Sungguh!! AKU MENCINTAIMU

Sungguh!! AKU MENCINTAIMU
#19 Kembalinya Rania


__ADS_3

" Ada apa Tania, ceritalah padaku, terlihat dari wajahmu ada beban yang sangat berat memang selama ini kamu kenapa dan kenapa kamu seperti banyak sekali beban yang kamu rasakan?" Tanya William terus menatap Tania.


" Hehehe..." Tania hanya tertawa pelan sembari memainkan sedotan yang ada di dalam gelas minumannya tersebut, lagi-lagi dia terdengar menghela nafasnya dengan berat.


" Bukan beban kehidupan yang aku rasakan selama ini, tapi karena beban masa lalu yang pernah aku jalani." ucapnya tanpa menatap ke arah William.


Yang spontan langsung membuat William tercengang, dia pun menatap lekat ke arah Tania, Tania mengangkat wajahnya dan menatap William sesaat, dia hanya bisa tersenyum, kembali lagi dia menatap minuman yang ada di depannya itu dan kembali mengaduk minuman tersebut dengan sedotan yang ada di gelas itu.


" Maksud kamu? masa lalu yang bagaimana? sehingga sampai saat ini Kamu tidak bisa melupakan masa lalu itu? apakah yang terjadi denganmu di waktu terdahulu? Maafkan aku Tania karena aku sangat ingin tahu sekali, bukan maksud aku untuk mengorek masa lalu kamu yang telah menjadi beban di pikiran kamu, tapi setidaknya kamu bisa berbagi denganku." ucap William sembari menatap tenduh Tania, namun Tania menanggapi ucapan William tersebut hanya dengan senyumannya, terlihat dia masih ragu untuk mengatakan sebenarnya apa yang terjadi dengan dia di masa lalu.


" Baiklah Tania kalau kamu tidak ingin mengatakannya kepadaku, Aku tidak akan memaksa kamu tapi pada saatnya nanti bisakah kamu mengatakan semuanya itu padaku, Aku sudah kembali Tania Aku sudah kembali menjadi teman kamu berbagilah denganku." ucap William seraya terus menatap ke arah Tania dia tidak ingin terlalu memaksa kehendaknya ingin tahu apa yang terjadi dengan Tania.


Tania hanya menganggukkan kepalanya sembari meminum minuman yang ada di depannya tersebut.


Terdengar helaan nafas William, Dia kemudian menyandarkan tubuhnya sembari menatap kearah Tania tanpa hentinya dia menatap gadis yang ada di hadapannya itu.


" Tania aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalumu yang sangat tidak bisa kamu lupakan, jujur Tania sebenarnya aku sangat menyukai kamu sejak dulu, Tapi kamu selama itu menganggap aku sebagai teman, saat itu aku tidak bisa memberanikan diriku untuk mengatakan kalau aku suka denganmu, tapi setelah kamu jauh dariku dan tidak pernah lagi kita berbicara di situlah rasa cinta dan sayangku semakin bertambah, aku jaga cintaku ini hanya untukmu Tania, di masa remaja dulu aku memang tidak berani untuk mengatakan cinta kepadamu sampai saat inipun aku belum bisa mengungkapkannya, karena aku tidak ingin menyakiti hati wanita yang aku sayangi yaitu kamu." gumam batinnya sembari menatap ke arah Tania yang masih menunduk sambil memainkan sedotan yang ada digelasnya itu.


" William Maafkan aku, aku tidak bisa bicara semuanya kepadamu karena aku masih tidak ingin menceritakan masa lalu yang pernah aku lewati, aku suka denganmu tapi aku tidak bisa mengungkapkan itu semua karena rasa suka aku itu belum menjadi rasa suka yang benar-benar keluar dari dalam hati ini." ucapnya di dalam batinnya.

__ADS_1


Beberapa saat mereka berdua terdiam tidak ada pembicaraan di antara mereka karena William tidak ingin pertemuan dia bersama Tania hari ini diakhiri dengan diam seribu bahasa, Akhirnya dia pun kemudian bercerita tentang Rania.


" Oh ya Tania benarkah Rania besok pagi tetap mau datang ke kantor Dev Group."


" Hmmmm iya, dia sangat semangat sekali ingin datang ke sana karena dia ingin mengumpulkan banyak uang katanya dengan bekerja keras."


" Mengumpulkan banyak uang? maksudnya? Uangnya untuk apa?"


" Menebus rumah orang tuanya, Aku kasihan dengan Rania, karena keterlambatan untuk mengirim uang kepada ibu tiri dan saudara tirinya itu akhirnya rumah peninggalan kedua orang tuanya dijual oleh ibu tirinya dengan orang kota sebesar dua ratus juta, dia berharap bisa mengambil kembali rumah itu dan mencari orang kota itu yang membeli rumah tersebut, Aku sebenarnya tidak menyalahkan orang kaya itu yang membeli rumahnya, Tapi aku sangat tidak senang dengan orang kaya itu seharusnya dia bertanya dulu anaknya itu siapa aja, bukan hanya anaknya yang ada bersama dengan ibu tirinya itu saja, seharusnya mereka menjual rumah itu harus persetujuannya Rania, Rania bisa saja menuntut masalah itu tapi karena keadaan dia di kota juga dalam keadaan berjuang untuk hidup mencari nafkah sendiri bahkan kadang-kadang kalau dia mempunyai uang banyak dia mengirimkan semuanya untuk ibu tirinya itu dan dia cuma makan dengan berlaukan kerupuk saja, Aku jadi kasihan dengan dia tapi aku salut dengan Rania karena dia itu seorang wanita yang tangguh, dia seorang wanita yang berjuang untuk mendapatkan hak dia yaitu rumah peninggalan orang tuanya, tapi sekarang dia kehilangan hak itu." ucap Tania sembari menatap ke arah William William hanya tersenyum saja sembari menganggukkan kepalanya, Tania heran menatap wajah William yang tidak ada sedih sama sekali saat dia bercerita tentang Rania melainkan dia malah tersenyum.


" Hei..! kenapa kamu tersenyum apakah kamu tidak ada rasa simpati sama Rania, apakah kamu merasa senang kalau Rania harus berjuang mencari uang yang banyak untuk menebus kembali rumah yang di beli oleh orang kaya itu, kamu lelaki yang sangat keterlaluan." ucap Tania sembari mendelik ke arah William dengan muka cemberutnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Maksud kamu, aku jadi nggak mengerti kamu bilang orang kaya itu orang yang tepat untuk membeli rumah Rania, itu sama aja bohong! orang kaya itu kan tidak tahu rumah itu miliknya Rania, peninggalan orang tuanya yang harus dia pertahankan dari ibu tirinya masa sih orang kaya itu tidak berpikir kalau rumah itu masih ada ahli warisnya lagi yang harusnya tepat memilikinya."


" Kamu jangan khawatir, aku akan ceritakan semuanya."


" Cerita semuanya? aku jadi nggak paham, udah deh jangan terlalu berbelit-belit kalau kamu ingin mengatakannya katakan aja nggak usah berbelit-belit gini bikin orang penasaran aja sih." ucapnya sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi cafe yang dia duduki sambil bersedekap tangan menatap ke arah William, William yang ditatap pun hanya bisa memberikan senyum kembali ke arah Tania.


" Baiklah kalau kamu ingin tahu rumah itu jatuh ke tangan siapa, Aku mengatakan kalau rumah itu jatuh ke tangan yang tepat itu adalah benar, rumah itu jatuhnya ke tangan Pak Bos Devan, Pak Devan Adalah Bos aku Tania."

__ADS_1


" Apa Bos kamu? kok bisa bos kamu membeli rumah Rania? gimana ceritanya sampai bos kamu itu membelinya, lagi pula kenapa sampai rumah Rania dibeli, Apa untungnya sih buat bos kamu membeli rumah Rania?"


" Begini, Saat aku mengetahui kalau Rania itu adalah temannya kamu terus kamu juga menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Rania dan ibu tirinya nah saat itu aku ceritakan semuanya pada Pak Devan, ternyata pak Devan langsung putar kendali ingin memiliki rumah tersebut agar Rania mau bekerja dengan Pak Devan yang saat itu aku ceritakan padamu, nah dengan rumah Rania ada ditangan pak Devan, itu semua agar Rania tidak bisa menolak lagi untuk bekerja dengan Pak Devan." ucap William


Tania menganggukkan kepalanya dan dia pun merasa lega karena rumah Rania memang benar-benar berada di tangan orang yang tepat.


Mereka berdua pun menikmati minuman yang mereka beli dan beberapa cemilan tersebut sambil berbicara sesekali Mereka pun tersenyum dan kadang-kadang mereka tertawa lepas mengingat masa lalu di saat sekolahnya dulu kemudian mereka berdua selesai berbicara dan pergi dari cafe extra tersebut dengan berbeda arah.


*****


Keesokan paginya Rania diantar dengan Tania menggunakan motor kesayangan, mereka berdua pun tersenyum bahagia di atas motor yang akan membawa mereka menuju ke arah kantor Dav Group.


Tania yang sudah mengetahui cerita tentang rumah Rania itu dia menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut, dia tidak ingin memberitahukannya pada Rania, karena dia menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan yang sebenarnya.


Dalam suasana macet di jalan utama di kota mereka itu tidak membuat mereka resah dan marah dikarenakan Tania menggunakan roda dua memudahkan mereka untuk mencari jalan pintas agar segera sampai di kantor Dev Group dan tidak terlambat.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di kantor itu di depan pintu lobby Tania menurunkan Rania.


" Semangat ya... nanti aku jemput lagi, kamu bilang aja kalau sudah selesai, mudah-mudahan aja hari ini kamu sudah bisa bekerja." Ucap Tania.

__ADS_1


" Sip!!" ucap Rania sembari mengacungkan dua jempol tangannya kemudian Tania pun meninggalkan kantor Dev grup tersebut sedangkan Rania masuk ke dalam lobby kantor itu.


__ADS_2