
Kemudian William mengirimkan copy rekaman melalui ponselnya tersebut ke Bu Mellany.
Dan disaat Ibu Mellany melihat ke video tersebut, dia terlihat sangat senang sekali dan tersenyum bahagia, dia juga berulang-ulang kali memutar rekaman itu. Karena melihat ibunya tersenyum Lana pun mendekatinya dan duduk disamping ibunya itu.
" Kenapa mamah tersenyum-senyum begitu? ada apa Mah? apa ada yang membuat mamah sangat bahagia sekali dengan mamah melihat layar ponsel mamah?" tanya Lana sembari menengok kearah layar ponsel Bu Mellany.
" Mamah sangat senang sekali hari ini, mamah mendapatka kiriman video dari William "
" Emang video apa mah..?" Tanya Lana ingin tahu apa yang ada didalam Video itu.
" Nih lihat, kakak kamu sekarang sudah ada yang bisa melawan dan meluluhkan gunumg Esnya itu, walaupun terlihat cuma kesalah pahaman sedikit, tapi karena kesalah pahaman itu dia tidak marah dan tidak menjawab atau menentang serta mengusir gadis itu, padahalkan yang salah itu si gadis ini, kalau mamah lihat dari adekan romantis ini." ucap Bu Mellany tersenyum.
" Iya ya mah, wow aku juga sangat bahagia mah karena kakak sudah ada yang bisa membantahnya, kakak kan terkenal dengan sikap dinginnya dan kata-katanya juga tak bisa terbantahkan." sambung Lana tersenyum sembari memperhatikan video tersebut.
" Mamah besok akan balik ke Indonesia."
" Ikut mah, Lana juga udah libur selama satu bulan kok."
" Bener?"
" Iya Mah, tadi Lana mau bilang ke Mamah tapi karena Mamah terlihat sangat sibuk dengan ponsel, makanya Lana mau bilangnya nanti aja." ucapnya sembari memberikan kembali ponsel ibunya itu.
" Ya udah kalau gitu kemasi barang kamu gih." ucapnya tersenyum seraya menyuruh sang anak berkemas, dan dianggukkan Lana.
" Sekalian punya mamah ya, mamah mau pesan tiketnya lewat aplikasi aja biar cepat."
" Ok mah." ujar Lana beranjak dari tempat duduknya dan dia pun langsung saja mengemasi barang seperlunya saja untuk dia kembali keindonesia.
Saat ibu Mellany mau memesan tiket pesat melalui ponselnya dia dikejutkan dengan telpon William.
" Ada apa Will?"
" Ibunda ratu, soal video itu, jangan bilang-bilangkan ya nanti dengan bos Devan karena Willi takut kala dia nanti marah, ibunda Ratu kan tahu bagaiman Bos Devan..."
__ADS_1
" Iya....kamu tenang aja Wil, tidak akan ibu bilang dengan dia, kalau ibu bilang sama aja ibu mengorbankan kamu, karena kamu sudah baik banget sama ibu mau memberikan cuplikan video rekaman itu dan akan ibu cari tahu dulu tentang si wanita tersebut, ibu jadi suka sama gadis itu, karena dia terlihat sangat energik." ucapnya sembari tersenyum.
" Baiklah ibunda ratu, Willi akhiri dulu ya karena sebentar lagi bos Devan akan datang."
" Oke wil, tapi jangan bilang juga sama dia kalau ibu besok akan pulang ke indonesia, dan anggap saja kamu nggak tahu kalau ibu pulang ya."
" Siap! ibunda ratu.." ucap William, sembari sama-sama menutup sambungan ponselnya.
" Akhirnya anak ku akan mendapatkan jodohnya, aku akan menyelidiki siapa gadis itu karena aku sudah terlanjur suka dengannya." ucap Bu Mellany sembari tersenyum dan kembali melihat sebuah aplikasi yang menjual tiket pesawat secara online.
*****
Devan yang sudah sampai dikantornya langsug saja melangkahkan kakinya menuju kearah lift dan langsung naik menuju lantai tujuh dimana ruangannya itu berada, sebelum dia masuk diapun langsung memasuki ruangan William yang terbatas dengan sebuah kaca saja antara ruangannya dan ruangan pribadinya dikantor tersebut.
William terkejut melihat Devan masuk, Devan langsung menegurnya karena melihat sekretarisnya itu tersenyum sendiri sembari melihat layar Aipednya yang ada ditangannya itu.
" Apa yang kamu lihat sehingga kamu tersenyum seperti itu?" tanya Devan sembari melangkah mendekatinya kearah mejanya, karena dalam posisi terkejut dia salah pencet tombolnya yang harusnya kembali kelayar utama, dia malah memencet hapus.
" Apa yang kamu lihat?" tanyanya sekali lagi, William pun tersenyum
" Tidak ada bos, karena dari tadi lagi chatan dengan pacar saya bos,"
" pacar ?"
iya bos,lebih tepatnya clon pacar." ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari berdiri dari duduknya, dan Devan menatapnya dengan kedua tangan disaku celanaya, dia menatap William dengan penuh tanda tanya besar dikepalanya.
" Sejak kapan kamu punya pasar? setahu aku kamu nggak laku." Ucap devan dengan wajah dinginnya.
" Hehehehe...sama bos kitakan sebelas dua belas, canda bos, sayakan nggak mau kaya bos, hanya kerja, kerja dan kerja, saya kan perlu penyegaran bos, ya dengan mengenal seorang wanita akan membuat hati kita berbunga-bunga dan menambah awet muda." ucapnya dengan gayanya yang mendayu-dayu layaknya pujangga yang sedang merangkai kata.
"Hadeh!! gaya kamu Wil, bukannya awet muda tapi awet tua, ya udah terserah kamu aja, aku kesini hanya bilang pada kamu, besok ada seorang wanita bernama....haduh! lupa aku namanya."
" Memang siapa?" Tanya William menatap sang Bos.
__ADS_1
" Anaknya Client yang baru saja aku temui, dia mau aku yang membimbing dia dikantor ini."
" Memang bos mau membimbing seorang wanita, setahu saya bos nggak mau kalau ada cewek disamping bos, kecuali bos sudah menyukainya."
Devan mendelik kearah William dan dia pun langsung berbalik arah sembari berbicara tanpa melihat si sekretarisnya itu.
" Aku tidak suka dengannya kecuali..." Devan menggantung kalimatnya dan menatap William.
" Kecuali apa Bos." sambung William...
" Sudah lupakan saja, aku mau melanjutkan pekerjaan ku."
" Tapi bos, siapa wanita itu namanya?"
" Sintya..." ucapnya sembari berlalu dari hadapan William...
" Sintya? kayaya aku pernah dengar deh nama tu, tapi dimana ya, ? tapi apa yang ingin dikatakan bos tadi sampai dia menggantung kalimatnya sendiri, mungkin saja dia teringat cewek yang tadi ya, yang ada didalam video rekaman CCtv itu ya hehehehe..."ucap William sembari tersenyum dan kemudian dia duduk lagi, membuka kembali video tersebut, dia terkejut.
" Astaga! kenapa aku hapus sih, haduh, menstranfer ulang lagi nih...aduh William! kenapa sih kamu teledor banget sih, tapi untung saja aku hapus, aman untuk sementara heheheh." ucapnya sembari mengirim kmbali file yang diperlukannya itu.
Dikedai kopy milik Tania, setelah terlihat sepi dan hanya beberapa orang saja yang datang dan dilayani yang lain, Tania mencari sosok Rania yang tidak terlihat, diapun langsung bertanya pada salah satu karyawannya, karyawannya itupun mengatakan kalau Rania berada duduk disamping kedainya seorang diri, Tania pun langsung melepaskan celemeknya dan langsung saja berjalan mendekati Rania yang duduk seorang diri, sekilas dia melihat Rania berpikir sesuatu yang sangat rumit, Tania mendekati Rania dan duduk disampingnya, Rania terkejut dengan kehadiran Tania disampingnya, diapun tersenyum dan dia langsung menggeser duduknya karena posisi Rania duduk dikursi panjang samping Kedai, sembari menikmati angin semilir yang menyejukkan dan terhin dari sengatan matahari siang, Rania dan Tania kadang-kadang betah berada disamping kedai tersebut.
"Ran,,, bagaimana tadi interviwnya, kamu belum cerita sedetailnya padaku."
" Udahlah nggak usah dibahas, karena aku juga sudah membatalkan interviwnya."
" Apa? kamu yang membatalnya, yang benar aja, kamukan calon karyawan, kok bisa kamu yang membatalkan interviw kamu sendiri hahahaha..." ucap Tania tertawa lepas,
" Iya, aku yang batalkan karena aku tidak ingin bekerja dengan bos yang tak bertanggung jawab seperti itu." ucapnya.
" Iya aku tahu kalau calon bos kamu itu tidak bertanggung jawab, tapi yang membuat aku lucu itu kok kamu yang membatalkannya, karena setahu aku bos yang berwenang, apakah lanjut interviw atau nggaknya, hahahahaha..." terdengar kembali tawa lepasnya Tania.
Rania hanya terkekeh, walaupun dia punya pikiran yang rumit tentang kakak dan ibu tirinya yang mengharuskan dia mencari uang untuk mereka, tapi dia masih bisa tersenyum dan tertawa dengan Tania teman, sahabat sekaligus bosnya itu.
__ADS_1