
Sesampainya dirumah sakit Mereka turun dari mobil dan Devan kemudian mengambil ponselnya segera menghubungi William.
" Siap Bos, ada apa?"
" Segera keluar dan ajak Mamah sama Lana kedalam ruangan Rania."
" Hah? Ibunda Ratu kerumah sakit?"
" Udah nggak usah terkejut gitu, cepatan aku nggak punya waktu banyak, aku ada urusan dikantor polisi." Terang Devan.
" Baiklah Bos, tapi saya masih dirumah, dan masih mandi Bos,ini aja badan penuh sabun Bos, harap tunggu sebentar bilang pada ibunda Ratu." Ucapnya sembari terkekeh.
" Astaga! Aku kira kamu masih ada disini, udah lanjutkan lagi aja mandimu, tapi ingat! Setelah selesai segera kembali kerumah sakit!"
" Yes Bos!" Ucapnya seiring putusnya sambungan bicara mereka, William menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
Kemudian dia langsung meletakkan ponselnya diatas meja dan melanjutkan mandinya dengan senyuman bahagianya dia pun langsung mengguyur tubuhnya dengan Air dingin yang menyegarkan karena tubuhnya sudah penuh dengan Sabun.
" Devan akan mengantarkan Mamah dan Lana keruangan Rania." ucapnya sembari menatap sang Mamah.
" Bukannya kamu mau ke kantor polisi?"
Devan melihat ke jam tangannya.
" Berangkatlah Nak, kan ada William yang jemput Mamah disini dan mengajak keruangan Rania."
" William berada di rumh Mah, lagi Mandi." ucapnya kemudian mengajak sang Mamah memasuki rumah sakit dan berjalan dikoridor rumah sakit menuju kearah ruangan Rania.
Saat mereka sampai di depan ruangan Rania, ponsel Devan berbunyi.
" Mah, ini ruangan Rania, silahkan Mamah dan Lana masuk terlebih dahulu karena Devan mau menerima telpon dari Arka." ucapnya, dianggukkan sang Mamah.
Bu Mellany membuka pintu ruangan Rania bersama dengan Lana dia melangkah beriringan,karena diruangan Rania tidak terlihat Tania dan hanya Rania sendirian yang berada diruangan itu, dia terkejut meliht dua orang perempuan masuk kedalam ruangangannya itu, Bu Mellany tersenyum begitu juga dengan Lana yang memperlihatkan wajah bersahabatnya pada Rania.
Namun Rania memutar otaknya berpikir siapa mereka yang terlihat tidak asing dengan wajah kedua tamunya itu.
" Siapa mereka? sepertinya aku pernah melihat mereka, tapi dimana ya?" pikirnya dengan menyunggingkan senyumannya pada Bu Santi dan Lana.
Bu Santi mendekati Rania.
" Hai... Nak Rania, kita bertemu kembali..." ucap Bu Santi sembari duduk disamping bibir ranjang Rania, kemudian Rania hendak duduk, dan bergegas Lana membantunya duduk dengan menaikkan ujung kepala tempat tidur Rania itu.
__ADS_1
" terimakasih..." ucapnya sembari tersenyum.
" Sama-sama...gimana sekarang keadaannya, semoga cepat sembuh ya." ucap Lana sembari tersenyum dan dibalas Rania dengan senyuman manis penuh tanya tanya besar di otaknya.
" Sudah terasa membaik kok." Jawab Rania.
" Oh...ya pasti kamu belum mengenal kami..." ucap Lana tersenyum.
Rania menganggukkan kepalanya dengan senyumannya.
" Kenalkan, ini Mamah saya namanya Mellany Prameswari, dan saya anaknya Lana Dharmendra." ucapnya tersenyum.
" Oh iya, saya Rania Isyhabella, apakah kita sudah pernah ketemu?"
" Iya, diawal sudah Mamah, eh! maksud saya ibu, sudah Ibu katakan kalau kita sudah pernah ketemu." ucap Ibu Mellany tersenyum.
Lana tersenyum lebar mendengar ucapan Mamahnya itu.
" Rupanya Mamah, sudah tidak sabar lagi ya ingin dipanggil Mamah sama kak Rania." Ucap Batin Lana terkekeh.
" Hehehe, iya ibu tapi saya yang lupa ketemunya dimana."
" Kita pernah ketemu di kedai kopi Setia tempat kamu bekerja." ucap Bu Mellany tersenyum dan dianggukkan Rania, padahal dia tidak mengingat sama sekali tentang pertemuan mereka, karena terlalu banyak pengunjung membuat Rania lupa siapa saja pengunjung mereka itu, karena dia tidak terlalu menghapal pelanggannya, terkecuali pelanggan tetap kedai tersebut.
" Tapi dari ma..." belum selesai Rania berucap untuk menanyakan pada Bu Mellany tentang mereka yang tahu kalau dirinya kecelakaan yang dialaminya itu, tiba-tiba pintu terbuka dan suara Devan terdengar.
" Mamah..." panggilnya.
" Mamah? ucap Rania terkejut ternyata wanita paruh baya yang terlihat style itu adalah orang tua pak bosnya.
" Ternyata ibu ini adalah ibunya Bos manja, aduh kenapa juga dia membawa sang ibu kerumah sakit ini sih." ucapnya dalam batinnya karena merasa mendapatkan supraise dari pk bos manjanya itu dengan kedatangan bos besarnya.
" Devan apakah kamu sudah selesai bicara dengan Arka? kapan kamu berangkat ke kantor polisinya?" tanya Bu Mellany sembari tersenyum dan kemudian menatap kearah Rania yang terlihat salah tingkah, karena Rania tidak menyangka kalau dirinya bertemu dengan ibu dari Bosnya itu yang terlihat sangat baik sekali dengannya shingga meluangkan waktunya untuk menjenguknya.
" Apakah semua karyawannya saat sakit selalu dijenguk sama ibu Bos ini?" gumamnya dalam hati.
" Iya Mah, Devan mau ke kantor polisi dulu Mah, karena Arka sudah berada disana."
" Kantor polisi? ada apa bos Manja ini ke kantor polisi.?" Gumam Rania lagi.
" pergilah sekarang, Mamah pulangnya nanti sama William aja."
__ADS_1
" Baiklah mah, Devan pergi dulu ya." ucapnya sembari berlalu dari mereka tapi sebelumnya dia menatap Rania dan Rania hanya terdiam dan menundukkan kepalanya menghinadri tatapan mata Devan yang menatapnya dengan tatapan mata yang teduh.
Setalah kepergian Devan dari ruangan itu, kemudian Tania dan William memasuki ruangan tersebut.mereka bertemu saat sama-sama menuju keruangan Rania, Mereka tertawa-tawa kecil dan William langsung terdiam melihat ibu Mellany yang sudah berada diruangan Rania.
" Ibunda Ratu." ucapnya sembari mendekati Bu Mellany sembari tersenyum, Ibu Mellany tersenyum dan diapun menatap kearah Tania.
" Pagi Ibunda Ratu." sapanya mengikuti ucapan William, Ibu Mellany tersenyum sembari mengangguk mendengar Tania yang baru dilihatnya itu memanggil sebutan dirinya seperti yang William katakan itu.
" pagi..." ucapnya dengan wajah dan tatapan mata yang terlihat ramah.
Mereka kemudian saling berbicara satu sama lainnya dan kemudian Rania memberanikan dirinya bertanya pada Ibu Mellany.
" Maaf ibu, saya boleh betanya pada ibu.?"
" Boleh..."
" pak Devan ke kantor polisi ada apa?"
" Oh itu, Devan kesana untuk dimintain keterangan tentang tertangkapnya pelaku yang sudah melakukan penabrakan padamu itu Rania."
" hHah, pelaku penabrak?"
" Iya..." lanjut Lana dan dianggukkan Ibu Melany.
Kemudian mereka melanjutkan kembali bicaranya, namun Rania merasa tidak percaya orang sedingin Devan peduli padanya, sampai dia merepotkan dirinya untuk mencari tahu siapa pelakunya.
Setelah mengunjungi Rania, Ibu Mellany dan Lana berpamitan dengan Rania dan Tania, dengan diantar William mereka meninggalkan ruangan Rania dan melangkah menuju kearah parkiran mobil.
Saat Tania ingin duduk disamping Rania, ponselnya pun berdering, dengan segera dia menjawab panggilan tersebut.
" Ya Mah..."
" Tania, kemana aja kamu Nak, kenapa tidak pulang kerumah? Mamah cari kekedai kamu katanya nggak ada dari kemaren? Kamu dimana Nak? Rania juga tidak pulang kerumah, katanya kamu menemani Rania sehingga Mamah, kamu suruh nginap di tempat paman kamu, kalian berdua kemana sih Nak?" Tanya Ibu Ayu pada Tania.
" Hehehe...maafkan Tania ya Mah, karena Tania tidak bilang pada Mamah, kalau Tania temani Rania dirumah sakit, Karena Rania mengalami kecelakaan."
" Apa nak? Kecelakaan, sekarang jemput Mamah dikedai kamu, mamah mau jenguk Rania." Ucap sang Mamah.
" Baiklah Mah...tunggu disitu ya." Ucap Tania kemudian memutus sambungan bicaranya itu.
" Rania, kamu aku tinggal sebentar nggak apa-apakan, karena aku mau jemput Mamah dulu." Ucapnya dianggukkan Rania sembari tersenyum..
__ADS_1
Kemudian Tania berlalu dari hadapan Rania, dia berjalan menuju kearah parkiran mobilnya dan saat dia berjalan di koridor rumah sakit dia berpapasan dengan Vino yang melangkah menuju kearah ruangan Rania,Vino mengetahui arah dan nama ruangan Rania setelah bertanya pada perawat jaga, tapi sayangnya, Tania tidak melihat kalau Vino menuju kearah ruangan Rania,walaupun mereka berpapasan, karena mata Tania sibuk melihat kedalam tasnya mencari kontak mobilnya tersebut, Vino yang melangkah itu terlihat sangat senang sekali wajahnya yang mengukir senyum itupun menatap kearah bunga mawar putih yang dibawanya ditangan kanannya itu dengan tangan kiri memegang buah-buahan seger dengan langkah santai dia berjalan tanpa melihat kiri dan kanan.