
Beberapa saat kemudian mobil mewah itu pun berhenti di depan rumah pribadi Rania yang memang sudah ditinggal Rania beberapa bulan yang lalu
Sebelum keluar Devan menatap rumah Rania tersebut rumah Rania memang terlihat sangat sederhana tapi memiliki halaman yang sangat luas mobil mewah Devan hanya berhenti di depan pintu pagar rumah Rania, Ibu Rina dan Sarah mengetahui ada sebuah mobil mewah yang berhenti di depan rumahnya tersebut langsung saja keluar dan berdiri di teras rumahnya itu.
" Wow!! Pasti orang kaya itu Bu, tapi siapa mereka Bu? mobilnya mewah banget pasti itu orang kaya tujuh turunan kekayaannya tidak bakal habis." Ucap Sarah terkesima dengan mobil mewah yang berhenti didepan rumahnya itu.
" Iya benar kata kamu, itu sepertinya orang kaya siapa ya?"
" Jangan bilang di dalam mobil itu ada Rania dan dia cuma mau memamerkan kekasih barunya, secara gitu Bu dia berada di kota pasti sudah kehidupannya bebas luar biasa."
" Bener banget, ibu juga tidak ingin Rania kembali ke rumah ini lagi dan memamerkan barang bawaannya." ucapnya.
Kemudian Devan keluar dari mobil dengan dibukakan pintu oleh William dan Rico juga mengikuti mereka untuk keluar dari mobil tersebut.
Depan kemudian merapikan jas yang dipakainya dia pun kemudian melangkah menuju ke arah mereka berdua diikuti oleh William dan Rico.
" Ibu, bukankah itu Rico Anak pak haji Amir, jangan-jangan itu adalah temannya Rico lagi, untuk apa dia bawa kesini mereka?" ucap Sarah dengan rasa penasaran tingkat dewanya.
Bu Rina hanya terdiam...
" Ya ampun Bu ganteng banget Bu." ucap sarah mengagumi Devan.
" Melebihi gantengnya dari Mas Baron, Sarah mau dong Bu jadi pacarnya, ataupun jadi simpanannya."
" Huus! diam kamu! kita tidak tahu ada urusan apa mereka menemui kita, jangan-jangan dia ke sini mau menangkap kita lagi, bisa saja Rania berbicara yang nggak-nggak di kota, kita kan tidak tahu sekarang keberadaan Rania di sana, kita minta uang berapapun pasti saja dia berikan pada kita, kamu pikir aja uang dari mana itu kalau tidak mengerjakan hal-hal di luar nalar." ucapnya.
" Iya juga sih, bener juga tapi ini ganteng banget Bu...." ucapnya klepek-klepek karena melihat ketampanan Devan yang berjalan menuju ke arah mereka.
" Selamat siang Ibu."
" Siang Bapak, maaf ada keperluan apa ya datang ke gubuk kami ini, silakan masuk Pak."
" Tidak Bu, biar kami duduk di sini aja." ucap Devan, Mereka pun langsung dipersilakan duduk di teras.
__ADS_1
" Begini Bu Rina, ini adalah Pak Devan dan ini adalah Pak Wiliam, mereka datang ke perkampungan kita ini ingin mencari sebuah rumah yang mau dijual dan ingin dibeli oleh mereka, karena saya mendengar kemarin kalau rumah Ibu ini mau dijual Jadi mereka kebetulan datang kepada saya dan saya pun langsung membawa ke tempat Ibu, apakah masih berlaku rumah Ibu ini mau dijual.?" Tanya Rico.
" Oh iya, iya rumah ini mau saya jual." Jawab Bu Rina terlihat senang.
" Berapa Ibu mau menjualnya?" tanya Depan santai tanpa menatap Sarah yang terus menatapnya.
" Dua ratusjuta."
" Dua ratus juta, apakah saya bisa melihat surat-surat rumahnya?"
" Oh iya sebentar,Sarah..." tegur bu Rina, namun Sarah terus menatap Devan dia tidak menghiraukan panggilan Bu Rina.
" Sarah... Sarah!!" dua kali Bu Rina memanggil Sarah tapi tidak dihiraukannya juga, Bu Rina tersenyum pada tamunya.
Kemudian Bu Rina pun mencubit pelan anaknya itu.
"Auw! Sakit ibu, ada apa sih Bu." ucapnya.
" Kamu jangan bikin malu ibu di depan para tamu kita, Ibu tidak ingin kamu dibilang perempuan yang tidak benar dengan menatap orang sangat seperti itu." ucapnya berbisik pada anaknya tersebut.
" Oh ya Bu ada apa?"
" Tolong ambilkan surat-surat rumah ini, Bapak ini mau melihat kelengkapan surat-surat rumah kita."
" Baiklah Bu." ucapnya tapi dia tidak menoleh ke arah ibunya melainkan dia tetap masih menatap Devan yang cuek padanya.
" Idih!! kamu salah alamat Neng... karena laki-laki yang kamu tatap ini sudah memiliki hati di sana, kamu telat Neng..." ucap William dalam batinnya sembari mencibir karena melihat tingkah polahnya Sarah yang seperti cacing tanah kepanasan.
Kemudian Sarahpun melangkah masuk ke dalam, beberapa saat kemudian Sarah kembali dengan sertifikat rumah tersebut dia pun kemudian memberikan kepada sang ibu, dan bu Rina mengambil sertipikat tersebut dan diberikannya pada Devan.
" Ini pak sertifikatnya, sertifikat itu masih atas nama suami saya almarhum."
Devan kemudian mengambil sertifikat rumah itu dan melihat-lihatnya dia sebenarnya tidak terlalu melihat sertifikat itu milik siapa yang dia inginkan adalah rumah itu harus menjadi hak miliknya, karena dengan cara ini dia bisa menarik Rania bersamanya untuk memenuhi keinginan Mama tercintanya.
__ADS_1
" Baiklah dua ratus juta." Ucap Devan dan dianggukkan Bu Rina.
Kemudian Devan pun menoleh ke arah William dan William mengangguk tanda mengerti apa keinginan Bosnya itu.
" Maaf Ibu bisa meminta nomor rekeningnya? kami akan bayar secara cash tapi sebelumnya apakah sertifikat ini lengkap dan tidak ada permasalahan nantinya di saat rumah ini sudah menjadi hak milik Bos saya."
" Oh ya rumah ini tidak ada bermasalah."
" Ibu berani jamin apakah rumah ini tidak bermasalah suatu hari nanti dengan anak ibu ataupun anak ibu yang lainnya."
" Tidak ada anak saya cuma ini, memang masih ada anak saya tapi saat itu anak saya sudah pergi karena itu adalah anak tiri saya, Anak almarhum suami saya, tapi karena ulah dia yang sangat menyakiti hati saya jadi dia meninggalkan rumah ini tapi saya tidak tahu kabar beritanya lagi di mana, tapi rumah ini sudah sah diberikan Almarhum suami saya pada saya, jadi saya memang ingin menjualnya."
" Setelah Ibu menjualnya nanti apakah ibu akan segera meninggalkan rumah ini secepatnya."
" Iya saya akan segera meninggalkan rumah ini."
" Baiklah Ibu sebelum saya mentransferkan uangnya ke rekening Ibu saya minta dengan ibu cepatlah berkemas dari rumah ini karena rumah ini saya percayakan dengan teman saya Rico untuk mengunci rumah ini, karena rumah ini akan kami renovasi kembali dan tidak ada hak sama sekali ataupun permasalahan di lain hari karena kalau seandainya ada permasalahan yang timbul, ibu yang akan bertanggung jawab dan berhadapan dengan pihak yang berwajib."
" Ya Pak rumah ini tetap saya akan jual."
" Baiklah kalau seperti itu Ibu, saya minta nomor rekeningnya sekarang."
Kemudian Ibu Rina pun memberikan nomor rekeningnya dan beberapa saat kemudian uang yang dijanjikan itu pun masuk ke rekeningnya, Mereka terlihat sangat senang setelah mengetahui notif kalau rumah tersebut sudah dijual tidak memakan waktu lama sertifikat rumah itu pun dibawa oleh Devan dan mereka pun kemudian melangkah meninggalkan rumah tersebut menuju ke rumah Rico, sebelum mereka meninggalkan rumah Rico William pun berpesan kepada Rico untuk sementara waktu menjaga rumah tersebut sementara mereka berada dikota.
Dengan senang hati Rico pun mengangguk untuk membantu sahabatnya tersebut.
" Ayo nak, cepat kita berkemas dan kita kembali ke rumah kita, biarkan saja Rania suatu saat nanti datang ke rumah ini dan dia sudah tidak ada hak lagi dalam rumah ini, dua ratus juta, Sarah bayangkan dua ratus juta, kapan lagi kita memiliki uang sebanyak dua ratus juta, kamu tahu penjualan harta dari almarhum Ayah tirimu tidak sampai ratusan juta kita menjualnya, barulah rumah ini kita mendapatkan dua ratus juga." Ucap Bu Rina kegirangan dengan uang dua ratus juta tersebut.
" Benar banget mah, bener banget, Sarah ingin berbelanja dan mempercantik diri sarah, agar bang Baron tetap mencintai sarah dan tidak akan pernah meninggalkan Sarah, tapi Sarah tidak bisa menghilangkan wajah tampan pak Devan itu Mah, karena dia sangat ganteng banget."
" Udah! kamu nggak usah memikirkan itu, suatu saat nanti kalau kamu sudah mempermak kecantikan kamu kamu bisa mendapatkannya, kamu bisa ke kota dan mencari tahu dia sedikit demi sedikit kamu pasti akan mengenalnya dan mendapatkan cintanya disitulah kamu akan menjadi seorang wanita terkaya." ucapnya sembari tertawa
Kemudian mobil Devan pun meninggalkan rumah Rico menuju kembali ke kota Devan menghela nafasnya dengan dalam dan dia pun tersenyum sembari menepuk-nepukkan jari tangannya ke sertifikat rumah Rania yang sudah berada di tangannya itu.
__ADS_1
William pun merasa bahagia karena rumah Rania sudah jatuh ditangan orang yang tepat.