
Setelah kepergian pihak yang berwajib membawa Baron untuk dimintai keterangan dan pihak yang berwajib juga ingin meminta keterangan dari Arka dan Devan tepat pukul 08.00 pagi nantinya.
Devan melihat jam yang melingkar di tangannya baru pukul 06.00 pagi masih ada beberapa jam lagi, dia pun langsung menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di rumah Arka, Arka menatap ke arah Devan kemudian dia melangkah mendekati Devan dan duduk di samping Devan sembari merangkul pundak sahabat kecilnya itu, Devan menatap ke arah Arka sembari tersenyum dengan posisi kedua tangannya berada di kedua pahanya sebagai penopangnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya.
" Ternyata kamu mengetahui seluk beluk tentang Baron, aku yang sering nongkrong aja sama dia di kota ini ataupun di Bandung tidak pernah mengetahui dia itu bagaimana dan Apa pekerjaannya, karena aku mengenalnya pun tidak terlalu seperti kamu dan aku yang berteman bersahabat dan berkawan." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Devan.
Devan menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa.
" Aku juga tahu cerita dari William asistenku Awalnya aku mencari Rania Karena William tahu semua cerita tentang Rania dari sahabatnya Rania, kebetulan Rania berada dan tinggal bersama dengan sahabatnya yang bernama Tania, kebetulan Tania itu juga temannya William dari situlah William bercerita semuanya sampai bercerita tentang masalah Baron, Baron itu sebenarnya kekasih dari kakaknya Rania, Baron yang menghendaki Rania tapi Rania tidak mau, itu yang aku tahu dari William." terang Devan, Arka menganggukkan kepalanya.
" Maksud kamu Rania katanya diperbudak oleh ibu tiri dan kakak tirinya ceritanya gimana sih kamu sampai tahu sedetail itu.?"
" Rania diperbudak sama kakak tiri dan ibu tirinya itu disuruh mencari uang yang sangat banyak untuk menebus rumah peninggalan kedua orang tuanya, tapi aku sekarang sudah merasa tenang karena rumah itu sudah berada di tanganku jadi Rania tidak perlu lagi menebus rumah itu walaupun sebenarnya Rania tidak mengetahui kalau rumah itu sudah berada di tanganku."
" Hubungan kamu dengan Rania itu memang benar ?" tanya Arka sembari menatap ke arah Devan, Devan menghela nafasnya dengan pelan, dan melepaskannya dengan berat seberat pertanyaan dari Arka padanya.
" Aku dan Rania belum resmi menjadi sepasang kekasih, ceritanya panjang, kalau aku ceritakan di sini akan melebihi waktu durasi yang ada." ucapnya sembari terkekeh.
" Ya simpelnya kamu bikin durasi sedikit aja, biar aku jelas, siapa tahu nantinya aku pernah bertemu dengan Rania, tapi tidak tahu kalau itu adalah calon kekasihnya sahabatku sendiri." ucapnya sembari tertawa lepas menggoda Devan, Devan hanya mencibir ke arah Arka.
Kemudian Devan pun menceritakan dari awal sampai akhir, kenapa dia harus mencari Rania dan harus menjadi kan Rania pendamping hidupnya,dan dia juga menceritakan tentang Vino pada Arka, sampai cerita itu selesai Arka hanya menganggukkan kepalanya, Arka mengerti dengan cerita Devan sembari tersenyum.
__ADS_1
" Kalau menurutku lebih baik kamu mengikat Rania, daripada nantinya ada lagi yang menginginkan Rania menjadi miliknya, apalagi kamu bilang saingan kamu si Vino itu sudah mulai menunjukkan gelagat yang tidak baik, aku sih tahu sifat Vino bagaimana, dia harus mendapatkan keinginannya, sebelum itu tercapai dia tidak mau berhenti, aku takutnya nanti kalau seandainya Rania tidak ada ikatan apa-apa denganmu, dia mudah melepaskan Rania dari belenggu pekerjaan yang memang dibuat kalian untuk menetapkan Rania tetap bersama denganmu." terang Arka, Devan menganggukkan kepalanya sembari berpikir kuat dengan kata-kata Arka barusan dengannya.
" Benar juga kata kamu Arka, tapi aku tidak mau untuk cepat mengatakannya, dia masih dalam keadaan sakit seperti itu, karena kecelakaan yang dibuat oleh Baron."
Arka terdiam Begitu juga dengan Devan, tanpa terasa mereka berbicara jam di dinding rumah Arka sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Devan kemudian berdiri dari duduknya, dia bersiap untuk pamit pulang ke rumahnya, dan mereka berdua berjanji akan kembali untuk bertemu di kantor polisi, memberikan keterangan pada pihak polisi, tentang kejadian yang mengakibatkan si Baron tertangkap di rumah Arka.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Devan meninggalkan rumah Arka menuju ke arah rumahnya.
Di rumah Devan...
Di meja makan sudah tersedia sarapan pagi, Bu Mellany dan Lana pun sudah berada di meja makan tersebut untuk menikmati hidangan makan pagi yang selalu mereka lakukan setiap hari.
" Lana, kakakmu kenapa belum keluar aja dari kamarnya, Apakah dia tidak kerja hari ini?"
Lana yang lupa bersandiwara itu pun tersedak saat minum, karena sang Mamah menanyakan Kakak laki-lakinya itu.
" Apa tadi Mah? Mamah bertanya apa? Lana kurang fokus dengan pertanyaan Mamah." ucapnya sembari meletakkan minumnya dan menatap ke arah Mamahnya itu.
" Astaga!! aku lupa untuk memainkan peranku dalam sandiwara yang mau aku buat ini." gumamnya dalam hati.
" Kakakmu kenapa belum turun dari kamarnya, Apakah dia tidak kerja hari ini ?" ulang Ibu Mellany bertanya pada putrinya itu.
__ADS_1
" Oh Kak Devan, dia lagi olahraga Mah, tapi katanya kalau mau sarapan kita sarapan aja lebih dulu, jangan menunggu dia, Mamah kan tahu Kak Devan kalau olahraga itu lama banget, daripada nunggu dia mending kita makan aja lebih dulu, ayo Mah lanjutkan lagi makannya." ucapnya sembari memakan melanjutkan makan paginya tersebut.
Bu Mellany pun tersenyum, mendengar ucapan Anaknya itu.
" Ternyata Lana pintar juga ya bermain sandiwaranya." ucap Bu Mellany membuat Lana terkejut dengan ucapan Mamahnya itu, dia pun kemudian salah tingkah, memandang ke kiri dan ke kanan.
" Katakana kakakmu keluar jam 03.00 pagi tadi kemana? Pasti kamu tahu kan.?"
" Lana nggak tahu Mah, kalau kakak keluar jam 03.00 pagi."
" Lana, kalau kamu mau main sandiwara sama Mamah itu harus yang pintar menjalankan perannya,jangan acak-acakan seperti itu dong, wajah juga harus meyakinkan, kamu salah kalau mau main sandiwara itu sama Mamah, sekarang jujur aja sama Mamah, sebenarnya ada apa? Mamah tahu kok kalau kamu itu sudah tahu Kakak kamu keluar jam 03.00 pagi itu." ucap Bu Mellany membuat Lana salah tingkah dan Dia pun akhirnya tersenyum pada sang mama sembari bergumam pelan.
" Maafkanlah Lana Kak, tidak bisa bermain sandiwara di depan Mamah." ucapnya sembari bibirnya menyunggingkan senyum pada sang Mamahnya itu, Bu Mellany tersenyum, dia masih menunggu ucapan dari anaknya itu.
" Maafkan Lana Mah, sebenarnya Lana memang mengetahui kalau Kak Devan keluar rumah jam 03.00 pagi, karena Kak Devan mau ke rumah sakit."
" Buat apa Devan ke rumah sakit?"
" Kata Kak Devan, Kak Rania mengalami kecelakaan."
" Apa ?kecelakaan?" ucap Bu Mellany terkejut.
__ADS_1