
William menemui seorang karyawan yang menyimpan semua berkas tersebut, dia kemudian memasuki ruangan yang dituju.
" Leni, mana semua berkas yang saya berikan pada mu kemaren?" Tanyannya pada seorang wanita yang dipanggilnya Leni.
" Siap pak, sebentar." Ucapnya sambil melangkah ke lemari kecil tidak jauh darinya tempat penyimpanan berkas tersebut, dia mengambil semuanya dan tanpa dia sadari salah satu berkas masih didalam lemari tersebut tertinggal, diapun memberikan semua berkas itu pada William.
" Ini sudah semuanya?"
" Iya pak sudah semuanya."
" Tidak ada yang tertinggal?"
" Tidak ada pak."
" Yakin?"
" Iya pak, yakin, semuanya sudah lengkap." Ucapnya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
" Baiklah! Terimakasih!" Ucapnya membalas senyum Leni padanya kemudian dia berjalan kembali keruangan sang Bos.
Devan yang berdiri didepan jendela ruangannya berdiri tegap dengan kedua tangan kesaku celananya menatap kearah luar jendela dimana hilir mudiknya kota yang ramai dengan aktifitas mereka sehari-hari, kemudian ponsel yang berada diatas meja itupun berdering menyadarkan lamunan Devan dia langsung mengusap wajahnya seraya menghela nafasnya dengan pelan dia menoleh kearah ponselnya itu dan melangkah menuju meja mengambil ponsel tersebut melihat siapa yang menghubunginya itu, tertera nama pak Hakim,Devan pun langsung menjawab panggilan pak Hakim tersebut.
" Halo..."
" Hallo selamat pagi pak Devan."
" Pagi pak, ada apa pak?"
" Maaf pak Devan, tidak mengurangi rasa hormat saya pada bapak, kalau anak saya Sintya belum bisa kekantor bapak karena dia kurang enak badan pak, biasalah kerjaan dia banyak sekali bantuin saya " ucapnya sembari tertawa pelan.
__ADS_1
" Iya pak, nggak apa-apa, istirahat aja pak dulu anak bapak, nanti kalau sudah baikan silahkan datang aja kekantor saya."
" Baiklah pak, terimakasih banyak pak.." ucapnya setelah dijawab Devan diapun langsung memutuskan sambungan bicaranya dan kembali meletakkan ponselnya ditempatnya semula dan dia langsung menghentakkan tubuhnya dengan menghela kembali nafasnya dengan pelan dan menyenderkan kepalanya disandaran sofa.
" Ya Tuhan...pertemukan kembali aku dengan gadis itu, aku tidak ingin Mamah kecewa denganku." Ucapnya pelan sembari menatap langit-langit ruangannya itu, terdenar ketukan dipintu ruangannya dan diapun langsung menyuruh si pengetuk masuk, siapa lagi kalau bukan si William dengan senyumnya dia berjalan mendekati sang Bos dan Devan kemudian membenarkan duduknya dan menatap kearah William.
" Nih Bos...berkas semuanya, Bos bisa melihat dan mengenali cv nya, kita bisa langsung menuju kealamat yang dituju." Ucapnya sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pelan berkas tersebut.
Devan menatap sesaat kearah William dan kemudian satu persatu cv pelamar tersebut dibuka semua yang perempuannya saja.
Beberapa saat kemudian Devan selesai melihatnya tapi tidak satupun dari cv tersebut ada wajah si gadis yang dicarinya itu.
William merasa heran karena sang Bos tidak menemukan yang dicari dan terlihat Bosnya itu menghela nafasnya dan berdiri dari duduknya dan kembali berdiri didepan jendela lagi dengan posisinya semula, diam! Tak ada suara mereka berdua.
" Masa sih nggak ada sama sekali cv gadis itu." Ucapnya sembari mengulang memeriksanya kembali, berulang kali tidak juga ditemukannya, dia menghitung semua berkas tersebut.
" 45 berkas..." Ucapnya berpikir.
William berjalan menuju kearah ruangan Leni kembali.
" Len....yang ikut interview kemaren berapa orang?"
" 46 pak..."
" Hah?! 46 orang?"
" Iya pak, ada yang salah pak?"
" Iya...kurang satu cv lagi, yang ada cuma 45 cv."
__ADS_1
" Sudah saya periksa tadi pak nggak ada lagi yang tertinggal." Ucapnya sambil berdiri dan membuka lemari penyimpanan berkas tersebut, dan tempatnya awal sudah terisi dengan berkas yang lain, dia mengambil berkas tersebut dan dia tidak melihat kalau salah satu berkas pelamar itu tertimpa berkas yang lain.
" Ya ampun! Bagaiman ini?" Ucapnya sembari duduk dikursi didepan Leni.
" Apa aku yang salah ya menghitungnya tadi?" Ucapnya sambil menatap kearah Leni.
" Maaf pak memangnya ada apa pak?"
" Pak Bos mencari salah satu pelamar yang berkasnya kurang, coba deh periksa kembali siapa tahu tertinggal, karena satu berkas itu sangat penting bagi Bos." Ucapnya.
" Baiklah pak..." Ucap Leni sembari memeriksa berkas yang baru saja diletakkan dilemari bekas penempatan cv pelamar, dibantu William, mereka berdua bersama-sama mencari cv yang hilang tersebut.
Dirumah tempat kos sederhana Rania duduk sendirian dipintu belakang kosnya itu, dia menatap langit yang terang, dia tidak masuk kerja karena merasa tidak sehat, dia duduk termenung menyadarkan tubuhnya dipintu tersebut.
" Ibu....Rania kangen Ibu, kangen banget...kenapa Ibu pergi meninggalkan Rania begitu cepat, kepergian ibu membuat Rania tersiksa, andai saja Rania bisa mengubah dan mengulang waktu ingin rasanya Rania ikut bersama ibu, Rania kangen ibu dan Ayah, ya Tuhan kenapa Engkau pisahkan aku dengan kedua orang tua ku ya Tuhan, Mampukah Aku menjalani semua ini, sebenarnya aku rapuh serapuhnya, aku tidak kuat rasanya menanggung beban yang kau berikan, hanya Airmata ini yang menemaniku." Gumamnya sambil menghapus air matanya yang membasahi kedua pipi mulusnya.
Kemudian dia berdiri dan menatap seluruh ruangan kos yang dia tempati saat ini, kos-kosan kecil berukuran cukup untuk satu atau dua orang dengan satu buah kamar tidur, satu ruang dapur dan satu kamar mandi, jauh dari kata mewah, itupun didapatnya dari Tania, syukur saja dia tinggal dikos tersebut tidak bayar, dia disuruh menempati secara percuma karena kos-kosan itu adalah milik ibunya Tania, awalnya Rania diminta tinggal dirumah besar Tania, tapi dia menolaknya dengan alasan dia tidak ingin merepotkan mereka, dan dengan pilihan akhirnya dia harus tinggal percuma dirumah kos-kosan yang dikelola ibu Tania.
Diapun langsung melangkah menuju kearah kamarnya dan menutup kembali pintu belakang tersebut dan saat dia mau melangkah dia merasakan pusing yang luar biasa dan dia melihat semua ruangan berputar dan akhirnya dia ambruk dilantai ubin keramik kosannya itu.
Karena rasa tidak enak di hati Tania diapun langsung melepas celemek yang dipakainya dan langsung saja pergi setelah menitip pesan dengan para karyawan terpercayanya dan diapun melajukan motor kesayangannya menuju kearah rumas kos Rania, beberapa menit kemudian dia sampai dan dia mengetuk pintu rumah tersebut tidak ada jawaban beberapa kali dia memanggil tak ada jawaban juga, rasa khawatir Tania pun bertambah karena tak ada sahutan dari dalam, dan dia pun menuju pintu belakang dan kebetulan tidak dikunci Rania diapun langsung membukanya dan saat pintu terbuka dengan lebar dia terkejut melihat Rania terkapar tak sadarkan diri dilantai dapur kosnya, Tania langsung memanggil-manggil nama Rania.
" Rania..! Rania! Bangun Ran...ya Tuhan apa yang terjadi denganmu Ran?" Ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan pipi Rania, namun Rania tidak ada reaksi, Tania langsung menelpon sopir pribadi sang Mamah agar segera menuju kerumah kos-kosannya.
Beberapa saat kemudian sopir pribadi itupun datang dan dengan dibantu pak sopir pribadi mengangkat tubuh Rania dan langsung dibawa kerumah sakit terdekat biar cepat ditanganin keadaan Rania sekarang ini.
Dikantor Dev Group...
" Ini pak! Sepertinya salah satu dari berkas pelamar tersebut." Ucap Leni sembari memberikan pada William dan dia langsung mengambilnya dan membukanya, William melihat fhoto gadis tersebut diberkasnya itu, William mengenali wajah sang gadis yang dicari Bosnya, karena William sempat kena marah si gadis waktu itu.
__ADS_1
" Yes!! Ini dia yang dicari,,,terimakasih ya Len" Ucapnya sembari melangkah tergesa-gesa menuju ruangan Bosnya kembali.