
" Pakailah uang ku saja dulu buat ibu kamu." Ucap Tania tersenyum.
Rania terkejut denga ucapan Tania, dia pun lagsung menggeleng.
" Jangan Tan, aku tak mau menambah beban orang lain."
" Rania... jangan kamu berpikir seperti itu, kamu kan sahabat aku walaupun kita instan bersahabat, berapa yang kamu perlukan aku akan mengirimkan uangnya kerekening kamu." ucap Tania langsung menggunakan ponselnya dan mengirim kerekening Rania dengan nominal sepuluh juta,
Saat Rania membuka notif dari transferan Tania dia pun langsung terkejut dan menatap kearah Tania dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
" Tania ini sangat banyak"
Tania hanya tersenyum.
" Nggak usah terkejut gitu dong, kirimlah sebisa kamu membaginya untuk orang tua yang tak tahu malu itu."
" Aku anggap ini adalah hutang ya, nanti kalau gajih aku kamu bayarkan silahkan saja kamu potong berapa aja."
" Hehehe...ya nggaklah Rania...ya udah ayo kita masuk kedalam, nggak enak diliat orang, nanti dikira kita ada hubungan yang terlarang lagi hahah." Ucap Tania tertawa lepas.
" Ishh...apa-apaan sih kamu..." ucap Rania sembari mengikuti lagkah Tania masuk kedalam.
" Nah gini dong senyum, ini baru Rania yang aku kenal, nanti kalau ada apa-apa bilang aja padaku ya..." ucapnya tersenyum pada Rania.
Rania hanya tersenyum...
*****
Seperti biasanya setelah sarapan yang dibuatkan asisten rumah tangganya itu Devan langsung saja melangkah keluar dan menuju kemobilnya dia meninggalkan rumah pribadinya menuju kearah kantornya.
Ibu Melany dan Lana sudah sampai dibandara yang terkenal yang ada di tanah Air, meraka langsung menggunakan taksi untuk menuju kearah rumah pribadi mereka.
disaat melewati kedai kopy SETIA, ibu Melany ingin berhenti dikedai tersebut, diapun menyuruh sopir taksi itu untuk berhenti dikedai itu, dengan mengangguk sopir tersebut membelokkan taksinya kearah kedai.
" Pak sopir tunggu ya saya mau minum dulu, saya akan bayar semuanya." Ucap bu Melany meminta pada pak sopir agar menunggunya.
" Iya bu, saya tunggu." Ucapnya tersenyum.
" Apakah bapak mau ikut masuk? biar kita sama-sama minum kopi dikedai itu.?" tanya Lana sembari mengajak pak sopir tersebut.
" Nggak usah Mbak, biar saya nunggu disini aja." Tolaknya.
" Baiklah kalau gitu,kami masuk dulu ya.." ucap Lana tersenyum dan dianggukkan sopir taksi tersebut.
" Orang kaya sepertinya, aku tetap disuruh menunggu, yah nggak apa-apalah yang penting itu adalah rejeki ku hari ini." ucapnya tersenyum merasa bersyukur dengan apa yang didapatnya hari ini.
Didalam kedai ibu dan anak itupun langsung mengambil duduk yang tak jauh dari jendela, kemudian mereka dihampiri Rania dan menanyai apa yang dipesan.
Awalnya mereka berdua belum menyadari kalau dihadapan mereka adalah gadis yang ada direkaman CCtv tersebut.
Rania tersenyum...
__ADS_1
" Ada lagi ibu Mbak yang mau dipesan?" Tanyanya.
" Udah nggak ada itu aja..." ucap Lana.
Saat Rania hendak berbalik, barulah Lana sadar kalau gadis yang berbicara dengannya itu adalah gadis yang ada di rekaman itu.
" Mamah...itukan gadis yang ada direkaman itu." ucap Lana tersenyum
" Mana...?" tanya bu Melany sembari menengok kiri dan kanan.
" Itu mah yang tadi yang melayani kita."
" Hah?! yang benar kamu."
" Iya, coba Mamah perhatikan dan Mamah buka rekaman itu pasti sama."
Kemudian ibu Melany langsung mengambil ponselnya dan dia langsung memperhatikan wajah Rania dan wajah gadis yang ada dididalam rekaman itu.
" Iya nak, benar banget ya...tapi kenapa dia bekerja disini sih? bukankah dia interviw dikantor kakakmu."
" Mungkin tidak diterima kali mah."
" Nggak bisa ini, setelah sampai dirumah bikin sandiwara yang akan membuat kakak mu mencari dia."
" Mantap mah, Lana setuju sekali dengan ide Mamah." Ucap Lana tersenyum.
Kemudian mereka berdua terdiam karena Rania datang membawakan pesanan mereka, secangkir kopi yang nikmatnya luar biasa dan tidak bisa terlupakan pasti akan ketagihan meminumnya dan sebuah kue pelengkap minum kopi tersebut.
Mereka berdua pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sembari menatap Rania dengan tatapan bahagia karena sudah bisa menemukan Rania dengan cepat, sedangkan Rania tidak mengetahui kalau dia adalah target ibu dan anak tersebut.
Mereka menikmati pesanananya, beberapa saat mereka berada di kedai kopy tersebut, kemudian mereka langsung membayar pesanan mereka dikasir dan meninggalkan kedai itu dengan taksi yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
Beberapa menit kemudian mobil taksi tersebut memasuki halaman rumah besar dan mereka pun turun dari mobil taksi itu dan membayar ongkos taksinya, setelah berterima kasih sopir taksi tersebut langsung meninggalkan halaman rumah besar itu.
" Mah langkah apa selanjutnya sekarang, agar kak Devan mencari gadis itu."
" Tenang nak...kita akan buat sandiwara kamu sekarang hubungi kakak kamu,bilang kalau Mamah mengalami pingsan mendadak dan Mamah akan mengumpulkan asisten rumah kita agar mereka terlibat dalam rencana sandiwara kita ini hehehe ..." Ucap Bu Mellany tersenyum.
" Baiklah mah.."
Kemudian mereka berdua langsung melancarkan aksinya.
" Kak Devan cepat pulang, Mamah mendadak pingsan."
" Hah.. pingsan? kalian dimana?" tanya Devan terlihat panik.
" Kami sudah dirumah kak."
" Apa ? dirumah yang benar dek..."
" Iya kak cepat pulang sekarang, dan jangan banyak tanya kak.."
__ADS_1
Kemudian Lana memutus sambungan bicaranya, terlihat Devan bergegas keluar ruangannya sembari berlari, membuat pandangan heran para karyawan kantornya begitu juga dengan William.
" Eh! ada apa dengan pak bos, kenapa terlihat tergesa-gesa sekali, dia juga tidak meninggalkan pesannya pada ku, padahalkan ada rapat penting yang diadakan hari ini, lebih baik aku hubungi dia." ucap William sembari mengambil ponselnya.
Beberapa saat, sambungan ponsel itu terjawab.
" Ya ada apa Will..."
" Kemana bos, bagaimana dengan rapatnya.?"
" Handle saja ya karena aku mau menemui Mamah, kata Lana Mamah pingsan."
" Apa pingsan? bukankah ibunda ratu ada diluar Negeri bos..."
" Mereka baru nyampe pagi ini, udah jangan banyak omong."
Pembicaraan pun langsung diputus Devan.
" Hemmmm...ibunda ratu melebarkan aktingnya..." ucapnya tersenyum sembari melangkah menuju kearah ruangan rapat seperti biasanya.
Devan pun terus melajukan mobilnya dengan keceptan tinggi dia ingin segera sampai dirumah karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang Mamah.
Sesampainya dia dirumahnya diapun langsung menuju arah dalam, dan menuju langsung kekamar sang Mamah.
" Kenapa Mamah bisa pingsan sih dek."
" Mana Lana tahu kak, mungkin Mamah shock melihat sesuatu diponselnya, kata Bi sari."
" Melihat apa? video atau apa yang membuat Mamah sampai begini.?"
" Nanti saja tunggu paman dokter selesai memeriksakan Mamah, kalau Mamah sudah sadar kakak bisa menanyakannya pada Mamah langsung."
" Terus ponsel Mamah mana
" Ada sama Mamah kali kak."
" Masa sama Mamah sih, Mamahkan pingsan pasti ponselnya ada sama kamu."
" Setelah Mamah melihat sesuatu itu nggak tahu apa yang dilihat Mamah kerena Lana berada didapur ingin mengambil air minum, Mamah berteriak keras dan langsung tak sadarkan diri saat Lana hampiri Mamah sudah tak bersuara lagi."
" Ini Tuan ponselnya Nyonya Besar." ucap salah satu asisten rumah tangganya.
Devan pun langsung mengambil ponsel itu dan membukanya, tapi sayang ponsel itu pakai pasword.
" Haduhhh!!kenapa sih pakai pasword segala sih, Lana kamu tahu tidak pasword ponsel Mamah.?" Tanyanya sembari menatap sang Adik.
Lana menggeleng..
" Biasanya Mamah nggak menggunakan pasword diponselnya, ada apa sih diponsel Mamah." ucapnya sembari berpikir keras,
Sebelum melakukan sandiwara mereka sudah mengatur semua skenarionya, sampai dokter pribadipun dipanggil biar menyakinkan kalau sandiwara itu nyata. di saat kebingungan Devan melanda Lana dan yang lainnya tersenyum tersembunyi.
__ADS_1