
#52 Selalu Ada...
" Aku minta data Renaldi Akbar." ucapnya kemudian mengejutkan William.
" Baik pak..."
Lalu dengan cekatan William menyalin data Renaldi dan memberikannya pada pak Bosnya itu, walaupun pikiran William berkecamuk,tapi dia tetap melaksanakan tugasnya dengan sigap.
Setelah didapat Devan data dari Renaldi Akbar itu, dia membacanya sesaat dan lalu berbicara pada William.
" Hubungi Renaldi Akbar sekarang, bilang kalau kita akan menemuinya sekarang."
" Baik pak..." ucap William sembari mengambil ponselnya dan menghubungi yang diperintahkan sang Bos yaitu Renaldi Akbar.
Sambungan William terjawab.
" Ada apa pak?"
William terlihat gagu tapi kemudian dia bisa menjawab pertanyaan Renaldi.
" Maaf pak Renaldi bisakah kita bertemu hari ini, karena pak Devan ada yang ingin dibicarakan."
" Ketemu?"
" Iya pak..."
" Maaf pak, bagaimana kalau besok pagi, karena saya sekarang ada diluar kota dan tidak berada didalam kota, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan pak."
__ADS_1
" Baiklah nanti saya akan bicarakan pada pak Devan." ucapnya.
" Baiklah pak." ucapnya lagi.
Lalu mereka memutus sambungan bicaranya tersebut, William mendekati Devan yang sedang duduk dikursinya itu sembari menatap kearah William.
" Si Renaldi ini tidak ada didalam kota tapi sekarang dia berda diluar kota."
" Sudah ku duga! "
" Terus sekarang bagaimana pak?"
" Biarkan saja sekarang kita lanjut kerumah Tania, mau ikut nggak kamu?"
" Iya pak, saya ikut kesana."
William yang memegang tali kendali stir mobil Bosnya itu dengan kefokusan yang sangat terkontrol walaupun diotaknya penuh tanda tanya besar.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tania, Apa yang dilakukan Renaldi padanya padahal pak Renaldi itu terlihat sangat baik dari wajahnya terlihat seperti memiliki rasa penyayang pada keluarga tapi kenapa Tania yang jadi korbannya, sehingga rumah tangga mereka jadi berantakan seperti ini,Tania Apapun adanya dirimu,bukalah hatimu untukku, aku akan siap menjadi pendampingmu dan memberikan kebahagiaan padamu, aku tidak akan pernah membiarkan kamu menangis, aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu." gumamnya dalam hati tapi masih dengan fokusnya menyetir menuju ke arah rumah Tania.
Di rumah Tania...
Tania yang sudah beberapa jam tertidur itu pun kemudian membuka matanya, Dia memegang kepalanya karena terasa masih sangat sakit, dia menoleh ke samping ternyata Rania sedang duduk di sofa sambil menunggu dirinya, dia berusaha bangun dan Rania pun duduk di bibir ranjang Tania.
" Kalau kamu masih merasa sakit kepalamu, kamu nggak usah bangun dulu "
" Ada apa denganku Rania?"
__ADS_1
" Apakah kamu tidak ingat Kenapa kamu sampai seperti ini Tania.?"
Tania kemudian memegang kepalanya, dia berusaha untuk duduk di kepala ranjangnya itu, dengan bersandarkan bantal yang dia rebahin tersebut, kemudian dia pun menundukkan kepalanya sesaat, lalu dia menyandarkan tubuhnya kembali menatap langit-langit kamarnya itu, air matanya menetes di sudut matanya, Rania yang melihat Tania menangis itu pun merasa sedih melihat sahabatnya itu seperti menyimpan masalah yang pelik.
" Katakan Tania, Ada apa sehingga kamu mengorbankan diri kamu dengan datang ke tempat itu."
" Aku memang tidak menceritakannya kepadamu, tentang masalah yang selama ini aku hadapi, sebenarnya aku sudah pernah membina rumah tangga, tapi sayangnya rumah tangga itu tidak bisa aku pertahankan, berkali-kali dia membuat kesalahan sampai akhirnya aku melepasnya, Aku rindu dengan anakku, tapi dia menyembunyikan anakku dengan alasan agar aku tidak bisa bertemu kembali dengannya, aku ke rumahnya waktu itu tapi rumahnya sudah terkunci dengan rapat Aku tidak tahu di mana dia menyembunyikan anakku, istri barunya juga tidak ada di rumah padahal dia berseliweran aja di dalam kota ini, tapi aku tidak menemukan di mana Anakku berada, itu yang membuatku merasa kesal karena selalu dibohonginya ingin mempertemukan aku dengan anakku, Mama tidak tahu kalau selama ini kalau aku tidak pernah lagi bertemu dengan anakku itu yang membuatku rasanya gagal menemukan buah hatiku aku tidak peduli dia mau menikah dengan siapapun, aku tidak peduli dia mau berbuat apapun, tapi jangan pisahkan aku dan anakku itu saja mintaku padanya, apapun kuturuti dia ingin pisah denganku aku pun mau tapi nyatanya dia memisahkan aku dengan anakku, saat anakku bersama denganku Aku merasa bahagia seakan dunia ini milik aku dan anakku, tapi nyatanya sekarang anakku dibawa kabur olehnya dan dia tidak mau mempertemukan denganku, hanya beberapa kali saja aku pernah bertemu dengan anakku,Setelah dia menculik anakku dariku." terang Tania sembari menghela nafasnya dengan berat seberat beban yang dia rasakan saat ini, karena sudah tidak bisa bertemu dengan anaknya entah di mana mantan suaminya menyembunyikan anaknya itu.
" Tania aku tidak pernah melihat anakmu, aku juga tidak pernah melihat suamimu, yang aku kenal Kamu adalah seorang wanita yang belum memiliki suami ataupun anak, tapi di sini aku ingin membantu kamu untuk mencari anakmu, kita bisa sama-sama berjuang mencari anakmu itu, kalau kamu bahagia Aku pun merasa bahagia, karena kamu selalu ada untukku, disaat kamu seperti ini kenapa kamu tidak pernah bicara denganku, Aku selalu melihat kamu sepertinya sangat kuat, tapi ternyata di dalamnya kamu sangat rapuh, Maafkan aku Tania karena aku tidak tahu kalau kamu sudah pernah berumah tangga dan memiliki seorang anak." ucap Rania sembari meraih tangan Tania dan menepuknya dengan pelan menggenggamnya dengan erat seperti genggaman seorang sahabat yang memang menyayangi sahabatnya itu.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai William pun memasuki halaman rumah Tania, terlihat sepi rumah tersebut, mobil berhenti pas di samping rumah Tania, mereka berdua pun turun dan melangkah menuju ke pintu utama rumah tersebut, Devan memencet bel beberapa kali pintu terbuka asisten rumah tangga Tania pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam karena asisten rumah tangga tersebut sudah mengenal Devan sebab Devan tadi baru saja dari rumah Nyonya besarnya itu.
Devan dipersilahkan oleh asisten rumah tangga Tania itu menuju ke kamar Tania di mana kamar Tania masih ada Rania yang menemani Tania di kamarnya.
Devan dan William melangkah masuk ke dalam kamar Tania.
Tania dan Rania pun menoleh ke arah mereka berdua Devan kemudian duduk di sofa.
William mendekati tempat tidur Tania, melihat William mendekati Tania, Rania langsung berdiri dan berpindah duduk disamping Devan.
William duduk dibibir ranjang Tania.
" Ada apa denganmu Tania? kenapa kamu merasakannya seorang diri? kenapa kamu tidak memberitahukan pada ku?"
" Apa yang harus aku beritahukan padamu Wil?Aku tidak apa-apa kok, kamu aja yang sudah sangat berlebihan."
" Kamu jangan Bohong Tania, aku sudah tahu semuanya, jangan ditutupi dari ku? karena aku..." William menggantung kalimatnya dan menatapa lekat kearah Tania, membuat Tania terlihat salah tingkah, Rania dan Devan hanya tersenyum.
__ADS_1