Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#61 Akhirnya Menikah


__ADS_3

#61 Akhirnya Menikah 🌹


Satu hari Rania berada dirumah sang paman, kemudian Devan menjemput Rania, dengan melepaskan sang keponakan untuk kembali kerumah calon suaminya seperti biasanya karena hari yang ditunggu-tunggu sudah didepan mata, tinggal hitungan jam saja Rania akan resmi menjadi Nyonya Devan Darmendra.


Setelah berpamitan dan mengatakan tanggal dan harinya pernikahan mereka digelar, kemudian dengan perlahan mobil Devan meninggalkan rumah paman Putra menuju kearah rumahnya, berhubung hari itu Devan tidak masuk kantor, dan diapun kemudian melajukan mobilnya menuju kearah kantor Vino.


" Lho kita kemana?" tanya Rania merasa heran.


" Kita kekantor Vino."


" Untuk apa?"


" Untuk kasih ini!" ucapnya sembari menunjukkan kartu undangan pada Rania, diapun lalu mengambilnya dari tangan Devan.


" Kenapa tidak menggunakan jasa orang saja seperti dia mengirim paket itu."


Devan tersenyum.


" Nggak usah, Aku ingin memberikannya langsung aku ingin lihat reaksinya setelah tau kalau aku dan kamu menikah." ucapnya sembari menatap sesaat kearah Rania.


Rania tersenyum sembari menatap kearah lain.


" Tapikan ini hanya pernikahan pura-pura, kalau dia tahu ini tidak Asli bagaimana?"


" Ini bukan tidak Asli, ini Asli dan kita sah menikah,kalau kamu bilang ini hanya pura-pura?hahahaha...nikahnya Asli ya, masa iya pura-pura."

__ADS_1


" Tapikan emang benar kepura-puraan, semua ada diatas kertas pak!"


" Kamu mau kalau nggak pura-pura?"


" Ng..Nggak...Nggak...Kalau beneran nikahnya,perjalanan panjangku mencari orang yang membeli rumah kedua orang tua ku itu belum ketemu." ucapnya terlihat sedih, Devan hanya tersenyum saja namun dia tidak bicara saat Rania mengucapkan tentang Rumah kedua Orang Tuanya itu.


Mobil memasuki halaman kantor Vino dan saat mereka hendak keluar dari mobil mereka berdua melihat Vino yang kebetulan berada ditempat parkir, Devan dan Rania turun dan menghampirinya.


" Hay Bro, masih ingat denganku?" ucap Devan dengan sengaja menegur Vino seperti itu.


Vino tersentak dengan panggilan Devan.


Vino menatap tajam ke arah Devan yang melangkah sambil menggenggam tangan Rania menuju ke arahnya.


" Ngapain kamu ke tempatku?aku sudah enek melihat kamu!!" ucapnya dengan sembari mensedekapkan tangannya di dada.


" Hahaha kamu datang pagi-pagi ke sini hanya ingin menggertak ku? tapi sayangnya kamu salah! Rania hanya sebagai calon istrimu, bukan istrimu yang sah, walaupun nantinya jadi istrimu yang sah, selagi ada kesempatan, Apa salahnya." ucapnya sembari mengekspresikan wajahnya dengan tatapan yang seolah-olah mengejek dengan ucapan Devan.


" Heh Pak Vino! bapak punya telinga nggak sih! bisa dengar nggak?! apa yang calon suami saya katakan, kalau saya ini milik dia, bukan untuk diperebutkan, masih banyak wanita di luar sana Pak, Kenapa pilihannya jatuhnya pada saya, bapak sadar nggak sih! Kalau saya ini sudah memiliki calon suami, bahkan kami sebentar lagi mau menikah, Bapak nggak boleh dong seperti itu, masih banyak kok Yang mau sama bapak diluar sana!" ucap Rani lantang, Vino terhenyak dengan ucapan Rania


" Sabar Sayang, jangan emosi, biarkan saja dia bicara semaunya, yang penting kita berdua tetap bersama." ucapnya sembari melayangkan ciuman hangatnya di pucuk kepala Rania, Rania terkejut tapi dia berusaha untuk menutupi rasa terkejutnya itu.


" Waduh Bos manja ini memanfaatkan keadaan nih kayanya." gumamnya dalam hati.


" Nggak usah kalian penampakan kemesraan kalian di hadapanku, Aku tidak merasa terbakar, lebih baik kalian pergi dari sini, kalau kalian hanya ingin memamerkan kemesraan kalian di hadapanku itu salah besar!" ucapnya sembari menatap mereka berdua.

__ADS_1


Devan hanya tersenyum mendengar ucapan dari Vino.


" Oh ya, aku ke sini lupa, sebenarnya aku tujuan ke sini hanya ingin mengasihkan ini saja, kalau ada kesempatan kamu datang ya, Aku tunggu! kamu adalah tamu istimewa eksklusif bagi kami, ya kan sayang." ucapnya sembari menoleh mesra ke arah Rania, Rania langsung menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Devan kemudian menyerahkan kartu undangan tersebut,Vino tidak mau mengambil kartu undangan itu dan Devan pun kemudian menaruh kartu undangan itu di atas kap mobil Fino.


" Ya udah, kami pergi dulu,jangan lupa datang ya Bro!" ucapnya sembari menepuk pelan pundak Vino, Vino langsung menepiskan tangan Devan dan mengusap pundaknya tersebut Vino hanya memandang kepergian Devan dan Rania dari hadapannya.


Setelah mobil Devan tidak terlihat lagi di pandangannya, dia pun kemudian mengambil kartu undangan yang ada di atas kap mobilnya tersebut, Dia kemudian membukanya dan membacanya, karena merasa kesal dia pun langsung menyobek undangan tersebut dan melemparnya begitu saja, Dia pun langsung melangkah menuju ke arah lobby kantornya dan dengan muka marahnya dia langsung menuju ke arah ruangannya tersebut.


*****


Hari yang dinanti bagi Devan pun telah tiba, Devan dan Rania yang sudah berada di sebuah gedung pernikahannya itu pun sudah bersiap, karena sebentar lagi akad nikah akan segera dimulai,saksi dari kedua belah pihak sudah lengkap.


Rasa gugup yang dirasakan Devan sesungguhnya tidak bisa dia kendalikan, tapi dengan ucapan William dan sang Mamah pun menguatkannya agar dia tidak merasa gugup.


Saat dia disandingkan dengan Rania dia terkesima denga kecantikan Rania yang sejatinya tidak bisa dia ungkapkan, dia tertegun dan menatap Rania dengan lekat.


Devan kemudian ditegurkan oleh William sembari tertawa pelan.


" Ntar aja Pak Bos menatapnya, kalau sudah dinyatakan sah,nanti make up nya luntur hehehe..." Mendengar celetukkan dari William, mereka yang ada di situ pun tertawa lepas, Devan hanya bisa senyum tipis, Acara Akad nikah itupun segera dimulai, dengan tarikan nafas sekali Devan dengan lancar mengucapkan ijab kabul tersebut, mereka semua mengucap syukur karena pernikahan itu terlaksana dengan lancar.


Proses ijab kabul yang sudah dilaksanakan itupun sesuai dengan keinginan Devan tidak ada gangguan dari manapun, kemudian mereka melanjutkan dengan acara resepsi pernikahan mereka, berbagai kolega bisnis mereka datang di acara pernikahan tersebut, hanya yang ditunggu saja tidak datang Vino dan keluarganya, saat mendengar kabar kalau Devan menikah, Sintya terlejut, tidak ada hujan tidak ada angin Devan melangsungkan pernikahan,saat itu rasanya Sintya bagaikan disambar petir di siang hari bolong, saat ia mendengar kalau laki-laki pujaannya itu sudah melangsungkan pernikahan.


Dia hanya bisa menatap Devan dan Rania bersanding, kecewa, sedih dan marah tidak bisa diungkapkannya lagi, tapi dia hanya bisa tersenyum tersembunyi ada sesuatu di balik senyumnya itu yang akan dia rencanakan tanpa sepengetahuan Devan dan Rania.

__ADS_1


" Silakan dinikmati hidangannya, Nona Sintya." ucap William sembari tersenyum, Sintya menoleh ke arah William dengan tatapan tidak bersahabatnya, kemudian dia berlalu dari hadapan William, dan berlalu pergi meninggalkan gedung resepsi pernikahan Devan dan Rania, William yang mengiringi kepergian Sintya itu dengan tatapan matanya hanya bisa tersenyum lebar.


" Makanya Mak! jangan asal menjatuhkan pilihan pada laki-laki yang sudah memiliki calon istri, akhirnya sakit sendiri kan kamu merasakannya, Aku tahu kamu pasti akan merencanakan sesuatu untuk Devan dan Rania tapi aku tidak tinggal diam, aku akan selalu mengawasimu selama kamu berada di kantor Dev Group." ucapnya berbicara sendiri, kemudian dia pun pergi meninggalkan meja di mana Sintya duduk, kemudian Dia mendekati Tania dan yang lain yang sedang sangat berbahagia melihat kemeriahan pesta pernikahan Devan dan Rania.


__ADS_2