
" Tidak ada kata tidak! kamu harus mengikuti apa yang sudah aku katakan dan sesuai dengan kontrak yang sudah kamu tandatangani." Ucap Devan tersenyum.
" Baiklah!" ucapnya singkat sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena dia tidak ingin menatap ke arah Devan.
" Ayah, ibu, mungkin aku sekarang tidak bisa menebus rumah yang sudah dijual oleh mereka, tapi aku janji akan terus berusaha untuk mendapatkan rumah itu dan aku akan kembali ke desa hidup bahagia di sana, walaupun tanpa ibu dan ayah, tapi setidaknya aku dekat dengan makam kalian berdua." ucapnya di dalam hati sembari menundukkan kepalanya, Dia merasakan perih di matanya seiring dengan air matanya mengalir dan dia langsung mengambil selimut yang ada di hadapannya dan menutup ke arah wajahnya untuk menghapus air matanya yang terlanjur keluar, dia tidak sadar kalau Devan masih memperhatikannya, Devan tahu kalau dia sedang menangis.
" Maafkan aku Rania, bukan aku ingin menyakiti kamu, Aku ingin selalu menjaga kamu dari gangguan Vino dan kamu juga jangan khawatir aku akan memberikan rumah itu kepadamu, tanpa kamu harus menebusnya, aku menyelamatkan rumah kamu itu dari mereka agar rumah kamu tidak jatuh ke tangan orang lain." ucap batinnya sembari mensedekapkan tangannya dan menatap lekat ke arah Rania.
Rania yang sudah menghapus air matanya itu pun membuka kembali wajahnya dan dia menatap ke arah pintu ruangannya itu yang terbuka, terlihat William memasuki ruangan tersebut dia terkejut karena Pak Bosnya itu sudah berada di dalam ruangan Rania.
" Maaf Pak Bos, katanya Pak Bos ada di kantor polisi? Apakah urusan semuanya sudah beres?" tanya William Devan menetap ke arah William, Dia kemudian menghela nafasnya dengan pelan, dia melangkah menuju ke arah kursi yang berada di dekat ranjang Rania dia pun menghempaskan tubuhnya di kursi tersebut.
" Saat aku dari rumah sakit setelah mengantar Mama, aku dihubungi Arka, tapi di tengah jalan Arka menghubungi aku kembali agar aku tidak usah pergi ke kantor polisi karena Arka sudah memberikan keterangan pada pihak yang berwajib tentang kecelakaan yang dialami Rania.
Rania kemudian menetap ke arah Devan.
" Siapa pelakunya?" tanya Rania Devan kemudian menoleh ke arah Rania karena Rania memberikan pertanyaan itu padanya.
" Kamu juga mengenali pelakunya itu."
" Siapa?" Tanyanya sembari menata lekat ke arah Devan.
" Kamu pasti kenal kalau aku memberitahu siapa sebenarnya yang melakukan percobaan kecelakaan itu."
Membuat Rania bertambah heran, karena Devan tidak langsung memberitahukan siapa orang itu sebenarnya.
" Saya mengenalinya?" Ucap pelan Rania.
" Iya, kamu mengenalinya, dia adalah Baron." ucapnya.
" Apa? Baron? kekasihnya kak Sarah?" ucapnya terkejut dan langsung terdiam.
" Ya Tuhan, Aku tidak menyangka bang Baron seperti itu denganku, dan anehnya lagi kenapa dia mengetahui kalau aku tinggal di kontrakan Tania, Apakah selama ini dia mengawasiku atau mengikuti gerak gerikku." gumamnya dalam hati sembari menatap lurus kedepan.
" William!" panggil Devan sembari menatap ke arah William
__ADS_1
" Yes Bos!" ucap William sembari tersenyum.
" Cepat kamu temui dokter yang ada di rumah sakit ini yang menangani Rania dan tanyakan tentang keadaan Rania sekarang!"
" Baik Bos! tapi untuk apa saya menanyakan semuanya pada dokter yang menangani Rania? bukankah lebih baik Rania berada di rumah sakit ini biar penanganannya lebih serius lagi."
" Tdak! Aku ingin membawa Rania pulang ke rumah secepatnya, karena rumah sakit ini sudah tidak aman untuk Rania."
William merasa bingung dengan ucapan Bosnya itu, dia kemudian menatap ke arah Rania, kembali Dia menatap ke arah Devan.
" Cepatlah kau temui dokter yang menangani Rania dan tanyakan dengan segera."
" Baik Bos!" ucapnya sembari berbalik 90 derajat menuju ke arah luar dengan pikiran yang bertanya-tanya, dia pun menemui perawat jaga dan menanyakan tentang dokter yang menangani Rania selama ini.
Devan kemuliaan duduk kembali di kursinya, dia pun mengambil ponselnya dan memeriksa beberapa chat pribadi yang masuk ke dalam ponselnya itu, salah satunya chat dari Pak Erick.
Devan kemudian menghubungi Pak Erick melalui ponsel pribadinya itu dan dia pun berbicara menuju ke arah luar, Rania hanya menatap langkah Devan yang meninggalkannya itu.
Rania kemudian merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya kembali, dia memikirkan kembali tentang perlakuan Baron terhadapnya yang ingin mencelakai dirinya itu.
" Apakah ini suruhan ibu tiriku?" gumamnya yang menyembunyikan wajahnya dibalkk selimut tersebut.
" Hey! Rania, Ada apa denganmu?" tanya Tania, Tania pun membuka selimut yang menutupi wajah Rania, kemudian Rania kembali duduk dan tersenyum.
" Tante, Tania.." ucapnya.
" Ada apa denganmu Rania? kenapa kamu menutupi wajahmu dengan selimut itu? memang kenapa? apa yang terjadi di ruangan ini?" tanya Tania.
" Tidak terjadi apa-apa kok."
" Aku lihat tadi ada pak Devan, berada di luar." Ucap Tania.
Rania hanya menganggukkan kepalanya.
" Iya, dia menghubungi Clientnya mungkin." Jawab Rania.
__ADS_1
" William ke mana?"
" William tadi menemui dokter di ruangannya, karena Ada yang ingin ditanyanya tentang keadaanku pada dokter yang selalu menanganiku itu." terang Rania.
Tania menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana sekarang keadaanmu Rania? tante tidak tahu kalau kejadian malam itu menimpamu, kamu juga sih nggak mau ikut sama tante,coba kalau seandainya kamu ikut sama tante ke acara keluarga tante mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi denganmu." ucap mamanya Tania sembari mengusap kepala Rania, Rania hanya tersenyum mendengar ucapan dari mamanya Tania yang sangat perhatian dengannya itu.
Kemudian mereka dikejutkan dengan seorang dokter yang bersama dengan William memasuki ruangan tersebut dan terlihat Devan yang masih berbicara melalui ponsel pribadinya itu.
Terlihat dokter itu pun memeriksa keadaan Rania dia menganggukkan kepalanya sembari menatap ke arah William dan yang lainnya.
" Keadaan pasien terlihat membaik, kalau memang mau dibawa pulang tidak masalah, tapi jangan lupa untuk merawatnya dengan baik setiap hari." pesan dokter sembari berbicara dengan William, William pun menganggukkan kepalanya.
" Baiklah Dok, kalau seperti itu saya akan mengurus semuanya dan mungkin hari ini Nona Rania akan keluar dari rumah sakit dan akan dirawat di rumah." ucap William, dokter yang menangani Rania pun menganggukkan kepalanya dan berbicara sesaat dengan seorang suster, kemudian terlihat mereka berdua mengajak William untuk keluar menyelesaikan administrasi rumah sakit.
Tania merasa heran dengan keterangan dari Dokter tentang keadaan Rania, dia pun kemudian mendekati Rania sembari berbicara.
" Kenapa kamu harus keluar dari rumah sakit, padahal kan baru satu malam kamu berada di rumah sakit ini dan keadaan kamu juga belum sehat benar, kenapa kamu tidak bicara denganku terlebih dahulu Rania, kalau kamu ingin keluar secepatnya dari rumah sakit ini?" tanya Tania.
Rania hanya mengekspresikannya dengan mengangkat kedua bahunya sembari memonyongkan mulutnya menuju ke arah Devan yang sedang mondar-mandir berbicara di luar ruangan.
" Pak Devan? memang kenapa dengan dia.?"
" Dia yang menyuruh aku keluar dari rumah sakit ini
dan akan dirawat di rumahnya, aku nggak pulang ke rumah kontrakanku ataupun ke rumah kamu, aku dibawanya pulang ke rumah dia, sesuai dengan pekerjaan yang sudah kami sepakati." ucapnya berbicara pelan.
" Memangnya dia siapa? tanya Mamah Tania sembari menunjuk ke arah Devan, kemudian menatap kembali ke arah Rania dan Tania.
Rania dan Tania pun tersenyum mendapatkan pertanyaan dari mamahnya tersebut.
" Dia adalah Pak Devan bosnya Rania karena posisi Rania bekerja di rumahnya jadi dia harus tinggal di rumah Pak Devan Mah." Ucap Tania.
" Kamu bekerja dengan lelaki itu? apakah kamu Jadi pembantunya di rumahnya? sehingga kamu harus menginap di rumah dia.?"
__ADS_1
" Bukan jadi pembantu Mah, Rania di sana mengerjakan semua berkas yang ada di rumah Pak Devan, kalau dibawa ke rumah ataupun dibawa ke rumah kontrakan Rania, pasti tidak akan pernah cukup, karena berkas itu sangat banyak sekali." Terang Tania sembari menatap ke arah Rania dan Rania pun menganggukkan kepalanya menatap ke arah Mamah Tania, diapun terlihat mengerti dengan penjelasan anaknya itu.
Setelah semuanya selesai diurus William, tibalah saatnya Rania bersiap-siap untuk kembali keluar dari rumah sakit dan pergi ke rumah Devan.