
#70 Vino Sakit🌹
Tania hanya bisa tersenyum dia tidak bisa berkata banyak karena dia masih meyakinkan dirinya dia ingin menjalani pernikahan keduanya itu benar-benar yakin pada dirinya.
Setelah mereka menikmati kopi bikinan Tania yang spesial untuk fi nikmati, terdengar ponsel Devan berbunyi, dia melihat layar ponselnya tersebut tertulis nama Arka memanggilnya dia pun langsung menjawab panggilan Arka.
" Ya ada apa Arka.?"
" Devan Kamu sekarang ada di mana.?"
" Lagi di kedai teman nih kenapa.?"
" Bisakah kamu ke rumah sakit Suprapto sekarang.?"
" Memang apa yang terjadi?Apakah kamu sakit.?"
" Nanti aku jelaskan, kamu segera ke sini ya, aku tunggu sekarang." ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya tersebut, Devan menatap ke arah layar ponselnya kemudian dia menatap ke arah Rania.
" Ada apa?" tanya Rania
" Kita ke rumah sakit Suprapto sekarang." ucapnya sembari meraih tangan Rania.
" Memangnya ada apa.?" tanya Rania dengan heran
" Aku juga tidak tahu, tapi Arka menyuruh Aku ke sana, Oh ya Tania terima kasih ya atas jamuannya." ucap Devan dianggupkan Tania.
" Tania, Aku pergi dulu ya, nanti kita bertemu lagi." ucap Rania.
" Iya Rania, hati-hati ya." pesan Tania terhadap kedua orang tersebut.
Setelah berpamitan dengan Tania, Mereka pun melangkah menuju ke arah mobil pribadinya Devan, Rania yang merasa heran pun tidak bisa bertanya banyak dengan Devan, karena Devan juga tidak mengetahui apa yang terjadi di rumah sakit Suprapto di mana Arka menunggu mereka.
" Sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus ke rumah sakit itu? bukankah itu Rumah Sakit terbesar yang ada di kota ini."
" Aku juga tidak tahu, karena tadi Arka cuma menghubungi agar kita menuju ke sana."
" Itu kan untuk kamu bukan untuk aku."
" Kamu bersamaku, makanya aku membawa kamu." ucapnya masih menatap ke arah depan dan fokus menyetir, Devan pun melajukan kuda besinya itu menuju ke arah rumah sakit yang dituju.
Di tengah perjalanan saat mobilnya berhenti di lampu merah ponsel Devan pun berbunyi kembali, Dia menjawabnya yang ternyata dari William.
" Pak Bos, sekarang Pak Bos ada di mana?"
" Aku lagi di jalan mau ke rumah sakit Suprapto."
__ADS_1
" Ada apa Pak Bos? kenapa Pak Bos menuju ke rumah sakit itu? apakah ibunda Ratu sakit?"
" Mama tidak apa-apa, Mama sedang bersama dengan teman-teman sosialitanya, sekarang aku bersama dengan Rania, Arka menyuruh aku menemuinya di rumah sakit itu "
" Apa ini ada hubungannya dengan Vino.?"
" Vino? Ada apa dengan dia? aku juga tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak, kalau ada hubungannya dengan Vino terus Apa hubungan Vino dengan Arka.?"
" Kalau hubungan Vino dan Arka Saya tidak tahu pak Bos, tapi menurut yang Saya dengar kabar kalau Vino dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam kamarnya dan dibawa ke rumah sakit oleh pihak keluarga."
" Apa ? Vino tidak sadarkan diri di rumahnya.? bagaimana ceritanya?"
" Vino ditemukan saat hari pernikahannya Pak Bos." ucap William
Sesaat Devan menoleh ke arah Rania. kemudian dia melanjutkan kembali bicaranya dengan William.
" Pantesan saja dia tidak hadir di pernikahanku, kamu dapat kabar dari siapa? terus dia kenapa.?"
" Saya tahu dari sepupu saya yang bekerja di kantornya Vino, dia tidak mengetahui juga apa penyebab dari tidak sadarnya Vino tersebut."
" Apakah kamu mengetahui sekarang dia dibawa ke rumah sakit mana.?"
" Maaf Pak Bos, saya tidak mengetahuinya, karena saudara sepupu saya itu tidak mengetahui juga bosnya dibawa ke mana."
" Saya ada di kantor Pak Bos."
" Baiklah, handle kantor sekarang ya, Aku titip kantor saat ini " ucapnya kemudian memutus sambungan bicaranya dengan William.
" Pak Bos ini dari masih sendiri sampai sudah memiliki istri, masih aja selalu mematikan ponsel saat masih dalam bicara yang belum selesai secara sepihak diputusnya." ucapnya sembari menggelengkan kepalanya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dia melangkah menuju ke arah dalam ruangannya.
Rania terdiam mendengar pembicaraan William dan Devan.
Devan kemudian menatap ke arah Rania dia meraih tangan Rania dan menggenggamnya, Rania menoleh ke arah Devan sembari berucap.
" Apakah kejadian ini gara-gara aku?" tanya Rania.
" Aku rasa tidak mungkin, ada sesuatu dan lain hal yang membuat Vino tidak sadarkan diri."
Rania menghela nafasnya dengan panjang.
" Setelah kita menemui Arka, dan untuk apa Arka menyuruh aku ke rumah sakit itu, kalau memang tidak ada hubungannya dengan Vino kita akan menjenguk Vino nantinya." ucapnya dianggukan oleh Rania, beberapa saat kemudian mobil pun memasuki halaman parkir Rumah Sakit terbesar yang ada di kotanya tersebut, dia memarkirkannya dengan rapi sesuai dengan aturan yang ada, mereka berdua turun melangkah menuju UGD namun belum sampai mereka menuju ke ruangan UGD, mereka dipanggil oleh Arka yang berada di koridor Rumah Sakit tersebut.
" Devan ...!" panggilnya, Devan menoleh ke arah suara, dia kemudian meraih tangan Rania dan menuju ke arah di mana Arka berdiri.
" Ada apa,? kenapa Kamu memanggilku ke sini, memang apa yang terjadi?" tanya Devan.
__ADS_1
" Kamu sudah dengar berita nggak?"
" Soal apa?"
" Vino..."
Rania dan Devan pun Saling pandang kemudian Devan menatap ke arah Arka.
Arka menganggukan kepalanya sembari berucap
" Iya Vino, Apakah kamu sudah mendengar beritanya.?"
" Aku sudah mendengar beritanya dari William, Tapi aku tidak tahu penyebabnya apa dan sekarang dia berada di mana juga aku tidak tahu.
Tapi apa hubungannya kamu dengan Vino? jangan-jangan Vino ada di rumah sakit ini?" ucap Devan Arga pun menganggukkan kepalanya.
" Kita duduk dulu di sini, aku akan menceritakan semuanya kepadamu."
Membuat Devan dan Rania merasa heran sebenarnya apa hubungannya Vino dan Arka.
" Vino ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya bertepatan dengan hari pernikahan kalian."
" Aku sudah tahu keterangan itu, dari William yang aku heran kan ada hubungan apa kamu dengan Vino?"
" Aku adalah kekasih adiknya Vino."
" Kekasih Sevia?"
Arka menganggutkan kepalanya.
" Kalau kamu kekasihnya Sevia kenapa kamu baru tahu sekarang? bukankah saat itu kamu ada dihari pernikahan ku sampai selesai,terus keadaan Vino bagaimana?"
" Aku juga baru tahu, karena Sevia mengatakan kalau dia berada diluar kota, dan Vino dia masih ditangani oleh dokter ahlinya, ternyata Vino memiliki penyakit kanker otak stadium akhir, dia tidak pernah bicara dengan keluarganya dan dia juga tidak pernah merasa sakit yang ditampakkannya saat ini, itu yang aku dengar dari Sevia."
Devan dan Rania menggelan nafas dengan pelan ada rasa keterkejutan saat mendengar penjelasan dari Arka mereka bertiga terdiam tidak ada suara di antara mereka
Rania lalu memegang tangan Devan dengan erat, Devan terkejut dia menatap ke arah Rania, begitu juga Rania, sesaat mereka saling pandang namun Devan tahu apa yang dirasakan oleh Rania.
Devan pun lalu membalas pegangan tangan Rania dia menggenggam erat tangan sang istrinya itu, seakan menguatkan Rania kalau semuanya itu adalah garis yang maha kuasa.
" Arka, Apakah Vino bisa dijenguk?' tanya Devan.
Arka menoleh ke arah Devan sembari menarik nafasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan berat
" Aku belum tahu lebih lanjt, lebih baik kita menemui Sevia,Vino berada di ruangan ICU." ucapnya sembari berdiri dan mengajak keduanya melangkah mendekati Sevia yang sedang terlihat sedih duduk bersama dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1