
William berjalan menuju ruangan Bosnya sambil tersenyum-senyum, karena sudah mendapatkan apa yang diperlukan sang Bos, dengan perlahan dia membuka pintu ruangan Bosnya itu, Dia melihat Bosnya itu masih betah berdiri didekat jendela.
" Betah banget nih Bos berdiri disitu dari tadi, apa tidak pegal tuh kaki, hehehehe..." ucapnya pelan sembari mendekati Devan yang masih dengan posisinya itu.
" Bos...! " panggilnya, Devan yang masih dengan posisinya berdiri itu tidak bergerak sama sekali dan menolehpun dia tidak walaupun dipanggil William dengan dekat,walaupun sebenanya dia sudah mengetahui kedatangan sekretarisnya tersebut.
" Bos..!" panggilnya untuk kedua kalinya, dan membuat Devan menoleh kearah William terutama melihat ketangan William yang sedang memegang sebuah berkas, dan kemudian dia kembali menatap William seakan-akan bertanya apa yang dibawanya itu. William tersenyum sembari berkata pada sang Bos yang sedang menatapnya itu.
" Bos ini berkas gadis yang Bos cari." ucap William sembari memberikannya pada Bosnya itu dan Devan mengambil dan melihatnya sesaat, kemudian dia berjalan kearah sofa dan diikuti William.
" Itu cv gadis itu yang tadi tertinggal diruangan Leny karena tertutup sama berkas yang lain." ucapnya sembari tersenyum.
" Kamu yakin ini adalah berkasnya?" tanya Devan seraya menatap kerah William.
" Yes Bos! saya yakin 100 persen sangat yakin,kalau itu adalah cv dia." ucapnya pasti.
Devan hanya menoleh sesaat pada William dan kemudian dia membuka berkas yang ada ditangannya itu.
" Saya mengenalinya dengan jelas, karena saat itu dia sempat marah-marah ditambah wajahnya cemberut saat keluar dari ruangan interview." Terang William, dan lagi-lagi Devan hanya menoleh sesaat padanya, kemudian Devan melihat fhoto Rania yang terpampang didalam cv yang ada ditangan Devan sekarang ini. Lalu dia membaca namanya.
" Rania Ishyabella " ucap Devan sembari mengingat nama yang disebutnya itu.
" Yah! benar ini adalah gadis itu, akhirnya aku menemukanmu Rania Isyhabella." Ucapnya seraya terukir senyum diwajahnya.
" Dimana Bos kita menemuinya?" tanya William sembari menatap sang Bos yang sedang duduk menyandarkan tubuhnya disofa dan menyilangkan kakinya itu sambil menatap lurus kedepan dengan salah satu tangannya berada diwajahnya terlihat senyuman mengembang diwajah tampan Bosnya itu.
Dengan santainya Devan berucap tanpa menggeser posisinya tersebut.
" Hubungi nomer ponselnya sekarang juga Will..." perintahnya.
" Baik Bos!" jawabnya dengan tegas sambil megambil ponselnya dan memencet nomer tujuan, yaitu nomer Rania, beberapa saat tapi tidak tersambung.
" Terimakasih.! " Ucapnya dengan pasti dan terdengar sedikit keras, Devan yang mendengar William berucap terimakasih langsung saja menatap William, Devan merasa heran karena dia mendengar sejak tadi William tidak berbicara apa-apa pada yang dihubunginya malah terdengar dengan cepat ucapan terimakasih.
" Hey!! Kamu belum bicara apapun, tapi kenapa kamu bilang terimakasih, pada siapa kamu bicara hah?" ucap Daven sembari menatap kearah Wlliam.
William tersenyum...
" Ini Bos, katanya nomer yang kamu hubungi diluar jangkauan...hehehe." ucapnya terkekeh dengan meggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Mendengar ucapan William Devan hanya mendelik kearah William.
" Hehehe...nomernya nggak aktif Bos..." lanjutnya dengan gaya cengegesannya.
__ADS_1
" Baca Alamatnya.." perintah Devan kemudian.
" Baik Bos..."ucap Willim sembari membaca Alamat yang tertera di biodata pribadinya Rania.
" Ini Bos, Alamatnya tidak jauh dari rumah saya,saya tahu banget dengan rumah kos-kosan itu." ucapnya.
Mendengar ucapan William Devan langsung saja berdiri dan merapikan jasnya serta mengancingkannya sembari melangkah keluar ruangannya.
" Mau kemana Bos?" tanya William dengan polosnya, mendapatkan pertanyaan itu, langkah Devan terhenti dan berbalik badan menatap kearah William dengan tajam setajam elang.
" Ups!maaf bos, Mari Bos kita berangkat sekarang!" ucap William sambil bergaya menunduk dan mengulurkan tangannya secara Formal untuk mempersilahkan Bosnya tersebut berjalan terlebih dahulu, Devan pun langsung melanjutkan kembali langkahnya di ikuti William sembari tersenyum.
" Hehehehe...kapan lagi bikin Bos galau." ucapnya sembari melangkah menuju kearah luar ruangan Devan dan mengikuti langkah Bosnya yang sudah menunggu pintu lift terbuka.
Mereka berdua menuju kearah Lobby menuju kearah pintu luar dimana mobil pribadi Devan sudah menunggu sejak tadi.
William pun melajukan mobil Bosnya itu menuju kearah rumah kosnya Rania.
" Kalau si gadis itu tidak mau gimana Bos? Karenakan dia keluar dari kantor kita saat itu dengan wajah marahnya.?" Tanya William sembari menatap sang Bos dari kaca spion dalam mobil tersebut.
" Mau tidak mau dia harus mau." Jawab Devan santai.
" Mau tidak mau harus mau itu namanya pemaksaan kehendak dong? Ach! Orang kaya mah sudah biasa,...." Gumamnya tersenyum.
" Udah jangan banyak omong! Fokus aja dengan stir mu, kalau tidak ingin dua tahun tidak menerima gajih!"
" Iya Bos, maaf..." ucap William tersenyum dan kemudian dia kembali Fokus pada stirnya. Beberapa saat kemudian mobil tersebut berhenti di depan komplek kos-kosan yang terlihat sangat bersih, rapi, dan sejuk, karena samping kiri dan kanan rumah tersebut banyak ditumbuhi pohon yang sangat rindang, terlihat dihalaman teras dan dibawah pohon tersebut penguuni kos yang kebanyakan para gadis yang asyik bersantai kemudian mereka dibuyarkan pandamgannya dengan sebuah mobil mewah yang berhenti didepan komplek kos mereka menjadi pusat perhatian mereka semuanya.
William keluar dari mobil dan menuju pintu belakang mobil tersebut dan membukakan pintu untuk Devan sang Bos.
Kemudian Devan keluar dan langsung berdiri disamping mobilnya tersebut sembari menyenderkan tubuhnya dengan posisi kedua tangannya berada didalam saku celananya sembari melihat sekitar rumah kos tersebut. William berjalan memasuki area kos tersebut dia berjalan mendekati salah satu wanita yang sudah berumur yang sedang menyapu teras kos itu.
" Permisi ibu, boleh nanya sebentar ?"
" Boleh Mas, mau tanya apa?"
" Kos nomer berapa ya bu atas nama Rania?"
" Rania?"
" Iya Bu.."
" Nomer 6 Mas, tapi baru aja dibawa kerumah sakit Ranianya."
__ADS_1
" Kerumah sakit? Kalau boleh tahu sakit apa ya bu Rania? "
" Iya Mas dibawa sama anak ibu kos sini dan saya juga kurang tahu Mas Rania sakit apa, setahu saya kedapatan pingsan diruang kosnya." Terang ibu tersebut.
" Dengan siapa dia tinggal Bu?"
" Sendirian dia tinggalnya tapi kadang-kadang ditemani sama anak pemilik kos ini."
" Anak pemilik kos? Laki-laki atau perempuan bu?"
" Perempuan Mas.."
" Bisa minta nomer ponselnya bu si anak ibu kosnya, biar saya tahu Ranianya dibawa kerumah sakit mana." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dan ibu itu juga mengambil ponselnya dan memberikan nomer Tania dan memberikannya pada William dengan cekatan William langsung memasukkan nomer ponsel Tania diponselnya.
" Terimakasih ya bu...." Ucapnya dianggukkan oleh sang ibu tersebut dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah tertunda.
William langsung melangkah menuju kearah Bosnya dan disaat dia berjalan dia mendengar beberapa wanita yang sedang duduk dibawah pohan tersebut berbicra.
" Ngapain ya mereka mencari Rani?"
" Iya ya...Rania itukan pendatang baru dikos ini, kok mudah sekali ya dapat cowok ganteng dua orang sekaligus."
" Iya juga ya, jangan-jangan dia bekerja nggak bener lagi, siangnya Kerja dikedai anak bu kos dan malamnya dia kerja yang nggak bener lagi "
" Huuh!..karena kan tadi dia pingsan tanpa sebab."
" Jangan-jangan Hamidun lagi .."
" Aish! Ngeri juga ya..."
" Tapi ganteng banget cowok itu, mau dong di hamidunin sama dia, secara gitu lho gantengnya pake banget...bikin nggak kuat!"
" Hadeh!! Cewek-cewek ini pada ngomongin orang aja, lagi pula yang diomongi tidak ada benarnya, cuma masalah Rania aja yang pingsan bener adanya, Sudahlah!! Para Cewek mah susah dilawan...tapi ganteng juga ya aku hehehe...setara juga ya ketampananku sama Bos heheheh..." Kekeh kecilnya sembari berjalan mendekati Devan yang sejak tadi berada disamping mobil pribadinya itu.
"Maaf Bos, Rania tidak ada dikamar kosnya tapi dia berada dirumah sakit, karena katanya dia pingsan tanpa sebeb, dia dibawa kerumah sakit sama anak pemilik kos sekaligus temannya." Terang William.
" Rumah sakit mana?"
" Mereka tidak tahu Bos, tapi saya sudah punya nomer ponselnya perempuan yang membawa Rania."
" Ayo segera hubungi.."
" Iy ..iya Bos, ngebet banget sih Bos." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Tania.
__ADS_1