
" Maaf pak Bos, ini Mbak Sintya yang katanya sudah dua hari yang lalu janji dengan Bos untuk bertemu." ucap William, Devan menatap ke arah William kemudian dia menatap kembali ke arah Sintya, William kemudian mempersilahkan Sintya duduk di depan Devan.
" Oh iya, terima kasih William, memang Nona Sintya ini yang kemarin aku ceritakan denganmu."
William mengangguk padahal dia sudah mengetahui akan kedatangan Sintya tapi karena sesuatu dan lain hal membuat Sintya tidak bisa datang ke kantor Dev Group.
" Gimana Pak Devan, Bapak mau menempatkan saya di bagian apa?" tanya Sintya sembari tersenyum ke arah Devan.
Devan menghela nafasnya dengan pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah Sintya dari layar laptopnya dan dia menangkupkan kedua tangannya di atas meja, tapi sebelumnya itu dia menatap ke arah Rania yang masih asik dengan buku kecilnya itu.
Sintya melihat arah mata Devan yang menatap kearah Rania.
Rania tidak perduli dengan siapa Devan berbicara dan dia juga tidak mau tahu siapa yang datang menemui Devan di ruangan itu, yang dia kerjakan hanyalah menghafal catatan tentang pribadi Pak Bos yang sudah diberinya predikat Bos manja itu.
" Kamu akan diajarkan oleh William dan kamu akan menjadi asistennya William sementara waktu." ucap Devan berbicara dengan santai, Sintya menatap ke arah William dan William pun menganggukkan kepalanya.
" Jadi maksudnya saya adalah asistennya Pak William? bukan Jadi sekretarisnya langsung pak Devan?" ucapnya terlihat dari nada bicaranya protes dengan penempatan kerjanya itu.
Devan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" William silahkan bawa Nona Sintya dan beritahu dia cara kerja di kantor ini silakan Nona Sintya mengikuti William dan ruangan kamu bersebelahan dengan William." ucap Devan sembari menoleh kembali ke arah Rania dan kembali menatap William sesaat memberi isyarat kepada William untuk segera membawa Sintya menjauh dari ruangannya.
William mengerti akan isyarat yang diberikan oleh Pak Bosnya itu dia pun tersenyum serta menganggukkan kepalanya, sesaat dia melirik ke arah Rania yang masih fokus dengan buku yang ada di tangannya itu.
" Baiklah Pak Devan saya akan mencoba bekerja dengan pemberian tugas yang telah Bapak percayakan pada saya." ucap Sintya sembari berdiri dan langsung melangkah menuju ke arah pintu keluar sebelum dia menggapai handle pintu ruangan Devan dia menatap ke arah Rania.
" Siapa wanita itu, kenapa dia betah sekali berada di dalam ruangan Devan, kalau dibandingkan dengan aku sangat jauh berbeda sekali tapi kenapa dia diperbolehkan berada di ruangan ini." ucapnya sembari kembali melirik ke arah Rania dengan lirikan sinisnya.
" William! Kamu tahu kan kerjamu sekarang apa dengan wanita itu."
" Yap! Pak Bos saya mengerti." ucapnya sembari berbalik arah menuju ke arah pintu menyusul Sintya yang sudah berada di luar ruangan Devan dengan wajah kesalnya itu dia berjalan bolak-balik ke kiri dan ke kanan menunggu William yang belum keluar dari ruangan tersebut. Kemudian pintu terbuka.
William membuka pintu yang bersebelahan dengan ruangannya tersebut.
" Silakan Nona, ini ruangan Anda, saya akan menjelaskan pekerjaan Anda sebagai asisten saya nantinya." ucap William sembari mempersilakan Sintya masuk ke dalam ruangan tersebut, Sintya pun mengangguk dan dia masuk ke dalam ruangan disusul oleh William.
" Sementara waktu Anda sebagai asisten saya dan Anda harus memberikan laporan yang akan diperlukan oleh Pak Devan, nanti saya akan memberikan berkas-berkas yang akan diperlukan oleh pak Devan, Anda bisa mengecek semuanya kalau sudah terselesaikan dicek Anda bisa memberikan kembali kepada saya " ucapnya sembari tersenyum.
" Baik pak, tapi Maaf Pak William, kalau seandainya Pak Devan ada tugas di luar apakah saya boleh ikut mendampinginya?"
__ADS_1
William hanya tersenyum kemudian dia menggelengkan kepalanya.
" Maaf Nona Sintya, kalau ada pekerjaan di luar Pak Devan biasanya menemui Client hanya seorang diri, terkecuali memang sangat diperlukan saya selalu menemaninya itu pun hanya saya tidak ada orang lain karena prinsip pak Bos itu dia sendiri yang ingin bertemu dengan Clientnya dan memberikan kepuasan tersendiri tentang perusahaan pada clientnya tersebut." ucap William sembari menatap ke arah Sintya terlihat jelas di wajah Sintya ada kekecewaan, dia berharap bekerja di DEV Group ingin dekat dengan Devan, bukan sebagai karyawan biasa, tapi dia ingin dianggap lebih dari karyawan biasa itu.
" Baiklah Nona Sintya saya akan kembali keruangan saya dan saya akan mempersiapkan berkas yang akan dibawa Pak Devan untuk keluar bertemu dengan Clientnya." ucapnya.
Dengan wajah yang kesal Sintya pun menganggukkan kepalanya, William lalu berbalik arah menuju ke arah pintu dan dia pun keluar dari ruangan Sintya, dia melangkah menuju arah ruangannya sendiri Sintya menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya yang baru.
Sintya mendengus dengan kesal.
" Huh!! Sebegitu dinginnya si Devan ini, Aku di sini ingin bekerja agar dekat dengannya, eh malah dia tidak sekalipun memperhatikan penampilanku, selalu saja wanita itu yang dilihatnya, sungguh keterlaluan!! Astaga! kenapa aku lupa bertanya dengan Pak William siapa wanita yang ada di ruangan Devan itu, terlihat sekali Wanita itu sangat istimewa dia duduk di sofa di dalam ruangan Bos lagi, seistimewa apa dia sehingga dia diperbolehkan berlama-lama di ruangannya." ucapnya sembari berbicara sendiri, Tapi sayangnya Sintya tidak mengetahui kalau ruangannya itu tembus pandang dari ruangan William dari dalam ruangan Sintya tidak terlihat ada orang yang memperhatikannya tapi di dalam ruangan William jelas sekali kalau Sintya terlihat kesal, William hanya tersenyum.
" Terlihat sekali wajah dia kesal, setelah dari ruangan Pak Bos menandakan kalau ada sesuatu sampai mau bekerja di kantor ini, siapa yang berani mendekati Pak Bos yang super duper dingin seperti gunung es itu, belum ada yang bisa melelehkan gunung es itu tapi sayang bukan Anda nona Sintya." ucapnya berbicara sendiri sembari terkekeh.
Di ruangan Devan, Rania yang masih membaca buku kecil tentang apa saja yang tercantum dan tidak tercantum di dalam buku kecil tersebut tentang pak Bosnya itu.
" Hadeh!! Aku pusing dengan penghafalan tentang Pak Bos manja ini, diapun tanpa sadar merebahkan tubuhnya di sofa sambil membaca buku tersebut, dia membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sesekali dia menutupi wajahnya dengan buku itu, Devan yang memperhatikan tingkat polahnya Rania hanya bisa tersenyum, dia tidak ingin mengganggu Rania, bahkan Rania pun tidak memperdulikan kalau dia bergaya tidur-tiduran di sofa itu di ruangan Pak Bos barunya, kadang-kadang dia memainkan ponselnya sambil membaca buku yang ada di tangannya.
" Aduh!! kapan nyantolnya sih ke otak..?" ucapnya pelan kembali menyadarkan tubuhnya disandaran sofa sembari menatap langit-langit ruangan Devan.
__ADS_1
" Kenapa setiap orang kaya yang berstatus sebagai Bos pemilik perusahaan terbesar selalu saja banyak aturan dan selalu aja banyak yang disuka ataupun tidak disukai dari jenis pakaian, warna, makanan, dan sebagainya, jangan-jangan soal wanita pun banyak aturannya juga dan warna kulit juga di permasalahkan, hehehe..." ucapnya sembari tersenyum dan melanjutkan kembali merebahkan tubuhnya sambil menutup wajahnya dengan buku kecil yang ada di tangannya itu, sedangkan Devan tetap fokus dengan layar laptopnya yang ada di depannya.