
" Rumah sakit mana kakak mu berada?"
Lana menggelengkan kepalanya.
" Lana lupa Mah bertanya sama kakak, rumah sakit mana yang dikunjunginya."
Bu santi menghela nafanya seraya menundukkan kepalanya sembari memegang dahinya.
" Mah..." panggil Lana, karena dia melihat posisi sang Mamah seperti orang yang lemes mau pingsan.
" Mamah tidak apa-apa." ucapnya sambil meraih ponselnya dan menghubungi William.
Beberapa saat kemudian...
" Siapa lagi pagi-pagi sekali menghubungi ku." ucap William sembari meraih ponselnya dan melihat layar ponselnya,setelah tahu siapa yang menghubunginya pagi-pagi itu, dia langsung bangun dari tidurnya dan segera menjawab panggilan Ibunda Ratunya itu.
" Yes! Ibunda Ratu? Ada perihal penting apa sehingga Ibunda Ratu menghubungi saya.?"
" Udah William, tidak usah basa basi terlalu pagi untuk kamu basa basi sama saya."
" Hehehe.... ada apa Ibunda Ratu.?"
" Sekarang kamu berada di Rumah Sakit mana?"
" Hah? Rumah sakit? Anu.. itu... saya berada dirumah sendiri Bu."
" Jangan bohong William, saya sudah tahu semuanya, kalau Rania mengalami kecelakaan."
" Aduh mampus aku!! Ibunda Ratu sudah tahu, matilah aku!" Gumamnya dalam batinnya.
" Kenapa diam William?"
" Hehehe...Maafkan saya ibunda Ratu, karena saya terpaksa mengatakan kebohongan pada Ibunda Ratu, karena tidak ingin membuat Ibunda Ratu kepikiran."
" Udah! Sekarang kamu berada di Rumah Sakit mana?"
" Rumah sakit Indah Permata Bu."
" Baiklah saya akan segera kesana melihat keaadaan Rania secara langsung." Ucapnya sembari memutus sambungan secara langsung dan William hanya menggelengkan kepalanya sembari menghubungi pak bosnya.
" Ya William..."
" Gawat Bos!"
" Apanya yang Gawat?"
" Gawat Bos! Ibunda Ratu sudah mengetahui kalau Rania berada dirumah sakit."
" Apa..?" sambungan pun terputus secara sepihak.
__ADS_1
" Hmmm... inilah kebiasan pak Devan selalu saja memutuskan sambungan bicaranya secara sepihak." Ucapnya seraya meletakkan ponselnya dimeja yang ada didepannya itu.
" Ada apa Will?" Tanya Tania yang sudah berada di depan William membawakan sarapan pagi yang dibelinya dari kantin rumah sakit.
" Ibunda Ratu sudah tahu kalau Rania berada dirumah sakit."
" Ibunda ratu?"
" Iya... Maksud aku ibunya pak Devan."
" Oh...eh...maksudnya ibunya pak Devan yang menginginkan Rania jadi mantunya itu."
" Ssshhhttttt....!!" ucap William seraya meletakkan jari telunjuknya dimulutnya.
" Nanti ketahuan dengan Rania, kalau ketahuan pasti akan berabe nantinya."
" Ups! Aku lupa Will..."ucap Tania tersenyum.
Kemudian mereka menyantap makan pagi yang sudah tersedia.
" Aku akan pulang sebentar kerumah." Ucap William disela-sela makannya.
" Kamu nggak ngantor?"
" Kalau tidak ada perintah dari pak Bos, ya nggak berangkat, karena aku ditugaskan jaga tuh...calisnya." ucap William seraya memonyongkan mulutnya kearah Rania yang masih terlelap.
" Calis? Apaan sih."
Mereka pun terkekeh berdua sembari menikmati makannya.
Di rumah Devan...
Setelah mendengar kalau sang Mamah sudah mengetahui tentang Rania, Devan dengan kemahirannya mengendarai mobilnya itu melajukannya dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak terlalu lama dia memakan waktu, saat sang Mamah dan Lana mau keluar rumah, Davin yang sudah turun dari mobilnya itu pun langsung saja mendekati bu Mellany dan meraih tangan sang Mamah untuk membawanya duduk diteras rumahnya.
" Mamah mau kemana?
Bu Mellany tidak menjawab pertanyaan anaknya melainkan dia bertanya balik pada sang anak.
" Kenapa kamu tidak bilang ke Mamah kalau Rania mengalami kecelakaan?"
" Ini pasti William yang mengatakannya?"
" Bukan kak William kak, tapi Lana."
Devan langsung menatap kearah Lana yang tersenyum.
" Maafin Lana kak, karena Lana lupa mencari alasan tadi pagi hehe " ucapnya cengengesan.
" Jangan menyalahkan William, dia tidak memberitahu Mamah, tapi kamu yang mengajak adikmu bersandiwara kurang skenarionya." ucap Bu Mellany tersenyum.
__ADS_1
" Seharusnya kamu jangan sembunyikan dari Mamah tentang semua ini." Ucap Bu Mellany lagi.
" Maafkan Devan Mah, bukan maksud Devan untuk menyembunyikan ini semua dari Mama, karena Devan memikirkan kesehatan Mamah, Mamah masih dalam keadaan yang kurang sehat, Paman dokter sudah bilang sama Devan, saat Mama mengalami terjangkitnya virus yang aneh itu, Devan tidak ingin Mamah sakit lagi." terang Devan sembari menatap ke arah sang Mamah, Bu Mellany hanya menghela nafasnya dengan pelan.
" Anakku sangat perhatian sekali denganku, walaupun sebenarnya penyakit itu hanyalah sandiwara belaka, agar dia segera mendapatkan Rania, karena aku sudah terlanjur suka dengan kepribadian dan kepolosan Rania, aku merasa Rania sangat cocok untuk Devan." gumamnya dalam hatinya sembari menatap anak sulungnya itu.
" Devan, Lain kali kalau kamu mendapat masalah apapun ataupun mendapatkan apa saja, kamu harus bilang sama Mamah, jangan kamu sembunyikan, Mamah tidak ingin Mamah ini tahu dari orang lain, lebih baik Mamah tahu dari anak Mamah sendiri, baik itu pun kamu ataupun Lana, karena kalian berdualah sekarang yang Mamah miliki." ucapnya sembari menyentuh pundak sang anak.
" Maafkan Devan ya Mah."
" Maafkan Lana juga ya Mah?" ucap Lana sembari duduk di samping sang Mamah dan menyandarkan kepalanya di pundak Mamahnya itu, sembari tangan Bu Melani menyentuh kepala anak gadisnya tersebut penuh dengan kasih sayang.
" Mamah ingin kamu benar-benar menjadikan Rania wanita di hatimu, karena Mamah sudah sangat menyukai Rania, kepolosan dan kepribadian Rania itu jarang ditemukan di sebagian wanita yang lainnya, yang ada di luar sana, kalau Mamah merasa 1001 orang seperti Rania." ucap Ibu Melani sembari terus menatap sang anak.
Devan hanya menganggukkan kepalanya.
" Aku akan terus mengikuti saran Mamah dan aku akan terus membahagiakan Mamah apapun keinginan Mamah akan aku turuti, tapi sayang, aku belum bisa mengatakan pada Rania secara langsung, meminta Rania menjadi menantu rumah ini." gumamnya dalam hati sembari menundukkan kepalanya.
" Ada apa Devan, katakan sama Mamah."
" Devan belum mengatakan pada Rania Mah, Yang sejujurnya keinginan Devan untuk menjadikan Rania sebagian dari keluarga kita."
" Ajaklah Rania tinggal bersama kita di sini, jangan biarkan dia tinggal di luar sana, biar kita bisa memberikan yang terbaik untuknya, Mamah tahu kalau Rania itu terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, karena Mamah bisa menilai dari penampilan dia yang apa adanya itu."
" Iya Mah, Rania memang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, Karena dia mempunyai ibu tiri dan kakak tiri yang sangat bersikap tidak baik dengannya." Gumam Batin Devan, dia tidak ingin mengatakan rahasia tentang Rania pada sang Mamah.
" Sekarang kamu ajaklah Mamah bertemu dengan Rania sekarang juga, Mamah ingin berbicara dengannya."
" Baiklah Mah, Devan akan membawa Mamah dan Lana bertemu dengan Rania sekarang juga, tapi tunggu sebentar Devan mau membersihkan diri dulu."
" Baiklah Nak, Mamah dan Adikmu akan menunggu kamu di sini, cepat pergi sana bersihkan badanmu."
Devan menggangguk, kemudian melangkah meninggalkan Mamah dan Adiknya masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke kamar pribadinya.
Beberapa saat kemudian dia sudah selesai dan terlihat rapi, kemudian dia mengajak Mamah dan Adiknya itu memasuki mobil pribadinya dan beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah kediaman pribadinya menuju ke arah rumah sakit.
" Nanti setelah Mamah dan Lana Devan antar ke ruangan Rania, Devan mau pergi ke kantor polisi menghadiri panggilan dari kantor polisi, Devan mau memberi keterangan pada pihak yang berwajib tentang masalah kecelakaan yang dialami Rania, karena pelakunya sudah ditemukan atas bantuan Arka.
" Bantuan Kak Arka? hebat benar Kak Arka, bisa menangkap pelaku tersebut."
" Ternyata pelakunya itu adalah teman dari Arka, tapi bukan teman akrab bukan juga teman sekolah,atau teman kuliah dan teman kerja, melainkan teman nongkrong, kebetulan bukti sudah ada, kalau dia pelakunya." Terang Devan pada adiknya itu.
Dianggukan oleh Lana sembari tersenyum
" Arka ada di sini? bukankah dia ada di Bandung beberapa bulan yang lalu.?"
" Iya Mah, Arka memang beberapa bulan yang lalu masih berada di bandung, karena pekerjaan dia di sana, tapi karena pekerjaan itu sudah selesai dia kembali lagi ke kota ini."
" Kenapa dia nggak berkunjung ke rumah kita? biasanya kalau dia berada di kota ini dia selalu mampir ke rumah kita, walaupun sekedar menyapa mamah."
__ADS_1
" Katanya belum sempat Mah, karena kerjaan dia menumpuk."
" Memangnya anak itu ya, nanti kalau ketemu sama Mamah, telinganya minta dijewer terus sama Mamah, sampai lupa ya sama Mamah, karena pekerjaannya itu." senyum Bu Mellany mengembang, mereka bertiga pun tersenyum bersama mobil terus melaju menuju ke arah tempat tujuan di mana Rania berada.