
Devan dan William sudah berada di ruangan meeting karena mereka ingin mengadakan Zoom meeting dengan perusahaan yang dipimpin oleh Pak Erick yang berada di Jerman, pak Erick ingin mengajukan kerjasama di dua perusahaan sekaligus sesuai dengan kualitas perusahaan yang dimiliki masing-masing perusahan tersebut.
Pak Erick akan menentukan perusahaan yang mana yang akan menjadi mitra bisnisnya untuk melebarkan usahanya di Tanah Air karena perusahaan yang ada di Tanah Air tersebut yang sangat besar hanya perusahaan yang dikelola oleh Devan dan perusahaan yang dikelola oleh Vino Arix.
Vino Arix dan Devan memang bersaing di dalam dunia bisnis tersebut, Tapi sayangnya Vino Arix tidak ingin perusahaan dirinya jauh tertinggal dari perusahaan yang dikelola oleh Devan, berbagai macam cara pun selalu di lakukan agar perusahaan Devan tertinggal jauh di belakangnya, semakin banyak cara yang dia buat untuk menjatuhkan perusahaan Devan, tapi sayang semua usaha yang di lakukan oleh Vino itu tidak menggoyahkan perusahaan yang dikelola oleh Devan, selalu saja perusahaan Devan yang berada di atas perusahaan Vino, tapi Vino tidak pernah berhenti untuk mengalahkan Devan, dia terus saja berusaha ingin menjatuhkan Devan di depan mitra bisnis Devan, Tapi sayangnya mitra bisnisnya sudah mengetahui kalau keuletan kerja Devan tidak mengecewakan, terlihat mitra bisnis Devan semakin banyak, membuat Vino selalu kalah dalam bersaing menjalankan bisnis keluarga mereka masing-masing.
Zoom Meeting pun sudah mulai Devan dan William yang berdiri di depan sebuah layar besar di mana terlihat di dalam layar itu wajah Vino dan wajah Pak Erick, mereka mulai dengan penawaran bisnisnya pada pak Erick.
" Terimakasih karena orang yang terhebat sudah mau menemani berbicara dengan saya, maaf saya mengadakan zoom meeting, karena saya tidak bisa datang langsung ke Indonesia untuk bertemu dengan kalian berdua orang-orang yang hebat." Ucap Pak Erick sembari tersenyum.
Dengan terlihat bangganya Vino tersenyum, sedangkan Devan hanya santai saja menanggapinya.
" Baiklah pak Devan dan pak Vino, saya mengajukan dua golongan dalam kerja sama ini, yang pertama dalam jumlah besar dan kedua dalam jumlah rendah, sesuai dengan kualitas dipasaran."
" Baiklah pak, saya akan melakukn pemeriksaan yang sangat detail lagi tentang kerja sama ini, biar diantara kita sama-sama mendapatkan keuntungan, dan mengenai syarat kerja sama yang bapak ajukan itu, persyaratan harga yang diberikan oleh perusahaan kami, pada perusahaan Bapak, mohon maaf tidak ada perubahan lagi, saya harap Bapak membaca email yang saya kirim pada Bapak." Ucap Devan, dia sengaja mengatakan itu pada pak Erick, agar pak Erick membatalkan kerja sama padanya dan beralih pada perusahan Vino dengan jumlah yang sangat besar.
" Pak Bos...!" Panggil William terkejut dengan ucapan pak Bosnya itu, Devan hanya menoleh sesaat kearah William, dan dia kembali menatap kelayar besar tersebut.
" Waduh, bahaya ini kalau pak Devan tidak merubah harga." Ucap William dalam batinnya.
" Baiklah pak Devan saya akan mempertimbangkan semuanya itu, saya sangat berharap bisa bertemu langsung dengan bapak." Ucapnya tersenyum.
__ADS_1
" Bagaimana dengan pak Vino?"
Tanya pak Erick.
" Maaf pak kalau sangat tinggi dengn apa yang dikatakan pak Devan, perusahaan kami akan menurunkan separo harga dari yang disebutkan pak Devan, jadi bapak hanya satu perusahaan saja dalam melebarkan bisnis kerja sama ini." Ucapnya sembari tersenyum, sedangkan Devan hanya tersenyum biasa saja.
" Baiklah pak, saya akan mempertimbangkannya dengan cermat, baiklah pak Vino, Pak Devan saya akan bertemu langsung dengan bapak berdua dan memutuskan mana yang harus terlebih dahulu gol dalam kerja sama ini." Ucapnya tersenyum dianggukkan mereka semua dan menyudahi zoom meetingnya itu
Setelah William mematikan layar tersebut dan Devan melangkah menuju ruangannya kembali di ikuti William. Sesampainya diruangannya diapun langsung duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan kerjaan yang harus di selesaikannya malam itu juga.
" Maaf Bos, apakah pak Erick tidak akan menawar harga yang kita tawarkan itu?" Tanya William sembari menatap Pak Bosnya itu.
Devan menatap ke arah William sembari tersenyum.
William pun menggelengkan kepalanya kemudian Devan pun tersenyum lagi.
" Tapi bagaimana dengan perusahaan Pak Vino?"
" Aku mengatakan tentang harga yang tinggi itu agar Pak Erick membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita."
" Kenapa bisa ingin dibatalkan Pak Bos?"
__ADS_1
" Karena aku ingin memberi kesempatan kepada Vino."
William hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya udah ayo kita lanjut lagi, kita harus menyelesaikan pekerjaan kita malam ini juga biar besok kita bisa bertemu dengan Client yang lain." Ucap Devan sembari melanjutkan pekerjaannya begitu juga dengan William yang fokus kembali dengan pekerjaan lemburnya.
Tapi jauh di seberang sana seorang lelaki yang tidak bisa menerima kenyataan kalau hasil yang didapatnya itu tidak sesuai dengan keinginannya tentang kejelasan kerjasama yang akan dilaksanakannya dengan perusahaan yang terkenal di Jerman.
" Ini tidak bisa dibiarkan walaupun harga tinggi yang ditawarkan oleh perusahaan Devan, pasti Pak Erick akan tetap menerima kerjasama ini dan kerjasama dengan nilai setengah harga di pasaran bisnis itu pasti akan jatuh denganku, seharusnya nilai setengah itu yang jatuh pada perusahaan Devan dan nilai yang penuh jatuh pada perusahaanku." ucapnya sembari meminum minumannya yang ada di tangannya tersebut, karena setelah zoom meeting berakhir dia langsung melajukan mobilnya menuju ke arah klub malam di mana tempat dia biasa nongkrong dengan berbagai hiburan wanita-wanita cantik yang ada di klub tersebut, dia pun menghabiskan beberapa minuman yang sudah dipesannya tersebut. Dia meneguk gelas per gelas yang sudah berisikan air minuman itu, karena dia meluapkan kekesalannya yang selalu kalah dalam berbisnis dengan Devan.
Rania yang diantar Tania ke rumah kosannya itu pun sudah sampai di depan kosan tersebut.
" Rania, apakah kamu tidak ikut sekalian ke acara keluarga ibu.?" tanya Mama Tania.
" Nggak Tante.." ucapnya sembari tersenyum.
" Ya udah kalau gitu kami berangkat dulu ya, nanti aku jemput lagi di tempat kost." Ucap Tania
" Nggak usah, kalian nikmati aja acara keluarganya, nanti aku bisa pulang sendiri." ucapnya.
Dianggukan oleh Tania dan mobil Tania pun meninggalkan tempat kost Rania.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat dua orang yang mengendarai sepeda motor pun menatap ke arah Rania, mereka hanya berdiam diri di seberang jalan sambil mengawasi daerah sekitar, cukup lama mereka berada di seberang jalan sembari menatap ke arah kosnya Rania, beberapa saat kemudian Rania keluar dari kos tersebut dia menengok kiri dan kanan namun taksi yang ditunggunya belum juga terlihat, kemudian dia melangkah meninggalkan depan kost tersebut, dua orang itu pun melihat Rania berjalan seorang diri langsung menghidupkan kendaraannya dan melaju ke arah Rania, tanpa pikir panjang lagi kendaraan itu pun langsung menabrak tubuh Rania.
" Aaww!!" Ucap Rania, dia terkejut dan langsung jatuh tidak sadarkan diri dengan kaki dan tangannya mengeluarkan darah, dan terlihat luka dijidadnya,tapi kedua orang itu tidak menyadari kalau ada seseorang yang melihat kejadian tersebut, dia pun kemudian berlari ke arah Rania, dua orang itupun langsung saja melajukan kendaraannya setelah melihat ada orang lain dilokasi, tapi sayang kedua orang itu tidak mengetahui kalau kendaraannya sudah diabadikannya dalam ponselnya ditambah lokasi itu terlihat terang jadi memudahkannya untuk mengambil foto kendaraan yang digunakan kedua orang tersebut, kemudian dia pun langsung mendekati Rania yang tidak sadarkan diri itu. Seseorang itu adalah tetangganya Rania di tempat kost yang bernama Uti, Dia kemudian menghentikan sebuah mobil yang kebetulan melewati jalan itu, ternyata mobil itu adalah milik Vino, Vino pun turun dari mobil dan langsung melihat keadaan Rania yang tergeletak di jalan, dia pun kemudian mengangkat tubuh Rania kedalam mobil ditemani Uti, mereka berdua pun kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.