Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#67 Permintaan Maaf


__ADS_3

#67 Permintaan Maaf🌹


Devan kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah teras di mana sebuah mobil memasuki halaman rumahnya tersebut.


Devan terkejut ternyata yang datang adalah Pak Hakim Dan anaknya Sintya


Walaupun Sintya membuat kesalahan padanya namun Devan bisa menguasai kemarahannya setelah melihat Sintya bersama dengan Ayahnya, Devan masih menghormati Pak Hakim sebagai orang tua Sintya.


Pak Hakim mengulurkan tangannya pada Devan dan disambut oleh Devan uluran tangan tamunya tersebut, Devan pun kemudian mengajak mereka berdua masuk ke dalam, saat Lana melihat Sintya datang ke rumahnya, Lana langsung naik pitam, dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Sintya, tanpa pikir panjang lagi dia pun mendorong Sintya dengan kuat, namun saat itu Sintya memegang tangan sang papa.


" Hey! nenek sihir!! ngapain kamu ke rumahku hah!! mau apa kamu!! kamu tidak puas kalau aku pecat hah!!" ucapnya, Devan yang melihat sang adik marah dengan emosi tinggi itu langsung meraih adiknya itu.


" Lana, kamu sabar dulu dek, tidak boleh seperti itu, mereka datang ke rumah baik-baik, Jangan disambut dengan kemarahan kamu." ucap Devan, kemudian Rania pun meraih tangan Lana dan membawanya duduk kembali di sampingnya, sedangkan Bu Melany hanya menatap ke arah Sintya, kemudian dia hanya menghelan nafasnya dengan panjang.


Pak Hakim hanya terdiam saja karena melihat kemarahan Lana pada anaknya itu.


" Silakan Pak duduk." ucap Devan mempersilahkan Pak Hakim dan Sintya duduk, Sintya hanya menundukkan kepalanya dan memainkan ponsel yang ada di tangannya tersebut.

__ADS_1


" Maafkan Adik saya pak, mungkin karena kemarahannya tidak bisa dibendungnya lagi dengan Sintya."


Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya.


" Itu memang wajar Pak Devan, kemarahan adik bapak itu di batas yang wajar karena memang kesalahan dari anak saya pak, kedatangan saya ke sini ingin meminta maaf atas perlakuan Sintya pada istri bapak, Sintia memang bersalah Pak, karena egoisnya yang sangat tinggi menginginkan bapak menjadi pendamping hidupnya dan di sini juga saya yang merasa bersalah karena sudah pernah mendukungnya agar dia mendekati Bapak,sayalah yang bersalah Pak karena saya selaku papanya Sintya tidak bisa memberikan pengertian padanya saat itu Maafkan saya pak."


" Pak Hakim Saya memang marah saat Cynthia melakukan kejahatannya dengan istri saya, sejujurnya Saya tidak menyetujui dari awal kalau anak bapak magang di kantor saya, tapi karena saya menghormati Bapak saya mengiyakan saja awal pertama masuk anak bapak memang sudah memberikan perlakuan yang tidak baik pada saya, saya sebagai pimpinannya dan dia sebagai bawahan saya, apalagi ditambah sekarang dia menyakiti istri saya, di sini saya akan mengeluarkan dia dari kantor saya, Saya harap bapak mengerti dengan ucapan saya ini." ucap Devan sembari dianggukan oleh Pak Hakim.


" Devan, Aku akui aku memang salah, Aku sebenarnya tidak ingin bekerja sungguh-sungguh di kantor kamu, tapi aku minta tolong sama papa agar aku bisa masuk ke kantor kamu dan ingin dekat dengan kamu, sejak awal aku melihat kamu aku sudah menaruh hati padamu, tapi kamu tidak pernah melihat ke arahku, Maafkan aku Devan, Rania, Lana Maafkan aku." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada seraya menatap ke arah mereka satu persatu.


Bu Melani kemudian berbicara.


" Kami memang memaafkan anak bapak, tapi saya tidak ingin lagi anak Bapak berada di kantor anak saya, karena ini menjaga kemungkinan yang ada, apalagi anak Bapak sudah pernah menaruh hati kepada anak saya, dan anak bapak juga mengetahui kalau anak saya sudah memiliki calon istri jujur Pak saya juga baru tahu masalah yang dihadapi oleh menantu saya saat di kantor suaminya, jika seandainya terjadi apa-apa dengan menantu Saya tidak menutup kemungkinan saya akan melaporkan kepada pihak yang berwajib, karena perlakuan anak Bapak sudah tidak bisa dimaafkan, di samping itu bapak dan anak bapak juga ada keinginan untuk meminta maaf pada keluarga kami, kami bisa memaklumi semuanya itu."


" Jika seandainya tidak ada Bapak datang ke sini untuk meminta maaf pada kami terutama pada istri saya mungkin kerja sama yang kita lakukan akan saya hentikan."


Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya sembari menghela nafasnya dengan panjang dia hanya pasrah dengan ucapan Devan karena semua kesalahan ada pada dirinya dan anaknya.

__ADS_1


" Sekali lagi maafkan kami pak Devan, Bu Melany dan Bu Rania serta Nak Lana atas perbuatan anak saya, kalau seandainya anak saya berbuat lagi mengulangi perbuatannya pada keluarga Pak Devan, silakan saja kalau mau dilaporkan ke pihak yang berwajib, karena itu adalah kesalahan murni darinya, saya pasrah apapun yang terjadi nanti saya akan menunggu keputusan dari Pak Devan." ucap pak Hakim sembari menghela nafas panjangnya.


" Papa Sintya berjanji tidak akan mengganggu keluarga Devan lagi, setelah permintaan maaf ini dan mereka memaafkan Sintya, Sintya akan kembali ke luar negeri, Sintya akan menetap di sana." ucapnya membuat Pak Hakim terkejut dia menatap ke arah sang anak.


" Sintya, Apakah yang kamu katakan itu benar adanya ?"


" Iya Pah, itu sudah keputusan dari Sintya, Devan Maafkan Aku, maafkan atas kesalahanku baik yang disengaja ataupun tidak disengaja dan untuk Rania aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, kamu mau kan memaafkanku?" ucapnya sembari menatap ke arah Rania.


Rania terdiam, Dia kemudian menoleh ke arah suaminya, Devan pun menganggukkan kepalanya, Rania tersenyum kemudian dia menatap ke arah Sintya sembari menghela nafas panjangnya.


" Mbak Sintya, saya sudah memaafkan Mbak Sintya, Saya berharap Mbak Sintya tidak mengulangi kembali kesalahan Mbak, saya juga minta maaf kalau ada salah dengan Mbak, bukan maksud saya untuk mengambil Mas Devan dari Mbak, tapi karena kami berdua sudah kenal jauh sebelum Mas Devan mengenal Mbak Sintya." ucapnya sembari tersenyum membuat Devan merasa berbunga-bunga hatinya mendengar ucapan sang istri tersebut.


Sintya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Lana pun menatap ke arah Sintya dia mencari kebohongan dari kata maaf Sintya kepada keluarganya tersebut, terutama untuk keluarga baru kakaknya itu, namun sayangnya Lana tidak menemukan kebohongan itu tapi menemukan kejujuran dari Sintya.


" Ternyata nenek sihir ini benar-benar sadar apa yang membuatnya, dia sadar atau karena sang papa memiliki kerjasama bersama dengan Kak Devan atau dia sudah merasa mempermalukan papanya yang sudah sangat menyayanginya, Ah! terserah dia yang terpenting dia sudah mengakui kesalahannya di depan keluargaku." gumam Lana sembari menarik nafasnya dengan pelan.


Setelah keluarga Devan memaafkan Sintya dan Pak Hakim pun mohon pamit pada keluarga Devan, Devan dan Rania mengantarkan mereka keluar menuju ke arah mobil pribadinya, beberapa saat kemudian mobil Pak Hakim pun meninggalkan rumah kediaman keluarga Devan, Devan dan Rania mengiringi kepergian Pak Hakim dan Sintya dengan senyuman manis mereka.

__ADS_1


__ADS_2