Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#58 Satu Buah Paket


__ADS_3

#58 Satu Buah Paket 🎁


Pagi-pagi terdengar ketukan di pintu kamar Rania, Rania yang sedang duduk di depan cermin sembari menyisir rambutnya yang baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya itu pun terkejut, dia menatap sesaat ke arah pintu kamarnya itu, kemudian dia pun berdiri dan melangkah menuju ke pintu kamar tersebut, dia membuka dengan pelan terlihat wajah Mbak Imah tersenyum padanya sembari membawa sebuah paket yang berukuran sedikit besar, Rania pun menatap ke arah tangan Mbak Imah itu, dia merasa heran kenapa pagi-pagi Mbak Imah membawa sebuah paket dan mengetuk pintu kamarnya.


" Maaf Nyonya Muda, Saya mau memberikan paket ini." ucap Mbak Imah sembari memberikan paket tersebut ke tangan Rania.


Rania yang merasa heran dengan paket itu tetap mengambilnya dari tangan Mbak Imah.


" Untuk saya?" tanyanya merasa heran sembari memutar paket tersebut ke kiri dan ke kanan dia perhatikan.


" Iya Nyonya Muda, itu buat Nyonya Muda, tadi saat saya membersihkan teras depan ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai pengirim barang katanya paket ini untuk Nyonya Muda." terang Mbak Imah.


" Siapa yang mengirimkannya untuk saya, di sini tidak ada nama pengirimnya, Apakah pengirim tadi tidak menyebutkan nama pengirim paket ini?" tanya Rania pada Mbak Imah.


" Maafkan saya Nyonya Muda, saya lupa menanyakan itu, karena saat dia berbicara menyebut nama Nyonya Muda, Saya hanya mengiyakan saja, makanya langsung saya bawa ke sini."


" Baiklah, terima kasih Mbak Imah." ucapnya sembari tersenyum.


Mbak Imah menganggukan kepalanya, dia pun kemudian berpamitan dengan Rania dan meninggalkan kamar Rania menuju ke arah lantai bawah dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


" Siapa yang mengirim paketan ini padaku? di depan paket memang tertulis namaku, tapi pengirimnya tidak ada, aku jadi takut untuk membukanya." ucapnya sembari menaruh paket itu di meja dekat sofa yang ada di depan kamar tidurnya tersebut, beberapa saat dia menatap paket yang tergeletak di atas meja itu, Namun karena rasa penasaran yang tinggi membuat Rania menyentuh kembali paket tersebut dan mulai membukanya.


Setelah dibuka dia melihat sebuah gaun warna merah jambu dan di atas gaun itu ada sepaket perhiasan permata dan di samping kiri kanan bingkisan itu sepasang sepatu high heels mengapit gaun cantik tersebut.


" Wow!! bagus juga bingkisannya, Tapi sayangnya aku tidak tahu siapa pengirimnya, dan juga aku tidak membutuhkan ini semua!" ucapnya sembari menyentuh isi bingkisan itu, mencari-cari sesuatu, ternyata yang dicarinya pun ketemu dia mendapatkan kartu ucapan yang berada di bawah kotak perhiasan tersebut, dia pun kemudian mengambil kartu ucapan itu dan membaca siapa pengirimnya.


Kartu ucapan itu dibuka namun dia tidak membaca isi dalamnya melainkan dia langsung mencari tahu siapa pengirimnya tersebut, untuk kedua kalinya Rania terkejut karena pengirim paket itu ternyata adalah Vino Arix, lelaki yang selalu saja mengganggunya itu.

__ADS_1


Rania tidak sadar, kalau Devan sudah berada di belakangnya, Devan langsung mengambil kartu ucapan tersebut dari tangannya dan langsung membacanya, membuat Rania terkejut.


" Siapa yang memberikan ini padamu?" tanya Devan membuat Rania menatap ke arah depan sembari menengadahkan wajahnya karena posisi Rania sedang duduk di sofa dan Devan berdiri di belakang Rania.


" Kata Mbak Imah ada seorang laki-laki yang mengatasnamakan dirinya sebagai pengantar barang."


" Berani sekali dia mengirimi hadiah untuk calon istriku! rupanya laki-laki ini tidak pernah jera sama sekali! ini perlu diberi teguran yang sangat keras padanya!" ucap Devan sembari mengemasi kembali bingkisan tersebut.


" Kamu suka dengan Hadiah ini?" tanyanya pada Rania, karena Rania hanya terdiam saja sembari menatap paket berupa hadiah yang dikemasi oleh Devan tersebut, Rania dengan refleks menggeleng.


" Kenapa? Hadiah ini kan isinya gaun cantik komplit isinya, Kenapa kamu tidak mau?" ucap Devan sembari menatap Rania dan mensedekapkan tangannya di dada, Devan sengaja berbicara seperti itu, dia ingin melihat reaksi Rania, Apakah dia merasa senang karena mendapatkan hadiah yang tidak terduga dari lelaki tampan yang selalu mengganggunya.


" Sayangnya aku tidak suka dengan Hadiah itu, walaupun aku suka, Maaf aku tidak bisa mengambilnya, lebih baik aku kembalikan pada orang tersebut, karena aku tidak ingin menerima apapun dari orang yang selalu menggangguku!" ucapnya sembari berdiri berhadapan dengan Devan dan mensedekapkan tangannya juga di dada seraya menatap lekat ke arah Devan, kemudian Devan tersenyum dia merasa bahagia dan senang mendengar Rania berucap seperti itu.


" Ternyata mamah tidak salah memilihkan Rania untuk ku, karena kepribadian Rania berbeda dengan wanita yang ada di luar sana yang kebanyakan mengharapkan harta dan kedudukan, sedangkan Rania tampil apa adanya dan pekerja keras." gumamnya dalam hati.


" Ya sudah, sekarang kamu cepat berganti pakaian Aku tunggu di lantai bawah."


" Kita akan bertemu dengan keluargamu, lebih tepatnya saudara kandung dari Almarhum Ayahmu."


" Saudara kandung dari Almarhum Ayah? setahu aku Almarhum Ayah memiliki saudara kandung, tapi tidak tinggal di kota ini, melainkan dia tinggal di Semarang."


" Memangnya kita mau ke Semarang? tanyanya lagi, Devan hanya tersenyum.


" Memangnya kamu tahu kalau saudara kandung Ayahmu itu berada di Semarang.?"


" Menurut Almarhum Ayah, Paman memang pindah ke Semarang, awalnya Paman memang berada di Kampung kami kala itu, tapi dia kemudian merantau ke Semarang bersama keluarganya."

__ADS_1


" Memangnya kamu pernah ketemu sama pamanmu itu.?"


" Nggak sih, belum pernah ketemu sama sekali, karena saat Paman pindah ke Semarang kata Almarhum Ayah aku masih dalam kandungan Almarhumah ibu."


" Ya udah sekarang kamu cepat ganti pakaiannya, kita akan bertemu dengan mereka."


" Mereka ada di kota ini?"


Devan hanya terdiam dan hanya memberikan jawaban dengan senyumannya dan berlalu dari hadapan Rania sembari membawa bingkisan yang dikirim oleh Vino untuk Rania membawanya melangkah meninggalkan Rania yang bengong sendiri di depan pintu kamarnya itu.


" Iisht!!! pertanyaanku dianggurinnya." ucap Rania sembari memasuki kamarnya dan berganti pakaian dia juga tidak lupa membawa tas selempangnya yang selalu dibawanya ke manapun dia pergi.


Saat dia menuruni satu persatu anak tangga lantai 2 rumah Devan dia melihat keluarga Devan berkumpul di ruang tengah sedang berbicara, mereka tidak mengetahui kedatangan Rania, Rania melangkah mengendap-ngendap mendekati Mereka mendengarkan pembicaraan keluarga Devan tersebut.


" Lebih baik kamu bicara baik-baik dengan Vino, katakan dengan dia kalau Rania itu sudah menjadi calon istrimu, jangan sampai Vino berbuat yang lebih dari ini, terhadap calon istrimu." ucap Bu Melany.


" Devan akan menemuinya Mah dan mengembalikan Hadiah ini, dia kira Rania wanita yang mudah dirayu dengan berbagai macam hadiah seperti dia merayu wanita-wanita di luar sana."


" Sekarang kakak sudah mencintai kak Rania dong dari omongan Kakak sepertinya Kakak sangat takut kehilangan Kak Rania hehehe..." ucap Lana sembari terkekeh karena dia tidak tahu kalau kakaknya itu memang sudah kepincut dengan Rania, awalnya memang diajak bersandiwara, tapi sayangnya Devan sudah menjatuhkan pilihannya pada Rania.


" Benar kan Kak, Kakak sangat mencintai kak Rania?" tanyanya lagi karena pertanyaan pertamanya itu tidak dijawab oleh sang kakak, Devan kemudian menoleh ke arah Lana sang adik sembari tersenyum.


" Kakak memang menyayangi Rania dan kakak juga sangat mencintai Rania, jujur kakak tidak ingin kehilangan Rania, Kakak merasa nyaman sekali bersama dengannya, Kakak akan selalu menjaganya dari gangguan orang-orang di luar sana ataupun gangguan dari keluarga tirinya.


Rania terkejut karena mendengarkan pengakuan Devan yang begitu saja keluar dari mulut Devan, dia pun merasa bahagia mendengar ucapan Devan karena dia tidak mendengar dari orang lain tapi dia mendengar sendiri dari Devan nya.


" Berarti Kakak cemburu dong kalau Kak Vino mengganggu Kak Rania.?"

__ADS_1


" Ya iyalah, Kakak cemburu, mana ada sih seorang laki-laki tidak cemburu ataupun marah kalau wanitanya diganggu."


" Tapi pesan Mama jangan sangat emosi kamu menghadapi Vino, karena kalau sedikit saja kamu emosi, Kamu mungkin akan kehilangan semuanya, karena Vino itu sedang memancing emosi kamu, Mama kenal dengan Vino, bagaimana dia, Mama harap kamu bisa menjaga emosimu bila berhadapan dengannya, Devan hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Mereka pun kemudian terdiam, beberapa saat kemudian Rania pun langsung melangkah mendekati mereka mereka bertiga menatap ke arah Rania sembari memberikan senyum bahagia pada Rania.


__ADS_2