Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#17 Rasa Tidak Percaya


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan William pun memasuki halaman parkir yang ada dikantor DEV Group dengan begitu rapinya William memarkirkan mobilnya itupun. Langsung saja mereka keluar Mobil dan melangkah menuju kearah lobby dan memasuki lift menuju kearah ruangannya.


Diruangannya Devan langsung saja menuju kearah meja kerjanya dan membuka layar laptopnya sambil melonggarkan jasnya, William yang berada didepannya pun langsung berbicara.


" Pak Bos bagaimana sekarang langkah selanjutnya?"


" Hubungi Rania dan segera besok hadir kekantor ini dan bawa langsung keruangan ku." Ucapnya sembari menatap layar Laptopnya tanpa dia menoleh kearah William.


" Baiklah Bos..." Ucapnya Kemudian melangkah keluar dan menuju ruangannya.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi ponsel Rania, namun sayang ponsel itu tidak aktif, kemudian ia pun langsung mencoba menghubungi Tania, dan beberapa saat kemudian sambungan itupun terdengar.


" Hallo.."


" Ada apa Wil?"


" Aku menghubungi Rania, tapi kenapa ponselnya tidak aktif ya?"


" Oh...ponselnya lagi dicas, ada pa Will?"


" Besok bisa Rania datang kekantor."


" Besok?"


" Ada apa Tan?" Tanya Rania yang mendengar Tania berbicara.


" Sekalian aja gih, bicara sama Rania, mumpung orangnya ada disini " ucap Tania sembari memberikan ponselnya.


" Hallo, saya Rania, ada apa ya pak?"


" Saya adalah sekretarisnya pak Devan, maaf Mbak Rania, bisa kah Mbak datang kekantor DEV Group besok?"


" Oh...iya bisa-bisa pak..." Ucapnya sembari duduk dari rebahannya, dia tidak mengingat lagi kejadian yang membuat dia marah insiden interview tersebut, tapi yang ada dipikirannya itu dia bisa dapat gajih besar dan bisa memberikannya pada sang ibu agar rumah peninggalan orang tuanya itu tidak dijual.


" Baiklah Mbak kami tunggu besok jam sembilan pagi." Ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya setelah mendapatkan persetujuan dari Rania.

__ADS_1


" Yes! Akhirnya aku bisa kerja juga disana, makasih ya Tan kamu memang teman yang baik memberikn peluang pada ku untuk masuk kekantor itu, aku tidak menolak kalau pun aku diberikan bagian OB, yang penting bisa terkendali keuanganku " ucapnya senang sambil memeluk bantal rumah sakit dengan jarum infus yang menempel ditangannya.


" Kamu beneran tetap mau kerja disana?"


" Iya..."


" Syukurlah kalau gitu, aku juga sangat senang mendengarnya karena kamu mau berbesar hati untuk melupakan masalah yang terjadi kemaren." Ucap Tania sembari memeluk sahabat itu, Tania tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


" Astaga...aku lupa mentransferkan uang kemaren yang dipinta sama ibu..." Ucapnya meraih ponselnya yang berada diatas meja.


Ia pun menghidupkan ponselnya dan langsung saja membuka sebuah aplikasi dan mentransferkan sejumlah uang kerekening ibu tirinya, setelah sukses ia pun langsung menghubungi ibunya itu,sekali panggilan tidak di jawab, dua kali juga tidak dijawab yang ketiga barulah dijawab Bu Rina.


" Ada apa kamu menghubungiku!!" Ucap ketus bu Rina pada Rania.


" Uangnya sudah Rania transfer Bu."


" Uang? Uang untuk apa?!"


" Uang untuk kebutuhan ibu dan kak Sarah dikampung."


" Bu, kenapa ibu bilang seperti itu? Kenapa ibu bilang tidak mau lagi dengan uang yang akan Rania berikan pada kalian?"


" Karena kami sudah mendapatkan uang yang lebih besar lagi dan berbeda jauh dari setiap transferan kamu itu, karena jauh lebih sedikit uang kamu itu Rania!! ngerti kamu!!"


" Ibu...jangan bilang kalau rumah Rania dijual sama ibu?"


" Hahahah itu kamu tahu.. "


" Apa bu?" Ucap Rania terdiam sejenak dan Air matanya pun menggenang di kedua bola matanya dan mengalir seperti air begitu saja tumpah membasahi kedua pipinya.


" Ibu...dengan siapa ibu menjual rumah itu?"


" Apa penting bagi kamu tahu siapa yang membelinya?"


" Iya bu .." ucap Rania sembari tetap mengeluarkan Air matanya itu, Tania hanya bisa mengusap pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


" Memang mau kamu tebus kembali? Jangan mimpi kamu, karena aku menjual rumah kamu itu sangat mahal sekali, dua ratus juta hahahah...apa kamu sanggup hah?!"


" Hah? Dua ratus juta?"


" Iya Aku jual dengan orang kota!!" Ucapnya dan langsung saja menutup pembicaraanya tersebut secara sepihak, Rania hanya bisa terdiam dan menangis menundukkan kepalanya.


" Ayah, ibu Rania gagal dalam mempertahankan rumah tersebut." Ucapnya sembari tertunduk dan menangis kesesugukkannya.


Tania hanya mengusap pundak sahabatnya, dan belum tahu mau berbicara apa tentang semua ini, mau membantupun dia tidak tahu untuk mencari tahu siapa yang membeli rumah tersebut, ia hanya bisa mengucapkan kata sabar buat sang sahabat.


" Tania, Harapan ku sudah hilang, aku berjuang sudah gagal, aku tidak bisa mempertahankan harta peninggalan kedua orang tua ku."


" Maafkan aku Rania, aku hanya bisa bilang padamu untuk bersabar saja, aku bisa aja menebus rumah itu tapi kemana kita mencari orangnya, kota itu besar." Ucapnya sembari menatap wajah Rania yang terlihat sangat sedih sekali.


" Iya Tania, tapi aku tetap harus berjuang untuk menemukan siapa yang membeli rumah kedua orang tua ku itu, bagaimanapun caranya aku tetap akan berusaha."


" Terus bagaimana dengan pekerjaan kamu itu?"


" Aku akan tetap bekerja dikantor DEV Group, aku akan mengumpulkan uang sebanyak mungin agar aku bisa menebus kembali rumah itu." Ucapnya dengan tekat dan semangat yang ada didalam dirinya sampai dia menemukan si pembeli rumah tersebut.


Tania hanya mengangguk dan memberikan semangatnya pada Rania.


" Kita sama-sama berjuang untuk menemukan siapa yang telah membeli rumah kamu tersebut." Ucap Tania, dan Rania pun mengangguk, dua sahat itupun bertekat mencari tahu siapa yang sudah membeli rumah tersebut.


" Aku akan mencoba menghubungi orang yang aku kenal dikampung ku, mudah-mudahan saja nomer ponselnya masih aktif." Ucap Rania sambil mengambil ponselnya dan mencari beberapa orang yang dia kenal dikampung halamannya itu untuk menanyai siapa yang membeli rumahnya itu.


" Selamat sore buk Wita, ini sama Rania..." Sebelum Rania bertanya lebih jauh lagi, dia malah mendapatkan cacian dari ibu yang bernama Wita tersebut.


" Rania? Heh, dasar wanita nggak bener, kalau mau jadi wanita yang nyari duitnya asal-asalan itu jangan ngajak-ngajak pake telpan telpon kenomer saya segala! Udah nggak usah berbicara lagi sama saya!!" Ucapnya dan segera saja memutus sambungan tersebut.


" Ya Tuhan, Ada apa sebenarnya? Padahal ibu Wita ini adalah ibu Yang paling baik denganku?" Ucapnya sembari terdiam, begitu juga dia mencoba menghubungi yang lain, dan sama saja semuanya itu mengatakan yang tidak pernah terduga Rania, Rania pun merasa sakit hatinya karena dia tidak menyangka kalau orang yang dulunya baik tapi sekarang menjadi brutal dengan kata-kata yang sangat menyakitian bila didengar.


Rania menghela nafasnya dengan pelan dan dia menundukkan kepalanya tanpa terasa air matanya jatuh, sekarang dia merasa sangat sendirian setelah mendengar orang baik sudah tidak terlihat baik lagi padanya.


" Tania...apa salahku? Kenapa mereka membenciku?" Ucapnya sambil menutup wajahnya dengan bantal rumah sakit tersebut yang dipegangnya.

__ADS_1


" Kamu tidak salah Ran, itu pasti ada yang berbicara tentang kamu yang tidak-tidak karena kamu merantau dan bekerja dikota, biasanya banyak yang mengatakan kalau pergi kekota banyak yang bekerja tidak benar, padahal tidak semua seperti itu, termasuk kamu yang sudah sangat berjuang untuk ibu dan kakak tirimu itu dengan bersusah payah." Ucap Tania merangkul sang sahabat dan dianggukkan Rania.


__ADS_2