Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
# 60 Pengembalian pemberian


__ADS_3

#60 Pengembalian pemberian 🌹


" Ya Tuhan, maafkan hambamu ini karena tidak mengetahui kalau saudara satu-satunya sudah pergi untuk selama-lamanya, Rania Maafkan Paman, saat kedua orang tuamu telah pergi meninggalkan kita semua Paman tidak ada di sisimu, ini adalah kesalahan paman Maafkan Paman Nak."


" Rania, bukan kesalahan pamanmu, tapi kesalahan orang tua Bibi karena orang tua Bibi yang tidak ingin pamanmu berhubungan dengan Ayahmu, jujur saja waktu itu keadaan paman dan Bibi memang di atas rata-rata, bisa dikatakan mampu dan tidak kekurangan satu apapun dan orang tua Bibi menginginkan kami pindah ke Semarang, tapi saat di Semarang sebenarnya kami tidak bahagia kami sudah mencari sana-sini kabar dari Ayahmu, Tapi sayangnya orang tua Bibi selalu mengetahuinya, pamanmu tidak bisa berbuat apa-apa Nak, kala itu hanya pasrah dengan keadaan, karena kehidupan kami saat itu dijamin oleh kedua orang tua Bibi, setelah kedua orang tua Bibi meninggal dunia kami pun bertekad untuk meninggalkan kota Semarang dan menuju ke sini, baru aja seminggu kami berada di kota ini rencananya kami ingin mencari tahu keberadaan kabar Ayahmu dan keluarganya, Tapi sayangnya kami keburu ditemui oleh Pak William dan akhirnya kita bertemu di sini, masalah yang terjadi ini adalah karena kedua orang tua Bibi maafkanlah kedua orang tua Bibi ya Nak." ucap Bu Juleha istri dari Pak Putra.


Dalam sedihnya Rania tetap tersenyum dia hanya menganggukkan kepalanya.


" Bagaimana kalau besok kita pulang kampung sekedar untuk mengunjungi makam kedua orang tuamu." ucap pak Putra.


Rania terkejut mendengar ucapan dari Pak Putra.


" Maafkan saya Paman, karena saya tidak bisa untuk pulang kampung terlebih dahulu."


" Memangnya kenapa? Ada apa? katakan dengan paman, kamu diusir dari kampung itu dan kamu tidak boleh lagi menginjakkan kaki di kampung itu?" tanya Pak Putra merasa heran dengan ucapan Rania.


" Tidak paman, walaupun mereka mengatakan saya yang Bukan-bukan tapi saya tetap akan menginjakkan kaki saya di kampung itu tapi belum waktunya paman.x


" Apa yang terjadi Rania?"


" Setelah Ibu meninggal dunia, Ayah menikah kembali dengan Bu Rina janda beranak satu yang usia anaknya lebih tua dari saya, anaknya Bu Rina bernama Sarah, mereka sudah menjual rumah peninggalan dari Ayah dan Ibu, mereka menjualnya begitu saja tanpa sepengetahuan saya, saya lagi berusaha untuk mengumpulkan uangnya agar rumah itu bisa saya tembus kembali."


Devan menatap kearah Rania.

__ADS_1


" Kamu tidak usah menebusnya Rania, karena rumah itu sudah menjadi hak kamu dan sudah belik nama atas nama kamu, tapi belum saatnya aku berikan padamu." gumam Devan.


" Ya Tuhan, sungguh pedih sekali Nak penderitaan kamu, Maafkan Paman ya, seharusnya di saat kamu sendirian Paman ada di samping kamu, karena keluarga kamu hanya ada paman."


" Tidak apa-apa Paman, mungkin ini sudah jalannya saya."


" Begini Pak Putra kami ke sini ingin menyampaikan sesuatu pada Pak Putra, kami berusaha mencari Pak Putra, khususnya diri saya pribadi, karena saya adalah calon suaminya Rania, Saya menginginkan Pak Putra sebagai wali di saat kami menikah nanti." terang Devan.


Pak Putra kemudian tersenyum, dia menatap ke arah Devan dan dia pun menganggukkan kepalanya.


" Saya akan bersedia menjadi walinya Rania, Pak Devan tidak perlu khawatir saya akan datang di hari pernikahan kalian."


" Maaf Pak Devan, bolehkah Rania menginap di sini?" tanya Bu Juleha


" Saya tidak keberatan kalau Rania menginap di sini, tapi ada sesuatu dan lain hal saya tidak bisa membiarkan Rania lama-lama berada di sini, Saya takut terjadi sesuatu terhadap Rania." ucapnya kemudian Devan pun menceritakan tentang keberadaan Vino yang selalu mengejar Rania, tidak ada satupun yang tertinggal diceritakan Devan semuanya pada keluarga Rania, Pak Putra pun menganggukkan kepalanya.


" Kalau hari ini dia menginap di rumah ini bolehkan Pak Devan?" tanya Bu Juleha lagi, Devan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh ke arah Rania, Rania pun menganggukan kepalanya Dan tersenyum.


" Mas Devan nggak perlu khawatir."


Devan terkejut, dia menatap tidak percaya ke arah Rania, karena Rania memanggilnya dengan sebutan Mas, biasanya Rania tidak mau menyebut dirinya di depan orang dengan sebutan Mas paling lekat Dia memanggil dirinya dengan sebutan Pak.


" Mas Devan nggak perlu khawatir aku akan menjaga diriku dari Vino dia tidak akan pernah tahu kalau aku berada di sini, kalau seandainya dia mengetahui aku akan langsung menghubungi Mas dengan secepatnya." ucapnya sembari tersenyum membuat Devan pun merasa melayang karena Rania memanggilnya dengan sebutan Mas yang sudah lama dinantikannya kata-kata itu keluar dari mulut Rania.

__ADS_1


Devan menganggukkan kepalanya sembari mengusap kepala Rania dengan penuh kasih sayang mereka pun terlihat bahagia.


Setelah mereka berbicara satu sama lainnya mereka berdua pun kemudian berpamitan dengan keluarga Pak Putra, Rania yang memang berniat untuk menginap satu malam di rumah pamannya itu pun hanya bisa mengantarkan calon suaminya sampai di pintu rumah tersebut, beberapa saat kemudian kedua mobil itu pun meninggalkan rumah Pak Putra menuju ke arah yang berbeda,William kearah kantor dan Devan pun kemudian menuju ke arah kantor Vino.


Sesampainya di kantor Vino, Devan memakirkan Mobilnya di area parkir, dia pun turun dan melangkah membawa paket yang telah dikirim oleh Vino ke rumahnya itu, setelah dia berbicara dengan resepsionis Vino, resepsionis itu pun kemudian menghubungi Vino sesuai dengan aturan perusahaan kantor itu, siapa saja yang ingin bertemu dengan Bos kantor itu harus menghubunginya terlebih dahulu, setelah resepsionis itu berbicara dengan Bosnya selesai, dia pun kemudian mempersilahkan Devan untuk masuk ke ruangannya.


Devan membuka pintu ruangan tersebut dengan memasang wajah marahnya dia pun kemudian menghentakkan paket tersebut di depan Vino, Vino terkejut dia menatap geram ke arah Devan, dia pun langsung berdiri sembari membenarkan dasi yang dipakainya itu.


" Oh !! rupanya kamu capek-capek datang ke kantorku ini hanya ingin mengembalikan hadiah yang aku berikan untuk Rania." ucapnya tersenyum sinis.


Devan mensedekapkan tangannya di dada sembari menatap Vino dengan tatapan santainya, karena dia mengingat pesan sang Mama agar tidak terpancing dengan emosi yang dibuat oleh Vino untuknya.


" Sepertinya Rania tidak memerlukan hadiah dari kamu,aku bisa membelikan lebih dari itu, dia sendiri yang berbicara kalau dia memang tidak perlu dengan hadiah yang kamu berikan padanya, bahkan dia juga berpesan padaku agar segera mengembalikan hadiah itu padamu, dan mengatakan padamu agar kamu tidak membuang-buang uang hanya ingin membelikan sesuatu yang dia tidak menginginkan memilikinya."


" Hahaha...Aku tidak percaya kalau Rania berbicara seperti itu, itu hanyalah ucapan kamu saja, karena kamu merasa tersinggung seorang lelaki tampan memberikan hadiah yang termewah untuk wanita yang disukainya."


" Jaga bicaramu Vino! kamu sudah kelewatan! kamu sudah mengganggu Rania calon istriku!!"


" Hem! dari tadi aku sudah menjaga pembicaraanku, kalau kamu merasa tidak senang kamu bisa pergi dari ruanganku ini, karena ruanganku ini tidak ingin aku kotori dengan telapak sepatu kamu itu, dan lagi sebelum janur kuning melengkung Rania bukan milik siapa-siap!!"


" Oke!! aku akan pergi dari sini, asal kamu tahu, jangan sekali lagi Kamu mengirimi apapun untuk calon istriku, karena dia tidak butuh barang pemberian dari kamu! calon istriku itu sudah sangat berkecukupan hidup denganku, karena baginya kalau dia mendapatkan hadiah darimu hanyalah sebesar upil!!upil yang bisa mengotori isi kamarnya, karena isi kamarnya dan isi hatinya sudah penuh dengan diriku dan barang-barang pemberianku!! dan soal janur kuning itu kita lihat saja nanti!!" ucapnya sembari tersenyum membuat darah Vino mendidih, dia menatap kepergian Devan dengan tatapan sinisnya seiring pintu ruangannya tertutup, dia pun langsung menghempaskan barang yang ada di ruangannya tersebut, sembari meluapkan emosinya karena rasa sakit di hatinya selepas Devan berbicara seperti itu padanya.


" Keterlaluan kamu Devan!! kamu menganggap pemberianku yang sangat mahal ini hanya sebesar upil!? upil gajah kali !!" ucapnya sembari memukul meja kerjanya itu dengan kedua tangannya, dia pun kemudian duduk di kursi kerjanya itu seraya mendengus dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2