Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#51 Akhirnya Terungkap


__ADS_3

#51 Akhirnya Terungkap


Devan yang berada didalam mobil langsung menghubungi William, beberapa saat kemudian sambungan Devan ke William pun tersambung.


" Yes Bos! kamu sekarang ada di mana?"


" Masih di kantor Bos "


" Coba kamu lihat nama Renaldi yang pernah menjalin kerjasama dengan kita."


" Memang kenapa dengan Bapak Renaldi?"


" Cepat lihat aja, kalau sudah ada tunggu aku di kantor."


"Ta-tapi Bosssss..." sambungan pembicaraan itu pun terputus secara sepihak, sebelum William melanjutkan bicaranya pada Pak Bosnya itu.


" Idih!Pak Bos memang kebiasaan, belum selesai juga ngomong, selalu aja diputusnya, memang benar-benar nih Bos." ucapnya sembari tersenyum menatap layar ponselnya, kemudian dia pun meletakkan ponselnya di atas meja, dia membuka kembali layar laptopnya dan menghidupkannya yang baru saja dia matikan dan memeriksa beberapa Client yang pernah mengadakan kerjasama dengan kantor Dev Group, dia mencari nama Renaldi didaftar Client.


" Ini ada tiga orang yang bernama Renaldi, Renaldi yang mana yang dimaksudkan oleh pak Bos? ini ada tiga, Renaldi Wahab, Renaldi Santoso, dan Renaldi Akbar, dari tiga perusahaan yang berbeda yang ketiga-tiganya pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan Dev Group." ucapnya berbicara sendiri, dia pun kemudian memeriksanya lagi lebih detail lagi, tapi ternyata memang hanya tiga orang yang bernama Renaldi,yang memang pernah menjalin kerjasama dengan mereka."


Pintu ruangan William terbuka, Devan melangkah menuju ke arah William dan langsung menatap ke arah layar laptopnya William itu, William kemudian berdiri dan mempersilahkan Devan duduk di kursi kerjanya itu.


" Silakan duduk pak Bos."


Devan mengambil alih tempat duduk William dia menatap layar laptop itu.


" Di situ ada tiga nama Renaldi, yang dimaksudkan Pak Bos Renaldi siapa?" tanya William.

__ADS_1


" Kamu sendiri pernah dengar tidak nama Renaldi?Ada yang kamu kenal?" tanya Devan sembari menatap ke arah William dengan lekat dan William menggelengkan kepalanya.


" Memang kenapa Pak Bos dengan Pak Renaldi ini? kenapa tiba-tiba Pak Bos mencarinya.?"


Devan menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Ini berkaitan erat dengan Tania." ucap Devan.


Mendengar ucapan Devan, William pun langsung menarik kursi yang tidak jauh darinya dan langsung duduk dengan wajah terkejutnya.


" Apa Pak Bos? berkaitan erat dengan Tania? Apa hubungannya Renaldi dengan Tania? kalau menurut data di situ semua yang bernama Renaldi sudah berkeluarga tidak ada yang single." ucapnya.


" Aku minta salinan nama ketiga Renaldi itu, kamu mau ikut nggak nanti malam ke tempat Tania?"


" Iya Bos saya mau, tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan Tania Bos?"


" Nanti aja kamu tahu sendiri langsung dari orangnya, karena ceritanya panjang takut salah aku menceritakannya padamu " ucap Devan seraya menatap William dengan lekat, karena Devan melihat diwajah William penuh keingin tahuan yang sangat besar.


Beberapa saat kemudian chat pribadi Devan terbalas dari Rania, dengan isi cat memberikan nama lengkap tersebut bahwa mantan suaminya Tania itu adalah Renaldi Akbar.


Setelah mendapatkan chat pribadi dari Rania Devan kemudian melihat kembali nama ketiga Renaldi yang pernah menjalin kerjasama dengannya itu.


" Ternyata Renaldi Akbar ini masih aktif dalam kerjasama dengan perusahaan ku." gumamnya, Kemudian dia hanya menganggukkan kepalanya dan membuat William bertambah bingung dengan sikap Pak Bosnya itu yang tidak langsung menceritakan kepadanya tentang hubungan nama Renaldi dan Tania.


" Salinkan data Renaldi Akbar untukku." pintanya pada William.


William tidak menggubris ucapan Devan dia masih termenung memikirkan kata-kata Devan tentang Tania tersebut.

__ADS_1


Devan kemudian menatap ke arah William yang berada di sampingnya itu, karena tidak ada suara sama sekali saat dia meminta salinan data dari Renaldi Akbar yang masih aktif dalam menjalin kerjasama dengan perusahaannya itu.


Devan terus menatap ke arah William sedangkan William hanya termenung menatap lurus kedepan, dia tidak menghiraukan kalau pak Bosnya masih ada di sampingnya, saat ini pikiran William tertuju pada Tania di otaknya yang penuh tanda tanya besar.


" Ada hubungan apa Tania dengan Renaldi, aku tidak mengenal nama Renaldi, saat bertemu kembali dengan Tania dia tidak pernah mengatakan kalau dia mempunyai hubungan dengan laki-laki yang bernama Renaldi itu, padahal semua yang bernama Renaldi itu sudah memiliki keluarga atau jangan-jangan...." gumaman dalam hatinya itu pun terhenti, bertepatan dengan pundaknya disentuh oleh Devan.


" Apa yang kamu pikirkan William, Apakah kamu menaruh hati pada Tania?" Tanya Devan sembari menatap ke arah William dengan salah satu tangannya berada di atas meja untuk menopang kepalanya yang sedari tadi menatap ke arah William.


William terkejut dengan pertanyaan sang Bos, dia pun kemudian menutupi rasa terkejutannya itu, Tapi sayangnya Devan sudah melihat kalau William terkejut saat dia menanyakan tentang Tania.


" Oh..it- itu, anu i-ini..pak Bos... saya dengan Tania itu sudah berteman sejak sekolah dulu, tapi setelah beberapa tahun tidak bertemu karena saya pindah sekolah mengikuti kedua orang tua sampai akhirnya bisa bertemu kembali saat ini, jujur Pak Bos saya memang menaruh hati pada Tania, tapi sekarang saya bingung ada hubungan apa Tania dengan Renaldi." ucap William tidak menyembunyikan rasa sukanya pada Tania dan dia pun merasa lega telah menceritakannya pada Devan yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri walaupun sebenarnya Devan adalah Bosnya dalam pekerjaan.


" Kalau kamu memang menyukai Tania, kamu harus mengungkapkan isi hati kamu padanya, kalau perlu sekaranglah kamu memberikan perhatian lebih padanya di saat dia terpuruk saat ini." ucap Devan sembari menepuk pelan pundak William.


" Terpuruk? maksudnya ini ada apa ya Pak Bos.?"


" William...Sebelum saya menceritakan semuanya kepadamu yang saya tahu saat ini, apakah kamu mau menerima Tania apa adanya?"


William menganggukkan kepalanya.


" Apa adanya Tania saya akan menerimanya Pak Bos, karena Tania adalah cinta pertama saya, walaupun cinta itu tidak pernah terjadi antara saya dan Tania, Cinta Pertama saya dalam diam walaupun saya berteman dengannya, tapi saya tidak bisa mengungkapkan isi hati saya saat itu, sampai akhirnya saya tidak bertemu bertahun-tahun lamanya."


" Baguslah kalau itu sikapmu saat ini terhadap Tania, tapi lebih jelasnya lagi kamu bertemulah dengan Tania, berikanlah perhatian penuh untuknya, karena saat ini dia mengalami kesedihan yang sangat mendalam, Tania sudah pernah menikah." Devan menghentikan bicaranya sesaat dia memperhatikan reaksi William, Apakah dia terkejut atau tidak, tapi nyatanya William tidak terkejut dengan ucapan Devan, dia malah menatap Bosnya itu sesaat dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan lurus kembali seperti semula dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki saat itu terdengar tarikkan nafasnya yang panjang.


" Saya sudah dapat mengiranya, kalau dia memang sudah pernah menikah, karena saat itu saya bertemu dengan dia, saya sempat melihat layar ponselnya foto seorang anak perempuan bersama dengannya sebagai wallpaper layar ponselnya itu, saat seseorang menghubunginya kala itu, saat itu dia masih berada di belakang dan ponselnya berada di atas meja saat kami bertemu waktu itu."


Devan menghelan nafasnya mendengar ucapan William.

__ADS_1


" Apakah yang dimaksud Pak Bos berhubungan erat dengan Tania itu adalah salah satu dari Renaldi itu adalah mantan suaminya Tania?"


Devan menganggukkan kepalanya William menghela nafas panjangnya.


__ADS_2