
#53 Mengutarakan Isi Hati.❤️💙
Tania menatap ke arah William dengan tatapan penuh tanda tanya, karena William menggantung kalimatnya, William sadar dia tidak ingin langsung mengatakan isi hatinya, karena dia takut dibilang Tania nantinya memanfaatkan keadaan saat Tania dalam kesedihan.
" Apa yang ingin kamu katakan William? katakan saja kenapa kamu menggantung kalimatmu, maksud kamu 'tapi' itu ada apa?"
William tersenyum dia tidak langsung melanjutkan kalimatnya yang terputus, Devan tersenyum sembari melirik ke arah Rania, dia pun sadar karena William ingin mengatakan isi hatinya pada Tania, dipikiran Devan William merasa malu ada dirinya dan Rania, kemudian Devan meraih tangan Rania dan mengajaknya berdiri Rania merasa heran, namun dia tetap mengikuti ajakan Devan untuk keluar ruangan kamar Tania tersebut, Tania tidak menyadari kalau Rania dan Devan melangkah meninggalkan mereka berdua yang masih berada di dalam kamar itu.
" Kenapa kita harus keluar? bukankah kita tidak mengganggu mereka berdua."
" Kamu tidak paham apa yang dikatakan William? makanya punya perasaan itu harus peka, pahami apa yang dikatakan oleh William."
" Memang apa yang dikatakannya?" ucap Rania masih tidak mengerti.
" Astaga Rania, kamu ini masih aja tidak punya perasaan yang peka, William itu ingin mengatakan perasaannya pada Tania, Apa kamu tidak sadar selama ini, kalau William memberikan perhatian lebih pada Tania?"
Rania hanya menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak terlalu memperhatikan William kalau sedang bersama dengan Tania, mereka berdua berdiri di pagar lantai atas rumah Tania, mereka berdua tidak meninggalkan jauh-jauh antara William dan Tania, pintu kamar Tania masih terbuka dengan lebar, mereka berdua terdiam di luar sembari menatap ke lantai bawah dimana hilir mudiknya asisten rumah tangga Tania.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Will?"
" Tania, aku tahu kalau kamu sudah pernah membina rumah tangga."
Tania terkejut...
" Tapi maaf sebelum kamu mendapatkan kesedihan ini, aku sudah mengiranya saat kita berdua pernah bertemu dan aku melihat di ponselmu ada foto anakmu."
Tania tertunduk saat William berbicara seperti itu, dia tidak menyangka kalau William selama ini mengetahui kalau dia sudah pernah berumah tangga.
" Terus kalau aku sudah pernah berumah tangga, memangnya kenapa? kamu tidak mau berteman denganku? karena aku hanya seorang janda beranak satu?"
__ADS_1
" Tania, hai...bukan seperti itu maksudku, aku tidak mempermasalahkan kamu itu sudah pernah berumah tangga atau belum, ataupun kamu itu seorang janda yang disakiti oleh laki-laki lain ataupun pernah dibahagiakan laki-laki lain, aku tidak peduli soal itu, sekarang aku memandang kamu dan melihat kamu apa adanya saat ini, bukan karena masa lalumu."
" Terus apa maumu?"
" Tania, sebenarnya sejak dulu aku sudah menaruh hati padamu."
Tania terkejut... Dia kemudian mengangkat wajahnya sembari menatap ke arah William, William hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Iya Tania, semenjak kita sama-sama sekolah, aku sudah menaruh hati padamu, tapi aku malu saat itu untuk mengatakannya kepadamu, aku takut kalau kamu tidak menyukai aku dan marah padaku, Dan Kamu tidak ingin lagi berteman denganku, makanya keputusanku waktu itu mengikuti kedua orang tuaku pintah keluar kota, Awalnya aku tidak mau ikut orang tuaku pindah,tapi karena aku harus menyimpan perasaanku padamu dan aku tidak ingin merusak persahabatan kita kala itu, aku lalu menyetujui pindah sekolah saat itu."
" Kenapa kamu baru sekarang berbicara padaku?Kenapa kamu tidak dari dulu mengatakan kalau kamu menyukaiku? Aku benci kamu William! Aku benci kamu!!" ucapnya sembari menundukkan kembali kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, terlihat bahunya terguncang dan tangisnya pun tumpah, William langsung meraih tubuh Tania dan memeluknya.
" Maafkan aku Tania, bukan maksudku seperti itu, aku takut kamu tidak menerimaku kala itu, tapi sekarang apapun keputusanmu aku tetap akan terus mengejarmu, Aku benar-benar mencintaimu, Sungguh!!aku benar-benar mencintaimu, percayalah padaku, aku akan membahagiakanmu, Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menangis, dan aku juga tidak akan pernah membiarkan kamu menyimpan beban kamu sendirian, rasa cinta ini aku tidak bisa mengukirkannya dengan kata-kata, tapi aku akan mengukirkannya dengan perbuatan dan tingkah lakuku untuk tetap menyayangimu dan menjagamu, kita akan sama-sama mencari anakmu." Terang William, Tania hanya menganggukkan kepalanya, dia menangis di dada bidang William, ada rasa ketenangan saat William memeluknya.
" Apakah kamu menerimaku Tania? mungkin ini tidak pantas untuk aku berbicara seperti ini padamu, disaat kamu sedih, tapi aku ingin kamu berbagi kesedihanmu padaku, Aku memberanikan diriku mengatakan cinta padamu." ucap William sembari membelai dengan penuh kasih sayang rambut Tania, kemudian William pun melepaskan pelukannya dan dia menyentuh dagu Tania untuk mengangkat wajahnya agar bisa melihat ke arahnya.
" Apakah kamu menerimaku Tania? aku benar-benar mencintaimu... sangat mencintaimu, cintaku tidak akan pernah pudar untukmu, bertahun-tahun aku menyimpan rasa cintaku ini untukmu." ucap William sembari menatap Tania dengan tatapan penuh perasaan cintanya pada Tania.
" Tapi apa Tania? apakah karena kamu pernah berumah tangga? dan rumah tanggamu gagal.?"
Tania menganggukkan kepalanya.
" Itu adalah masa lalumu, masa lalu tidak usah dibuang tapi perlu disimpan dan diingat, aku tidak memandang ke masa lalumu, karena jodohmu mungkin sampai di situ bersama dengannya dan semoga jodoh kita sampai Kakek dan Nenek aku berharap itu, apakah kamu menerima cintaku Tania?" ucap William, Tania hanya bisa menganggukkan kepalanya, William tersenyum kemudian dia pun kembali memeluk Tania di hatinya ada rasa kebahagiaan yang tiada taranya, karena wanita yang selama ini sudah menempati hatinya selama bertahun-tahun itu pun akhirnya sudah ia dapatkan.
Devan dan Rania yang awalnya berdiri di pagar lantai dua rumah Tania itu pun tanpa mereka berdua sadari mereka sudah berada di samping kiri kanan pintu kamar Tania, mereka berdua menjadi saksi kedua insan yang sudah menjadi sepasang kekasih itu, Rania kemudian melangkah menuju ke dalam diikuti Devan
Mereka berdua kembali duduk di sofa sembari tersenyum.
" Nah! itu baru lelaki namanya, sudah berani mengatakan cinta pada wanita yang selama ini di tunggunya." tegur Devan membuat mereka tersadar kalau saat ini masih ada orang lain di dalam ruangan itu, Tania mengusap air matanya sembari tersenyum, William pun tersenyum pada Pak Bosnya itu.
__ADS_1
" Ternyata dibalik kecerobohan yang selama ini kamu lakukan di dalam pekerjaan ada juga sisi romantis dan gentle seorang lelakinya."
" Ya iyalah Pak Bos, saya kan lelaki sejati bukan lelaki alay." ujarnya.
" Eh!! aku kira emang benar kamu lelaki alay, karena selama bekerja denganku kamu tidak pernah membawa seorang wanita sama sekali, bahkan untuk kenal sama wanita pun kamu hanya biasa-biasa saja, ternyata wanita yang ditunggunya tidak jauh darimu hehehe." ucap Devan membuat William dan Tania tersenyum.
" Tania kami akan berusaha berbicara dengan Renaldi mantan suamimu itu, kita akan sama-sama memperjuangkan anakmu, agar bisa bersama denganmu." ucap Devan sembari menatap kearah Tania.
Tania terkejut,dia menoleh kearah Devan.
" Bagaimana bapak bisa menemukan Renaldi?"
" Jangan kamu panggil Bapak, kayaknya terlalu formal sekali." protes Devan.
" Habisnya mau dipanggil apa dong? Kakak gitu?" celutuk Rania, Devan menoleh kearah Rania sembari tersenyum, sedangkan Rania mendelik kearah Devan.
" Bisa juga kalau mau dipanggil Kakak, kesannya lebih terlihat muda lagi hehehe." ucap Devan sembari terkekeh dianggukkan oleh William.
" Begini Tania, Renaldi menjalin kerjasama dengan perusahaanku, besok pagi kami akan bertemu dengannya dan kami akan menanyakan langsung dengannya." ucap Devan.
" Saya boleh ikut?"
" Iya, Kamu boleh ikut, biar kamu tahu apa alasan Renaldi kenapa bisa tidak boleh mempertemukan kamu dengan anakmu."
" Terimakasih ya Mas Devan, karena sudah membantu saya."
" Sama-sama Tania." ucap Devan kemudian Devan melirik kearah Rania.
" Kenapa Anda melirik saya?"
__ADS_1
" Tuh dengar Tania, dia memanggil Aku dengan sebutan Mas, kamu juga harus panggil saya dengan sebutan itu."
" Huh! Malas,!" ucap Rania sembari memalingkan wajahnya kearah lain, membuat Devan tersenyum.