Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#27 Rasa Cemas


__ADS_3

Setelah mendengar keterangan dari Mbak Uti, Devan kemudian merasa kegelisah, Dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan yang sedang mengencangkan pakaian, Dia merasa khawatir dengan keadaan Rania, sesaat lamanya dia menunggu kabar dari dokter yang menangani Rania, dia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berbunyi dia pun kemudian mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan berjalan ke arah luar untuk menjawab panggilan tersebut.


" Ya Mah ada apa..?"


" Kamu sekarang ada di mana? kenapa belum pulang ke rumah? apakah kamu lembur banyak sekali ya pekerjaan yang kamu kerjakan?" nanya Bu Melani pada putra sulungnya itu.


Terdengar Devan menghela nafasnya dengan berat, Bu Melany merasa heran pada sang Anak.


" Ada apa sebenarnya denganmu nak? kalau pekerjaanmu terlalu banyak, kamu tinggalkan aja, besok kan masih ada waktunya, buat apa kamu bekerja sangat kuat di saat malam seperti ini? nanti kamu tidak bisa menjaga kesehatanmu? Mamah tidak ingin kamu menjadi sakit, tolonglah Nak permintaan Mamah ini kamu turuti jagalah kesehatanmu Nak." ucap Bu Melany.


" Tidak Mah, pekerjaan Devan sudah selesai." ucapnya berbohong pada sang Mamah.


" Terus kenapa kamu seperti ada yang kamu pikirkan, apakah permintaan Mamah yang membuat kamu sangat berpikir keras seperti ini, tentang permintaan Mamah agar kamu segera mendapatkan wanita itu?" tanya Ibu Melany pada Devan.


Devan terdiam sejenak, dia tidak ingin mengatakan tentang kejadian yang menimpa Rania pada sang Mamah, kalau seandainya dia katakan semuanya, Mamahnya pasti akan merasa kepikiran karena Devan masih mengira Mamahnya itu masih dalam keadaan sakit terkena virus yang aneh.


" Tidak Mah! Devan tidak keberatan dengan permintaan Mamah untuk mendapatkan gadis itu, tapi karena ada sesuatu yang Devan pikirkan tentang urusan di kantor, Mamah nggak usah memikirkannya, nanti masalah Devan yang akan menyelesaikan semuanya, yang penting Mamah istirahat aja, Devan sebentar lagi pulang kok, tapi ini masih ada bersama dengan William dan Client yang lain."


" Baiklah kalau seperti itu, setelah kamu bertemu dengan Client selesai cepatlah pulang karena waktunya sudah terlalu larut malam tidak baik untuk kesehatanmu."


" Ya Mah." ucapnya sembari menyudahi bicaranya pada sang Mamah, dia pun kemudian menghela nafasnya dengan pelan dan menatap layar ponselnya kemudian dia menyadarkan tubuhnya di tiang ruang UGD tersebut, dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, William pun datang menemuinya.


" Gimana bos? keadaan Rania?"


Devan menggelengkan kepalanya.


" William,


jika Mamah bertanya masalah Rania kamu jangan memberitahukan pada Mamah, karena aku khawatir kalau penyakit Mamah semakin parah kalau mengetahui keadaan Rania sekarang ini, karena kamu tahu Rania adalah gadis impian Mamah yang diinginkan Mamah untukku."


William hanya menganggukkan kepalanya, Devan pun melangkah masuk ke dalam ruangan UGD kembali sembari menepuk pundak William.


William hanya mengangkat dua bahunya saja sembari mengekspresikan wajahnya.


" Inilah kelakuan orang kaya, sangat tidak dimengerti, ibunda Ratu yang menginginkan gadis itu untuk anaknya, dan Anaknya yang harus berusaha mendapatkannya, jika seandainya aku yang menjadi anaknya sudah dari dulu aku mengharapkan Tania jadi pendamping hidupku." Ucapnya berbicara sendiri.


Kemudian ada yang menepuk pundaknya, William terkejut dia pun menoleh ke arah belakang ternyata yang menepuk pundaknya itu adalah Tania.


" Astaga!! apakah Tania mendengarkan ucapanku tadi?" Gumamnya dalam hati.


" Hey! kenapa kamu bengong."

__ADS_1


" Aku bingung memikirkan nasib bosku."


" Memang kenapa dengan bos kamu?"


" Pak Devan sangat khawatir sekali dengan keadaan Rania, karena dia belum melihat secara langsung keadaan Rania yang ada didalam, sebenarnya kejadiannya gimana sih?" tanya William.


Tania kemudian mengambil ponselnya dan membuka chat pribadi yang dikirimkan oleh Mbak Uti padanya.


" Ini adalah nomor kendaraan yang digunakan sama dua orang tersebut dan sempat diabadikan sama Mbak Uti kala itu, Mbak Uti memang mengatakan kepada orang lain dia tidak mengetahui sama sekali kejadian itu, dia mengatakan kepada orang lain juga kalau dia sudah melihat Rania tergeletak di jalan, padahal dia melihat pasti kejadian itu, Dia takut untuk mengatakannya kepada siapapun, baik itu pada bosmu, atau lelaki yang ada di sebelah sana." ucap Tania seraya menunjuk ke arah Vino yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan UGD tersebut.


" Jadi dia berbicara dengan kamu jujur semua kejadian yang dia lihat." ucap William sembari mengambil ponsel Tania dan memperhatikan nomor tersebut.


" Tolong kirimkan fotonya itu padaku." katanya.


Taniapun mengangguk kemudian mengirim foto tersebut ke ponsel pribadi William.


" Memang kamu mau ngapain dengan fhoto itu?"


" Aku ingin mencari tahu siapa mereka sebenarnya ."


" Dengan cara apa kamu mencari tahunya?"


" Aku ada teman yang berprofesi di bidangnya, dia dengan cepat akan mendapatkan informasi ini kalau aku hari ini juga mengirimkan padanya."


" Kalau menurut kamu sebenarnya siapa?" Tanya William.


" Kalau aku sih tidak tahu siapa, karena selama Rania bersama denganku dia tidak pernah mempunyai musuh, setahu aku ya cuma keluarga tirinya aja yang terlalu sama dia, selainnya itu tidak ada."


William menganggukkan kepalanya dengan posisi tangan bersedekap dan tangan satunya menyentuh wajahnya sembari berpikir sesuatu yang membuat Tania langsung menanyakannya padanya William.


" Menurut kamu apakah Rania ada musuh?"


" Kalau menurut aku Rania tidak ada musuh tapi kalau orang yang ingin menjadikan Rania musuhnya ada."


" Siapa?" Tanya Tania merasa penasaran.


" Ini hanyalah perkiraan aku saja Tan."


" Siapa?" Ulang Tania.


" Kalau aku ceritakan kamu juga tidak tahu dan tidak kenal dengannya, jadi nanti aja setelah aku mengetahui siapa sebenarnya yang menyuruh dua orang tersebut untuk mencelakai Rania.

__ADS_1


" Baiklah, kalau kamu sudah mengetahuinya kamu harus kasih tahu aku jangan sampai bilang dengan Rania terlebih dulu, aku tahu sikap Rania, Dia itu orangnya pemaaf, jangankan orang yang menyakitinya, orang yang ingin melenyapkannya saja dia Maafkan."


" Memang Rania mau di lenyapkan?"


Tania hanya menganggukkan kepalanya.


" Siapa yang mau melenyapkan Rania?"


" Yah, siapa lagi kalau bukan ibu tirinya dan kakak tirinya itu."


" Oh .. begitu kejam ya keluarga tirinya itu."


" Kasihan Rania." Ucap pelan Tania.


" Yah mudah-mudahan saja dia hidup bahagia dan tenang dengan Pak Devan."


" Itu yang aku harapkan." ucap Tania.


Mereka pun kemudian larut dalam diamnya sambil menunggu kabar dari dokter yang menangani Rania.


Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Rania pun keluar dari ruangan di mana Rania berada di dalamnya, Devan pun langsung mendekati dokter tersebut.


" Gimana dok keadaan Rania?"


Dokter pun tersenyum.


" Pasien tidak apa-apa, cuma ada cedera di tangn dan kakinya sedikit sobek di jidatnya, tapi sudah kami tangani sebentar lagi suster akan membawanya ke ruangan rawat inap, sementara waktu dia harus dirawat inap di Rumah Sakit ini."


Devan hanya mengangguk.


" Terima kasih dok atas bantuannya."


" Sama-sama..."


Kemudian dokter itu pun melangkah meninggalkan mereka keluar dari ruangan UGD, beberapa saat kemudian dua orang suster membawa tubuh Rania yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu menuju ke arah ruangan rawat inap.


Devan kemudian mendekati Rania, dia menatap wajah Rania.


" Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa." ucapnya


Devan mendekati William dan Tania.

__ADS_1


" Will...tolong kalian lebih dulu mengikuti suster itu, pinta di ruangan yang lebih eksklusif." ucapnya.


Tania dan William pun menganggukan kepalanya sebelum mereka melangkah Mbak Uti pun langsung meminta untuk pulang, tapi Tania melarangnya dengan alasan Tania yang akan mengantarkan Mbak Uti, Tania pun langsung meraih tangan Mbak Uti dan menariknya pelan untuk mengikuti langkah suster itu menuju ruangan yang sudah di sebutkan Devan, sedangkan Devan lalu mendekati Vino, Vino yang ingin melangkah mengikuti para suster itu pun langsung dicegah oleh Devan.


__ADS_2