Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#66 Kemarahan Pak Hakim


__ADS_3

#66 Kemarahan pak Hakim🌹


Sintya yang dipanggil sang Papah pun memarkirkan mobilnya di depan kantor papahnya tersebut, Dia kemudian turun dan melangkah menuju ke arah lobby untuk bertemu di ruangan sang Papah.


Sintya langsung membuka ruangan tersebut, dia melihat wajah sang Papah yang sangat marah terhadapnya, dia sudah mengetahui kesalahannya tersebut Dia kemudian duduk di depan papanya itu.


" Apa yang kamu lakukan sehingga Devan marah besar padamu!Kalau kamu tidak bisa mendapatkan Devan, lebih baik kamu mundur! karena Devan sekarang sudah menikah, seharusnya kamu sadar jangan membuat kesalahan yang sangat fatal!! kamu sudah mempermalukan Papah, kalau kamu ingin mendapatkan Devan bukan begini caranya dengan menyakiti istrinya, kalau seandainya Devan melaporkan kamu atas tindakan yang tidak menyenangkan, kamu pasti akan merasa rugi sendiri!! Papah malu dengan Devan Sintya!!" ucapnya pada sang anak, Sintya yang mendapat perkataan dari sang Papah itu pun hanya bisa menundukkan kepalanya, entah kenapa dia tidak bisa bersuara sama sekali bila melihat sang papanya marah.


" Maafkan Sintya Pah, Sintya terbawa emosi karena Sintya iri melihat Rania yang dipilih oleh Devan, sedikitpun Devan tidak melirik ke arah Sintya pah, sakit hati Sintya pah, Devan adalah pelabuhan Sintya yang ingin Sintya dapatkan, Tapi sayangnya Devan memilih Rania padahal Rania dan Sintya perbedaannya sangat jauh, bagaikan langit dan bumi, Rania itu anak kampung pah! tidak berpendidikan!!tapi Kenapa Devan sangat menyukainya, sedangkan Sintya memiliki pendidikan yang luar biasa sangat hebat dan bersekolah di luar Negeri, tapi kenapa Devan tidak sedikitpun melirik Sintya, Kenapa pah? kenapa papah memarahi Sintya? padahal Sintya minta dukungan dari papa." ucapnya.


" Tapi tidak dengan cara seperti itu Sintya!! kamu terang-terangan sudah menyakiti istri Devan!! kamu tahu papa mendapatkan suntikan dana untuk perusahaan kita ini dari perusahaan Devan!! kalau seandainya Devan menarik kembali kerjasama ini kita akan rugi sangat banyak sekali!! kamu sudah membuat malu papa Sintya!!" ucap Pak Hakim seraya menatap wajah sang anak.


" Tapi Pah..."


" Sintya, awalnya papa memang mendukung kamu, tapi karena keadaan sekarang berbeda! Devan sudah beristri! kamu harusnya sadar diri karena Devan sudah memiliki seorang istri, kalau Devan memilih Rania Karena itu adalah jodohnya, tidak boleh kamu mengganggunya, jangan sampai kamu terbelenggu dengan cinta kamu yang tidak kesampaian itu!!" ucap papanya sembari berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah jendela dan menatap jauh keluar jendela tersebut, Pak Hakim menghela nafasnya dengan pelan karena dia tidak menyangka dengan perlakuan anaknya seperti itu.


Sintya langsung berdiri dan memeluk papanya dan menangis meluahkan rasa kesedihan, kecewa dan sakit hatinya yang sekarang dia rasakan.


pak Hakim tersentak, dia merasa kasihan dengan anaknya itu.

__ADS_1


emosi Pak Hakim Yang meluap itu pun sedikit mereda setelah mendengar tangisan dari anaknya tersebut.


" Sintya, lebih baik kamu minta maaf dengan mereka sebelum terlambat, kamu harus melupakan Devan karena dia sudah memiliki keluarga yang dia pilih, kamu tidak bisa melawan dikehendak kamu itu, kamu harus melepaskan keinginan kamu kalau sebenarnya Devan bukanlah jodoh kamu, masih banyak laki-laki di luar sana yang pasti mengharapkan cinta dan sayang darimu, laki-laki di luar sana masih banyak yang tulus untuk mencintai kamu, percayalah sama papa." ucap pak Hakim sembari merangkul sang Anak.


Sintya pun kemudian menganggukkan kepalanya.


" Sintya malu pah untuk meminta maaf pada mereka, karena Sintya takut kalau mereka tidak mau memaafkan perbuatan Sintya."


" Sintya lebih baik terlambat minta maaf daripada tidak sama sekali,dan kamu nantinya akan dihantui dengan rasa bersalah yang selama ini kamu berbuat sendiri, papa memang salah, karena telah mendukung kamu untuk kamu harus mendapatkan Devan, Tapi jujur di lubuk hati papa, papa sudah keterlaluan denganmu, seharusnya papa tidak mendukung keinginan kamu untuk mendapatkan Devan, Maafkan papa Nak." ucapnya lagi-lagi Sintya hanya menganggukkan kepalanya.


" Nanti malam kita berkunjung ke rumah Devan, kita berkata jujur padanya dan meminta maaf padanya, baik dengan istrinya ataupun dengan keluarganya, daripada kamu dihantui rasa sakit itu." ucap pak Hakim,dianggukan kembali oleh Sintya.


" Lebih baik kamu istirahat, tenangkan dirimu dan nanti selepas papa pulang kantor papa akan membawamu ke rumah keluarga Devan."


Dirumah Devan...


Mereka yang sudah berada diruang tengah rumah tersebut mulai menceritakan perihal yang terjadi di kantor Dev Group tentang perbuatan Sintya terhadap Rania.


Saat mereka pulang Bu Melany tidak berada di rumah karena Bu Melany masih sibuk dengan teman-teman sosialitanya setelah mereka berkumpul di ruang tengah tersebut barulah Lana bisa menceritakan semuanya kepada mamanya tersebut.

__ADS_1


" Mama tahu nggak apa yang terjadi tadi siang di kantornya Kak Devan." ucap Lana sembari menatap sang mama.


" Memang apa yang terjadi?"


" Menantu Mama itu nyaris di gampar sama si nenek sihir Sintya itu."


" Hah?! yang benar? Devan Apa benar apa yang dikatakan adikmu.?"


Devan hanya menganggukkan kepalanya sembari menghela nafas panjangnya.


" Hanya kesalahpahaman saja Mah." ucap Rania.


" Sebelum Kak Devan memecatnya, Lana yang sudah memecat dia terlebih dahulu, coba pikir mah, dia itu mempunyai perusahaan sendiri tapi dia mau magang di perusahaannya Kak Devan, itu berarti ada maksud tertentu dong, ternyata dia itu menyukai Kak Devan mah! dia sakit hati karena Kak Devan memilih Kak Rania, Idih!! kalau seandainya Kak Devan memilih dia Lana nggak bisa membayangkan deh mah, orangnya seperti itu bisa-bisa Lana dan Dia sering bertengkar setiap hari." ucapnya sembari bergidik dan mengekspresikan wajahnya yang tidak suka dengan Sintya.


" Anak siapa sih dia Devan? Kenapa bisa magang di kantor kamu, kok kamu tidak bilang sama Mama, kalau ada orang magang, tapi tidak apa-apa kan Rania? kamu tidak di gamparnya kan.?"


Rania hanya menganggukkan kepalanya.


" Dia adalah anak Client Devan mah, sebenarnya Devan juga tidak suka dia berada di kantor Devan, tapi karena papanya yang meminta pada Devan jadi Devan mengiyakan, Devan tidak bisa menolak karena Pak Hakim itu sebenarnya orang baik mah, Devan juga nggak tahu ternyata anaknya jahat seperti itu." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Rania.

__ADS_1


" Sungguh keterlaluan perempuan seperti itu, lain kali tidak usah ada yang magang di kantor kamu lagi Devan, karena mama tidak ingin kejadian ini terulang kembali nantinya." ucap Bu Melany sembari menatap ke arah Devan, Devan hanya menganggukan kepalanya.


Saat mereka berbicara mengenai Sintya mereka dikejutkan dengan suara mobil memasuki halaman rumahnya.


__ADS_2