Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#24 Kedatangan Vino


__ADS_3

Di Kedai kopi milik Tania, setelah melayani pelanggannya Tania langsung duduk disalah satu kursi tamu yang ada di Kedainya itu.


Dia mengambil ponselnya yang ada di kantong celemeknya tersebut dan melihat ponselnya itu sembari bergumam.


" Kenapa Rania tidak ada menghubungiku, sekarang lewat sudah makan siang kantor, apa dia sudah makan ya? Lebih baik aku tanya aja,menanyakan apa dia sudah makan atau belum, kasihan dia." Ucapnya sembari menulis chat pribadi pada Rania.


Devan yang sudah selesai itu pun langsung saja melajukan kembali kuda besinya itu menuju ke arah kantor, sedangkan Rania dan William sudah kembali melakukan pekerjaannya setelah selesai makan siang.


Rania kembali menghafal tugasnya dan William melanjutkan kerjanya dia menatap layar laptopnya di ruangan itu tidak ada suara sama sekali mereka berdua larut dengan pekerjaannya masing-masing tapi tidak dengan Sintya walaupun tugasnya di atas meja banyak tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali dia masih merasa kesal dengan Devan yang sudah menempatkan dirinya menjadi Asisten William, dan dia mengadukannya pada sang Papah.


Devan yang baru saja sampai dikantornya dan saat dia hendak memarkirkan mobilnya dia dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.


" Devan..."


Devan menoleh kearah suara dan dia langsung menatap lekat kearah seorang lelaki yang tak lain adalah Vino, seorang pengusaha saingan Devan yang tidak ingin perusahaan Devan melaju pesat diatasnya.


" Ada apa kamu kesini?"


" Untung saja kita bertemu disini, karena aku terlalu malas memasuki kantor kamu itu."


" Udah! Nggak usah basa basi, cepatlah kamu katakan apa keinginan kamu!"


" Aku dengar kamu menjalin kerja sama dengan pihak perusahaan pak Erick yang ada di Jerman."


" Kenapa? Memang ada yang salah denganmu?!"


" Tidak ada yang salah, tapi karena kamu yang akan menyetujui kerja sama itu pihak mereka pasti akan membatalkan kerja sama dengan ku, Aku peringatkan kamu sekali lagi batalkan kerja sama itu dengan mereka!" Ucapnya penuh penekanan pada Devan, Walaupun Devan mendapatkan kata-kata penuh penekanan pada dirinya, dia hanya tersenyum.


" Aku belum menyetujuinya, itu tergantung dengan pihak pak Erick, kalau dia menyetujui isi kerjasama dari ku, aku pun tidak bisa membatalkannya." Ucapnya.


" Baiklah, kita lihat aja nanti malam ini kita adakan zoom meeting.!" Ucapnya sembari meninggalkan Devan yang masih berdiri disamping mobilnya, dan Mobil Vino kemudian meninggalkan halaman parkir kantor Devan.

__ADS_1


Devan hanya menghela nafasnya dan diapun langsung menuju keruangannya.


Melihat pak Bosnya sudah berada diruangannya saat ini, William langsung mendekati pak Bosnya itu.


" William hari ini Rani tidak bisa ikut dengan ku untuk pulang kerumah, dia bisa pulang kerumahnya seperti biasanya, tapi besok pagi dia harus datang jangan sampai terlambat." Ucap Devan sembari menatap layar laptopnya yang sudah menyala.


" Baik pak Bos.."


" Hari ini kita lembur!" Ucap Devan tanpa menoleh kearah William.


" Apa Bos lembur?" Ucapnya terkejut.


" Kenapa? kamu tidak suka?"


William garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.


" Batal deh aku ingin bertemu dengan Tania, rencananya hari ini aku ingin mengajak Tania jalan-jalan dan aku berharap juga aku bisa pulang lebih cepat ternyata tidakkkk!" Gumamnya dalam hati.


Devan menatap ke arah William.


" Tidak ada apa-apa Bos, baiklah saya akan menemani Bos untuk lembur."


" Karena ada Zoom Meeting hari ini jam tujuh malam dengan perusahaan pak Erick yang ada di Jerman dan perusahan Vino yang ada disini.


" Hah? Perusahan milik pak Vino?"


Devan mengangguk.


" Baiklah Bos, saya akan bilang ke Rania sekarang." Ucapnya sembari berbalik arah menuju kearah Rania, William pun mengatakan semuanya pada Rania,sesuai apa yang dikatakan Devan padanya, terlihat Rania menganggukkan kepalanya.


Sambil tersenyum Rania mengambil ponselnya, saat dia melihat ada chat pribadi dari Tania dia pun langsung membalasnya.

__ADS_1


Beberapa saat Rania bekerja dia langsung menoleh kearah jam dinding yang ada diruangan itu, dan dia merasa senang karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore.


Kemudian bergegas dia berdiri dan menuju ke arah meja pak Bosnya itu.


" Maaf pak Devan,saya pulang dulu karena sudah waktunya pulang." Ucapnya dan di anggukkan Devan, Rania langsung saja berbalik arah dan melangkah meninggalkan Devan, diiringi dengan tatapan Devan yang tersenyum sampai Rania hilang di balik pintu ruangannya tersebut.


Sesampainya Rania di luar lobby dia pun menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan lega.


" Akhirnya aku terlepas juga dari pak Bos manja itu, setidaknya untuk beberapa jam sampai besok pagi." Ucapnya, Dia tidak ingin menghubungi Tania Karena dia sudah terlalu merepotkan Tania, dia berpikir kantor tempat dia bekerja itu tidak terlalu jauh dari Kedai kopi Tania, dia pun kemudian melangkahkan kakinya menuju arah kedai tersebut.


Seiring keluarnya Rania dari halaman kantor DEV Group Sintya mengawasi Rania dari kejauhan.


" Ada hubungan apa dia dengan Devan, sehingga Dia sangat istimewa di depan Devan sampai-sampai dia berlama-lama berada di ruangan Devan, aku jadi iri padanya." ucapnya sembari menatap langkah Rania dari arah belakang dengan sinisnya dia pun kemudian memasuki mobilnya tersebut beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan halaman parkir kantor Dev Group dia langsung berbelok arah mengikuti jalan Rania saat Rania melewati kubangan air dia pun langsung menabrakkan mobilnya itu ke kubangan air dan cipratan air kotor itu pun mengenai baju Rania.


" Aww! Astaga...!" Ucap Rania dia tidak sempat melihat mobil siapa itu, karena Air genangan yang ada di jalan itu sebagian mengenai wajahnya dia pun kemudian mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan mengusap wajahnya namun dari kejauhan dia tidak nampak jelas mobil tersebut karena sudah melaju dengan kencang.


Rania terus berjalan menuju ke arah Kedai kopi Tania, memang benar dari arah kedai itu tidak terlalu jauh dari kantor DeV Group dia melanjutkan berjalan kakinya walaupun dia dilihat orang sekitar dengan keadaan baju yang kotor tapi dia tidak menghiraukannya dia terus berjalan menuju ke arah kedai.


Sintya menghentikan mobilnya jauh dari Rania dia pun kemudian tertawa lepas di dalam mobil sambil memukul-mukul kan tangannya disetir mobilnya tersebut dengan muka sinisnya dia berucap.


" Hahaha!! itu pantas buatmu! itu baru air kotor yang ada di jalan masih banyak lagi yang lainnya tunggu saja karena kamu sudah berhadapan denganku, kamu tidak sadar apa kalau kamu dekat dengan lelaki yang memang aku idam-idamkan, jangan berani melawan Sintya!!" ucapnya sembari melajukan kembali mobilnya menuju ke arah rumah pribadinya tersebut.


Rania yang sudah sampai di kedai kopi pun langsung memasuk ke arah dalam kedai, berhubung kedai itu sudah tutup dan Tania memang masih berada di dalam untuk menyusun pembukuan dari penghasilan dia perharinya, Tania terkejut melihat baju Rania yang terlihat sangat kotor.


" Astaga Rania! kamu kenapa? kamu jatuh di mana sampai baju kamu kotor seperti ini."


Rania hanya tersenyum saja.


" Aku tadi kena cipratan air genangan di jalan, mungkin mobil itu terlalu cepat sehingga tidak melihat ada air genangan."


" Kenapa kamu nggak bilang padaku kalau kamu udah pulang, kamu seharusnya bilang, kan aku sudah kasih chat pribadi buat kamu."

__ADS_1


" Nggak apa-apa kok Tania, sebentar lagi kan aku juga pulang, Jadi bisa mandi juga, lagi pula aku gerah berada lama-lama di kantor."


" Ya udah kalau kayak gitu kita pulang sama-sama." ucapnya sembari merapikan semua pekerjaannya dan mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke arah motor Tania setelah beberapa saat Tania mengunci kedai miliknya itu, mereka pun kemudian meninggalkan kedai tersebut menuju ke arah rumah pribadi Tania.


__ADS_2