Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#63 Rasa Iri


__ADS_3

#63 Rasa Iri🌹


Beberapa hari setelah pernikahan mereka digelar, Devan berangkat ke kantor karena sudah beberapa hari kantor di tinggalkannya.


Seperti biasa setiap pagi Rania melayani sang suami dari pakaian sarapan pagi dan sekarang mengantarkan Devan keluar rumah untuk bekerja.


" Pak Bos, nanti siang aku akan mengantarkan kamu makan siang jadi kamu nggak perlu makan di luar." ucap Rania.


Devan tersenyum....


" Rania kita berdua ini sudah menikah jangan lagi Kamu manggil aku pak Bos." ucapnya sembari menatap Rania dengan lekat.


Rania kemudian mendekati Devan dan dia membenarkan posisi dasi Devan dia pun tersenyum.


" Baiklah Mas Devan." ucapnya dengan ekspresi wajahnya yang lucu Devan pun kemudian mencubit kedua pipi yang membuat Rania mengaduh dan mendelik ke arah Devan sembari mengusap kedua pipinya tersebut.


" Sakit tau! kalau gemes itu nggak usah cubit pipi nanti pipiku semakin cabi." ucapnya tersenyum dalam delikkannya.


Devan hanya tertawa pelan.


" Ya udah, cepetan sana berangkat nanti macet loh." ucapnya sembari meraih tangan Devan dan mencium punggung tangan suaminya itu membuat Devan terkejut karena perlakuan Rania sangat spesial baginya, Walaupun dia masih tidur di sofa dan Rania tidur di tempat tidurnya.


Dengan tersenyum sembari mengusap kepala Rania Dia kemudian melangkah meninggalkan Rania yang berdiri di teras rumah pribadinya itu, beberapa saat kemudian mobil Devan meninggalkan rumah pribadinya menuju ke arah kantor dengan senyuman bahagianya Rania pun kemudian meninggalkan teras menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


Rania melangkah menuju ke arah sofa di mana mertua dan adik iparnya sedang duduk bersantai.


" Kakak jadi hari ini keluar." tanya Lana.


Rania menganggukkan kepalanya, dan ia memang rencananya mau keluar untuk membeli beberapa perlengkapan di kamarnya dia pun sudah mengungkapkan keinginannya untuk keluar rumah hari ini dengan suaminya.


" Sama siapa Kakak keluarnya?" tanya Lana.


" Rencananya mau menghubungi Tania, tapi tidak tahu juga sih apa Tania punya waktu karena dia kan pasti sibuk di kedai kopinya."


" Bagaimana kalau dengan Lana aja perginya, karena Lana juga ada yang mau dibeli buat besok berangkat ke luar Negeri."


" Kamu besok pulang ke luar negeri?apa nggak bisa ditunda.?" tanya Rania.


Rania hanya menganggukkan kepalanya, kemudian melihat jarum jam di dinding rumahny tersebut sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi lewat 30 menit.


" Lebih baik kalian pergi aja Mall juga sekarang sudah buka kayaknya kalau sudah dapat keperluan kalian segera pulang." ucap Bu Melany dianggukan oleh mereka berdua Kemudian mereka pun berpamitan dengan Bu Melany menuju ke arah kamar mereka masing-masing untuk berganti pakaian dan membawa keperluan seadanya untuk mereka membeli beberapa keperluan yang mereka butuhkan.


Mereka berdua tidak menggunakan jasa sopir, Lana yang membawa mobil pribadinya itu menuju langsung ke arah Mall.


Di kantor Dev grup...


Devan yang sudah berada di dalam ruangan kerjanya itu mulai memeriksa beberapa dokumen yang sudah tersedia di atas meja kerjanya itu, dia terkejut pintu yang terbuka begitu saja tidak ada ketukan di pintu itu dia melihat Sintya masuk ke dalam dengan tersenyum dan gaya menggodanya dia pun kemudian duduk di depan Devan.

__ADS_1


" Ada apa Sintya? Kenapa kamu masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulau, ini ruanganku, bukan seenaknya kamu masuk begitu saja!"


" Jangan marah Devan, aku tahu ini adalah ruanganmu dan aku juga tahu kalau aku adalah bawahanmu, tapi apa salahnya aku ingin lebih dekat denganmu." ucapnya sembari tersenyum menggoda.


Devan terkejut dengan ucapan Sintya.


" Kamu tidak tahu kalau aku sudah menikah, Apa pantas kamu menggoda orang yang sudah menikah, kamu nggak mau dibilang pelakor atau dibilang wanita yang tidak benar, seharusnya kamu jaga sikapmu jangan sembarangan kamu mengumbar sikap kamu dengan orang lain terutama aku, aku bisa saja memberhentikan kamu di sini, tapi aku masih memandang Ayahmu, aku masih menghormati ayahmu, jangan hancurkan kebaikan Ayahmu itu dengan perlakuan kamu yang tidak baik seperti ini, lebih baik kamu keluar dari ruanganku sebelum aku nantinya marah padamu!" ucapnya sembari menatap lekat ke arah Sintya dia pun berjaga-jaga kalau seandainya Sintya berdiri dari duduknya itu dan mendekatinya, Devan kemudian berdiri dari duduknya dan sedikit menjauhi Sintya, Devan kemudian menghubungi William agar segera masuk ke dalam ruangannya, beberapa saat kemudian William pun datang dia terkejut melihat Sintya yang terlihat dari pakaiannya tidak sangat pantas berada di kantor tersebut karena pakaian di kantor itu walaupun tidak menggunakan hijab, tapi pakaian semua karyawan itu tertutup tidak terlalu terbuka seperti yang dipakai oleh Sintya.


" Ada Nona Sintya? Kenapa Anda ada di sini, bukankah aku sudah memberikan Anda pekerjaan yang harus Anda kerjakan, ebih baik Anda selesaikan pekerjaan Anda sekarang, karena beberapa dokumen itu akan dibawa untuk rapat hari ini."


Sintya tidak mengindahkan omongan William dia masih tetap duduk di kursinya dengan tangannya bersendekap menatap ke arah Devan.


" Kamu Ini kenapa sih William, sepertinya sangat takut banget kalau aku berada diruangan Devan, Aku di sini hanya bicara dengan Devan, aku juga tahu batasan-batasan ku sebagai bawahan Devan, tapi setidaknya kan bila tidak ada pekerjaan Aku ingin bicara dengan Devan, anggaplah aku ini sebagai teman kalian, capek ngomong sama William!" ucapnya sendiri berdiri dan melangkah meninggalkan mereka berdua saat dia keluar dari ruangan Devan dia melihat Rania dan Lana yang menuju ke arah ruangan Devan ia menatap sinis ke arah Rania, Lana merasa heran dengan tatapan Sintya Dia kemudian menarik pelan Rania dan melangkah masuk ke dalam ruangan Devan.


Sintya melangkah ke ruangannya dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya tersebut.


" Apa sih bagusnya cewek itu! dari segi penampilan aku yang tercantik, aku teraduhai, tapi kenapa Devan memilih dia, tidak ada body sama sekali muka biasa-biasa aja, malah terlihat seperti orang kampung! tapi aku di sini tidak mau mengalah dengan dia, aku memang iri padanya tapi ke irianku ini aku harus mendapatkan Devan adalah target utamaku, untuk menjadikan dia suamiku, Walaupun dia sudah beristri, aku bisa saja menyingkirkan istrinya itu, karena aku memang benar-benar mencintai Devan." ucapnya sembari mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan sinisnya menatap ke arah luar jendela yang ada di ruangannya itu.


" Kak Devan, siapa sih itu Kenapa mukanya sinis sekali sih menatap ke arahnya kak Rania." tanya Lana.


" Dia Sintya, karyawan magang di kantor ini, orang tuanya memiliki perusahaan sendiri tapi dia ingin berada di kantor ini."


" Memang kenapa kok dia berada di kantor ini, padahal kan dia punya perusahaan sendiri kak, pasti ada maksud dan tujuan tertentu dia ingin di kantor ini."

__ADS_1


" Tujuannya siapa lagi kalau bukan kakak." ucap Devan sembari melirik ke arah Rania, Rania terkejut dengan ucapan Devan, dia pun kemudian merubah wajahnya menjadi sedikit marah namun dia bisa menutupi kemarahan dia itu, karena Devan berucap tentang Sintya yang menyukai dirinya di depannya, Rania terlihat cemburu Devan hanya bisa tersenyum memperhatikan sang istri sudah mulai memperlihatkan gelagat cemburunya padanya.


__ADS_2