Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#74 Kata Maaf Bu Rina dan Sarah


__ADS_3

#74 Kata Maaf Bu Rina dan Sarah🌹


Keesokan harinya Rania dan Devan berpamitan dengan sang Mama untuk menuju ke rumah Tania, sesuai dengan janji William yang ingin membawa Rania ke suatu tempat dan akan mengatakan sesuatu kepada Rania, dengan diiringi tatapan Bu Melany mereka berdua pun meninggalkan rumah pribadinya menuju ke arah tempat Tania.


" Sebenarnya ada apa sih Mas, Pasti Mas Devan sudah tahu kan?"


" Iya, aku memang sudah tahu, tapi aku tidak ingin mengatakannya langsung kepadamu."


" Kenapa? kenapa mesti melalui William Mas, kalau berkaitan dengan aku kenapa sih nggak langsung aja dikatakan padaku."


" Sebenarnya aku ingin langsung mengatakannya kepadamu, tapi aku tidak tahu persis ceritanya seperti apa, William hanya menceritakan beberapa hal saja padaku dan dia ingin dia sendiri yang mengatakannya kepadamu."


" Tapi sebenarnya ada apa? Aku jadi penasaran."


" Simpan dulu penasaranmu itu yang Aku pinta nantinya kamu jangan marah, jika kamu sudah mengetahui apa yang dikatakan oleh William nanti "


Rania hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua pun terdiam, beberapa saat kemudian mobil mereka memasuki halaman rumah Tania, mereka turun dari mobil dan melangkah bergandengan menuju ke arah Tania dan William yang sedang duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan mereka berdua, kemudian Rania dan Devan duduk di sofa di depan mereka berdua.


" Sudah lama ya nunggu kami.?" tanya Devan


" Enggak, kami juga baru duduk di sini." jawab Tania.


" Sebenarnya ada apa sih? Pak William, kalian tahu nggak kalau aku tadi malam gak bisa tidur dengan tenang, karena terpikir apa yang ingin dikatakan Pak William denganku." ucapannya sembari menatap ke arah William.


William terlihat menghela nafasnya dengan pelan dia memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


" Rania, aku kemarin sudah bicara dengan pak Devan, namun Pak Devan aku larang untuk memberitahukan padamu, karena di sini pak Devan tidak tahu cerita yang sebenarnya seperti apa, aku hanya membicarakan garis besarnya aja sama Pak Devan."


" Iya, sebenarnya ada apa makin ke sininya Aku makin penasaran deh, sebenarnya ada apa sih? jangan dibikin aku semakin bertanya-tanya seperti ini dong Pak William."


" Ibu tirimu dan saudara tirimu ada di sini, di kota ini."


" Hah?!! ibu dan Kak Sarah ada di sini di mana?" ucapnya sembari menengok kiri dan kanan.


" Bukan di sini Rania, tapi di rumah sakit." sambung William.


" Rumah Sakit? memang kenapa dengan ibu dan Kak Sarah."


William menghela nafasnya dan kemudian dia bercerita.


" Dua hari yang lalu tepatnya di sore hari, aku mau jemput sepupuku yang tidak jauh dari terminal bus, saat itu bus sudah tidak ada sama sekali, karena belum waktunya datang, Awalnya aku tidak melihat kalau satu orang yang berlari sembari berteriak mengejar copet melewati mobilku yang sedang berhenti, karena sepupuku saat itu membeli sesuatu di kios kecil yang ada di seberang depan terminal itu, karena posisiku itu berada di seberang terminal, aku langsung saja menolong kebetulan copet itu berlari dekat mobilku aku langsung buka pintu mobil, dia pun terjatuh dan kesempatan itu aku pergunakan untuk menghajar copet itu dan yang diambil oleh copet tersebut adalah tas bawaan dari ibu tirimu, setelah aku minta bantuan orang yang di sekitar akhirnya copet itupun tertangkap, saat aku mau mengembalikan tas tersebut aku mengenali saudara tirimu itu, Awalnya dia tidak kenal dengan aku, tapi Aku langsung memanggil namanya, akhirnya dia mengenali aku, aku melihat dia menangis sedih, aku langsung bertanya padanya, Apakah dia di sini sendirian? ternyata tidak! dia bersama dengan Ibunya dan ibunya sedang terjatuh karena berkelahi dengan copet tersebut mempertahankan tas yang di bawahnya, aku pun langsung membawa ibumu ke rumah sakit, sekarang mereka berdua ada di rumah sakit, itulah keinginanku ingin membawa kamu ke rumah sakit karena mereka ingin bertemu denganmu, keadaan ibumu sedikit parah karena kena hantaman tendangan dari pencopet itu, sekarang Ibu mu dirawat di rumah sakit dimana kamu pernah dirawat saat kecelakaan itu." terang William


" Kamu tidak marahkan? kalau kamu bertemu dengan keluarga tirimu itu?"


Rania menatap ke arah Devan dia pun menganggukkan kepalanya.


" Aku tidak marah kok Mas, aku malah bersyukur karena aku bisa bertemu dengan mereka, yang aku heran kan kenapa mereka bisa ke sini?apa yang mereka cari ?Apakah mereka mau mencari aku? atau mencari yang lain?"


" mereka memang mencari kamu, tapi intinya mereka sebenarnya mau bertemu dengan Baron kekasihnya Sarah, tapi niat itu dibatalkan mereka, karena mereka mengalami suatu masalah dengan seorang teman ibu tirimu, mereka semua menceritakannya kepadaku, kenapa mereka sampai berada di terminal Bus..." Kemudian William pun menceritakan kejadian yang telah menimpa ibu tiri Rania tersebut yang hendak berbuat jahat dengan teman ibunya itu, mendengar cerita dari William Rania menundukkan kepalanya, Devan langsung merangkul sang istri.


" Kamu jangan bersedih, kita akan bertemu dengan mereka, kalau mereka memang ingin meminta maaf denganmu, ataupun mengakui kesalahannya denganmu, Apa salahnya kamu memaafkan mereka, karena lebih indah itu saling memaafkan, tidak ada yang menyimpan dendam."

__ADS_1


Rania menoleh ke arah suaminya dia menganggukkan kepalanya.


" Bukan masalah kata maafnya Mas, tapi aku merasa malu karena perlakuan Ibu tiriku seperti itu, jika seandainya temannya itu tidak mempunyai perasaan, mungkin mereka berdua sudah berada di dalam Bui, tapi karena temannya itu sangat baik sekali tidak memperpanjang masalah itu, yang aku sesalkan kenapa perlakuan mereka saat di kampung, mereka bawa di kota orang, kalau masalah kata maaf sebelum mereka meminta maaf aku pun sudah memaafkannya, jauh sebelum mereka menemukan kesadaran mereka kalau diri mereka banyak salah, bukan pada diriku saja, tapi melainkan pada orang-orang yang pernah mereka sakiti, Aku ingin ketemu dengan mereka Mas." ucapnya sembari menatap ke arah Devan, Devanmenganggukkan kepalanya.


" Kita akan bertemu, itu pasti." ucapnya sembari menatap kembali ke arah William, William pun menganggukkan kepalanya, Mereka kemudian berdiri melangkah menuju ke arah mobil Devan, beberapa saat kemudian mobil Devan pun meninggalkan rumah kediaman Tania, setelah mereka berpamitan dengan ibu Tania, di dalam mobil tidak ada suara sama sekali, mereka hanya terdiam, beberapa saat kemudian mobil Devan pun memasuki halaman rumah sakit di mana rumah sakit itu pernah merawat Rania saat kecelakaan dulu, mobil Devan terparkir dengan rapiz mereka berempat melangkah menuju ke salah satu ruangan di mana Bu Rina dirawat, William kemudian membuka pintu ruang rawat inap Bu Rina, Sarah yang duduk di samping pembaringan ibunya itu pun menoleh ke arah pintu, dia terkejut melihat Rania datang bersama beberapa orang diantaranya dua orang tersebut pernah dilihatnya dan dikenalnya.


Rania setengah berlari mendekati Sarah, Sarah langsung memeluk adik tirinya tersebut sembari meneteskan air matanya.


" Rania, kamu baik-baik aja kan, Maafkan kakak selama ini, kakak tidak menjadi kakak yang terbaik buat kamu, Sekali lagi maafkan kakak, kakak terlalu banyak salah denganmu, mungkin kesalahan Kakak ini tidak bisa kamu Maafkan, namun kakak tetap akan meminta maaf kepadamu, Sekali lagi maafkan kakak." ucapnya sembari memeluk Rania, tangis itu pun tidak bisa dibendungnya lagi, mereka berdua kakak dan adik itu saling menumpahkan tangisnya, Bu Rina hanya menatap ke arah kedua anaknya tersebut sembari meneteskan air matanya yang tidak bisa dia tahannya lagi, Tania William dan Devan hanya menyaksikan keluarga Rania bersatu, Rania kemudian mendekati ibunya tersebut dia meraih tangan sang Ibu dan mencium punggung tangan Bu Rina.


" Maafkan Rania Ibu, karena Rania tidak mengetahui kalau ibu berada di kota ini dan sampai terjadi kejadian seperti ini, Apakah ibu baik-baik saja?".


Bu Rina hanya menganggukkan kepalanya sembari berkata.


" Kamu tidak salah Nak, kamu tidak salah, selama ini ibu lah yang salah, Ibu terlalu banyak salah padamu, ibu terlalu banyak dosa denganmu, terutama dengan Almarhum Ayahmu, maafkan Ibu, Ibu sangat merindukanmu, kamu sudah sangat berjuang untuk ibu tapi Ibu yang tidak memperhatikan kamu, Ibu terlalu serakah! karena salah ibu membuat keluarga kita hancur, maafkan Ibu, maafkan Ibu Nak, ibu memang Jahat! benar apa kata Sarah kesalahan ibu dan Sarah sangatlah besar mungkin sebagian orang yang pernah ibu sakiti tidak akan pernah memaafkan kesalahan Ibu, begitu juga denganmu, Ibu sudah mendapatkan karmanya Nak, karena kejahatan Ibu dibalas oleh Yang Maha Kuasa dengan derita yang Ibu alami ini, karena tendangan pencopet itu kaki Ibu tidak bisa lagi untuk digerakkan dan ibu mengalami kelumpuhan total Nak, maafkan Ibu, semasa Ibu masih bernyawa, Ibu hanya memohon ampun dan Maaf padamu." ucapnya sembari menggenggam tangan Rania dengan erat, Rania kemudian menundukkan kepalanya dia mencium kening sang ibu dengan penuh kasih sayangnya.


" Ibu, Rania sudah memaafkan Ibu dan kak Sarah, jauh sebelum Ibu meminta maaf pada Rania."


" Terima kasih Nak, terima kasih sekali, maafkan juga Ibu, karena Ibu sudah menjual rumah kamu tanpa sepengetahuan kamu, maafkan Ibu." ucapnya sembari terisak menangis ke sesugukan.


Rania menatap ke arah Devan,Devan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Devan mendekati sang istri dan merangkulnya.


" Ibu, ini adalah Mas Devan dia adalah suaminya Rania."


" Ibu sudah tahu Nak, karena Nak William sudah menceritakan semuanya kepada ibuz kamu pantas mendapatkan seorang laki-laki yang memang mau menerima kamu apa adanya dan seorang laki-laki yang memang menyayangi kamu setulus hatinya, kamu pantas mendapatkan itu Nak, sejak kejadian itu Ibu dan Sarah ingin pulang ke kampung halaman menyadari kesalahan ibu dan mau meminta maaf pada orang-orang yang ada di kampung, karena ibu telah membuat kesalahan yang sangat besar pada mereka dengan memberikan kabar pada mereka kalau kamu itu di kota bekerja tidak benar, ibu ingin meluruskan semuanya pada orang-orang di kampung, Kalau semua perkataan ibu itu hanyalah bohong belaka, rencana Ibu setelah mengatakan kejujuran semuanya pada orang kampung, Ibu berencana ingin mencari kamu di kotaz namun sayangnya Ibu kecopetan dan dari kejadian itulah Ibu bisa bertemu kembali denganmu, Sekali lagi maafkan Ibu." ucapnya.

__ADS_1


Rania hanya mengangguk dan air mata bahagianya mengalir begitu saja, di dalam hatinya dia tidak hentinya bersyukur walaupun ibu tiri dan kakak tirinya sadar setelah mendapatkan musibah yang dialaminya, dia tetap saja sangat bersyukur karena dia bisa bertemu kembali dengan kedua orang yang disayanginya walaupun hanya ibu dan saudara tirinya itu.


__ADS_2