
#54 Pertemuan Dengan Renaldi
" Kamu sudah siap Wil?" tanya Devan sembari berbicara dengan William melalui telpon genggamnya.
" Siap Bos, dan sekarang menuju kerumah Bos untuk menjemput pak Bos biar sekalian kita berangkat sekarang." ucap William diseberang sana.
" Baiklah aku tunggu sekarang!" ucap Devan sembari memutus sambungan bicaranya dan kembali menuju kearah ruang tengah dimana sang Mamah dan Adiknya berada.
" Ada apa Van?" tanya Bu Melany.
" Masalah Tania Mah..."
" Tania temannya Rania?"
Devan menganggukkan kepalanya.
" Ada masalah apa?"
Devan kemudian menceritakan semuanya dan tidak ada satupun dari cerita Devan terlewatkan didengar Bu Melany sampai cerita itu selesai.
Bu Melany menghela nafasnya dan Devan mengusap wajahnya dengan pelan.
" Devan bersama dengan William mau bertemu dengan Pak Renaldi itu Mah hari ini, karena sudah dijadwalkan jamnya."
" Iya Nak, semoga kamu berhasil menyelesaikan masalah Tania."
" Oh, ya kak, kapan acara pernikahan kaka? kata kakak kemaren sudah didaftarkan?"
" Iya Dek, sudah, dan seminggu lagi acaranya setelah masalah Tania clear kakak mau mencari keluarga Rania sekandung dengan Almarhum Ayahnya buat jadi walinya dalam pernikahan kami nanti."
" Bagaimana nanti kakak mencarinya padahalkan kakak belum mengenal dekat banget dengan kak Rania?"
" William sudah menghubungi kawan akrabnya didesa tempat tinggal Rania dan sudah mendapatkan titik terangnya, tinggal menunggu kabar darinya."
" Syukurlah kalau gitu, biar segera dilaksanakan, sebelum Lana berangkat keluar Negeri, karena kuliah sudah dekat dimulai, libur sebentar lagi berakhir." ucap Lana sembari tersenyum pada sang kaka, Devan hanya tersenyum simpul dan terdengar suara mobil William Devan langsung berdiri dan melangkah keluar setelah berpamitan dengan sang Mamah dan adiknya, bu Melany dan Lana mengantarkan Devan keluar rumah dan menatap kepergian sang Anak sampai hilang dipandangannya itu.
__ADS_1
Saat di dalam mobil ponsel William berdering Dia kemudian mengambil ponselnya itu karena fasilitas di dalam mobil William tidak seperti fasilitas di dalam mobil Pak bosnya, jadi dia harus menjawab panggilan di ponselnya itu melalui headset yang tersambung ke ponselnya yang memang sudah tersedia di dalam mobil khusus untuk dia menerima panggilan dari dalam mobil.
" Halo.." Sapa William karena dia tidak melihat siapa pemanggilnya tersebut karena dia fokus menatap ke arah depan Karena posisinya saat itu sedang menyetir mobil pribadinya.
" Pak William.' ucap suara di seberang sana.
" Iya Pak, sekarang Bapak ada di mana?" karena William mengenali suara Renaldi.
" Saya sudah berada di tempat yang sudah dikatakan oleh Pak William, Saya menunggu di meja nomor 3."
" Baiklah Pak kami segera menuju ke sana, ini sudah dalam perjalanan."
" Baik Pak, saya tunggu."
Kemudian William pun memutus sambungan bicaranya itu.
Dia kemudian berbicara dengan Devan yang posisi pak Bosnya saat ini ada di bangku belakang mobilnya.
" Pak Bos Pak Renaldi itu sudah ada di tempat yang sudah saya katakan padanya tadi malam melalui chat pribadi."
" Baguslah kalau seperti itu, kita akan segera bertemu dengannya."
" Mereka tinggal menunggu instruksi dari kita.
" Baiklah Pak, saya akan menghubungi Tania."
" Tidak usah, kamu kan dalam keadaan nyetir lebih baik Saya menghubungi Rania."
William menganggukkan kepalanya, kemudian Devan pun menghubungi Rania mencari nomor ponsel Rania yang bertuliskan istriku, Devan dan Rania memang belum menikah walaupun di ponselnya tertulis nama istriku dan suamiku tapi panggilan mereka tidak memanggil istri ataupun suami melainkan nama masing-masing, beberapa saat panggilan Devan itu pun terjawab.
" Ya Pak Devan."
" Kalian berada di mana sekarang?"
" Kami masih di teras rumah belum berangkat karena belum ada instruksi dari kalianz kalaupun kami berangkat terlebih dahulu Kami menuju ke mana?"
__ADS_1
" Baiklah kalian menuju ke restoran Padang yang ternama yang ada di kota ini."
" Sebentar saya tanya dulu dengan Rania, Apakah dia tahu?
Tania apakah kamu tahu restoran Padang terkenal di kota kita ini?"
" Ya aku tahu " jawab Tania.
" Baiklah, Pak Devan Tania mengetahuinya, sekarang kami mau berangkat menuju ke sana."
" Ya sudah kami tunggu, Tapi ingat kalian jangan menemuinya terlebih dahulu, karena dia sudah berada di restoran padang itu sedang menunggu kami, kalau bisa kalian jangan masuk dulu ke sana, kalian berada di dalam mobil aja."
" Baik Pak Bos!" ucap Rania sembari memutus sambungan bicara mereka melalui ponsel pribadinya itu.
Setelah menerima telepon dari Devan, Rania dan Tania pun kemudian memasuki mobil pribadi Tania, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan kediaman rumah keluarga Tania menuju ke arah yang dituju.
Di restoran itu...
" Sebenarnya ada apa yang ingin dibicarakan oleh Pak William sama Pak Devan padaku, padahal kerjasamanya baik-baik saja, tidak ada terjadi kesalahan, baik di pihakku ataupun di pihak mereka, Kenapa mereka melakukan panggilan mendadak ini ?Ada apa sebenarnya? apakah mereka memutus secara sepihak kerjasama yang sudah terjalin beberapa bulan ini ? kalau seandainya mereka memutus kerjasama ini aku yang akan rugi besar sekali, aku sudah terlalu banyak masalah baik keluargaku ataupun masalah di kantor, hanya dengan Pak Devan inilah yang mau menerimaku kerjasama, itu aku sangat bersyukur banget, Karena perusahaan lain tidak mau dengan perusahaan kecil yang baru saja aku rintis ini, Ya Tuhan semoga saja dia tidak memutus kerjasama ini." ucap Renaldi sembari mensedekapkan tangannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki saat ini, pelayan restoran itu pun mendekatinya namun Renaldy mengatakan pada pelayan itu masih menunggu kedua temannya, pelayan itu pun hanya menganggukkan kepalanya, beberapa saat Renaldi menunggu sebuah mobil memasuki halaman restoran tersebut, pengendara di dalam mobil itu pun keluar setelah memarkirkannya dengan rapi, mereka melangkah menuju ke arah meja nomor 3 di mana Renaldi sudah sejak tadi menunggu mereka, Renaldi melihat kedatangan William dan Devan pun langsung menyambutnya dengan senyuman sumringahnya, padahal di dalam otaknya berkecamuk tanda tanya besar antara pemutusan kerjasama dan ada masalah yang lain.
" Silakan duduk pak." ucapnya mempersilakan kedua tamunya itu duduk di meja yang sudah dipesannya tersebut.
" Sebenarnya ada apa ya Pak, sehingga Bapak berdua menghubungi saya agar bisa bertemu? Apakah ini masalah dengan kerjasama yang kita jalani berdua? Apakah pihak kami membuat kesalahan tanpa sepengetahuan saya?"
Devan tersenyum dengan pertanyaan dari Renaldi itu.
" Tidak ada bersangkutan masalah kerjasama itu, kerjasama antara kita masih berjalan selama ini tidak ada kesalahan baik dari pihak Bapak ataupun dari pihak kami." Ucap Devan
" Syukurlah kalau seperti itu,tapi ada masalah apa Pak selain ini?"
" Santai Pak Renaldi, nggak usah tegang seperti itu." sambung William sembari tersenyum.
" Begini Pak, mungkin ini bersifat pribadi, saya bertanya kepada Bapak." ucap Devan.
" Bersifat pribadi maksudnya?saya jadi tidak mengerti." jawab Renaldi merasa heran.
__ADS_1
" Mohon maaf sebelumnya, ada yang ingin kami tanyakan dengan bapak Renaldi, benar apa kata pak Devan, mungkin ini bersifat pribadi pada keluarga Bapak, kami mau bertanya bapak memang benar sudah berkeluarga atau belum?"
Renaldi menghela nafasnya dengan pelan, Dia tidak tersinggung dengan pertanyaan William, tapi terlihat wajahnya yang berubah sendu setelah ditanya oleh William itu, Devan dan William Saling pandang.