Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
# 59 Bertemu Keluarga


__ADS_3

#59 Bertemu Keluarga🌹


Setelah Rania duduk di samping Devan, Devan pun kemudian berbicara pada sang Mamah karena sudah melihat Rania bersiap-siap untuk pergi bersama dengannya.


" Oh ya Mah hari ini kami ingin bertemu dengan keluarga Rania, tepatnya saudara kandung dari almarhum Ayah Rania."


" Benarkah, sudah ketemu ya keluarga Rania?"


" Sudah, tadi malam William memberikan kabar Kalau temannya itu sudah menemukan saudara kandung Ayah Rania, bahkan tempat tinggalnya pun sudah diberi tahu oleh temannya William.


" Memang tempat tinggalnya di mana kak? di kota ini,apa di luar kota?" tanya Lana.


Devan menoleh ke arah Lana, kemudian dia menoleh ke arah Rania, Rania hanya mendelik ke arah Devan karena pertanyaan Lana itu sama dengan pertanyaan dia yang tidak dijawab oleh Devan saat di lantai atas tadi.


" Keluarga Rania berada di kota ini, Awalnya mereka memang berada di luar kota tepatnya di Semarang, memang benar kata kamu tadi Kalau keluargamu berada di Semarang, tapi setelah meninggal mertua dari pamanmu itu mereka kembali ke kota ini, tapi tidak kembali ke desa tempat tinggal kalian."


" Tapi kalau mereka berada di kota ini, Kenapa saat meninggal Ayah dan ibu mereka tidak datang menemui Rania di kampung?"


" Kalau masalah itu aku kurang tahu, nanti setelah kita bertemu dengan mereka kamu bisa menanyakannya langsung pada mereka, Kenapa saat kedua orang tuamu meninggal dunia mereka tidak datang."


Rania hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Devan pun berpamitan dengan Mamahnya dan langsung melangkah meninggalkan ruang tengah tersebut dengan diiringi tatapan mata Bu Melany Devan dan Rania pun memasuki mobilnya, beberapa saat kemudian mobil Devan perlahan-lahan meninggalkan rumah kediaman pribadinya menuju ke arah alamat yang dituju di mana William sudah menunggu di sana.


Di kediaman Pak Putra...

__ADS_1


William yang terlebih dahulu berkunjung di kediaman rumah Pak Putra saudara kandung dari Ayahnya Rania itu pun disambut oleh Pak Putra dengan ramah begitu pula dengan istri dan kedua anaknya, awalnya Pak Putra merasa heran karena dia kedatangan seorang laki-laki dengan berpakaian perlente layaknya seorang pekerja kantoran dan terlihat menggunakan sebuah mobil yang cukup mahal di Pandangan Pak Putra, William hanya sendiri yang terlebih dahulu berada di rumah itu pun menjelaskan kedatangannya pada keluarga Pak Putra.


" Begini Pak Putra, mungkin Bapak terkejut karena kedatangan saya, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya, saya William, apakah saya berhadapan dengan Pak putra Prayitno?” tanya William.


Dianggukan oleh Pak putra.


" Iya Pak, Saya memang bernama Putra Prayitno, emang ada apa ya pak.?"


" Sebelumnya saya mau bertanya dulu dengan bapak, Apakah Bapak mengenal Pak Yoga Prayitno?" tanya William sembari menatap ke arah Pak Putra, terlihat Pak Putra terdiam, Dia kemudian menundukkan kepalanya jauh di dalam lubuk hatinya Dia sangat merindukan sang kakak, dia juga tidak tahu keadaan kakaknya tersebut bagaimana sekarang, Karena dia sudah lama tidak bertemu dengan kakaknya itu, semenjak mertuanya mengajak pindah ke Semarang.


" Maafkan saya pak, saya cuma Bertanya saja, Apakah Bapak kenal dengan Pak Yoga Prayitno.?"


" Iya Pak, Saya kenal, dia adalah saudara kandung saya satu-satunya, tapi sekarang saya tidak tahu kabar beritanya sama sekali. Memang ada apa dengan saudara saya Pak.?"


Cukup lama mereka menunggu kedatangan dari Devan dan Rania, kemudian terlihat sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Pak Putra itu.


" Itu Bos saya datang pak."


" Bos Bapak?" ucap singkat Pak Putra karena dia merasa heran rumahnya kedatangan orang yang kaya.


Devan kemudian keluar dari mobil tersebut, dia pun membukakan pintu mobil agar Rania bisa turun dari mobil, Devan menggenggam tangan Rania melangkah menuju ke arah pintu utama rumah tersebut.


Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh mereka yang ada di dalam Devan kemudian bersalaman dengan penghuni rumah itu dan dia pun langsung duduk bersebelahan dengan William dan Rania pun duduk di samping Devan.

__ADS_1


Rania menatap ke arah laki-laki paruh baya yang ada di depannya beserta istri dan dua anaknya itu, tanpa terasa air matanya pun menetes karena wajah laki-laki yang ada di depannya itu mirip sekali dengan Almarhum Ayahnya, Devan kemudian menoleh ke arah Rania, tanpa malu-malu dia pun langsung menghapus air mata yang jatuh di pipi calon istrinya itu.


" Kamu jangan menangis, jangan perlihatkan kesedihan kamu di hadapan mereka." bisik Devan lembut sembari mengusap rambut calon istrinya itu.


" Maaf pak, mungkin Bapak merasa heran dengan kedatangan saya, saya adalah Devan calon suami dari Rania Ishyabella, kedatangan saya ke sini mungkin sudah dijelaskan oleh Pak William." ucapnya sembari menoleh ke arah William membuat Pak Putra merasa heran karena sedari tadi Pak William tidak memberikan keterangan ataupun penjelasan kedatangan mereka ke rumah dirinya itu.


" Pak Bos, saya belum menjelaskan semuanya." ucap William sembari tersenyum Devan kemudian menatap ke arah William kemudian dia pun tersenyum.


" Oh Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya pada Bapak, begini Pak, Rania ini adalah calon istri saya dan dia ini adalah anak dari saudara kandung Bapak." ucap Devan sembari menatap ke arah Pak Putra.


Pak Putra hampir tidak percaya Begitu juga dengan istri dan kedua orang anaknya, mereka merasa tidak percaya dengan ucapan Devan, Kalau yang di hadapannya itu adalah keponakan suaminya dan sepupu kedua anaknya tersebut, Karena Pak Putra tidak menyangka bisa bertemu dengan keponakannya itu yang sudah lama tidak bisa dia temui karena ada sesuatu dan lain hal membuat dia tidak bisa lagi berkomunikasi dengan sang kakak.


" Benarkah? Apakah ini tidak bohong? Apakah kamu anaknya Mas Yoga Prayitno?" tanya Pak Putra sembari menatap sendu ke arah Rania.


Rania hanya menganggukkan kepalanya.


" Ya Tuhan, dulu Paman meninggalkan kampung halaman pindah ke kota Semarang, kamu belum lahir, kamu masih dalam kandungan ibumu, tapi sekarang setelah bertemu kamu sudah sebesar ini dan sudah mau menikah, Paman bahagia bisa bertemu denganmu Nak, bagaimana kabar kedua orang tuamu.?"


Rania langsung menundukkan kepalanya, dia sangat sedih sekali mendengar pertanyaan dari sang paman yang menanyakan keadaan kedua orang tuanya, melihat calon istrinya itu bersedih Devan langsung meraih tangan Rania dan menggenggamnya dia menguatkan Rania agar tidak bersedih.


" Katakanlah yang sebenarnya, pada pamanmu, biar mereka tahu bagaimana keadaanmu dan kedua orang tuamu di kampung." ucap Devan pelan.


Rania menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya Dia kemudian mengangkat wajahnya sesaat dia menatap ke arah Devan dan Devan pun menganggukkan kepalanya agar Rania berbicara dengan sang paman.

__ADS_1


" Ayah dan ibu sudah meninggal paman." ucapan Rania pun terhenti dia tidak kuasa menahan buliran bening yang keluar dari kedua bola matanya itu mengalir begitu saja, di kedua pipi mulusnya, Pak putra dan istri serta anaknya terkejut mendengar ucapan dari Rania, mereka terdiam hening! di ruangan itu tanpa ada bicara satu sama lain, Mereka membiarkan kesedihan yang melanda keluarga Rania itu mereka tidak mau mengganggunya.


__ADS_2