Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#41 Kebohongan Vino


__ADS_3

#41 Kebohongan Vino.🤔


" Hai Rania, apa kabar .." ujar suara diseberang sana.


" Siapa ini?"


" Aku Vino."


" Vino?"


" Iya Rania, Bisakah kita bertemu?"


" Darimana Anda tahu nomer ponsel saya, dan buat apa kita bertemu?"


" Kalau cuma masalah nomer ponsel bagi Ku sangatlah mudah Aku dapatkan, kita harus bertemu, ada yang ingin Aku bicarakan padamu, sangat penting."


" Sangat penting? soal apa?"


" Soal Devan.."


" Apa? soal pak Devan?"


" Iya, Aku tunggu sekarang kamu didekat rumah sakit dimana kamu dirawat kemaren, tidak jauh dari situ ada sebuah kedai kopi, aku menunggu kamu sekarang, kalau kamu tidak datang kamu akan menyesal karena tidak mengetahui bagaimana Devan kekasih kamu itu."


Rania terdiam saat mendengar ucapan Vino, antara ingin mengetahui ada cerita apa tentang Devan tersebut.


" Rania...Kenapa kamu diam?Maukan kamu datang menemuiku?"


" Baiklah saya akan menemui Anda, serlok sekarang." ucapnya karena sifat ingin tahunya sangat besar, lagi pula dia tidak tahu ada hubungan apa antara Devan dan Vino itu.

__ADS_1


Kemudian dia turun kebawah untuk berpamitan dengan bu Melany, tapi karena Bu Mellany tidak berada diruang tamu Rania kemudian keluar sendiri dengan memberhentikan mobil taksi yang hilir mudik didepan rumah Devan, karena posisi rumah Devan dipinggir jalan besar dan ramai dengan hilir mudiknya kendaraan.


Taksi yang ditumpangi Rania itupun langsung menuju kearah tempat yang dituju.


Beberapa saat kemudian dia sampai didepan kedai kopi tersebut dan dia langsung turun menemui Vino.


" Rania akhirnya kamu sudah datang ya, terimakasih kamu mau menerima undangan bertemu kita."


" Apa yang mau Anda katakan tentang kekasih saya." ucap Rania menatap kearah Vino dengan lekat.


" Sabar Rania, kita minum dulu, janganlah tergesa-gesa." ucapnya sembari memanggil pelayan.


Kemudian pelayan pun datang dengan berbicara sesaat dengan pelayan tadi dan terlihat Vino mengisaratkan sesuatu pada pelayan tersebut dan terlihat pelayan itu mengangguk kemudian berlalu begitu saja tanpa menanyakan keinginan Rania mau memesan apa, disitu Rania sudah mulai curiga pada Vino, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.


" Ada permainan apa lelaki dihadapanku ini, aku harus waspada darinya."


" Nama saya Rania bukan Cantik, lebih baik Anda panggil saya dengan sebutan Rania jangan sebutan yang lain karena tidak enak didengar!" tegasnya seraya mensedekapkan tangannya didada sambil menyenderkan tubuhnya disandaran kursinya.


" Hehehehe...Rania, saya panggil kamu itu dengan sebutan cantik karena memang kenyataannya kamu Cantik."


Rania mendelik pada Vino.


" Lebih baik Anda katakan sekarang ada apa?"


" Baiklah Rania, saya akan memberikan bukti pada kamu siapa sebenarnya Devan, memang dia didepan kamu sangat baik, perhatian sok panik saat mendengar kamu kecelakaan, tapi sebenarnya dia itu playboy, dan suka bercinta satu malam dengan lebih dari satu wanita, dia juga tidak pernah setia pacarnya ada dimana-mana, club malam adalah tempat nongrongnya dan hotel berbintang tempat bercintanya, sudah banyak mangsa yang terjebak dengannya tapi karena dia banyak uang dengan mudahnya dia memecahkan masalahnya makanya dia terbebas dari jerat-jerat wanita yang sudah pernah tidur dengannya, apakah kamu masih bertahan denganya setelah kamu tahu apa yang dibuatnya dengan wanita lain selain kamu? Rania kamu itu baik, lugu, cantik dan sopan, tidak pantas kamu bersanding dengan Devan, karena Dia adalah lelaki yang pintar membolak balikkan fakta, apapun yang dia inginkan harus didapatnya,. sampai suatu hari dia hampir saja menjadi penghuni hotel prodeo karena sudah membawa kabur istri orang, untung saja suami si wanita itu mau jalan damai dengannya kalau tidak dia sekarang mungkin tidak bisa bertemu dengan mu saat ini."


Rania terdiam, ada rasa kecewa saat Vino mengatakan kalau Devan sudah sering melakukan cinta satu malam dengan banyak para wanita, perasaan yang perih dia rasakan, karena saat Vino berkata seperti itu dia merasakan seperti dihianati oleh kekasih hatinya sendiri.


Vino mengembangkan senyumannya karena dia melihat Rania sudah mulai percaya akan cerita yang dibuatnya tentang Devan.

__ADS_1


" Habislah kamu Devan, sekarang wanitamu terlihat percaya apa yang aku bicarakan saat ini." ucapnya dalam hati sembari menyunggingkan senyumnya disudut bibirnya itu.


" Rania,. kamu tidak apa-apa kan?maafkan aku Rania karena sudah mengatakan semuanya padamu tentang kekasih hatimu itu, karena aku tidak mau kalau kamu disakitinya seperti wanita-wanita yang diluar sana yang sudah jadi korbannya itu."


" Saya tidak apa-apa, tapi kata Anda, Anda ada bukti nyatanya, bisakah saya melihatnya.?"


" Semua sudah saya kirimkan keponsel mu." ucapnya sembari tersenyum tersembunyi.


Rania pun langsung mengambil ponselnya dan dia buka layar ponselnya itu, dia melihat beberapa gambar yang dikirimkan Vino diponselnya, tanpa terasa Air mata Rania menetes buliran bening itu pun spontan saja keluar karena melihat beberapa fhoto Devan dengan para wanita.


" Kenapa kamu tega Devan!" ucapnya dalam batinnya begitu saja terucap.


" Rania segeralah kamu putuskan dia dan bebaskan dirimu darinya." ucap Vino sembari berdiri ingin mendekati Rania namun langsung dicegah Rania.


" Stop! tetaplah Anda disitu! dan biarkan saya disini, saya tidak ingin ada tangan orang lain menyentuh saya!" ucapnya sembari menghapus air matanya, Kemudian datang pelayan tadi membawakan dia hidangan dan segelas kopi manis.


" Minumlah dulu Rania,karena kata orang kalau kita sedang sedih dan galau setelah meminum kopi akan terlihat sedikit tenang." tawarnya.


" Terimakasih! maaf saya tidak minum kopi dan tidak nyemil, Maaf saya permisi dulu, terimakasih atas infonya." ucapnya sembari berdiri dan hendak meninggalkan Vino, melihat hal itu, Vino langsung berdiri dan mendekati Rania, dan Rania pun langsung sedikit mengeraskan suaranya.


" Sudah saya bilang,jangan mendekat! karena saya tidak ingin ada tangan orang lain menyentuh saya! ingat itu!!" ucap Rania kemudian berjalan menjauh meninggalkan Vino, Vino kemudian mendengus dengan kesal dan dia pun memukul meja yang ada dihadapannya itu sembari mengepalkan tangannya merasa gagal menjadi pelabuhan Rania sekedar untuk menumpahkan tangisnya itu didadanya.


" Bodoh! sudah bersusah payah aku membuat dan mengarang cerita Agar Rania membenci Devan, Tapi gagal!! hati Rania sangat keras sekali, dia sangat sulit dilemahkan dengan kata-kata, Apa yang digunakan Rania pada hatinya sehingga dia tidak menumpahkan rasa sedihnya dipundak orang lain." ucapnya sembari duduk dengan perasaan dongkolnya itu, Rania yang keluar dari kedai itupun langsung menuju ke halte yang tidak jauh dari kedai tersebut dan diapun duduk sembari menundukkan kepalanya dan menangis seorang diri.


Devan yang sudah selesai mengurus pernikahannya dengan Rania, saat dia hendak meninggalkan kantor urusan Agama itu pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Rania yang berada dirumahnya itu, tapi dia melihat notip diponselnya tentang keberadaan Rania, karena dia sudah menghubungkan ponsel Rania dan ponselnya tanpa sepengetahuan Rania, Devan mengetahui lokasi dimana Rania berada sekarang ini.


" Hah?! sedang ngapai dia diluar rumah? " ucap Devan sembari memperbesar lokasi dimana Rania berada sekarang.


" Jalan ini tidak jauh dari lokasi aku sekarang ini." gumamnya sembari melajukan mobilnya menuju kearah Rania sekarang berada.

__ADS_1


__ADS_2