
Sesampainya di rumah sakit mobil Vino berhenti di depan ruang UGD dengan cekatan beberapa orang perawat langsung menghampiri mobil tersebut dan membawa tubuh Rania masuk ke dalam agar segera di lakukan penanganan dengan secepatnya.
Vino yang duduk di kursi tunggu ruang UGD hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia kemudian menoleh ke arah Mbak Uti.
" Maaf Mbak, sebenarnya kejadiannya gimana? kenapa sampai teman Mbak mengalami kecelakaan seperti itu.?"
" Saya juga tidak tahu Pak, karena sepertinya kecelakaan ini disengaja sebab mereka berdua masih sempat melihat keadaan Mbak Rania."
" Rania ? Namanya Rania?" Ucap Vino.
Mbak Uti mengangguk sembari berkata.
" Iya pak, yang mengalami kecelakaan itu adalah Mbak Rania dia kos di kemuning, dia adalah tetangga saya." ucap Mbak Uti, Vino menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih banyak ya Pak, udah menolongin kami, membawa Mbak Rania ke Rumah Sakit." ucap Mbak Uti.
" Iya Mbak, Nggak apa-apa saya masih menunggu di sini juga kok, sampai teman Mbak bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap." ucapnya.
Mbak Uti hanya mengangguk
" Baiklah Pak, saya mau menghubungi temannya dari Mbak Rania."
" Silakan Mbak." ucap Vino sembari tersenyum Vino hanya menatap langkah Mbak Uti yang keluar dari ruangan UGD kemudian Vino merubah posisi duduknya dengan menopangkan kedua tangannya di pahanya sambil menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya tersebut, sedangkan Mbak Uti yang menghubungi Tania belum juga tersambung beberapa kali dia menghubungi belum juga dijawab Tania.
" Aduh bagaimana ini, kenapa Mbak Tania tidak bisa dihubungi? aku juga tidak tahu nomor ponselnya ibunya Mbak Tania." ucapnya sembari menatap layar ponselnya tersebut, dia pun terus menghubungi Tania sampai akhirnya panggilan Mbak Uti itu pun dijawab oleh Tania.
" Halo selamat malam Mbak Uti."
" Alhamdulillah Mbak Tania, Akhirnya Mbak jawab juga panggilan saya."
" Ya Mbak Ada apa?"
__ADS_1
" Mbak Rania mengalami kecelakaan sekarang berada di rumah sakit Indah permata."
" Apa? Rania mengalami kecelakaan? di mana Mbak kejadiannya?"
" Tidak jauh dari tempat kost Mbak."
" Baiklah Mbak, saya akan segera ke sana." ucap Rania sembari memutus sambungan bicaranya dengan mbak Uti, mbak Uti pun kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kembali dia duduk di kursi ruang tunggu yang ada di ruangan UGD sambil menunggu informasi dari dokter yang menangani Rania.
" Ada apa Tania? kenapa terlihat terkejut kayak gitu?" tanya Bu Ayu Mamahnya Tania.
" Mah, Tania mau menemui Rania dulu, Mamah di sini aja dulu sebentar ya." Ucapnya pada sang Mamah, Dia tidak ingin mengatakan kepada sang Mamah tentang kejadian yang menimpa Rania.
" Oh ya kalau perlu antar dulu Rania pulang ke rumah ya, kalau dia mau ikut ke sini bawa aja ke sini." ucapnya, Bu Ayu tidak mengetahui kalau Rania berada di rumah sakit mengalami kecelakaan.
Tania hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia tergeser-gesa meninggalkan Mamahnya di tempat keluarganya yang mengadakan acara, setengah berlari Dia menuju ke arah mobilnya dan perlahan-lahan mobil itu pun meninggalkan rumah keluarganya tersebut dengan kecepatan sedang dia melaju menuju ke arah Rumah Sakit Indah Permata yang sedikit jauh dari rumah keluarganya tersebut.
Dia pun kemudian menghubungi William melalui ponsel pribadinya.
" Halo Tania ada apa?"
" William, Rania mengalami kecelakaan sekarang berada di rumah sakit indah permata kamu segera ke sana ya, aku dalam perjalanan menuju ke rumah sakit itu." ucap Tania langsung mematikan ponselnya dan fokus kembali dengan jalanan yang sedikit ramai dengan kendaraan hilir mudik.
" Apa? kecelakaan?" ucap William Tapi sayangnya sambungan itu sudah terputus dia menatap ke arah layar ponselnya, mendengar William berbicara kecelakaan Devan yang berada di meja kerjanya itu pun langsung menatap ke arah William, William juga menatap ke arah Pak Bosnya itu dia kemudian berjalan melangkah mendekati Pak bosnya.
" Pak Bos sekarang kita berangkat ke rumah sakit indah permata, karena Rania mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit itu."
Mendengar ucapan dari William Devan pun langsung berdiri dan meraih ponselnya serta jas yang menggantung di kursinya itu dia pun langsung keluar meninggalkan William yang belum selesai berbicara padanya,
" Pak Bos tunggu!" ucapnya sambil setengah berlari mengejar langkah Devan.
Devan kemudian turun ke lantai lobby dia pun kemudian memasuki mobil pribadinya diikuti dengan William, dengan menyetir sendiri dia pun terus melaju menuju ke arah rumah sakit yang sudah disebutkan oleh William.
" Pak Bos, Pak Bos.... jangan terlalu cepat Pak Bos, jalanan ramai sekali, saya masih muda pak bos, saya belum menikah, saya juga belum memiliki kekasih, orang yang saya tunggu selama ini baru saja ketemu pak bos." oceh William sambil berpegangan, karena Devan mengendalikan mobil pribadinya itu dengan kecepatan tinggi, dia tidak menghiraukan ocehan dari William, sesekali mobil Mereka pun menyelip mobil yang lain tapi dengan gesit dan lincahnya Devan mengendalikan stir mobilnya tersebut, beberapa saat kemudian mereka sampai dengan selamat di rumah sakit indah permata, William pun mengurut dadanya begitu lega karena sudah sampai dengan selamat.
__ADS_1
" Astaga! hampir saja... hampir saja aku mengantarkan diriku sendiri ke rumah sakit." ucapnya.
Kemudian Depan turun dan tidak menghiraukan William yang masih berada di dalam mobil. William turun sendiri saat turun dari mobil kepalanya terasa pusing dan langsung saja dia menumpahkan isi perutnya di dekat parkiran mobil tersebut.
" Ya ampun... Pak Bos ini panik banget sih, sampai nggak menghiraukan anak buahnya yang ketakutan dan berakhir dengan pusing kepala muntah deh!" ucapnya sembari sempoyongan menuju ke arah ruang UGD.
Saat sampai di ruang UGD Devan melihat Vino yang sedang duduk di ruang tunggu UGD tersebut, pikiran depan pun langsung mengira kalau Vino lah yang menabrak Rania, dia pun kemudian mendekati Vino dan langsung menarik Vino keluar ruang itu, Vino terkejut karena kedatangan Devan.
Vino melepaskan genggaman tangan Devan dari tangannya.
" Apa-apaan kamu Dev, kenapa kamu langsung menarik aku seperti ini, ada masalah apa denganmu, kalau masalah perusahaan, Kamu tidak usah membawanya ke sini, ini rumah sakit Broo! Aku tidak ingin bertengkar denganmu!!" ucap Vino sembari matanya menatap Devan, Begitu juga Devan menatap Vino dengan lekat.
" Kenapa kamu ada di rumah sakit ini? apakah kamu yang telah menabrak Rania?"
" Apa maksudmu? Rania?"
Kemudian William menghampiri mereka berdua.
" Begini Pak Vino, Rania yang katanya mengalami kecelakaan baru saja yang dimaksud oleh Pak Devan adalah Rania itu."
" Oh Rania itu, dia masih ditangani di dalam oleh dokter, asal kamu tahu ya Dev, bukan aku yang menabrak Rania, tapi aku kebetulan lewat dan Rania tergeletak di jalan bersama dengan Mbak itu yang sedang duduk di kursi itu, Mbak itulah yang memberhentikan mobilku untuk membawa Rania ke rumah sakit, menurut cerita dari dia Rania mengalami kecelakaan ditabrak oleh dua orang dalam satu motor, tapi mereka tidak bertanggung jawab."
Devan menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya sembari meletakkan tangannya dipinggang dan satu tangannya mengusap wajahnya dengan pelan.
" Maafkan aku Vin, karena sudah curiga padamu, terima kasih sudah membawa Rania ke rumah sakit." ucapnya dianggukan oleh Vino Dia kemudian menjauh dari Vino tanpa bersuara apa-apa, Dia kemudian mendekati Mbak Uti.
Tania yang baru datang dari rumah keluarganya itu pun langsung memarkirkan Mobilnya di sebelah mobil Devan, Dia turun dan berlari menuju ke arah UGD, dia melihat William yang sudah berada di ruangan UGD yang sedang berbicara dengan seseorang.
" Will, bagaimana keadaan Rania?"
" Aku juga baru nyampe, tidak tahu keadaannya, Rania masih di dalam, yang lebih jelas lagi katanya sama Mbak itu." Ucap William sembarai menunjuk kearah Mbak Uti.
" Oh ya, aku kenal dengan Mbak Uti, bentar ya aku bicara dulu sama Mbak Uti." ucapnya sembari mendekati Mbak Uti yang sedang berbicara dengan Devan.
__ADS_1