Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#30 Identitas Yang Terungkap


__ADS_3

Devan yang melajukan mobilnya menuju kearah Rumah Sakit itupun tidak terlalu lama sampailah dia di halaman parkir rumah sakit, karena sudah menghubungi William, Devan dengan langkah santainya menuju arah William yang menunggunya di depan pos penjagaan, dengan langkah beriringan mereka langsung menuju ruangan dimana Rania dirawat.


" Bagaimana sekarang keadaan Rani?"


" Keadaannya baik Bos, dan dia juga tadi terkejut lihat saya dan mata dia mencari-cari pak Bos kayanya, mungkin karena ada saya pasti ada pak Bos, tapi dia tidak menemukan pak Bos di ruangannya itu, tapi ngapain sih Bos kesini, ini sudah jam tiga pagi kok Bos, hampir jam empat subuh." Ucap William sembari melihat jam tangannya.


" Udah! Jangan banyak tanya, aku cuma ingin meihat langsung keadaan Rania memastikan aja kalau kamu itu benar-benar menjaganya."


William tersenyum.


" Mamah Ada menghubungi kamu nggak?"


" Ada Bos, tapi tenang aja saya bilang sesuai kata-kata Pak Bos, saya tidak mengatakan apa-apa pada Ibunda Ratu." Ucapnya.


" Bagus!" Ucapnya sembari menepuk pundak William.


Sesampainya mereka diruangan itu, mereka berdua memasuki ruangan itu,terlihat Tania yang sedang tertidur dan terlihat Rania yang sudah bangun dari tidurnya dia terkejut melihat Devan yang berjalan kearahnya.


" Aduh! Kenapa Bos Manja ini datang pagi-pagi sekali sih! Apa nggak tidur ya dia ini semalaman." Ucap Rania seraya menarik selimutnya dan menutupi wajahnya itu.


" Udah, Nggak usah ditutupi segala wajahnya karena saya tahu kamu sudah bangun."


Rania tersenyum malu karena sudah kepergok Devan kalau dirinya sudah bangun.

__ADS_1


" Kenapa Anda kesini pagi-pagi sekali sih?" Ucapnya sembari menatap kearah Devan.


" Saya kesini hanya ingin melihat keadaan kamu secara langsung, karena takutnya kamu kenapa-napa, Ntar gagal lagi kamu kerja denganku." Ucapnya dengan tangan bersendekap seakan-akan tidak peduli dengan keadaan Rania sekarang ini.


" Setelah kamu keluar dari rumah sakit nanti kamu langsung pulang kerumah saya, tidak ada pengecualian." Ucap Devan seraya menatap wajah Rania yang terkejut.


" Hah! Kenapa begitu cepat sekali sih?"


" Ini tidak terlalu cepat, ini sudah ketentuan dalam kontrak kerja yang sudah kamu tandatangani tidak bisa dirubah lagi."


" Tapi, sayakan masih dalam masa pemulihan tidak bisa juga langsung kerja, masa iya baru keluar rumah sakit langsung kerja sih! Itu sama aja penyiksaan namanya!" Ucapnya seraya protes pada Bos Manjanya itu.


" Tidak ada tapi-tapian!" Ucap Devan.


" Ish! Dasar Bos kejam dan manja, sudah dilihat dengan matanya sendiri kalau aku keadaannya seperti ini dan di Ultimatum lagi setelah keluar rumah sakit langsung lanjut kerja! Sungguh bos keterlaluan! Hidup Noh di jaman purba sana." Ucap batin Rania sembari mencibir dibalik selimutnya yang melindungi mulutnya itu, sedangkan Devan langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum tersembunyi. Kemudian dia mengambil ponselnya, dia melihat ada chat pribadi dari Arka dan langsung saja dia membacanya, beberapa saat kemudian diapun langsung menghubungi Arka yang langsung membuat William terkejut karena sang Bos berpamitan dengan William, saat dia ingin ikut Bosnya itu ditolak sang Bos, dan dia masih disuruh stanbay diruangan Rania, setengah berlari Devan langsung menuju parkiran mobil dan memasuki mobilnya itu langsung menuju kearah rumah Arka dimana sudah berada pelaku penabrak Rania.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Devan sampai di depan rumah Arka Devan bergegas turun dari mobilnya tersebut menuju ke arah rumah Arka yang pintunya sudah terbuka dengan lebar, dia langsung masuk ke dalam rumah tersebut di mana ada dua orang yang sudah duduk di ruang tamu itu Arka dan lelaki yang ada di dalam foto tersebut.


Terlihat muka Devan memerah menahan amarah melihat laki-laki yang sudah mencelakai Rania wanita yang sudah mulai disukainya itu, Devan pun langsung duduk di samping Arka.


" Nah ini Devan yang mengetahui tentang Rania yang masih kamu carikan si Rania itu, seperti apa yang kamu ceritakan padaku waktu itu dan saat kita berada di klub malam." ucap Arka sembari menepuk pundak Devan dengan pelan, lelaki yang ada didepan mereka itu pun menganggukkan kepalanya.


" Ada hubungan apa kamu dengan Rania, sehingga kamu jauh-jauh mencari Rania sampai ke sini?" tanya Davin.

__ADS_1


" Ada masalah besar aku sama Rania, kami berasal dari desa yang sama, Rania tinggal dengan kedua orang tuanya kala itu, terus bapaknya meninggal dunia dan Rania tinggal dengan keluarga tirinya."


" Aku bertanya masalah apa bukan tentang keterangan dia saat tinggal di desa."


Terlihat wajah Devan mulai memerah menahan emosinya, melihat tangan Devan mengepal Arka pun langsung memberikan kesabaran pada Devan dengan menepuk pelan pundak Devan kembali.


" Dia sudah menghianati aku, dia pergi meninggalkan ku setelah aku habis-habisan berkorban untuknya yang selama ini aku berikan padanya dan dia malah pergi ke kota, membuat aku sakit hati."


" Setahu aku Rania tidak memiliki kekasih, bahkan dia yang diperbudak oleh ibu tiri dan kakak tirinya itu!" Ucap Devan membuat Arka terkejut dan menatap kearah Devan, kemudian dia menatap kearah lelaki itu sembari bersuara.


" Baron, kamu sudah berapa lama mengenali Rania?" Tanya Arka.


" Sudah lama.." ucapnya tersenyum.


Devan baru menyadari kalau Baron adalah kekasih dari kakak tirinya Rania yang dulu pernah diceritakan William padanya. Wajah Devan pun langsung Marah dengan gigi yang mengeletak, karena sudah tahu kebohongan Baron.


Tanpa disadari Devan dan Baron Arka sudah menghubungi temannya yang bertugas di kantor polisi, dan mengatakan pada temannya itu melalui chat pribadinya, Baron terus bercerita dengan Devan tentang kejahatan Rania yang tidak pernah dilakukan Rania, yang hanya dibuat-buat Baron saja, sampai akhirnya Devan tidak terima dengan ucapan Baron tentang Rania yang dikatakannya sudah pernah tidur dengannya, dengan emosi yang sudah tidak terkontrol lagi Devan langsung saja berdiri dan melayangkan tinjunya diperut Baron, Baron yang tidak mengira dapat kiriman bogem mentah itu pun langsung terkejut, begitu juga Arka yang tidak mengira kalau Devan semarah itu.


" Awww!! Apa-apaan ini? Kenapa kamu marah mendengar kalau Rania pernah tidur denganku!"


" Sekali lagi kamu ngomong seperti itu dengan wanitaku, kamu akan merasakan akibatnya! " Ucap Devan, membuat Arka dan Baron terkejut dan dia pun hendak berdiri namun langsung didorong Devan dengan keras, sehingga dia terjungkal dari tempat duduknya kesamping, kesempatan itu dimanfaatkan Baron untuk lari, tapi sayangnya saat sampai didepan pintu, dia langsung disambut oleh beberapa anggota polisi.


" Hey! Mau kemana kamu?" Ucap salah satu dari anggota tersebut dan langsung saja menancapkan borgolnya ditangan Baron.

__ADS_1


" Ada apa ini? Salah saya apa?kenapa saya ditangkap?" Ucapnya dengan perasaan bingungnya, dia tidak sadar kalau dirinya itulah yang menyebabkan Rania masuk Rumah Sakit.


" Kamu tidak sadar hah!! Kamu ingat kejadian kemaren sore kamu menabrak Rania hah!!" Ucap Devan sembari mendorong Baron dengan kencang, membuat Baron mundur beberapa langkah, dia hanya terdiam kemudian mereka membawa Baron kekantor polisi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya itu.


__ADS_2