Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#50 Suamiku Sayang


__ADS_3

#50 Suamiku Sayang 🥰


Rania kemudian berdiri dari duduknya dia lalu menarik pelan tangan Devan membawanya keluar dari kamar Tania.


Didepan pintu kamar Tania, Rania berbicara dengan Devan.


" Pak Devan, bisakah saya tidur di sini menemani Tania, karena Tania adalah sahabat saya, dia selalu ada untuk saya, di saat saya sedih, senang dan sekarang di saat dia mengalami kesedihan, Saya ingin berada di sampingnya." ucapnya sembari menatap Devan dengan tatapan mata nanarnya penuh harap agar diperbolehkan oleh Devan menginap di rumah Tania, karena saat ini Tania membutuhkan dirinya.


Devan hanya mengelan nafas panjangnya sembari menatap Rania dengan lekat, Devan sengaja tidak menjawab langsung pertanyaan Rania dia hanya menatap Rania dengan tatapan tajam romantisnya membuat Rania salah tingkah.


" Tolonglah Pak Devan, izinkan saya tidur di sini, satu hari ini aja." ucapnya sembari dengan wajah memelasnya.


" Hmmmm, kalau aku memperbolehkan kamu menginap di sini untuk menemani Tania apa imbalan untukku.?" ucap Devan dengan santainya.


" Hah?! imbalan? saya harus memberi imbalan pada Anda agar Anda mengizinkan saya menginap di rumah Tania ini? tidak masuk akal!" ucap Rania dengan wajah merengutnya.


" Harus ada timbal baliknya dong, Kamu kan bekerja denganku dan kamu juga harus seijinku mau pergi kemanapun, ingat! tentang surat kontrak kerja yang sudah kamu tandatangani itu." ucap Devan masih dengan posisinya dengan kedua tangan berada di saku celana kiri dan kanan sembari menatap lekat Rania.


Rania mendengus dengan kesal, sembari memalingkan wajahnya ke arah lain dengan kedua tangannya bersedekap didada, Devan melihat ulah Rania itu dia pun tersenyum.


" Baiklah, kamu boleh menginap di sini." ucapnya menatap Rania, karena dia tidak tega melihat Rania yang ingin berada di samping sahabatnya yang sedang mengalami kesedihan itu.


Rania pun sontak merasa bahagia dan dia langsung menatap ke arah Devan dengan senyuman sumringahnya


" Eitt...! jangan senang dulu."


" Huh apalagi sih, jelaslah saya senang, karena saya bisa berada di samping sahabat saya yang saat ini perlu kehadiran saya." ucapnya lagi-lagi Rania menatap wajah Devan dengan penuh keheranan.

__ADS_1


" Mana ponselmu?"


" Ada, tapi untuk apa?"


" Berikan padaku."


Rania pun hanya menuruti apa kata Devan, Dia kemudian menyerahkan ponselnya itu, Devan langsung mengambil ponsel dari tangan Rania dan melepas sim card yang ada di dalam ponsel tersebut Rania terkejut.


" Loh! kenapa dilepas? kalau saya mau menghubungi Anda bagaimana?"


Tapi tidak ada jawaban suara dari Devan saat Rania bertanya seperti itu, Devan kemudian merogoh saku celananya dan mengganti sim card Rania dengan yang baru.


" Kenapa diganti.?" lagi-lagi Rania bertanya.


" Karena ini untuk kebaikanmu,Aku tidak ingin Vino menghubungi kamu ataupun meneror kamu di nomor lamamu ini, di dalam sim card yang baru ini semua sudah tertera nomor semua yang bisa kamu hubungi terkecuali nomor ibu tirimu, kakak dirimu serta Vino yang tidak ada di dalam sim card baru kamu ini." ucapnya sembari memberikan kembali ponsel Rania.


Devan melihat reaksi Rania saat melihat nomor pribadinya di dalam sim card baru Rania itu hanya tersenyum


" Kamu jangan terkejut, karena aku memang adalah suamimu!"


" Masih calon! tapi itu juga hanya dijalani atas dasar surat kontrak yang sudah ditandatangani,entah! sampai kapan berakhirnya." ucap Rania seraya menatap ke arah Devan, Devan tersenyum dengan ucapan Rania, Rania lagi-lagi mendengus dengan kesal.


" Jangan sekali-kali kamu menghapus nama kontak itu."


" Ya terserah saya dong, Saya mau menghapus atau tidaknya, ini kan ponsel saya, jadi hak saya mau saya kasih nama siapa di dalam ponsel ini, mau saya kasih kecebong kek, mau saya kasih kodok kek,ataupun saya kasih dengan sebutan ular itu suka-suka saya dengan nama itu." ucapnya sembari menatap Devan dengan muka kesalnya.


" Udah! kamu jangan cerewet, kalau cerewet lagi,mau kamu aku bawa pulang sekarang?"

__ADS_1


" Oh... jangan-jangan! saya akan tetap di sini menemani Tania."


" Baiklah, saya akan pulang dan akan kembali lagi ke sini mengantarkan pakaianmu."


"Oh... nggak usah, saya masih ada pakaian di sini."


" Baiklah, kalau kayak gitu." ucapnya kemudian dia masuk ke dalam kamar Tania dan berpamitan dengan Bu Ayu orang tua Tania, lalu dia melangkah meninggalkan kamar Tania menuju ke lantai bawah dan terus melangkah menuju ke luar rumah Tania, dengan di iringi pandangan mata Rania yang terlihat tersenyum sambil menatap layar ponselnya yang masih tertera nama yang sengaja dia buat dongkol dihadapan Devan, padahal dia sangat senang sekali diponsel pribadinya itu ada terpampang nama 'Suamiku Sayang' yang berisi nomer pribadi Devan, Beberapa saat kemudian mobil pribadi Devan meninggalkan rumah kediaman keluarga Tania.


Setelah kepergian Devan Rania kemudian memasuki kembali kamar Tania, dia kembali bercerita dengan Bu Ayu, Bu Ayu menceritakan semua yang telah dialami Tania pada Rania, karena Bu Ayu yakin kalau Rania adalah sahabat Tania yang sangat baik, dia tidak akan pernah meninggalkan Tania walaupun kondisi Tania seperti apapun.


" Tante, apakah Tania seperti ini jika seandainya dia mengalami kesedihan, dia selalu melarikannya dengan meminum minuman yang membuat dia tidak berdaya seperti ini?" tanya Rania pada Bu Ayu.


Bu Ayu hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap sang anak yang terlihat tertidur karena sudah tidak berdaya dan dikalahkan dengan minuman yang sudah menguasai dirinya itu.


" Tania tidak pernah melakukan minum terlalu banyak seperti ini, bahkan sedikitpun dia tidak pernah meminum minuman itu, tapi entah kenapa saat ini dia sepertinya sangat terpukul sekali,tante juga tidak tahu apa yang dilakukan Renaldi padanya, sehingga dia melarikan kekesalannya dengan terlalu banyak minum seperti ini." terang Bu Ayu.


Kemudian datang asisten rumah tangga keluarga Tania memberikan air hangat dan sehelai handuk yang memang dipinta oleh Bu Ayu untuk membersihkan wajah anaknya dan mengganti pakaian anaknya itu, dengan dibantu Rania, Bu Ayu mengganti pakaian Tania dengan pakaian yang bersih.


Rania menatap lekat sahabatnya itu dia hanya bisa bergumam.


" Kenapa kamu seperti ini Tania, begitu berat sekali beban yang kamu rasakan saat ini,tapi kamu tidak berbagi padaku, apa karena Renaldi mantan suamimu itu tidak memperbolehkan lagi kamu bertemu dengan anakmu? ya Tuhan semoga ada jalannya agar anak Tania bisa berkumpul kembali dengan Tania."


" Tante tinggal sebentar ya Rania, Tante harus ke kedai, seharusnya Tania hari ini memberikan gaji para karyawannya, Tante titip Tania, kalau terjadi apa-apa dengan Tania, segera hubungi Tante ya " ucapnya sembari melangkah meninggalkan Tania dan Rania di kamar pribadinya Tania, setelah mendapatkan anggukan dari Rania.


Rania hanya menghela nafasnya dengan pelan, Dia menyadarkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar tersebut sembari menatap Rania yang sedang tertidur itu.


Lagi-lagi Rania mengela nafasnya dengan panjang dia pun kemudian berdiri menuju ke arah jendela dia menatap langit sore yang terlihat sangat indah diupuk barat saat matahari tenggelam.

__ADS_1


__ADS_2