Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#68 Sertifikat Rumah


__ADS_3

#68 Sertifikat Rumah🌹


Mereka berdua kemudian masuk kembali ke dalam dan berkumpul dengan mereka yang ada di ruang tengah, diantara mereka sekarang tidak membahas lagi tentang masalah Sintya dan Pak Hakim, melainkan mereka membahas tentang kepergian Lana ke luar negeri.


Menit berganti menit, mereka asik berbicara canda dan tawa tercipta diantara mereka di ruang tengah tersebut, sampai akhirnya jam yang berada di dinding tergantung dengan rapi itu berdetak 9 kali menunjukkan jam 09.00 malam Mereka pun kemudian berdiri untuk memasuki kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah mengalami kelelahan dengan berbagai masalah pekerjaan yang sudah mereka kerjakan.


Devan dan Rania pun menuju ke arah kamar pribadinya seperti biasa Rania masih tidur di atas ranjang sendirian awalnya Rania ingin tidur di sofa namun dicegah oleh Devan, dia tidak ingin Rania tidur di sofa melainkan dia ingin Rania tetap tidur di ranjang berukuran king size-nya, Devan pun kemudian menuju ke arah sofa Rania merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut Namun sayangnya Rania tidak bisa fokus untuk tidur, dia terlihat gelisah dengan membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sampai akhirnya dia pun langsung terbangun dia duduk di bibir ranjangnya menatap ke arah Devan yang terlihat tenang dengan menutup matanya.


" Apakah dia sudah tertidur?" gumamnya sembari terus menetap ke arah Devan.


Kemudian dia pun berdiri dan melangkah secara perlahan menuju ke arah pintu kamarnya, dia membuka pintu tersebut dengan cara mengendap untuk keluar agar Devan tidak terbangun dan perlahan juga dia menutup kembali pintu kamarnya tersebut, dia tersenyum dan kemudian dia melangkah menuju ke arah dapur satu persatu anak tangga dia turunin seperti biasa dia menuju ke arah dapur hendak mencari makanan karena perutnya merasa lapar.


Devan yang sejak tadi sebenarnya belum tertidur itu mengetahui kalau Rania keluar dari kamarnya, dia pun kemudian menyusul Rania menuju ke arah dapur, belum sempat Rania mencari sesuatu Rania pun dikejutkan dengan suara Devan.


" Kebiasaan sekali sih, Kenapa tiap malam selalu keluar kamar, tanpa sepengetahuan suami mu ini." ucap Devan membuat Rania terkejut dan menatap ke arahnya.


" Perutku tidak bisa diajak kompromi, Karena rasa lapar ini membuatku pergi ke sini."


" Kamu itu kalau mau makan tengah malam, apa salahnya sih kamu membangunkan aku." tegur Devan sembari menutup lemari kecil yang ada di atas kepala Rania agar pintu tersebut tidak menyentuh kepala Rania dia pun menutupnya dengan perlahan dan menutup sudut pintu lemari kecil itu dengan tangannya.


" Kamu duduklah aku akan memasakkan sesuatu untukmu, karena kalau tidak aku masakan sesuatu tersebut kamu pasti akan memakan yang instan." ucapnya menyuruh Rania untuk duduk kembali ini adalah kali keduanya Devan memasak untuk Rania.


" Beberapa hari aku berada di rumah ini dan aku sudah sah menjadi istrinya Devan, baru dua kali ini aku merasa lapar tengah malam, biasanya setiap malam aku selalu makan saat aku berada di rumah kontrakanku." ucapnya sembari tersenyum memperhatikan Devan dengan cekatannya memasakan sesuatu untuknya, beberapa saat Rania menunggu masakan spesial tersebut sudah selesai yaitu nasi goreng kesukaan Rania.


Rania melahap makanan yang dibikinkan oleh Devan semenjak mengenal Rania Devan sudah terbiasa makan tengah malam menemani sang istri.


Setelah selesai mereka makan dan Rania mencuci seperti biasanya piring makan yang sudah digunakannya, mereka berdua pun kemudian melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya, Mereka kemudian menuju masing-masing tempat tidurnya beberapa saat kemudian mereka pun larut dalam alam mimpinya.

__ADS_1


Tepat jam 03.00 pagi Rania merasa perutnya sakit sekali, dia pun langsung bangun dan berjalan menjinjit menuju ke arah bilik merenung, beberapa saat dia berada di dalam bilik merenung tersebut, dia pun selesai sembari menghela nafasnya dengan panjang, saat dia melangkah menuju ke tempat tidur perutnya kembali sakit dia melangkah ke tempat penyimpanan obat mencari-cari obat yang bisa diminumnya saat dia sakit perut, saat dia mencari sesuatu obat tersebut tidak sengaja dia membuka sebuah lemari yang tidak pernah dia sentuh sama sekali, Dia pun merasa curiga dan sifat ingin tahunya mulai muncul.


" Ada apa di dalam lemari kecil iya ya?" gumamnya, dia pun kemudian membukanya, dia terkejut melihat sebuah map bertuliskan sertifikat rumah, dia menarik sertifikat tersebut dan membukanya, betapa terkejutnya dia karena sertifikat rumah itu bertuliskan nama Yoga Prayitno dia langsung berdiri sembari menatap sertifikat rumah tersebut kemudian dia menatap ke arah Devan yang masih tertidur dengan pulas, Dia melangkah menuju ke arah tempat tidurnya dan duduk di bibir ranjangnya, dia menatap sertifikat rumahnya itu dia merasa heran.


" Kenapa sertifikat rumahku ada pada Devan? Apakah orang kaya itu telah menjualnya pada Devan." ucapnya berbicara pelan saat dia terdiam, dia disadarkan oleh gerakan Devan yang disangka dia Devan bangun dari tidurnya, dia pun kemudian menyembunyikan sertifikat itu di bawah bantalnya, Dia kemudian merebahkan kembali tubuhnya namun dia tidak bisa memejamkan matanya, karena di kepalanya penuh tanda tanya besar tentang sertifikat yang berada di rumah keluarga Devan, dia terus membolak-balikkan tubuhnya sampai akhirnya matanya pun terpejam.


Saat pagi menjelang Rania pun langsung bangun dari tidurnya dia duduk sesaat di bibir ranjangnya sembari menatap ke arah sofa yang sudah terlihat rapi, namun Devan tidak berada di sofa tersebut, Dia teringat akan sertifikat itu, Dia kemudian perlahan membuka bantalnya sertifikat tersebut masih berada di bawah bantalnya itu, dia kembali membacanya dan meyakinkan apakah itu memang benar-benar nama sang Ayah.


" Ternyata aku tidak bermimpi, ini benar-benar sertifikat rumahku yang ada di kampung, aku harus menanyakannya kepada Devan, Kenapa bisa sertifikat rumahku ini ada padanya, Apakah dia berusaha mencari orang yang sudah membeli rumahku tersebut, dan setelah bertemu lalu dia membelinya kembali, aku harus menanyakan ini semua biar aku tidak bertanya-tanya seorang diri seperti ini." ucapnya.


Saat dia hendak berdiri menuju ke arah kamar mandi, pintu kamarnya pun terbuka, Devan tersenyum, Rania kemudian membatalkan niatnya untuk menuju ke arah kamar mandi dan kembali duduk di bibir ranjangnya, Devan kemudian duduk di sofa menghadap ke arah Rania.


" Kamu sudah bangun?"


Rania hanya menganggukkan kepalanya.


Dia kemudian membuka bantal penutup sertifikat tersebut, dia pun kemudian mengambil sertifikat itu dan melangkah menuju ke arah Devan, dia duduk di hadapan Devan, Dia kemudian meletakkan sertifikat rumah tersebut di atas meja, Devan tersenyum, dia tidak merasa terkejut dengan sertifikat yang diletakkan Rania di atas meja.


" Katakana padaku, Kenapa sertifikat ini bisa ada denganmu.?"


Lagi-lagi Devan tersenyum, kemudian membenarkan posisi duduknya tersebut dan menatap ke arah Rania.


" Rupanya kamu sudah menemukan sertifikat itu.?"


Rania menganggukkan kepalanya.


" Sertifikat itu memang sengaja aku letakkan di lemari kecil itu agar suatu saat kamu menemukannya, namun tidak memakan waktu lama akhirnya kamu menemukannya juga."

__ADS_1


" Aku ingin tahu kenapa sertifikat ini ada padamu, Apakah kamu yang membelinya kembali saat aku menceritakan kalau rumah aku di kampung sudah dibeli oleh orang lain dan kamu berusaha mencarinya sampai akhirnya kamu menemukannya dan kamu membelinya, Pasti orang itu menjualnya lebih mahal dari yang dijual oleh ibu tiriku, karena kamu yang mencarinya, iya kan?" tanya Rania sembari menatap ke arah Devan.


Namun Devan menggeleng


Membuat Rania menjadi heran.


" Kenapa kamu menggelengkan kepalamu? jangan-jangan kamu yang membeli rumahku di kampung ya?" tanyanya lagi.


Depan pun lagi-lagi tersenyum.


" Rania perkataan kamu itu benar, akulah yang membeli rumah kamu dari ibu tirimu...." kemudian Devan pun menceritakan kenapa dia sampai membeli rumah Rania yang ada di kampung, Rania mendengarkan cerita Devan sampai selesai, Ada Rasa Bahagia yang dia rasakan karena rumahnya terselamatkan dari ibu tirinya tersebut.


" Bagaimana caranya aku bisa berterima kasih denganmu, karena kamu sudah menyelamatkan rumahku dari ibu tiriku, aku janji akan menyicil semuanya agar aku bisa mendapatkan sertifikat rumahku kembali."


" Hemmm...syaratnya simple kalau kamu ingin mendapatkan kembali sertifikat rumah ini."


" Apa syaratnya?" tanya Rania sembari menatap ke arah Devan yang tersenyum di sudut bibirnya membuat Rania semakin heran.


Devan kemudian berdiri dari duduknya dan Dia mendekati Rania yang duduk di depannya tersebut, Rania menggeser duduknya, Devan terus mendekatinya semakin Devan mendekatinya Rania terus menggesernya sampai mentok di ujung pegangan sofa, Dia kemudian menutup wajahnya dengan sertifikat itu, karena Devan mendekatkan wajahnya ke arahnya.


" Apa yang ingin kamu lakukan denganku.?"


Devan terdiam sembari tersenyum.


" Jangan dekat-dekat Aku belum mandi, Aku baru saja bangun tidur." ucapnya namun Devan semakin dekat kepadanya, membuat dia menggeser kakinya dan menjongkokan tubuhnya dia pun kemudian melewati tangan Devan dan langsung berdiri, Devan terkekeh dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


" Cepat katakan Apa syaratnya.?"

__ADS_1


" Nanti saja, aku katakan syaratnya, lebih baik kamu cepat segera mandi baunya sampai ke sini." ucapnya Devan tertawa pelan, Dia pun kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan Rania menuju ke arah pintu kamarnya, sebelum dia menutup pintu kamarnya, dia menatap ke arah Rania sembari tersenyum, Rania pun hanya membalas senyumannya itu dengan memegang sertifikat rumah kedua orang tuanya.


__ADS_2