudian memalingkan wajahnya kearah lain dia tidak ingin airmatanya jatuh didepan Tania.
" Rania, aku ini teman kamu, walaupun aku baru mengenal kamu, tapi aku tahu kalau kamu itu punya tanggung jawab besar yang harus kamu pikul, semakin kamu tutupi dari aku, aku akan terus menanyakan padamu ada apa sebenarnya dibalik ibu tiri kamu dan kakak tiri kamu itu, aku perhatikan setiap kamu mendapatkan telpon dari mereka, baik ibumu ataupun kakak kamu itu, kamu selalu murung, sebanarnya ada apa sih?" tanya Tania sembari menyentuh pundak Rania, dan saat itulah Airmata yang harusnya tidak keluar dihadapan Tania, Akhirnya tumpah begitu saja dan membuat Tania terkejut, diapun langsung merangkul Rania.
" Tangiskan saja Ran, keluarkan semua airmata yang kamu bendung dan kamu sembunyikan dariku, biar kamu merasa lega walaupun hanya sementara." ucap Tania sembari mengusap rambut Rania yang hitam panjang itu.
Tania membiarkan Rania menumpahkan tangisnya itu, beberapa saat Rania asyik dengan tangisannya diapun berhenti dan kembali menyenderkan tubuhnya didinding kedai.
" Sudah lega Ran?" tanya Tania sembari memberikan Tissu kering yang kebetulan berada disaku celananya tersebut, Rania menerima tissu itu dan mengusap airmatanya sesaat dengan wajah sembabnya diapun hanya mengangguk.
" Baiklah kalau kamu tidak ingin cerita nggak apa-apa kok, mungkin kamu belum siap mnceritakan masalah pribadi kamu, kalau gitu aku masuk dulu ya kedalam." ucap Tania sembari berdiri dan saat Tania ingin meninggalkannya, Rania pun langsung mencegahnya.
__ADS_1
" Tania tunggu dulu, jangan pergi."
Tania menoleh pada Rania dan diapun langsung duduk kembali.
" Aku ingin bicara padamu, semuanya."
" Rania,kalau kamu belum siap jangan ceritakan, karena hanya menambah luka kamu aja, maafkan aku ya yang terlalu ingin mngetahui masalah kamu."
" Tidak Tania, aku yang seharusnya minta maaf, seharusnya aku menceritakan semuanya pada mu, karena kamu sangat baik padaku, aku datang kekota ini hanya seorang diri, dimana aku tidak mengenal siapapun, dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak bertemu denganmu, aku pergi dari rumah hanya ingin mendapatkan uang yang banyak buat mereka." ucap Rania sembari menatap jauh kedepan.
" Ibu tiri dan kakak tiriku."
" Buat mereka? kok bisa sih? memang kakak tirimu tidak kerja apa?" tanya Tania merasa heran.
" Iya untuk mereka, dan kak Sarah tidak bekerja, kerjaan dia hanyalah mempercantik dirinya saja, kalau dia tidak cantik dia takut ditinggalkan pacarnya si Baron, saat Ayah masih hidup semua permintaannya dituruti Ayah, begitu juga dengan permintaanku, tapi aku tidak meminta lebih pada Ayah, hanya inginkan Ayah selalu sehat dan jangan terlalu memanjakan kak Sarah, didepan aku Ayah mengiyakan saja, tapi dibelakang aku Ayah tetap memanjakan kak Sarah, tapi aku tidak iri mungkin Ayah merasa senang bisa membahagiakan kedua anaknya walaupun salah satu dari anaknya itu bukan darah dagingnya, dan sampai kejadian itu terjadi Ayah terjatuh dari ketinggian, saat Ayah ingin memperbaiki genteng yang bocor, Ayah meninggal ditempat,aku sudah melarang Ayah kala itu untuk naik kegenteng, tapi ibu tiriku yang menyuruh Ayah karena katanya hemat uang dari pada menyuruh orang lain buang-buang Uang, Ayah ku pun mengiyakan apa yang dikatakan ibu, dan semanjak kepergian Ayah semua aset berharga milik keluargaku habis dijual ibu dengan alasan kak Sarah harus merawat kecantikannya, aku hanya bisa diam, aku tidak ingin bertengkar dengan mereka karena saat itu aku masih berduka belum satu bulan, sampai akhirnya rumah peninggallan kedua orang tuaku itu pun mau dijual, aku mencegahnya dan merekapun marah besar, aku sempat diusir dari rumahku sendiri, namun aku tidak mau pergi sampai akhirnya aku diberi pilihan disuruh bekerja untuk mencari uang buat mereka, aku pun menyetujui semuanya itu karena aku tidak ingin kehilangan rumah Almarhumah kedua orang tuaku jerihpayah Ayah dan ibu ku waktu masih hidup." terangnya sembari menarik nafasnya dengan pelan, dan Tania terdiam, antara percaya dan tidak dengan sikap orang tua tiri Rania yang sangat kejam pada anak sambungnya.
__ADS_1
" Kok masih ada dan hidup lagi orang seperti itu yang mempunyai sikap yang tidak baik pada kamu."
" Masih ada Tan, yah mereka."
" Memang Baran itu siapa Ran? seganteng apa sih sehingga si Sarah sangat mencintai dia, sampai bela-belain dandan untuk kekasihnya, laki aja bukan sampai segitunya, mau cantik nggak mau modal sendiri, maunya orang yng membiayainya."
" Yah! begitulah Tan, karena kelemahanku adalah takut kehilangan rumah itu mereka memanfaatkan keadaan, bukannya aku tak mau melawan pada mereka, tapi karena aku tidak ingin rumah itu jatuh ketangan orang lain, walaupun rumah itu tidak semewah rumah orang-orang diluar sana tapi aku sangat tidak ingin kehilagan rumah itu, karena rumah itu adalah harta yang sangat berharga bagiku pribadi, mungkin orang akan tertawa mendengar ceritaku ini hanya kerena sebuah rumah, megah enggak, tapi sangat dipertahankan sampai aku saja menderita dikota orang, namun aku tidak peduli dengan omongan orang diluar sana, aku akan bertahan demi rumah kedua orang tuaku itu, Baron itu adalah anak orang kaya dikampungku, tapi biar dia kaya dia malas berkerja, dia hanya menjulurkan tangannya aja pada kedua orang tuanya bila dia memerlukan uang, anehnya dengan senang hati kedua orang tuanya itu senang dengan kelakuan sang nak, dan Baron itu banyak digandrungi para wanita dikampungku, termasuk kak Sarah, dia merasa senang kalau dia mendapatkan Baron, tapi dia tidak sadar kalau Baron banyak wanita selain dia dibelakangnya, aku pernah mengingatknnya dan mengatakan padanya kalau kelakuan Baron itu tidak baik, tapi dia tidak percaya dan aku pun dihajar sama ibu tiriku dan dikurung digudang selama dua hari dan tanpa dikasih makan apapun, padahal waktu itu baru beberapa hari Ayah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya." ucap Rania dengan air mata mengalir di pipi cantiknya, dan Tania yang hanya bisa jadi pendengar setia itu hanya bisa mengusap pundak Rania.
" Ya Tuhan...begitu kuatnya kamu Rania, engkau adalah orang terpilih yang dipilih Tuhan untuk menerima cobaan yang dia berikan." ucap Tania, dia juga merasa sedih, benci, dan murka pada kakak dan ibu tirinya Rania.
" Terus apa lagi yang mereka inginkan padamu saat ibumu menghubungimu tadi ?" tanya Tania.
" Ibu meminta agar aku mengirimi dia uang, karena mereka kehabisan uang, itu yang dikatakannya padaku." sahut Rania dengan nada sedihnya.
" Apa? bukankah sudah kamu kirim semua uangnya? sudah habis? minta lagi? tanyanya merasa heran.
__ADS_1
Rania hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan Tania menggelengkan kepalanya.