Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#73 Pernikahan Sahabat


__ADS_3

#73 Pernikahan Sahabat🌹


Pagi-pagi sekali Rania pun bangun dari tidurnya dia hendak turun dari tempat tidur namun dia merasakan sakit yang luar biasa seluruh tubuhnya merasa seperti terhempas dari atas bangunan yang tinggi sekali dia tidak menghitung berapa banyak mereka menciptakan kebahagiaan bersama tadi malam, saat Rania hendak berdiri dia pun langsung merasa lemas,kemudian dia duduk kembali, Devan membuka matanya dia pun meraba-raba disampingnya tidak ada sang istri, dia melihat istrinya yang duduk di bibir ranjangnya tersebut, dia pun langsung bangun dan mendekati istrinya itu, Rania yang melihat Devan mendekatinya dia pun langsung mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, Devan tersenyum.


" Sayang... nggak usah ditutupi aku sudah melihat semuanya tadi malam." ucapnya membuat Rania merasa malu dia pun langsung melangkah dengan cepat ke arah kamar mandi membawa selimut tersebut, dia melupakan sesaat rasa sakit itu, Devan hanya menggelengkan kepalanya, dia pun kemudian beranjak dari tempat tidur menuju ke arah kamar mandi, saat dia ingin membuka kamar mandi itu ternyata kamar mandi dari dalam sudah dikunci Rania.


" Sayang... buka pintunya dong, kita mandi bersama ya, ini sudah jam 07.00 pagi, aku sudah telat."


" Memangnya kamu mau kemana? hari ini kan hari libur."


" Hari ini pernikahan William sama Tania."


" Apa?" Rania kemudian membuka pintu kamar mandi tersebut, kesempatan itu digunakan oleh Devan untuk masuk ke dalam, Rania hanya mendengus dengan kesal, Mereka kemudian mandi bersama, beberapa saat mereka melakukan ritual mandinya itu pun selesai mereka lalu sama-sama berpakaian, beberapa saat kemudian mereka pun keluar dari kamar pribadi mereka menuju ke lantai bawah di mana sang Mama sudah menunggu mereka berdua.


" Kalian sudah siap,?"


" Iya Mah kami sudah siap, tapi kami tidak sarapan hari ini, kami mau makan di acara pernikahan aja." ucap Devan sembari tersenyum, Rania merasa heran.


" Lho, mama sudah tahu? kalau hari ini pernikahan William dan Tania?"


Bu Melany menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Ach! hanya aku dong yang tidak tahu, kalau William hari ini menikah." ucapnya cemberut.


Devan dan Bu Melany pun menganggukkan kepalanya, Devan kemudian merangkul sang istri.

__ADS_1


" Sayang .. pernikahan ini tidak dirayakan semeriah mungkin, mereka ingin mencari sahnya saja, agar mereka bisa berkumpul bersama, karena Tania tidak ingin pernikahan mereka terlalu diadakan sangat meriah."


" Wah! ini tidak benar, kenapa mereka tidak mengasih tahu aku!" protes Rania.


" Ya udah kalau kamu ingin protes sama Tania aja nanti ya, kamu bisa tanya dengannya, Oke sekarang kita berangkat takut terlambat." ucap Devan sembari melihat jam yang melingkar di tangannya tersebut, Mereka kemudian melangkah menuju ke arah mobil yang sudah tersedia, beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan rumah pribadi tersebut menuju ke arah rumah Tania di mana acara pernikahan itu diadakan hanya sederhana di rumah tersebut.


Sesampainya dirumah Tania beberapa kerabat Tania dan kerabat William sudah pada berkumpul semua, mereka pun memasuki rumah tersebut dengan bergandengan tangan Rania melangkah menuju masuk kedalam rumah tersebut, dia tampak bahagia karena sang sahabat sudah mendapatkan kebahagiaannya.


Beberapa saat kemudian pernikahan dimulai dengan lantang dan dengan sekali tarikan nafas William mengucapkan ijab kabul tersebut dengan fasih dan tidak ada kesalahan sama sekali para saksi yang ada di antara kedua belah pihak pun di menyatakan sah pernikahan mereka berdua dengan mengucap syukur Mereka pun tersenyum bahagia akad nikah diadakan di rumah Tania dikarenakan Tania tidak ingin acara pernikahannya terlalu mewah, walaupun itu adalah pernikahan dia yang kedua dan pertama bagi William, bahkan William pun menyetujui keinginan Tania untuk tidak menggelar acara pernikahan yang sangat mewah tersebut.


Setelah pembacaan doa mereka pun sungkem dengan orang tua mereka masing-masing, penyematan cincin pun dilakukan oleh William, Tania pun meraih tangan William yang sudah beberapa menit menjadi suaminya itu, dia mencium punggung tangan William dan William pun mencium kening Tania, tamu undangan pun datang ke rumah Tania tersebut menghadiri acara pernikahan Tania dan William, terlihat rona kebahagiaan di wajah mereka, detik berganti-detik jam berganti jam sampai acara selesai dan tamu undangan pun satu persatu mulai berlalu dari rumah tersebut, sampai akhirnya acara itu pun selesai yang tertinggal hanyalah keluarga dan kerabat dekat kedua belah pihak saja.


Rania kemudian mendekati Tania yang sudah berganti pakaian dia pun kemudian berbicara pada sahabatnya itu.


" Aku ingin protes padamu!" ucapnya sembari menatap tania dan william secara bergantian.


" Bisa dibilang aku marah denganmu Tania! "


" Marah? soal apa?"


" Iya nih masa marah bilang-bilang sih?" sambung William terkekeh.


" Iyalah! protes karena aku tidak dikasih tahu kalian menikah pagi ini, aku aja tahunya baru bangun pagi, dan marahnya kenapa kalian menyembunyikan dari ku, aku kan bukan mantannya William kan, kenapa aku nggak dikasih tahu, padahal kan kemarin kita bicara dikedai, katanya kamu belum siap dan belum yakin untuk menikah dengan William, eh.... ternyata aku kena bohongin pinter banget kalian bersandiwara ya." ucap Rania sembari tersenyum.


" Maafkan kami ya, bukan kami tidak mau mengasih tahu kamu, aku tahu bagaimana sikap kamu, pasti kamu sangat sibuk banget ngurusi ini itunya, kami tidak ingin merepotkan kamu, itu juga aku bilang sama Mas Devan supaya jangan bicara dengan kamu, saat kita bicara di kedai itu mas Devan sudah tahu karena William sudah bicara kalau sudah mendaftarkan pernikahan kami, Jangan marah lagi ya." ucapnya sembari memegang tangan Rania, Rania hanya menganggukkan kepalanya dia pun kemudian merangkul Tania dengan penuh rasa bahagia, karena sahabatnya itu sudah mendapatkan jodoh terbaik untuknya.

__ADS_1


Devan kemudian menatap ke arah William, Rania melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Devan dan William, seakan-akan Mereka bicara melalui tatapan matanya.


" Ada apa,? Kenapa kalian saling bertatapan seperti itu, kalian kan sudah punya istri masing-masing, jangan bilang kalian jeruk makan jeruk ya." ucap Rania membuat mereka berempat pun tertawa pelan.


" Idih ada-ada aja kamu ini, Nggak ada lah masa iya sih jeruk makan jeruk,kalau jeruk makan jeruk sudah dari dulu kali, mana mungkin aku menunggu Tania, ya nggak sayang." ucapnya sembari menyenggol sang istri Tania hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


William berusaha mencairkan suasana karena ada sesuatu yang ingin di beri tahunya pada Rania.


William menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia menatap kembali ke arah Devan, dan Devan hanya bisa menganggukkan kepalanya, isyarat yang diberikan Devan itu terlihat oleh Tania, Dia kemudian berdiri dan duduk di sebelah suaminya itu, Awalnya dia duduk di sebelah Tania sekarang dia beralih duduk di sebelah sang suami.


" Ada apa Mas, apa yang kalian sembunyikan dariku lagi?" tanyanya menatap ke arah Devan, Devan kemudian menoleh sesaat ke arah Rania.


" Ada yang William ingin katakan dengan kamu, tapi kamu setelah mendengarnya Aku harap kamu tidak marah." ucapnya sembari meraih tangan Rania dan menggenggamnya seraya menatap ke arah wajah istrinya itu.


" Ada apa? aku tidak akan marah katakan saja yang sebenarnya."


William menarik nafasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan berat dia menatap satu persatu ketiga orang yang ada di sofa tersebut, karena mereka berempat jauh dari keluarga Tania ataupun keluarga dia sendiri, mereka berempat memang memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan keluarganya itu, Rania menatap ke arah William dengan tatapan penuh tanda tanya besar di kepalanya.


" Ada apa Pak William, katakan pada ku sebenarnya ada apa, Jangan bikin aku bertanya-tanya seperti ini dong, sudah cukup kalian tidak memberitahu aku tentang rencana pernikahan kalian dan tolong jangan lagi membuat aku penasaran seperti ini." ucapnya sembari menatap ke arah William.


" Hemm...Sepertinya tidak bisa aku katakan hari ini, bagaimana kalau besok pagi aja, aku tunggu Pak Devan dan kamu di rumah ini, kita akan ke suatu tempat." ucap William sembari menatap Rania menanti persetujuan dari Rania.


" Benar apa kata William, lagi pula mereka juga terlihat capek, kita besok ke sini lagi dan mungkin besok akan dikatakannya untuk apa kita ke suatu tempat itu." ucap Devan sembari menepuk pelan tangan Rania yang masih dalam genggamannya itu sembari menatap ke arah wajah istrinya yang terlihat kecewa karena William tidak mengatakannya saat ini.


" Baiklah, aku hanya mengikuti apa kata kalian aja." ucapnya walaupun sebenarnya sikap ingin tahunya sangat besar namun dia tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mengetahui apa yang akan dikatakan William dan mau dibawa ke mana dirinya nantinya.

__ADS_1


Setelah mereka puas di rumah Tania, Mereka pun kemudian pamit dari rumah tersebut, tidak ada suara ataupun berbicara di dalam mobil karena Rania larut dengan pikirannya tentang ucapan William, mobil Devan kemudian melaju menuju ke arah rumah pribadinya


__ADS_2