
Rania melangkah dengan irama jantung yang berdegup tak karuan, karena ia akan berhadapan dengan Bos kantor DEV Group secara langsung untuk yang kedua kalinya, yang membuat jantung Rania berirama tak beraturan itu dikarenakan Ia sempat beradu mulut dengan sang Bos saat itu.
Rania disambut dengan seorang wanita yang berada dilantai atas, dan diarahkan keruangan pak Bosnya.
" Tok-Tok..." terdengar ketukan dipintu ruangan Devan.
" Masuk...!" Terdengar suara Devan dari dalam.
Pintu ruangannya pun langsung saja terbuka dan terlihat dua orang wanita memasuki ruangan tersebut.
" Pak Bos, tamu yang bapak tunggu sudah datang."
" Tamu yang ditunggu? jadi aku sangat ditunggu sekali kedatanganku?" ucap batin Rania seraya menatap sesaat kearah Devan.
" Oh iya, terimakasih, tinggalkan kami berdua." ucapnya sembari menoleh sesaat karena posisi Devan sedang menelpon seseorang melalui ponsel pribadinya.
" Baik pak..."
Wanita tersebut kemudian meninggalkan Rania didalam ruangan pak Bosnya itu.
" Terimakasih pak,nanti saya hubungi kembali." Ucapnya kemudian meletakan ponsel pribadinya itu dan menghela nafasnya dengan pelan, dia menatap kearah Rania yang sedang menyelusuri ruangan Devan dengan pandangannya, Devan menyandarkan kepalanya dikursi kerjanya itu sembari menutup sebagian mulutnya dengan telapak tangannya, Rania tidak menyadari kalau calon pak Bosnya itu memperhatikannya, kemudian tatapan Rania pun sampai kewajah tampan Devan, mata mereka saling beradu, dan menembus jauh dimanik bola mata mata satu sama lainnya.
__ADS_1
" Dug...Dug-dug..." Jantung Rania berdetak seiring mereka saling menatap.
Devan masih dengan posisinya yang terus saja menatap wajah cantik Rania, Karena posisi mereka saling berhadapan Rania pun jadi salah tingkah, ia lalu menundukkan wajahnya dan tidak lagi melayangkan tatapannya pada calon Bosnya itu.
Kemudian mereka berdua dikejutkan suara William yang sudah berada disamping Rania.
" Pak Bos! kapan bicaranya, kenapa kalian berdua saling diam saja sih!" tegurnya yang sukses membuat mereka berdua gelagapan karena sudah kepergok William.
" Sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Devan sembari membenarkan duduknya dan berusaha menyembunyikan rasa malunya karena sudah ketahuan oleh William. William tersenyum dan saat mereka berdua tadi saling diam dan saling tatap satu sama lainnya, William pun sempat mengabadikan momen tersebut di ponsel pribadinya.
" Mantap nih, dengan ini akan aku kirimkan ke Ibunda Ratu tentang kemajuan pak Bos yang sudah mulai mengangumi sosok Rania." Gumam batinnya sembari tersenyum. Dengan kelentikan jari jemarinya itupun hasil kerjaan isengnya itu sudah beralih posisi dari ponselnya keponsel Ibunda Ratu Mellany Prameswari. Devan pun memperhatikan gerak gerik William, saat William tersenyum-senyum diapun langsung menoleh kearah Devan dan dia langsung menghentikan senyumannya itu dan langsung beralih tempat yang awalnya dia berdiri dibelakang Rania sekarang dia berdiri disamping Devan.
" Ya..." ucapnya singkat.
" Kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini?" tanya Devan sembari menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, dan dia kembali bersikap dingin sedingin gunung es.
" Maaf pak, saya tidak tahu mengapa saya dipanggil kesini, karena saat itu interview yang saya lakukan pastinya tidak sesuai dengan keinginan kantor Bapak." ucapnya hati-hati dalam bicaranya karena dia tidak ingin membuat kesalahan untuk kedua kalinya, karena dia sangat membutuhkan pekerjaan dengan gajih yang menjanjikan saat ini untuk menebus kembali rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Devan menatap lekat Rania dengan menghela nafasnya dengan pelan, Rania pun mulai lagi salah tingkah dan sengaja menoleh kekiri dan kekanan agar tidak terlihat salah tingkahnya itu, sesekali dia membenarkan rambutnya dan sesekali juga dia berdehem sendiri untuk mengusir rasa salah tingkahnya didepan calon Bosnya itu.
" Baiklah sekarang silahkan kamu isi kembali data dirimu dengan selengkap-lengkapnya." ucap Devan, seraya menadahkan tangannya meminta lembar kertas data diri, namun William tidak mengetahui tangan pak Bosnya yang ingin meminta sesuatu yang ada padanya yaitu copyan data diri pekerja kantor tersebut. William yang asyik dengan Ibunda Ratu saling chatan membahas tentang rekaman yang dibuatnya itu.
__ADS_1
Karena tidak dihiraukan sama sang sekretaris diapun langsung mendongakkan kepalanya kearah William dan saat itu juga William menoleh kearah sang Bos, diapun mendapati wajah Bosnya itu terlihat hendak berubah kesal diapun langsung menyerahkan yang diperlukan Bosnya itu, Rania yang memperhatikan mereka berdua itupun langsung saja tersenyum.
Devan pun langsung mengambil yang ia inginkan dari tangan William dan menyerahkannya pada Rania.
" Kenapa saya mengisi lagi data pribadi saya pak? bukankah data saya sudah berada dihadapan bapak sekarang ini, kenapa mesti saya mengulangnya kembali." ucapnya sembari menatap kertas yang diberikan Devan padanya, Devan tidak menjawab pertanyaan Rania.
" Udah isi aja, nggak usah banyak komen yah..." ucap William sembari tersenyum, Rania pun mengangguk dan dia mulai mengisi data tersebut, tapi setelah diakhir penulisan data itu, dia membaca catatan yang ditulis dengan tinta bolpoin yang memang sengaja ditulis hanya untuknya.
" Maaf pak, kenapa pengisian data ini diakhir ada bertulisan apakah saya sudah mempunyai kekasih ataupun tidak, itukan sudah tertera di poin empat, ststus lajang atau sudah menikah, kenapa harus dipertanyakan lagi diakhir memiliki kekasih atau nggaknya?" tanyanya seraya menatap kearah Devan dan Devan pun langsung terkejut dan menatap kearah William karena dia tidak mengetahui kalau tulisan itu dibuat Wiliam atas perintah Ibunda Ratu.
" Oh,,,begini Rania, itu memang sengaja kami cantumkan, poin keempat dan poin terakhir berbeda, karena beda arti, menikah berbeda dengan lajang, dan lajang juga berbeda dengan memiliki pacar, pahamkan apa maksud saya..." terang William membuat Rania heran dengan pengisian data diri bagi karyawan baru, tapi dia tetap saja mengisi poin terakhir. Devan hanya tersenyum saja melihat wajah Rania yang terlihat heran.
Setelah selesai mengisi ia lalu menyerahkan datanya itu pada Devan dan langsung dibaca Devan terlihat sangat puas dengan jawaban Rania itu, Kemudian William pun menyerahkan kontrak kerja pada Rania.
" Rania ini kontrak kerja yang harus kamu tandatangani, kalau kamu ingin membacanya silahkan baca terlebih dahulu, baru kamu tanda tangani." ucap William sembari menyerahkan lembar kertas yang sudah dilampirkan ats nama kantor DEV Group.
Devan yang melihat William memberikan kontrak kerja itupun merasa heran, dia menatap kearah William, dan William hanya memberikan senyumannya pada pak Bosnya itu.
Karena Rania sudah merasa heran saat pengisian data tersebut, diapun hanya melihat saja isi kontrak itu, dan dia langsung saja menandatangani surat tersebut, dan dia tidak tahu apa saja isi dalam kontrak tersebut, ditambah lagi dia inginkan pekerjaan agar uang dia terkumpul cepat.
William tersenyum karena melihat Rania yang tidak terlalu memperhatikan isi kontrak kerja itu, dan dia langsung saja menandatanganinya ia tidak fokus membaca poin-poin dalam kontrak tersebut, isi poin itu adalah hasil dari pendapat Tania dan William, ditambah lagi dengan usulan dari Ibunda Ratu, Tania memberikan usul agar isi kontrak itu ditambah dengan kata-katanya dan dikirim melalui chat pribadi merekla tadi malam. Padahal semua pekerja dikantor DEV Group tidak menandatangani kontrak apapun, semua adalah saran dari Tania, Agar Rania tidak bisa pergi begitu saja saat mengetahui pekerjaannya di kantor tersebut. semuanya adalah rencana Tania dan William tanpa diketahui Devan.
__ADS_1